buku prosa budaya ibu-ibu doyan nulis

Peluncuran Prosa Budaya Elang Nuswantara: Menerbangkan Karya Tanpa Ketaksaan

Share

“Ketika semesta memanggil, tak ada yang mampu berpaling”.

WY

Buku kali ini menjadi sejarah baru dalam perjalanan menulis saya. Buku yang ditulis dengan penuh pengalaman magis yang berkali-kali membuat saya merenung, berpikir, berdoa, meditasi, benarkah jalan yang saya lakukan ini? Bahkan berulang mengirim doa kepada semesta di Prajekan sana, di tempat di mana taniyan lanjang, masjid konah dan lain-lainnya yang saya jadikan setting tulisan itu berada. Rapal Al Fatihah tak terhitung, istighfar mohon ampunan serta diluruskan jalan, dan shalawat mengharap kekuatan atau kalaupun tidak, mohon kemudahan-kemudahan itu datang.

Klimaksnya adalah peluncuran minggu lalu di Perpusnas Jakarta Pusat. Matur nuwun tak terhingga kepada Gusti Allah dan semesta yang telah membuatnya menjadi nyata.

Mengapa Menulis Buku yang Tidak Seksi?

Dalam perjalanan menulis dan secara sadar menekuni profesi penulis sejak 2008, buku ini menjadi salah satu titik penting. Posisi sebagai ketua Ibu-Ibu Doyan Nulis membuat saya senantiasa berpikir, buku apa ya yang akan kami bikin?


Sejak awal membuat buku-buku antologi di IIDN, saya dan tim menyepakati bahwa, kami tidak hanya harus berpatokan pada menulis buku yang disukai pasar, namun kami memilih menulis tema-tema yang PENTING, terlebih jika tema tesebut masih jarang yang menekuni.

Tema kesehatan mental, misalnya. Sejak awal, sebelum tema ini hits, IIDN telah meluncurkan Pulih (2020) dan Semeleh (2022). Keberanian menjalani hal yang agak berbeda memang menjadi pilihan kami di IIDN.
Namun demikian, agak beda dengan buku-buku antologi IIDN sebelumnya, saya merasakan ketika memutuskan untuk melakukan penulisan antologi berupa Prosa Budaya “Beri Aku Cerita yang Tak Biasa” ini, dorongannya lebih besar berasal dari hal di luar logika. Semacam ilham yang tiba-tiba menggerakkan saya untuk memutuskan mewujudkan tema ini.

kirana kejora
Bersama Sang Guru

Meski memang, sebenarnya tema budaya bukan hal asing bagi IIDN. Terbukti di tahun 2018 kami sudah menulis “Aku dan Cagar Budaya”, setelah itu ada lomba blog bertajuk “Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah”, tahun berikutnya saya secara pribadi mendapat kesempatan untuk turut membidani kelahiran buku tentang Museum Nusantara, lalu di 2021 melalui Mbak Dewi Yulianti kembali kami bekerjasama dengan Kemdikbud dalam penulisan Bawana Winasis Dieng.

Proses Penulisan dan Penerbitan yang Cukup Memakan Waktu

Pertengahan bulan Maret 2022, IIDN dalam gelaran IIDN Writing Academy membuka kelas Fiksi yang dimentori oleh Mbak Kirana Kejora dan Riawany Elita. Kelas tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan penulis-penulis IIDN khususnya yang merasa masih memerlukan bekal tambahan untuk dapat turut berkontribusi dalam Buku Antologi Prosa Budaya yang akan kami kerjakan.

Usai kelas, peserta diberikan waktu untuk menulis. Sesudahnya adalah proses seleksi yang dilakukan oleh Divisi Buku IIDN. Naskah yang dinyatakan layak muat kemudian dimintakan kepada penulis untuk direvisi sesuai masukan-masukan yang telah diberikan.

Pasca revisi, naskah kembali masku proses penyuntingan, dan setelah dianggap lengkap dan layak terbit baru kemudian IIDN menyerahkan kepada pihak penerbit yang kami pilih. Tahap selanjutnya adalah lay out, pengurusan ISBN, desain cover dan lain-lain perintilan pra-cetak.

Singkat cerita, akhirnya kami baru bisa membuka Prapesan buku ini di bulan pertengahan Juni hingga Juli 2022 ini. Jadi, pada saat persiapan launching, dengan segala ke-riweuhan mempersiapkan acara, sebetulnya Tim IIDN juga masih sibuk dengan finishing bukunya sendiri. Sungguh kebut-kebutan yang bikin deg-degan, namun semua terbayar ketika Alhamdulillah buku tercetak tepat waktu dan acara launching-pun terselenggara dengan baik.


Beralih dari Non Fiksi ke Fiksi, Apakah Sulit?

Hampir semua pembaca, mungkin mengenal saya sebagai blogger dan penulis buku non fiksi. Sejak 2008 saya hanya menulis karya fiksi 2 buku fiksi anak-anak. Kontras dengan karya-karya non fiksi yang mungkin sudah ada ribuan blogpost, ratusan kompetisi blog dengan puluhan karya untuk kompetisi yang berhasil saya menangkan.

Dengan latar belakang tersebut, sebenarnya keputusan untuk turut menulis dalam buku antologi kali ini, agak sedikit mengandung bahaya. Haha. Tapi tentunya saya bukan bermodal dengkul, sejak sangat belia, usia SD saya sudah membaca karya-karya roman seperti “kasih Tak Sampai”, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”, buku-buku Umar Kayam, dan banyak lagi. pengalaman membaca karya fiksi yang baik, saya anggap bisa menjadi bekal untuk penulisan kali ini.

Apakah prosesnya mudah? SAMA SEKALI TIDAK. Saya berulang kali duduk di hadapan laptop dengan memandang kosong ke layar. Blank, tidak tahu harus mulai dari mana. Bahkan meski teknik penulisan fiksi telah saya terapkan, keyboard saya tak kunjung dapat mengetikkan apa-apa. Kemampuan memproduksi jalinan kata, seolah menguap begitu saja.

Berkali-kali saya berhenti, mengambil jeda. Berbicara pada Tuhan.


“Gusti Allah, saya ini tidak punya maksud neko-neko, saya hanya ingin menjaga apa yang seyogianya bisa saya jaga melalu tulisan.”

Berulang pula saya memulai proses menulis dengan berzikir dahulu, shalawat, meditasi apa saja yang biasa saya lakukan untuk menemui diri saya yang terdalam jauh di sana. Hingga detik-detik deadline, naskah saya tak kunjung beres. Kemudian entah ide dari mana, saya memutuskan untuk membayangkan semesta di sana, di Prajekan Lor yang menjadi setting tempat pada cerita yang saya tulis.

Saya membayangkan taniyan lanjang dan situasi terkininya, lengkap dengan masjid konah di ujung baratnya, pesarean di seberang jalan. Lalu saya menghadiahkan Al-Fatihah kepada Pak Yai, Mak Nyai, para Mbah beserta sahabat-sahabatnya serta seluruh makhluk yang saya kenal atau tidak saya kenal di sana.
Selanjutnya, tidak terlalu mudah juga, namun akhirnya naskah saya selesai. Sampai di sini saja, sebenarnya saya sudah sangat bernapas lega dan mengucap syukur.

Menghantarkan Buku dengan Sepenuh Jiwa

Apakah sudah cuku dengan naskah saya selesai, lalu buku “Beri Aku Cerita yang Tak Biasa” ini selesai? Tidak. Bahkan dengan angka Prapesan yang jumlahnya di atas buku-buku IIDN lainnya, apakah cukup?
Jangan katakana ya. Karena rugi sekali rasanya, sebab kelas kami diampu oleh seorang Kirana Kejora yang sudah sangat dikenal mengusung prinsip writerpreunernya.

Saya memaknai konsep ini menjadi sangat kaya. Sebuah buku tak lagi dipandang sekadar sebagai kertas bercetak. Buku dihadirkan lengkap dengan visual yang baik, bahkan didukung videografis yang memukau, dan… ini belum selesai. Elang Biru, begitu nama yang disemat Mbak Key kepada kami para penulis Prosa Budaya dari IIDN, bersama Elang Merah dan Elang Putih dalam naungan Elang Nuswantara, juga merencanakan sebuah peluncuran buku yang layak.

Ragam Budaya Nuswantara dalam Kemegahan Panggung Launching

Karena amat padatnya kesibukan, saya mempercayakan kepada tim untuk mengawal persiapan launching. Karena kami, Elang Biru akan launching bertiga bersama Elang Merah dan Elang Putih, maka persiapan pun dilakukan dalam panitia gabungan.

Mbak Fitria Rahma dan Mbak Melisa dari Divisi Buku IIDN, The Novi Herdiani Divisi Umum IIDN serta sejumlah Elang Biru turut dalam kepanitiaan. Kurang beberapa hari acara saya baru tahu detail peluncuran tersebut. Beberapa hal juga masih belum fix, termasuk persembahan yang akan ditampilkan di stage oleh Elang Biru. Badhalahhh… deg-degan banget to?

Hari Peluncuran Tiba, syukur, segala sesuatu bisa dibilang lancar. Beberapa undangan dari Kemenparekraf, Kemdikbud, serta dari Perpusnas sendiri juga menyampaikan sambutan serta sekapur sirih di awal acara.

Yang istimewa, The Novi Herdiani, pembawa acara hari itu, membuka seremoni dengan tarian dan nembang. Beberapa lagu juga dibawakan oleh secara solo oleh The Novi, maupun dalam Trio Nuswantara. Misalnya Misteri Cintanya Nicky Astria . Lagu Kesaksian, OST Seruni Niskala pun turut dinyanyikan siang itu. Saya turut bernyanyi dengan genre tidak biasa. Benderanya Coklat, kami bawakan bertiga: saya, Mbak Rani dan Teh Novi.

Elang Biru tampil diawali tembang yang dibawakan Mbak Flo, dengan pembacaan maknanya oleh Mbak Holy Melisa. Usai Mbak Flo nembang, secara bergantian, EB membacakan cuplikan naskah masing-masing, dilanjutkan dengan pemutaran video trailer buku “Beri Aku Cerita yang Tak Biasa. Trailer menggelegar, menyentuh, menyalakan bara sekaligus menentramkan jiwa ini diproduksi oleh Holy Melisa. Pada akhir persembahan, EB bersama membawakan Yamko Rambe Yamko, lagu asal Papua.

peluncuran buku ibu-ibu doyan nulis
Discalusi Florentia (Flo) dan Holy Gat Melisa membawakan tembang dari Serat Kalatidha
beri aku cerita yang tak biasa
Annie Nugraha, salah satu penulis Elang Biru juga owner Fibi Jewelery, Pendukung acara launching ini

Cuplikan Kisah Kaum Pendhalungan dalam Beri Aku Cerita yang Tak Biasa

Apa yang saya tulis dalam “Beri Aku Cerita yang Tak Biasa”? Tokoh yang saya ciptakan, Aruna Saraswati, dibesarkan dalam budaya pendhalungan di salah satu kecamatan paling utara di Bondowoso sana. Madura bukan, Jawa pun tidak, begitu sederhananya penjelasan tentang kaum pendhalungan.

Kisah cinta yang kandas, cita-cita setinggi langit serta keras kepalanya Aruna akan menjadi bagian dari cerita ini. Ya, prosa budaya ini memang bernuansa romance. Cerita cinta dihadirkan dalam kemasan tidak menye-menye karena cinta bukan hanya sekadar, namun harus berujar memiliki pijar sebagaimana tagline buku ini. Latar budaya digunakan dalam setiap tulisan. Kenapa? Karena pembaca biasanya paling semangat membaca cerita yang ada cinta-cintaannya bukan? Hayo ngaku!

Pada akhir tulisan ini saya ingin menghaturkan rasa syukur kepada:

Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Besar
Semesta yang telah mengizinkan kami bergerak bersama
Mbak Kirana Kejora yang telah mengampu kelas dan membimbing kami hingga saat ini
Seluruh penulis Elang Biru
Tim IIDN
Para sahabat, komunitas literasi, blogger dan semua yang telah menghadiri peluncuran buku kami
Serta semua yang telah berkontribusi


Beri Aku Cerita yang Tak Biasa
Cinta bukan hanya sekadar, namun harus berujar memiliki pijar

Dapatkan Bukunya segera!

Share

One thought on “Peluncuran Prosa Budaya Elang Nuswantara: Menerbangkan Karya Tanpa Ketaksaan

  1. Terima kasih sudah mengulas peluncuran 3 buku Elang Nuswantara dengan sangat apik. Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari energi pelestarian budaya Indonesia melalui karya tulis bersama, antologi filmis. Salam hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *