buku IIDN

Semeleh, The Journey of Self Love, Gratitude and Acceptance: Pengalaman Memperjuangkan Idealisme Menulis bersama Komunitas

Share

Membuat buku yang isinya bagus, bermakna, memberi dampak positif pada pembaca dan penulisnya, sekaligus terlihat keren dan membahagiakan, selalu menjadi cita-cita saya.

widyanti yuliandari

Menulis memang bisa berarti banyak hal yang berbeda untuk setiap pelakunya. Sekadar sarana berkomunikasi, jalan untuk berbagi ide, me time yang dinikmati layaknya hiburan atau bahkan sarana healing dan masih banyak lainnya. Menulis untuk sekadar memberi tahu dunia bahwa saya ada, meninggalkan jejak dan menghalau kebosanan, itu sudah pernah saya lakukan jauh di masa lalu. Menulis untuk mengkomunikasikan ide dan membuat orang kenal siapa saya beserta apa isi kepala saja, juga kerap dan masih saya lakukan. Menulis untuk mendapatkan penghasilan pun masih saya lakukan hingga saat ini. Lalu apa lagi?

Bagaimana ceritanya jika suatu saat saya sampai pada pikiran bahwa, tulisan saya harus bisa jauh lebih berarti dari itu? Bagaimana ya, agar menulis bisa memberikan manfaat seluas-luasnya, sebermanfaat-bermanfaatnya, bikin orang lain sebanyak-banyaknya terbantu?

Menulis Sebagai Jawaban atas Tantangan Zaman dan Keadaan

Teman-teman suka kaya saya enggak, kalau melihat social media, mendadak terasa seperti sedang mengemban tugas hidup? Mengapa? Banyak hal memprihatinkan. Bikin ngelus dada sambil istighfar bolak-balik.
Konten marah-marah yang dibudayakan atas nama “hanya sekadar konten kok”, anak-anak muda yang mencari pertolongan lewat konten, aib yang diumbar, belum lagi komentar-komentar yang nyaris loss doll-tanpa ada saringan sama sekali dan dilakukan banyak orang.


Itu baru social media. Saya menyadari tantangan lebih banyak lagi saat terhubung dengan aneka jenis manusia dalam pekerjaan. Itu semua tak bisa bikin saya diam saja seolah tidak ada apa-apa. Ada kegelisahan, yang pada suatu titik saya sadari bahwa salah satu solusinya adalah lewat jalur menulis. Iya betul, MENULIS. Mungkin bagi sejumlah pembaca terkesan agak berlebihan, mengada-ada, tapi bagi saya TIDAK. Saya tahu pasti apa yang sedang saya rencanakan. Here we go!

Penulis Tak Hanya Butuh Kemampuan Teknis

Bertahun-tahun mengelola komunitas penulis, bertahun-tahun terlibat dalam project-project yang melibatkan blogger, saya akhirnya sampai pada kesadaran bahwa: untuk menjadi penulis dan blogger yang baik, professional, menyenangkan dan memudahkan jika diajak kerjasama, lebih dari itu juga akan punya peran signifikan dalam membangun peradaban, maka kemampuan teknis menulis saja belum cukup.


Apa lagi? Perlu kemampuan mengenal diri sendiri, mengakrabi dirinya sendiri sehingga tahu persis apa di dalamnya. Jika masih ada hal perlu diperbaiki di dalam sana, tahu cara menyelesaikannya. Apakah ini sederhana? Nyatanya tidak. Banyak juga yang masih memiliki PR di bagian ini.

Trauma, luka akibat pengasuhan masa kecil, perceraian, KDRT, kekhawatiran akan masa depan, dan masih banyak lagi, masih menjadi hal perlu diselesaikan. Konsep diri, bagaimana perempuan khususnya (karena saya amat banyak terkait dengan pekerjaan bersama perempuan) secara budaya banyak yang telanjur mempercayai hal-hal yang tidak memnungkinkan mereka berkembang. Misalnya apa? Minimnya konsep self love, penghargaan terhadap diri sendiri, keyakinan akan kemampuan diri, hingga kepercayaan diri yang diam-diam ternyata tak benar-benar ada.
Jika percaya bahwa dunia tulisan adalah pembangun peradaban, bahwa saya menganggap bahwa menyelesaikan persoalan-persoalan di atas bagi penulis adalah pekerjaan penting dan mendesak. Catat ya teman-teman. Bukan hanya penting, tapi juga MENDESAK.

Pengalaman Merancang, Menulis dan Menerbitkan Buku Berkualitas dengan Project Semeleh


Tadinya, di IIDN tema mental health dihadirkan sekadar sebagai tema antologi. Ya, menulis saja, pertimbangannya adalah karena 2019 lalu, tema ini bisa dibilang termasuk populer. Atas pertimbangan hal-hal di atas, Pulih-antologi pertama IIDN dalam tema mental health ini akhirnya menjadi sekaligus antologi pertama IIDN yang dipadukan dengan aktivitas coaching. Goalsnya bukan menghasilkan buku saja, itu justru hanya side effectnya, namun lebih ke healing.
Berbahagia sekali, cita-cita saya dan IIDN disambut baik oleh Mbak Intan Maria Lie, pragmatic psychology practitioner yang juga pendiri Ruang Pulih. Didukung pula oleh dr. Maria Rini Indriarti, Sp.KJ.


Pulih, akhirnya sukses. Dalam sisi penjualan maupun membangun kesadaran akan kesehatan mental. Seperti rencana awal, ini kami cita-citakan menjadi project berkelanjutan. Maka, tahun 2021 disusul Semeleh: The Journey of Self Love, Gratitude and Acceptance.


Proses Panjang Mengupayakan Sebuah Buku Bagus Layak Jual


Pulih dan Semeleh, dua buku bertema Kesehatan Mental besutan IIDN dimulai dari perencanaan yang kuat. Konsep yang visioner dan matang. Karena keduanya juga berkonsep healing, coaching and empowering, maka IIDN membutuhkan kehadiran coach.


Tahun kedua project ini, IIDN beruntung diperkuat oleh kehadiran Artha Julie Nava Certified Personal Branding Strategist sekaligus LoA coach. Mbak Julie yang sebenarnya bukan orang baru bagi IIDN seolah kembali dihadirkan semesta untuk memperkuat cita-cita kami.


Bersama Mbak Intan dan Mbak Julie, saya merancang Semeleh. Ide yang datang tiba-tiba untuk mengangkat satu kosakata sekaligus falsafah Jawa menjadi jiwa project kami tentu sangat menarik sekaligus menantang.
Semeleh saja, masih terlalu abstrak. Kami harus mengkonkretkan isinya, bagaimana semeleh kemudian benar-benar dipahami peserta sebagai kata kerja aktif. Semeleh sebagai satu hal yang bisa dipelajari, dilatih dan diyakini. Teman-teman pembaca dapat menikmati semeleh versi kami secara ringan, mudah dan tidak membuat kening berkerut melalui bukunya.

Perjalanan panjang termasuk RISET bagaimana mengemas buku yang bagus dan berdaya jual, bisa dibaca di sini: Tips Merencanakan Buku Bagus dan Laris

Mengutamakan Inspirasi Bukan Drama apalagi Sensasi dalam Sebuah Buku


Tak sedikit orang mengeluhkan, buku-buku saat ini mengapa banyak tema-tema drama seperti perselingkuhan, pelakor yang sebenarnya dikhawatirkan justru makin diberi atensi, maka makin besar energnya. Hal ini pula yang menjadi kekhawatiran saya. Well, membaca atau tidak membaca tema tersebut tentunya adalah pilihan. Membaca pun mesti dengan kecerdasan, penuh kesadaran menempatkan sekadar sebagai bacaan. Itu menjadi tanggung jawab pembaca masing-masing.


Namun, sebagai penulis, sebagai konseptor buku, sebagai leader komunitas, saya tergerak untuk berkonsentrasi menggarap pemberdayaan dan pengembangan diri di kalangan perempuan. Ini tentu harus selalu kami pedomani. Sepanjang project berjalan, terus diingat bahwa tujuan kami adalah inspirasi, bukan pada drama. Ini tentu juga butuh upaya, dari sisi saya, Mbak Intan dan Mbak Julie sebagai pengampu kelasnya. Menjaga energi kami masing-masing, selalu menjadi tugas awal yang dipastkan harus terkendali. Kami mendengar curhat, problem dan merasakan kepedihan sejumlah peserta kelas, maka amat penting bagi kami terus memaintain energy kami.


Di sisi lain, penyuntingan tulisan yang memuat cuplikan kisah hidup peserta juga harus digarap super hati-hati. Sesedikit mungkin porsi yang mengandung drama, karena kami ingin dominasi part yang berupa kesadaran diri, semangat bangkit, kemauan mengupayakan solusi. Proses sunting buku Pulih dan Semeleh kemudian menjadi tidak sesederhana penyuntingan buku lainnya. tantangannya, terkadang saya pribadi saat harus proving kemudian mengalami cipratan energi yang ada di sana. Kesedihan, rasa sakit yang tak dimungkiri masih boleh jadi tersisa. Maka yang terlebih dahulu kami utamakan adalah mengatasi diri kami sendiri, sebelum kembali ke naskah.

Kemasan Layak Jual, Memudahkan Kami Menjual Buku Bagus

Isi buku yang bagus dan bermakna, bagi kami masih perlu mendapat sentuhan lain yang memudahkannya terlihat keren, menyenangkan, membuat pe de para penulis dan tim yang menjualnya sekaligus member aspek hiburan juga bagi penikmatnya. Pulih dan Semeleh mendapat perhatian pula dari sisi layout dan cover.


Proses finishing Semeleh bahkan lebih detail lagi. Pose tangan yang diperagakan model pun, tak luput dari perhatian. Mbak Septi Mican, Tim Desain IIDN sangat banyak member bantuan untuk hal ini, sehingga cover Semeleh seperti yang bisa Anda nikmati saat ini.

Baca Juga:

Buku Saya yang Pertama, pengalaman pertama kali saya menulis buku, klik di sini ya: Buku Widyanti Yuliandari


Secara keseluruhan, layout cover Semeleh saya sendiri yang melakukan riset dan desainnya. Diperhalus oleh Mbak Septi yang memang seorang desainer. Bermodalkan internet, cukup lama juga saya melakukan riset, sampai diperoleh ide membuat cover yang ada saat ini. Semua dilakukan dengan penuh kesungguhan, karena saya dan tim selalu percaya, apa yang dikerjakan sungguh-sungguh akan memberikan hasil terbaiknya.
Sudah menikmati buku Pulih dan Semeleh? Jika sudah, saya amat butuh feedback dari Anda.

Salam bahagia,
WY 

Share

One thought on “Semeleh, The Journey of Self Love, Gratitude and Acceptance: Pengalaman Memperjuangkan Idealisme Menulis bersama Komunitas

  1. Energi positif tidak hanya didapatkan dari kesadaran diri sendiri semata, akan tetapi dari circle pertemanan yang kita pilih. Semuanya bersimbiosis mutualisme.

    Sejak awal entah kenapa sudah jatuh cinta dengan komunitas IIDN ini. Berniat dari awal gabung (+- 2 tahun) ingin membuat diri saya bertumbuh dan terus bertumbuh.

    Program Semeleh membuat saya seperti menemukan diri saya yang baru, diri saya yang memang dari dulu ingin saya explore tapi terhalang akan sesuatu. Program Semeleh dengan para coach yang bisa membuka tabir itu.

    Lah, saya kok malah curcol ya, BuKetu😅

    Terima kasih BuKetu untuk dedikasinya😍😍

    Salam sehat dan SEMELEH

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!