cover riset pelajar

Pengalaman Memberikan Pelatihan Menulis, Riset Sekaligus Publikasi di Media Massa Nasional Untuk Pelajar

Share

Dalam 2 bulan ini, saya terhitung sering memberi pelatihan kepada karyawan baik BUMN maupun perusahaan swasta nasional mengenai lingkungan. Tema-tema pengolahan limbah cair, operasional Inatalasi Limbah Cair maupun pengolahan sampah, kerap menjadi materi yang ditugaskan kepada saya. Tidak sulit untuk mengajarkan kepada mereka yang sudah memiliki bekal profesi untuk mengetahui lebih dalam bidang profesinya. Ini berbeda kondisinya dengan ketika saya harus mengajarkan dari nol. Mengajarkan sesuatu kepada peserta pemula, tantangannya sungguh luar biasa. Misalnya memberikan pelatihan menulis untuk pemula, terlebih bagi yang pengalaman menulisnya benar-benar masih nol.

Menyusuri arsip tulisan lebih dari 10 tahun lampau, saya menemukan salah satu kegiatan yang pernah saya lakukan dan memiliki kesulitan tinggi yakni mengajarkan pada pelajar suatu hal yang baru, mulai dari menulis, riset lapangan dan mempublikasikannya di media massa nasional.

Kegiatan outdoor biasanya disukai pelajar, bahkan mahasiswa. Hanya saja pada kegiatan outdoor seperti menjelajah sungai harus jelas tujuan yang ingin dicapai sehingga perlu perencanaan dan prolog yang dijelaskan diawal. Jika tidak ada penjelasan di awal, kegiatan outdoor hanya sebatas main-main saja. Emang seneng sih acara outdoor, namun hanya sebatas itu. (dok. pribadi)

Mengapa Menulis Menjadi Penting Bagi Pelajar?

Dunia akademik tidak bisa dilepaskan dari menulis, selain membaca. Dengan menulis, apa yang kita pelajari menjadi lebih bisa dicerna karena pengulangan pelajaran dilakukan dengan menggerakkan banyak indera, selain mata. Menulis melatih kita lebih tertata mengungkapkan perasaan, pikiran dan imajinasi. Dengan menulis, kita menjadi lebih tahu pada bagian mana dari yang kita rasakan, pikirkan dan imajinasikan kurang rinci, kurang menyentuh emosi, tidak runtut, kurang informatif, sulit dicerna bahkan tidak logis.

Arti pentingnya menulis ini perlu ditekankan oleh pengajar, guru atau dosen kepada pelajar dan mahasiswanya. Bukan sekedar  secara teori saja, namun pendidik idealnya memberi contoh langsung. Artinya, pendidik juga harus seorang penulis. Seorang penulis akan mudah mengajarkan bagaimana cara menulis dibandingkan yang bukan penulis. 😀

Kebetulan pada contoh yang pernah saya lakukan pada pelajar sekolah menengah atas, baik SMU maupun sekelolah menengah kejuruan (SMK). Mereka magang atau mengikuti bentuk kegiatan lain di laboratorium lingkungan, yang waktu itu saya operasikan di tahun 2009, dua belas tahun lalu.

Pelatihan Menulis untuk Pelajar

Rasanya tidak fair jika saya meminta pelajar itu menulis dengan langsung memberi perintah saja. Tanpa ada pembekalan awal. Apalagi kemudian saya tidak memberikan koreksi atau feedback atas karya mereka. Meskipun mereka memiliki kemampuan dasar menulis, tetapi tidak banyak yang mengetahui dasar-dasar menulis secara teori.

Pada tahap awal, saya memberikan pelatihan menulis seperti menulis berita (termasuk analisis berita), wawancara (teknik wawancara), dan menulis laporan lebih dalam (depth reporting). Saya memberikan teori dan contoh-contoh yang ada. Lalu para pelajar itu diberi tugas.

Nah, tugas yang kemudian diserahkan ke saya, kemudian dikoreksi, diberikan masukan ini dan itu supaya lebih sempurna. Tanpa ada koreksi, rasanya gugurlah peran saya sebagai mentor atau guru. Karena mereka akan tidak tahu letak kesalahan dan ketidaksempurnaan karyanya, mulai dari tanda baca, huruf besar dan huruf kecil, keruntutan tulisan, bahkan kelogisan tulisan.

Melalui metode yang sudah umum ini dan dilakukan secara terus-menerus, maka pelajar akan bisa menulis lebih baik lagi. Mereka menjadi tahu letak kesalahan, ketidaksempurnaan bahkan ketidaklogisan karyanya. Bahkan mereka akan tahu dan lebih peka untuk mengambil sudut pandang dari sebuah tulisan.

Meskipun kita sudah memberikan feedback, belum tentu pelajar akan paham dan segera bisa memperbaiki tulisannya. Setiap pelajar memiliki kemampuan yang berbeda, terutama yang membedakan adalah kemauan untuk menerima masukan dan terus belajar.

Merancang Riset Sederhana

Setelah pelatihan menulis dirasa cukup, mulailah dirancang proyek riset untuk menjadi bahan tulisan. Tema apa yang harus diangkat dan dituangkan dalam laporan tulisan atau artikel. Mereka perlu brainstorming mencari ide dari lingkungan sekitar.  Pencemaran sungai atau kali-lah yang menjadi pilihan. Pertimbangannya karena lokasinya dekat, ada faktor fisik yang bisa diamati dan diteliti secara kasat mata dan memiliki laboratorium (yang saat itu saya sebagai kepala laboratoriumnya) untuk menguji hasil investigasi lapangan.

Sebelum turun ke lapangan, perlu dibuat rancangan riset atau gampangnya draft tulisan.

  • Lokasi. Bagian sungai yang perlu diambil sampelnya berdasarkan karakteristik yang berdampak pada lingkungan seperti bau dan warna air sungai
  • Siapa saja yang harus diwawancarai dan apa pertimbangannya?
  • Uji sampel di laboratorium

Lalu dibagilah tugas dari masing-masing orang. Setelah tugas masing-masing anggota tim dikerjakan, kini saatnya mengkompilasi.

Asa (kelas 6) dan Raniah (kelas 5) membantu saya sewaktu riset untuk tesis S2. Meskipun mereka belum paham karena dasar ilmu SD nya tidak mencukupi untuk memahami apa yang saya kerjakan, namun mengajak mereka akan menstimulasi ketertarikan pada lingkungan. (dok. pribadi)

Publikasi di Media Massa Nasional, Mengapa Tidak?

Tugas dari guru, mentor atau pelatih tidak sebatas mengajar, mengoreksi dan melatih saja. Itu sudah standar. Mengajar tanpa mengoreksi menjadi tidak berguna, karena pelajar tidak akan tahu dimana letak kekurangan dan kesalahannya.

Pelajar sekolah mulai dari PAUD hingga sekolah menengah atas, bahkan mahasiswa masih perlu diajarkan. Pada tingkatan sekolah menengah atas atau SMK, mereka sudah bisa melakukan deskripsi dan sintesa dari banyak kejadian.  Inilah yang kemudian dilakukan dari pelatihan untuk pelajar SMU yang magang di laboratorium tersebut. Mereka melakukan sintesa dari kali yang bau, warna air kali yang keruh, masyarakat yang terdampak, dan menelusuri akar musababnya.

Setelah kompilasi ini dilakukan dan sudah ditulis dalam draft artikel, tidak selesai begitu saja tugas dari mentor atau guru. Perlu ada koreksi lagi, apa kekurangannya sehingga layak untuk dibaca oleh banyak orang.

Contoh karya pelajar Bondowoso yang dimuat di HU Kompas. (Dok. Pribadi)

Pada bagian inilah stamina dan semangat belajar dari pelajar diuji. Karena pengennya cepat selesai sehingga hasilnya kurang sempurna. Dan stamina dari pengajar untuk terus memompa semangat mereka menyempurnakan karyanya.

Baca Juga:

Dari Curcol Berkepanjangan Menuju Tulisan Lebih Berkualitas

Mengapa Saya Tidak Memenangkan Lomba Blog?

Tantangan untuk dipublikasikan di media massa nasional diberikan. Semakin besar tantangan, maka mereka akan bisa mengoptimalkan kemampuannya. Jika bisa dimuat di media nasional, mengapa harus memilih media lokal?

Proses koreksi berkali-kali (yang dilakukan oleh mentor/guru). Pelajar menulis lagi menyempurnakan bagian-bagian yang dikoreksi.

Dengan metode seperti di atas yakni pelajar ada pembelajaran dan pendampingan, maka hasil akhirnya akan berbeda dari kondisi awal mereka. Beda jika saya misalnya, tidak memberikan bimbingan (pelatihan menulis) dan koreksi terus- menerus (pendampingan), mereka akan tetap tidak tahu bagaimana cara menulis dan melakukan riset atau kondisi awal=kondisi akhir.

Hasilnya, karya tulis artikel populer yang berisi investigasi lapangan, wawancara, dan riset laboratorium dimuat di HU Kompas satu halaman penuh. Dua belas tahun lampau…

Share

2 thoughts on “Pengalaman Memberikan Pelatihan Menulis, Riset Sekaligus Publikasi di Media Massa Nasional Untuk Pelajar

Leave a Reply to Dwi Wahyudi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!