asus oled

Mengurai Problem Mental Health bagi Remaja dengan Aktivitas Kreatif Bersama ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Share

Satu dari empat remaja secara global mengalami gejala depresi yang meningkat secara klinis.

Sementara itu, 1 dari 5 remaja mengalami kecemasan yang meningkat. Riset yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa depresi dan kecemasan pada anak dan remaja meningkat dua kali lipat jika dibandingkan sebelum pandemi. Studi ini melibatkan anak dari Asia, Eropa, dan Amerika.
Studi terbaru menunjukkan pandemi Covid-19 membuat kondisi anak di seluruh dunia semakin buruk. Review dilakukan pada 29 studi dengan total 80 ribu anak yang berusia 4-17 tahun (www.cnnindonesia.com).

Sementara di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terjadinya sejumlah kasus kematian yang diduga terkait dengan depresi anak selama pembelajaran jarak jauh. Selain itu, KPAI juga mencatat bahwa ada siswa kelas 12 di sebuah sekolah di Kabupaten Tangerang, yang dirawat di salah satu rumah sakit, lalu dirujuk ke RSJ Grogol, dengan dugaan depresi (BBC Indonesia 18 Februari 2021).

Jungkir Balik Masa Remaja

Remaja itu unik, dibilang anak kecil sudah bukan, disebut dewasa pun belum. Tanpa pandemi pun, menjalani hidup sebagai seorang remaja, sudah penuh tantangan. Adolesen atau remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Pada masa ini berbagai perubahan terjadi baik perubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial. Perubahan-perubahan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai gangguan, salah satunya secara psikologis.


Kedua anak kami saat ini ada dalam masa ini. Si anak nomer dua, Raniah, kini berada di periode middle adolescent (periode ini terjadi pada rentang 15-17 tahun). Menurut jurnal yang pernah saya baca, periode ini ditandai dengan beberapa perubahan misalnya:
• Mengeluh orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupannya,
• Sangat memperhatikan penampilan,
• Berusaha untuk mendapat teman baru
• Tidak atau kurang menghargai pendapat orangtua,
• Sering sedih/moody,
• Mulai menulis buku harian,
• Sangat memperhatikan kelompok main secara selektif dan kompetitif,
• Mulai mengalami periode sedih karena ingin lepas dari orangtua.

Tidak semua gejala tersebut saya amati terjadi pada Raniah. Namun ya, satu atau dua gejala, benar adanya. Yang lain, mungkin belum terlalu kentara saja.

Periode terberat menurut saya justru telah lewat, yakni peralihan di akhir-akhir Sekolah Dasar menuju ke SMP, dan awal SMP. Mungkin karena kondisi saya yang juga sedang berat, dan mungkin saya juga kurang memperhatikan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhannya, maka sempat, beberapa bulan teramati kondisi yang cukup sulit.

Tadinya saya melihat, anak ini menunjukkan perilaku berusaha menekan emosi sekuat-kuatnya. Pada saat kami berselisih misalnya, saya melihat dia menggenggam tangannya kuat-kuat dengan perubahan ekspresi wajah yang amat tidak biasa. Sekali dua kali ini terjadi, alarm saya langsung menyala keras. Ini bukan hal yang perlu diulur-ulur lagi untuk diselesaikan.

Banyak sekali tulisan yang menyebutkan, bahwa masa remaja adalah masa yang paling rentan terhadap masalah-masalah kesehatan mental. satu diantaranya, kini saya amati pada diri anak saya.

Suatu saat saya kedatangan teman baik saya yang seorang praktisi psikologi pragmatik. Dia mengatakan pada saya, bahwa dia menangkap energi berupa rasa tidak berharga, tidak berdaya dalam diri anak perempuan saya ini. Tak menunggu berganti hari, saya langsung bertindak. Let’s fix it nak!

Selalu ada Kesempatan, Semua Bisa Diperbaiki

Tidak ada yang terlambat, semua bisa kita perbaiki. Bagi keyakinan saya. Bersyukur, saya banyak terlibat dalam event terkait coaching. Saya tahu apa yang harus saya lakukan.


Quality Time Bersama

Berdua, menghabiskan waktu di Kawasan Kuta, Bali

Saat kondisi memungkinkan, kami hang out berdua. Kondisi pandemi memang tak terlalu memberi keleluasaan pergi ke luar.

Terkadang kami pergi bertiga, bersama kakaknya juga. Sekadar pergi makan, berbelanja atau menemani saya jika ada event komunitas. Di rumah saya berusaha menyempatkan ngobrol dan bermain atau beraktivitas bersama. Walau memang, waktunya tak banyak. Memasak, atau bermain dengan kucing-kucing, biasanya menjadi aktivitas menyenangkan yang bisa kami nikmati bersama sembari ngobrol.

Kadang kami ngobrol ringan saja. Sesekali saat kondisi terlihat nyaman, saya masuk ke kamarnya dan minta izin melakukan pembicaraan yang lebih mendalam. Lewat obrolan-obrolan ini saya sesekali membantunya merelease apa yang menjadi ketidaknyamanan dalam dirinya. Berkali-kali kami bertangisan, berpelukan lalu kemudian sama-sama merasakan kelegaan luar biasa.

Kebiasaan ini memberikan kami kedekatan lebih baik. Raniah jadi semakin terbuka berbicara, mengungkapkan isi hatinya. Saya juga merasa lebih mudah untuk mencari tahu hal-hal yang perlu saya tahu tentangnya. Apa yang diinginkan. Apa yang sedang dipikirkan, dan lainnya.

Pengasuhan Lebih Berkesadaran

Saya berusaha lebih berkesadaran dalam mengasuh anak-anak. Apa yang sedang saya rasakan, apa yang ingin saya sampaikan, semua dalam kesadaran. Alhasil, saya merasa amat jarang berbicara dengan nada tinggi dengan mereka. Menjadi lebih nyaman dalam berkomunikasi. Anak-anak juga menjadi lebih mudah diajak berkompromi.


Access Counsciousness Bars, Defrag Otak Sekaligus Berburu Sertifikat Internasional Bersama

Akhir tahun lalu saya bersama Raniah akhirnya berkesempatan mengikuti sebuah kelas bersertifikasi Internasional yakni Access Counsciousness Bars. Dalam kelas ini kami belajar tentang bagaimana memilih, bagaimana berkesadaran. Bars, satu protokol yang dilakukan dengan menekan titik-titik tertentu pada kepala juga diajarkan dalam kelas ini . Well, walau sebenarnya bars bukan hanya soal seni menyentuh titik-titik tersebut. Simpelnya swipe bars membuat kita rileks dan bisa merelease segala energi yang tidak dibutuhkan diri. Termasuk sejumlah emosi seperti kemarahan, kesedihan dan beberapa hal kurang menyenangkan lainnya.

Menggambar Sebagai Terapi

Saya merasa bersyukur, Raniah memiliki kesenangan menggambar. Kadang dia membuat sketsa secara manual, namun lebih sering dia menggunakan IBIS Paint untuk membuat gambar karakter-karakter anime, atau gambar lainnya.

Saya pernah membaca penelitian tentang Hubungan antara Kegiatan Melukis dengan Kebutuhan Psikologis pada Remaja. Ternyata banyak kebutuhan psikologis remaja yang tidak terpenuhi dapat disalurkan dengan melukis. Ada hubungan yang sangat signifikan antara melukis dengan kebutuhan psikologis.

Raniah bukan penghobi melukis, namun dia suka membuat ilustrasi. Saya rasa tetap ada beberapa persamaan diantara keduanya, walau tak persis. Inilah mengapa saya merasa bersyukur atas kegemarannya ini.

Lain waktu saya pernah menanyakan kepada Raniah, sebahagia apa dia saat menggambar? Ternyata memang sangat signifikan peran aktivitas ini dalam mengisi jiwa Raniah.

Kami memberi keleluasaan Raniah untuk menyalurkan minatnya terhadap ilustrasi. Tema ini juga bahkan dipilih menjadi project semester di sekolahnya beberapa waktu lalu. Sebagai homeschooler, Raniah leluasa mengatur seberapa banyak waktu digunakan untuk menggambar.

Kemampuan ilustrasi juga sudah pernah mengantarnya mencicipi project yang cukup bergengsi
Sekitar tahun lalu, Raniah berkesempatan turut berkontribusi dalam pengembangan sebuah aplikasi belajar dengan membuatkan gambar-gambar lustrasinya. Bagi saya, hal ini amat positif. Di samping membuat rasa percaya dirinya makin naik, perasaan-perasaan positif makin bisa dialaminya. Selain itu dia juga mendapatkan sejumlah materi, yang bagi anak seusianya terhitung besar. Ini amat bagus untuk memupuk keyakinan akan pilihannya di masa mendatang.

Well, saya tidak tahu. Upaya mana yang paling berkontribusi terhadap membaiknya banyak kondisi. Yang jelas, saya yakin semua saling sinergis.

Saya makin bisa menyadari apa yang sedang ada di dalam diri. Raniah menjadi lebih kalem, terlihat makin tertata emosinya. Jika diamati juga makin sering tersenyum dan tertawa, jarang murung. Diajak ngobrol pun menjadi makin asyik, terbuka dan terkesan lebih berani mengekspresikan dirinya.

Cita-cita Sebagai Illustrator

Dulu, saat saya seusia Raniah, saya belum jelas mau ngapan nanti ketika dewasa. Raniah berbeda, dia tahu pasti bahwa ilustrasi atau hal lain yang nanti akan terkait dengan desain, adalah pilihannya. Pilihan kampus pun sudah mulai dibuatnya.

Bagi saya, ini hal yang sangat melegakan. Well, sejak dini Raniah bisa fokus membangun portofolio yang relevan dengan cita-citanya. Sejauh ini dia terlihat sangat responsible terhadap pilihannya. Mempelajari secara otodidak teori-teori membuat ilustrasi, menginstal dan terus berlatih menggunakan berbagai fitur aplikasi ilustrasi, juga berkomunitas dengan sesama pecinta hobi ini.

Saya membantunya mencari berbagai informasi beberapa prodi di kampus-kampus terbaik di Indonesia. Terutama perguruan tinggi negeri. Meski masih jauh, saya rasa akan baik jika dipersiapkan lebih awal. Impiannya akan makin jelas dan step-stepnya pun makin mudah dipersiapkan.

Dampak lainnya yang saya inginkan adalah, dia tahu bahwa saya dan ayahnya mendukung cita-citanya dan akan melakukan apa saja yang kami bisa untuk membantu. Ini juga membuatnya makin optimis akan masa depannya kelak.

Ketika Hobi Ibu Bertemu Hobi Anak, Maka Problem Mewujud Karya

Ilustrasi saya jadikan pintu masuk, untuk menggali lebih dalam banyak hal tentang anak ini. Membangun hubungan yang lebih baik lagi antara ibu dan anak, mewadahi up and down emosi, membantunya menghandle kondisi-kondisi sulit dikarenakan berbagai perubahan dalam masa remaja ditambah masa pandemi yang cukup panjang ini.

Hingga pada suatu titik saya berpikir, mengapa apa yang telah kami lewati berdua tak kami bukukan saja? Karya yang baik dan digarap serius, akan menjadi portofolio yang berharga untuknya. Selain itu saya juga yakin di luar rumah kami, ada banyak ibu-ibu seperti saya dan anak-anak remaja seperti Raniah yang pernah mengalami kesulitan yang serupa.

Maka di Stasiun Gubeng Surabaya, sambil menanti kereta yang akan membawa saya kembali ke Solo, selesailah saya buat konsep sebuah buku duet. Buku yang berangkat dari keyakinan bahwa:

buku yang baik
Menulis kreatif

Setidaknya menggerakkan kami sebagai penulisnya, untuk berproses menjadi terus lebih baik. Lebih membahagiakan lagi jika nanti mampu menggerakkan para pembaca buku ini. Bukunya sedang kami tulis pelan-pelan. Sambil kami terus berproses memahami satu sama lain dan membangun relationship yang makin berkualitas. Raniah menulis pendek-pendek. Saya, tentu saja menulis lebih panjang, maklum emak-emak kang curhat.

Menulis Buku Duet Bersama Raniah

Menulis buku berdua dengan anak, ternyata tidak terlalu mudah. Cukup menantang. Apalagi kami menulisnya disela kesibukan kami masing-masing. Kadang juga muncul rasa ragu, benarkah ini akan menjadi sesuatu yang baik?

Bersyukur, ada kesempatan di saat yang tepat. Sekitar 3 pekan lalu saya mengikuti kelas mentor menulis saya, Anna Farida. Saya makin yakin, bahwa jalan yang kami tempuh sudah benar. Menurut cikgu Anna, mendampingin anak menulis dan bahkan menulis bersama peran orang tua adalah:

Bonding artinya membangun ikatan orang tua dengan anak. Bagi saya ini terasa banget, banyak orang tua anak remaja mengeluhkan susahnya untuk tetap dekat dengan anak yang kini biasanya sudah mulai menjauh dari keluarga dan lebih dekat pada teman-teman atau gengknya. Nah, bagi saya. Kedekatan kami menjadi makin terbangun ketika kami berkomitmen menjalankan project bersama. Bahkan jika buku ini selesai nanti, saya berencana mencari ide project lain lagi untuk dikerjakan berdua.


Sharing, sebagai sarana berbagi. Saya bisa share pengalaman saya di dunia penulisan. Sebaliknya Raniah banyak member saya insight baru terkait dunia ilustrasi. Sharing di sini juga mencakup substansi bukunya. Karena kali ini kami menulis tentang mental health, maka kami banyak sekali bisa sharing terkait emosi, perasaan, harapan, bagaimana kami menghandle itu semua, dan banyak hal lain.


Facilitating, ini jelas diperlukan. Saya dan suami perlu memberikan dukungan apa yang dibutuhkan Raniah untuk terus berkarya dengan baik. Termasuk memberikan keleluasaan mengatur waktunya.
Encourage, namanya remaja-terkadang kurang yakin, ragu atau kadang bahkan menunda-nunda. Di sini peren orang tua untuk membuat mereka yakin bahwa apa yang sedang dikerjakan akan menjadi sesuatu yang besar manfaatnya.


Appreciating. Anak-anak suka diapresiasi. Orang tua juga seyogianya peka untuk memberikannya. Saya selalu mengapresiasi hasil pekerjaannya. Walau kadang untuk bagian tulisannya, masih perlu banyak perbaikan. Tapi membuatnya mau ikut menulis saja, itu sudah amat patur diapresiasi. Mengingat zona amannya selama ini adalah hanya ilustrasi.

Gawai Seperti Apa yang Kami Butuhkan untuk Menunjang Berkarya Kreatif?

Jelas kami membutuhkan gawai berperforma baik. Kerja yang baik dan cepat adalah kebutuhan kami. Apalagi saya juga bekerja di kantor pagi hingga sore. Adanya gawai dengan kinerja cukup mumpuni akan jauh memudahkan.

Perangkat kerja yang ringan dan ringkas, rasanya bukan kami saja yang membutuhkan. Kini culture untuk bisa bekerja di mana saja, kapan saja, rasanya telah menjadi kebutuhan banyak kalangan. Lihatlah, di kafe-kafe. Tak semua hanya berniat kongkow dan bersantai, sebagian justru sedang bekerja. Menulis, bertemu klien, mendesain, dan jenis pekerjaan digital lainnya.

Pekerjaan terkait ilustrasi yang dilakukan Raniah, amat membutuhkan kualitas layar yang mumpuni. Jadi, laptop dengan kualitas layar/tampilan yang oke adalah kebutuhan. Demikian juga bagi saya yang kerap harus menyiapkan desain-desain sederhana untuk blog atau event-event yang saya buat. Termasuk juga mengkonsep beberapa hal terkait visual sebuah buku misalnya cover, flyer-flyer promosi, dan lainnya.

Produktif dalam Dunia Kreatif Bersama Zenbook 14X OLED, Laptop Ramping, Ringan, dan Ringkas

ASUS OLED

Laptop ini digadang-gadang sebagai peranti kerja yang ramping, ringkas serta ringan. Diberikan layar sentuh 16:10 yang leluasa, layar ASUS OLED dan berkualitas HDR yang konon mampu menghadirkan warna super-hidup! Didedikasikan untuk menjaga kualitas kerja serta produktivitas penggunanya, walau dalam kondisi mobile sekalipun.

Laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics.

Seperti apa rupanya? Bagaimana gawai baru dari ASUS ini bisa membantu saya dan Raniah makin produktif di ranah kreatif? Coba kita ulik lebih lanjut yuk!

Body Ramping, Ringan dan Mudah Dibawa, 16.9mm / 1.4kg

ASUS tampaknya makin merasa perlu memanjakan penggunanya dengan perangkat kerja ringan, ramping sehingga memberi dukungan untuk terus produktif walau terus mobilitas tinggi. Dengan ketebalan hanya 16.9 mm dan bobot 1.4 kg, Zenbook 14X OLED (UX5400) mudah dan nyaman untuk ditenteng ke mana-mana.

Layarnya cukup leluasa, yakni 14 inchi, namun dimensi keseluruhan laptop setara dengan laptop berukuran 13 inchi. Thanks to teknologi NanoEdge Display, karenanya bezel layar Zenbook 14X OLED (UX5400) dihadirkan sangat tipis yaitu hanya 3mm pada kedua sisi layarnya. Bezel tipis ini juga membuat Zenbook 14X OLED (UX5400) memiliki layar dengan screen-to-body ratio hingga 92%.

Dedikasi pada produktivitas dan mobilitas melalui laptop ini juga dimunculkan dalam bentuk ketangguhannya. Zenbook 14X OLED (UX5400) telah mengantongi sertifikasi lolos uji ketahanan berstandar US Military Grade (MIL-STD 810H). untuk mendapatkannya, Zenbook 14X OLED (UX5400) harus lulus dalam berbagai pengujian ekstrem di antaranya adalah tes jatuh, tes yang disuguhkan getaran, hingga tes operasional pada lingkungan ekstrem.

Paduan bobot ringan, dimensi ringkas serta ketangguhan yang disuguhkan Zenbook 14X OLED (UX5400) akan sangat membantu saya dan Raniah bisa bekerja secara mobile, di mana saja dan kapan saja. ini akan membantu kami makin produktif. Karena jujur, lebih enak bekerja di kafe atau tempat lain selain di rumah. Namun untuk itu kami tentu butuh gawai yang sesuai. Risiko laptop dibawa-bawa ke mana-mana juga pasti ada, namun gawai yang tangguh seperti Zenbook 14X OLED (UX5400) ini akan membuat kami nyaman dan tanpa khawatir membawanya.

Performa Andal dengan 11th Gen Intel® Core™, CPU Performa Hingga 40W Masih ditambah Boost AIPT 70%

Zenbook 14X OLED (UX5400) dibekali dengan hardware modern sehingga penggunanya dapat beraktivitas dengan produktivitas tinggi. Ditenagai 11th Gen Intel® Core™ processors, Zenbook 14X OLED (UX5400) cukup andal dan bertenaga mendukung kebutuhan komputasi sehari-hari dan juga kebutuhan multitask.

Butuh performa lebih? Zenbook 14X OLED (UX5400) bisa lebih kencang lagi dengan adanya fitur bernama ASUS Intelligent Performance Technology (AIPT). Ada tiga mode performa yang bisa dipilih yaitu Performance Mode, Balance Mode, serta Whisper Mode. Pada Performance Mode, prosesor dapat dipacu dayanya hingga 40W untuk menghadirkan performa lebih ngebut.

Untuk lebih total mendukung multitask serta performa lebih baik, Zenbook 14X OLED (UX5400) dilengkapi memori berkapasitas hingga 16GB. Gawai ini juga dibekali dengan penyimpanan berupa PCIe SSD yang memiliki performa tinggi serta kapasitas super besar yaitu hingga 1TB.

Performa yang memadai, akan sangat dibutuhkan untuk mencapai produktivitas. Kinerja yang ditawarkan Zenbook 14X OLED (UX5400) dengan spesifikasi seperti di atas, akan membantu kami berkarya. Lebih-lebih dalam waktu yang singkat, namun harus mencapai hasil optimal.

Layar Berteknologi ASUS OLED, Visual Terbaik yang Ramah Mata

Hal yang bikin saya makin penasaran untuk bisa memakain Zenbook 14X OLED (UX5400) adalah layarnya. Menggunakan layar berteknologi ASUS OLED yang dikenal nyaman di mata sehingga dapat meningkatkan produktivitas penggunanya.

Seluruh laptop dengan layar ASUS OLED sudah memiliki sertifikasi low blue-light dan anti-flicker dari TÜV Rheinland. Artinya apa? Layar Zenbook 14X OLED (UX5400) ini lebih aman untuk kesehatan penggunanya, serta lebih nyaman saat digunakan. Dengan disematkannya fitur ini, pengguna Zenbook 14X OLED (UX5400) bisa bekerja lebih lama tanpa risiko mata mudah lelah.

Dengan dukungan fitur HDR tersertifikasi VESA, ASUS OLED mampu mereproduksi warna yang sangat kaya dengan color gamut mencapai 100% DCI-P3. Layar OLED memiliki tingkat akurasi warna sangat tinggi, selain itu juga sudah berstandar industri dengan dikantonginya sertifikasi PANTONE Validated Display.

Kemampuan layar untuk mereproduksi warna dengan baik serta akurasi warna yang sangat tinggi, akan sangat sesuai untuk mendukung perkerjaan terkait visual yang dilakukan Raniah. Proses pemilihan maupun penyuntingan warna dalam ilustrasi yang dibuatnya akan sangat terbantu dengan kehadiran layar OLED milik Zenbook 14X OLED (UX5400) ini.

Konektivitas Lengkap Menunjang Produktivitas

laptop yang memiliki konektivitas lengkap akan mendukung produktivitas. Konektivitas yang lengkap memudahkan terhubungnya berbagai perangkat tambahan yang dapat meningkatkan produktivitas Selain itu, laptop akan mudah terhubung ke jaringan komputer atau internet. Ini tentu menjadikan aktivitas nyaris tanpa batas.

ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) dibelaki konektivitas yang sangat lengkap. Baik konektivitas menggunakan kabel, maupun nirkabel. Untuk konektivitas menggunakan kabel, Zenbook 14X OLED (UX5400) dilengkapi dengan beragam port yang bisa digunakan untuk menghubungkan berbagai perangkat yang sesuai. Tersedia HDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, hingga MicroSD dan 3.5mm combo audio jack. Gawai ini juga dibekali dengan dua port USB Type-C Thunderbolt™ 4. Port modern tersebut memiliki kecepatan transfer data yang tinggi, yakni hingga 40 Gbps, dapat pula digunakan untuk menghubungkan monitor tambahan dengan dukungan resolusi hingga 8K. Port ini juga mendukung fitur USB Power Delivery, karenanya dapat digunakan untuk mengisi daya baterai melalui adapter charger atau power bank.

Untuk konektivitas nirkabel, ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) ini dibekali WiFi. WiFi 6 ini mampu melakukan transfer data dengan kecepatan lebih tinggi dan stabil dibanding generasi sebelumnya. Karena itulah Zenbook 14X OLED (UX5400) memastikan penggunanya terkoneksi ke internet dengan mudah dan nyaman.

Konektivitas lengkap yang dihadirkan dalam Zenbook 14X OLED (UX5400) ini akan membantu saya dan Raniah bekerja lebih mudah dan produktif. Berbagai perangkat tambahan yang perlu digunakan bersamaan dalam sebuah laptop serta kecepatan internet yang memadai akan membuat pekerjaan kami lebih cepat, dan mudah.

ASUS ScreenPad™ dan Ergolift Hinge Multitasking Makin Efisien

Zenbook 14X OLED (UX5400) menjadi berbeda dengan sebagian besar laptop premium lainnya, salah satunya adalah karena adanya ScreenPad™ 2.0. Fitur ini berfungsi sebagai layar kedua sekaligus touchpad. ScreenPad™ 2.0 memiliki berbagai fitur yang membuat penggunanya makin produktif. Ada fitur Quick Key yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai shortcut secara lebih cepat tanpa harus menghafal kombinasi tombol di keyboard. Quick Key ini bisa juga dikustomasi sesuai dengan aplikasi yang sedang berjalan, lho.

Terdapat pula fitur untuk menampilkan antarmuka tambahan pada berbagai aplikasi utama Microsoft Office. Dengan antarmuka ekstra ini, pengguna Zenbook 14X OLED (UX5400) tidak perlu mengakses berbagai menu di layar utama untuk menggunakan berbagai fungsi di aplikasi Microsoft Office.
ScreenPad™ 2.0 juga bisa berfungsi sebagai layar kedua. Seperti halnya layar, ia dapat menampilkan aplikasi apapun. Fitur App Switch, akan membantu menampilkan berbagai aplikasi dari layar utama ke ScreenPad™ 2.0 dengan amat mudah.

Keberadaaan 180⁰ ErgoLift Hinge pada Zenbook 14X OLED (UX5400), selain memungkinkan laptop dibuka hingga 180⁰ untuk memudahkan penggunaan kolaboratif, juga mengangkat bodi utamanya. Ini membuat pengguna semakin nyaman karena posisi bodi utama yang sedikit terangkat. Posisi mengetik menjadi lebih nyaman pada saat mode penggunaan clamshell.

Grafis Diskrit, Cepat Namun Tetap Efisien

Zenbook Oled 14X ini menggunakan kartu grafis NVIDIA® GeForce® MX450. Kartu grafis yang termasuk jenis diskrit ini memungkinkan laptop untuk bekerja dan bermain secara cepat. Bahkan kecepatannya capai 2,5X dibandingkan grafis terintegrasi terbaru. Ini mengapa gawai baru ini disebut cocok untuk kreator, karena untuk untuk pengeditan foto, pengeditan video, dan game dapat dilakukan lebih cepat. Bekerja mulus dengan teknologi NVIDIA Optimus® sehingga mencapai keseimbangan sempurna antara masa pakai baterai yang lama dan kinerja.

Kapasitas Baterai

Baterai berkapasitas lebih besar, yaitu 63Whr milik Zenbook 14X OLED membuat penggunanya dapat menggunakannya lebih lama. Masih ditambah fitur fast charging dengan kemampuan pengisian baterai hingga 50% dalam 30 menit, cukup singkat untuk diandalkan.

Kapasitas baterai yang besar akan sangat memudahkan penggunaan mobile. Terkadang tak semua tempat yang saya dan Raniah datangi dan pilih sebagai tempat bekerja, memiliki fasilitas cukup untuk bisa melakukan charging. Pengisian yang cepat juga akan menambah kepraktisan dan membuat perangkat ini selalu siap untuk beragam tugas!

Harga dan Spesifikasi Zenbook 14X OLED (UX5400)

CPUIntel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
Operating SystemWindows 10 Home
Memory16GB LPDDR4X
Storage1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD
Display14″ (16:10) OLED 2.8K (2880×1800) 90Hz 400nits DCI-P3:100% NanoEdge display, PANTONE Validated Display, VESA TrueBlack HDR, TÜV Rheinland eye care certified, 92% screen to body ratio ScreenPad™ 2.0 (FHD+ (2160 x 1080) IPS-level Panel)
GraphicsIntel® Iris® Xᵉ graphics, NVIDIA® GeForce® MX450, 2GB GDDR6
Input/Output1x USB 3.2 Gen 2 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 supports display and power delivery, 1x HDMI 2.0b, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, Micro SD card reader
Camera720p HD camera
ConnectivityWi-Fi 6 (802.11ax) + Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
AudioBuilt-in speaker, Built-in array microphone, harman/kardon certified
Battery63WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion
Dimension31.12 x 22.12 x 1.69 ~ 1.69 cm
Weight1.4Kg
ColorsLilac Mist, Pine Grey
PriceRp23.999.000
Warranty2 tahun garansi global

Mental health issue, bagi remaja, bukan hal yang bisa dianggap enteng. Golongan umur paling rentan, adalah usia remaja. Saya sebagai orang tua yang mengasuh dua remaja, demikian pula Raniah, masih terus berjuang untuk makin sehat secara mental dan menjadi bagian dari solusi.

Project yang kami lakukan, mungkin memang bukan hal wah. Sederhana saja. Namun, semoga mampu mengetuk kesadaran di banyak kepala dan hati lainnya. ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) adalah gawai yang kami anggap amat sesuai dan kami idamkan untuk menemani menjalankan tugas hidup ini, yakni turut membangun kesadaran akan kesehatan mental. Semoga semesta mengizinkan.

Sumber:

Adolescent Development (Perkembangan Remaja) Jose RL Batubara Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta- Sari Pediatri, Vol. 12, No. 1, Juni 2010

Nunuk Nur Shokiyah: Analisis Hubungan antara Kegiatan Melukis dengan Kebutuhan Psikologis pada Remaja Gelar-Jurnal seni dan bidaya Volume 12 Nomor 1, Juli 2014

Covid-19: ‘Stres, mudah marah, hingga dugaan bunuh diri’, persoalan mental murid selama sekolah dari rumah,Callistasia Wijaya https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55992502

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com

Share

4 thoughts on “Mengurai Problem Mental Health bagi Remaja dengan Aktivitas Kreatif Bersama ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!