vaksin covid untuk riwayat alergi dan saat menstruasi

Vaksin Covid, Amankah Untuk Orang dengan Riwayat Alergi Berat dan Sedang Menstruasi?

Share

Adakah yang pernah alergi berat dan jadi takut divaksin? Toss, kita samaan!! Wajar kok ya. Apalagi kalau riwayat alerginya termasuk parah bahkan dekat dengan keselamatan jiwa. Seperti misalnya alergi obat hingga anafilaksis dan sesak napas parah.

Anafilaksis pasca nenggak antibiotik golongan cypro, sekitar 11 tahun lalu, bikin saya ketar-ketir saat berhadapan dengan jadwal vaksin. Sebenarnya sebagai ASN saya sudah mendapat jadwal sejak Maret lalu, saat masih bertugas di Bondowoso. Atas dasar khawatir dan lagi saya harus wira-wiri Bondowoso-Solo pakai kereta saat itu, saya memilih menjaga sehat dengan cara selain vaksin saja. Masih khawatir juga dengan kemungkinan positif pasca vaksinasi.

Lalu kesempatan vaksin pun datang lagi. Kali ini saat saya sudah bertugas di UIN Raden Mas Said Solo. Di mana kasus positif makin sering ditemui. Mahasiswa maupun teman-teman sesama PNS di sini beberapa sudah kena. Ngeri juga menolak vaksi berlama-lama.

Setelah meneguhkan hati, tentu diiringi cari info sana-sini, termasuk nguping konsultasi seorang teman dengan dokternya dengan kasus mirip, maka bismillah. Mei lalu saya berangkat untuk mendapatkan vaksin dosis yang pertama.

Benarkah Orang dengan Riwayat Anafilaksis dan Alergi Berat, Aman untuk Vaksin Covid?


Anafilaksis. Saya baru kenal istilah saat dokter menyebutnya sambil setengah panik melihat saya muncul di UGD dengan bengkak-bengkak di beberapa bagian disertai sesak napas, lalu bergegas menyiapkan injeksi. Intinya ini adalah kondisi syok yang disebabkan oleh reaksi alergi berat. Reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu. Saya mengalaminya sekitar 11 tahun lalu.

Saat itu saya adalah perempuan muda, awal 30 tahunan yang sakit-sakitan. Berbagai antibiotik dan obat-obatan lain adalah makanan sehari-hari. Dan itulah puncaknya ketika dokter memberi antibiotik jenis cypro untuk melawan batuk dan rhinitis saya yang tak kunjung sembuh. Alih-alih membaik, beberapa menit sesudahnya saya bersin tak henti, diikuti sesak dan kesulitan bernapas. Mata dan beberapa jaringan lunak pada tubuh saya pun ikutan membengkak. IGD adalah jalan satu-satunya. Segera!!


Kondisi ini adalah titik balik, Saya tak mau lagi sakit-sakitan. Belajar dan menerapkan pola hidup sehat Alhamdulillah membantu saya keluar dari kondisi sakit-sakitan. Bahkan di usia menuju 43 ini saya jauh lebih sehat dari saat usia akhir 20 hingga 30an. Namun, pengalaman berdekatan dengan maut akibat anafilaksis masih selalu saya ingat. Urusan dengan obat, injeksi dan semacamnya pasti saya pertimbangkan matang sebelumnya.

amankah-vaksin-covid-untuk-orang-dengan-riwayat-alergi-berat

Jadi apakah saya yang punya riwayat anafilaksis aman mendapat suntikan vaksi covid? Saya menemukan bahwa ada sekian kriteria yang direkomendasikan bisa mendapatkan vaksin covid. Salah satunya adalah orang dengan riwayat anafilaksis namun yang bukan disebabkan suntikan vaksin covid. Nah, saya memenuhi criteria ini. Didukun kondisi tubuh yang baik dan udah lama bingit tidak ada kekambuhan ya. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) baru-baru ini mengeluarkan rekomendasi terbaru yang layak dan tidak layak divaksin Covid-19. Selain kriteria di atas, ada juga alergi obat dan makanan. Nah, saya punya riwayat ini juga. Namun, untuk alergi antibiotiknya tidak termasuk yang disebut harus menjadi perhatian utama. Alergi makanan juga tetap boleh vaksin covid kalau merujuk list ini. Jadi ya udah hayuk ajah.


Kalau teman-teman punya riwayat anafilaksis namun masih ragu, khawatir vaksinnya nanti menimbulkan dampak serius, jangan ragu temui dokter dulu ya sebelum memutuskan disuntik vaksin atau tidak. Dokter tentunya dapat memberikan penilaian yang lebih tepat terhadap kondisi teman-teman saat ini.


Apa lagi yang harus dipersiapkan? Sadar punya riwayat kesehatan tidak begitu bagus di masa lalu, saya tahu diri. Walau saat ini saya dikaruniai tubuh sehat, saya melakukan beberapa persiapan sebelum vaksin. Terutama untuk vaksinasi kedua. Karena vaksinasi pertama saya dapat jadwal memang mendadak banget.

Menstruasi Amankah Disuntik Vaksin?

Ini kegalauan berikutnya. Saat mendapat jadwal itu mendadak banget. Jam 7 pagi dapat jadwal, jam 9-11 jadwal saya vaksinasi. Saya tak punya waktu banyak untuk berpikir, sementara saya sedang menstruasi. Namun googling, akhirnya saya yakin untuk divaksin hari itu juga. Kenapa?


Pertama, saat ini saya tidak punya problem signifikan dengan menstruasi. Paling-paling, saat makan saya rada ngawur, saya akan mengalami sedikit PMS yang gak drama-drama amat kok. Gak sampai pengin makan orang juga. Nyeri haid juga enggak. Volume darah haid juga normal aja. Saya juga merasa secara fisik saya cukup sehat untuk divaksi saat itu. So, tak ada alasan untuk menolak kan?

Apalagi saya tidak sedang hidup di tengah hutan. Pasca vaksiasi juga diobservasi beberapa menit untuk mengetahui efeknya kan? Apotek masih banyak kalau sewaktu-waktu butuh tambahan suplemen untuk bikin body lebih asoi. Haha… warung padang, warung soto, warung nasi liwet di mana-mana ada dekat sini yang bisa menjadi PEMADAM KELAPARAN seketika kalau-kalau pasca vaksin RASA LAPARNYA benar-benar ugal-ugalan. Wkwkwk. Candaaaaa!!!

Oh ya, ada kawan saya, Mbak Arni yang mengalami masalah hormonal dan berproblem dengan menstruasi. Tapi Alhamdulillah beliau pun sukses divaksinasi. Ini ceritanya:

Pengalaman Vaksin Covid-19 Saat Menstruasi

Silakan baca ya, mungkin kalian punya kekhawatiran serupa, supaya segera teratasi.

Pengalaman Vaksin Covid Pertama di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Kartasura


Kalian yang lama mengenal saya pasti sudah tahu saya penganut food combining yang udah lama banget. Sudah lebih 10 tahun setia dengan sarapan buah. Maka sekitar jam 9 ketika saya berangkat vaksin yang pertama, itu masih jam saya harus makan buah. Saya sudah prepare makan buah sebanyak mungkin yang perut saya masih dapat tampung. Bukan apa-apa, sejumlah kawan me-warning akan rasa lapar luar biasa pasca vaksin, saya juga khawatir antre panjang dan keburu saya kelaparan. Maklum, waktu cerna buah amat singkat, risiko lapar lebih cepat.


Antrean memang panjang, tapi vaksi di RS Ortopedi Kartasura ini bagi saya terasa sangat sae set wat wet. Petugas sigap dan cekatan semua. Banyak pula jumlah petugasnya. Sebelum diputuskan boleh vaksin, saya mengisi lembar skrining. Usai lulus di skrining pertama, saya diperiksa juga tensi dan ditanya detail oleh dokter terutama seputar riwayat alergi saya.


Dokternya masih mudah banget. Laki-laki, ramah dan goodlooking. (penting ya yang terakhir ditulis? Wkwkwk). Pak dokter nanya kapan saya anafilaksis, apa yang bikin saya mabok banget kala itu, apakah saat ini pernah kambuh alerg yang sama, dsb. Pokoknya cukup lama saya ditanya macam-macam sampai akhirnya pak dokter memutuskan saya layak divaksin dengan catatan, harus benar-benar diobservasi pasca suntik dan segera mengontak dokter kalau sampai di rumah nanti ada keluhan.

Pasca disuntik dan petugas menyilakan saya menanti untuk sejenak diobservasi. Saya lupa berapa menit. Sesudah itu petugas memanggil untuk mendapatkan kartu vaksin. Saya diperbolehkan pulang dan dipesankan tetap taat prokes dan hindari keluyuran. Ashiap buuu. Saya gak ke mana-mana, hanya ke kantor kok, karena memang tidak bisa wfh.
Saat masih di ruangan untuk observasi, saya WA suami yang nunggu di lobi. Menyampaikan saya udah divaksin, aman-aman saja dan mengingatkan kesepakatan kami untuk mampir makan di dekat RS sebelum saya menuju kantor. Haha. Laper bener-bener tak tertahan ya Bund!!

Apa yang Disiapkan Sebelum Vaksin Covid?


Sedapat mungkin enggak keluyuran yang tidak perlu. Saya juga relatif menjaga pola makan sehat. Harusnya saya juga menjaga pola tidur, gak begadang. Apa daya, vaksin kedua datang saat pekerjaan padat-padatnya. Namun saya tetap usahakan yang terbaik.


Persiapan yang kedua adalah, pakai pakaian yang nyaman dan mudah untuk diakses bagian lengan atas. Karena saya berhijab, saya nyaman pakai kaus lengan pendek yang saya rangkap dengan jaket tipis atau kemeja tangan panjang longgar. Sampai di ruangan tingga saya buka jaketnya, langsung sodorin lengan ke petugas. Wkwkwk. Intinya pilih pakaian yang memudahkan untuk penyuntikan di lengan atas deh. Kasihan petugas dan yang antre kalau harus nunggu kita mala menggulung lengan baju.

Datang sesuai jadwal dan patuhi ketentuan tambahan dari penyelenggara vaksin. Ini untuk menghindari antrean ya, dan untuk mempercepat proses. Seperti saat saya vaksin kedua, lembar skrining sudah diberikan sebelumnya, jadi saya tinggal print dan isi di rumah. Saat tiba di RSO untuk vaksin kedua saya tinggal serahkan ke petugas identitas dan lembar skriningnya. Langsung melenggang deh. Cepettt, gak sampai 10 menit selesai divaksin.


Untuk mengantisipasi antrean, bawa bekal makanan dan minuman. Ya, siapa tahu teman-teman harus melalui antrean panjang kan.

Layanan Pre-Vaksin dan Post Vaksin

Khusus untuk Anda yang memang masih menghawatirkan vaksinasi akibat kondisi-kondisi khusus yang dialami, misalnya selain alergi ada keluhan lain seperti: gula darah tinggi, asma, autoimun dan lainnya, untuk memastikan apakah teman-teman ini memang sedang dalam kondisi layak vaksinasi, ada layanan pra vaksin/pre-vaksin baik di RS maupun di lab. Teman-teman bisa memanfaatkannya untuk memastikan. Selain itu layanan post vaksin pun tersedia, untuk memastikan bahwa pasca vaksinasi tubuh teman-teman baik-baik saja. Berapa biayanya, saya sempat ngintip di beberapa laman RS dan lab, cukup variatif, pre vaksin berkisar 500 ribuan hingga sejutaan. Sedangkan tarif post vakcin sedikit di bawahnya. Teman-teman bisa cari info dulu ya, jika memang membutuhkan layanan ini.

Yang Perlu Dilakukan Pasca Vaksin Covid

  • Petugas Kesehatan yang memberikan kartu vaksin berpesan beberapa hal:
  • Jangan dulu melakukan pekerjaan berat, sebaiknya banyak istirahat
  • Tetap jauhi kerumunan
  • Tetap taat prokes, pakai masker tetap penting

Selain itu nakes juga menginfokan kepada saya nomor kontak dokter yang bisa saya hubungi jika sewaktu-waktu muncul gejala yang mengkhawatirkan. Nomornya tertera di karti vaksin, tetapi nakes tetap mengingatkan kembali jika dibutuhkan.


Saya berusaha mematuhi anjuran nakes, tetapi memang agak sulit untuk yang poin pertama. Pasalnya, jadwal Vaksin tidak bisa saya atur kan, jadi ternyata bersamaan dengan saat volume pekerjaan saya sedang padat-padatnya. Tapi tetap diupayakan sebisanya, curi waktu tidur siang sebentar. Dan malam mengupayakan tak tidur lewat tengah malam.

Gejala/Efek Pasca Vaksin Covid yang Saya Rasakan

Respon tubuh tampaknya beda-beda ya terhadap vaksin. Mendengar cerita para nakes, membaca cerita teman-teman di media sosial, bermacam responnya. Ada yang bahkan tidak merasakan gejala apa-apa.


Gejala/Efek Pasca Vaksin Pertama

Pada vaksin pertama, saya merasakan lapar yang sungguh parah. Laparnya itu banget, menuntut pemenuhan segera dan seperti tidak bisa ditunda sebentar saja.
Pasca vaksin, sebenarnya saya agak khawatir akibat ritme kerja yang nggak bisa santai. Merasa bersalah saya mengabaikan anjuran Bu nakes yang telah mengingatkan. Tapi mau bagaimana. Kantor lagi padat, komunitas juga malah jauh lebih padat agendanya.


H+1 saya merasa lelah banget, maka curi-curi waktu untuk tidur siang. Saya tertidur lumayan lama ternyata. Jauh di luar kebiasaan. Saat bangun saya mengalami demam ringan. Duh, saya mulai agak khawatir. Memang sih banyak sumber menyebutkan demam sebagai salah satu efek vaksin. Tapi kurang istirahan bikin saya makin khawatir, jangan-jangan demamnya akan serius?

Saya langsung mengambil air hangat, cenderung panas di dispenser dan minum sebanyak mungkin yang saya kuat. Mencoba rileks dan istirahat lagi. Alhamdulillah, ternyata tak lama kemudian demam saya reda dan tidak berulang kembali sama sekali.

Gejala/Efek Pasca Vaksin Kedua


Pasca vaksin kedua, tidak ada efek lapar yang berlebihan. Biasa saja. Hanya saja, kali ini saya merasa tubuh saya lebih mudah lelah. Wallahua’lam apakah memang efek vaksin atau karena saya sudah kelelahan akibat berminggu-minggu digempur pekerjaan.Namun gejala ini hanya terasa 2-3 hari dan tidak sangat nyata.

Kesimpulan

Ini bukan anjuran ataupun tips, tetapi sekadar sharing pengalaman saja. Jika Anda ada yang memiliki riwayat kesehatan mirip dengan saya, BUKAN berarti Anda pasti bisa mengikuti apa yang saya lakukan. Yang jelas, selalu komunikasikan dengan dokter jika Anda ragu. Pastikan juga jaga kondisi serta taat prokes sebelum maupun sesudah vaksin. Pastikan pula mengisi lembar skrining dengan benar dan jujur. Jawab juga dengan benar pertanyaan nakes tentang kondisi Anda terkini

Teman-teman mungkin juga ada yang punya riwayat anafilaksis dan telah melewati vaksin covid ini dengan aman sentausa? Yuk sharing di kolom komentar.

Salam sehat

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *