Salah Kaprah Soal Takjil Buka Puasa

Share


Takjil? Takjil itu apaan emangnya? Iya, itu pertanyaan saya saat kelas sekian SD. Saat itu baru tahu, kalau ternyata makanan (utamanya yang manis), yang dijadikan makanan pertama saat berbuka puasa, itu sebutannya takjil. Ya… takjil. Sudah terlanjur identik dengan makanan/minuman ringan pembuka buka puasa, yang biasanya identik dengan rasa manis.Tak percaya? Coba saja googling dengan keyword “Takjil Buka Puasa”, jreeeeng…dalam waktu singkat akan Anda temukan buanyakkk sekali resep makanan manis.

Tapi sebenarnya, arti sebenarnya dari takjii adalah : mempercepat (dalam berbuka puasa), sebagaimana yang tertulis dalam KKBI. takjil/tak•jil/ v Isl mempercepat (dalam berbuka puasa)
Oke, itu tadi baru salah kaprah pertama. Selanjutnya? Baiklah, andai takjil di sini kita maknai sebagai makanan pembuka untuk buka puasa, ada lagi salah kaprah yang sungguh sayang, sangat dipercaya namun merugikan. Apa itu? Salah satunya keyakinan akan tuntunan: Berbukalah Dengan Yang Manis. Karena konon menurut riwayat Rasulullah berbuka dengan kurma, lalu dengan menggampangkan disimpulkan, bahwa berbuka sebaiknya dengan yang manis.

Salah? Tidak sepenuhnya sih. Benar? Eh…tunggu dulu. Kurma itu apa sih? Buah kan? Manisnya buah adalah manisnya fruktosa, gula alami buah. Substansi lainnya? kalau kurma segar, tntu tinggi juga kandungan airnya. Selain itu? Ada serat dan berbagai substansi baik lainnya.
Sekarang coba tengok “takjil” manis populer kita. Wuih… kolak, es campur, es pisang ijo, puding, dawet, dll. Dari mana manisnya? Gula! Kalau enggak gula pasir, ya campuran gulpas dan gulmer. Ditambah lagi komponen lain seperti berbagai tepung-tepungan, santan yang telah dimasak (lemak jahat), susu kental manis, belum lagi bahan aditif (perisa, pengawet pada sirup dan bahan makanan lainnya.

Dengan kombinasi berbagai bahan di atas, apalagi mengkonsumsinya setiap hari, menjadi sangat wajar jika ada yang mengeluh, “bulan puasa, kok berat badanku justru naik ya?” Juga banyak sekali kejadian sakit justru di akhir-akhir bulan puasa. Di saat yang semestinya tubuh justru makin sehat bugar, karena puasa sebenarnya adalah proses yang juga sangat mendukung kesehatan (jika dilakukan dengan benar).

Ketiga, makanan dan minuman dingin. Adalah sangat lumrah, makanan dan minuman dingin dipilih sebagai makanan yang umum disebut takjil tadi. Memangnya kenapa? Segar kan? Iya, sensasi segar yang sementara dan semu! Kenapa saya bilang semu, karena pasca nenggak minuman dingin, sebenarnya tubuh masih merasa kehausan.di sisi lain, tubuh orang berpuasa bukankah suhunya sedikit naik dari biasanya? Lalu langsung diguyur es yang suhunya jauh lebih dingin, yakin ini pilihan tepat? Suhu dingin juga bukuan suhu yang sesuai untuk bekerja oprtimalnya enzim-enzim encernaan. Akibatnya? Bisa dirasakan sih, sebenarnya, kalau kita peka. Pasca minum es, dan makan berat, selanjtnya perut kita ada rasa sebah atau sensasi kurang nyaman lainnya.
Jadi bagaimana sebaiknya berbuka? Dibuka dengan air suhu ruang saja atau sedikit suam kuku. Lanjutkan dengan substansi mudah cerna yang bisa memberikan energi seketika tanpa membebani sistem cerna. Buah, adalah contoh idealnya.

Yah…. puasa udah tinggal sedikit ini! Ya enggak papa daripada enggak saya tulis dan lalu lupa. Ha..ha… teman-teman bisa praktekkan ini di bulan puasa tahun mendatang, atau pada puasa-puasa sunnah lain waktu.

Selamat menikmati sisa ramadan. Semoga ramadan kali ini membasuh jiwa dan raga kita, dan menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik.
Salam

Leave a Reply