hutan itu indonesia

Blogger Gathering Hutan itu Indonesia X Blogger Perempuan: Melestarikan Hutan dengan Adopsi Hutan

Share

Bayangkan sebuah tempat penuh pepohonan rimbun, sungai membelah di tengahnya, kumpulan flora-fauna yang entah berapa ribu jenisnya, besar-kecil aneka warna. Bayangkan pula mendirikan tenda di tepian sungai jernih itu, di mana kawan-kawanmu memasak makanan lezat bagi perut laparmu. Lalu bagaimana dengan masyarakat lokal yang bahu membahu menjaga kekayaan bernama hutan itu, para ranger yang berjaga memastikan keamanan jutaan penguni hutan dan para peneliti asyik mengumpulkan data, mengamati jutaan gejala.

Itulah yang saya dapat selama dua jam berkumpul bersama dalam event Online Blogger Gathering Hutan itu Indonesia berkolaborasi dengan Blogger Perempuan. Kenangan-kenangan masa kecil tentang hutan, dan impian-impian untuk kembali menjelajah, sontak meronta-ronta.

Games Santai dan Seru, Menghitung Jumlah Fauna, Flora dan Lainnya

Acara ini santai kok, cenderung seru, meski yang dibicarakan adalah hal amat serius, ya melestarikan hutan amat pantas menjadi hal yang serius diperjuangan bukan?

Tapi Blogger Perempuan dan Hutan itu Indonesia mengemas gathering ini begitu cair. Makin seru dengan adanya games yang bikin audience puter kepala. Haha.

melestarikan hutan dengan adopsi pohon

Oya, beberapa hari sebelum gathering, peserta juga mendapat kiriman hampers menarik ini. Isinya masker, hand sanitizer dan produk lokal dari Javara. Kebetulan saya mendapatkan sesaset Wedang Uwuh. Hmmm…

Memandang Hutan Indonesia dengan Sudut Pandang Lebih Positif


Hadir sebagai speaker pertama siang itu, mas Tian dari Hutan Itu Indonesia menyampaikan bahwa harus diakui hutan kita sedang tidak baik-baik saja. Namun demikian, amat perlu untuk membangun terus konten-konten positif tentang hutan. Salah satu tujuannya adalah agar kita fokus kepada upaya solusi.


Selain itu, menurut Mas Tian lagi, bagaimanapun harus disadari hutan kita itu luar biasa lo, baik dari luasannya maupun dari sisi kekayaan keanakaragamanan hayatinya. Luas 4 kali Jepang, itu sama dengan luasan hutan Indonesia dari Aceh hingga Papua. Wow! Cerita-cerita positif tentang hutan, menurut Mas Tian akan turut menumbuhkan kecintaan akan hutan. Inilah yang akan menjadi pondasi bagi pelestarian hutan Indonesia.

hutan itu indonesia
Cerita Positif tentang Hutan, Perlu terus Digaungkan!


Dalam kesempatan itu disampaikan pula apresiasi kepada para blogger yang telah berpartisipasi dalam lomba blog “Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan”. Menurut Mas Tian, blogger telah cukup mampu menyajikan cerita positif tentang hutan. Saya setuju banget ini, prinsipnya kalau mau bikin campaign positif, ya mari manfaatkan sosmed. Dunia kita butuh lebih banyak lagi hal positif.

Kalau teman-teman pengin baca tulisan blogger yang disebutkan Mas Tian, ini nih salah satunya: “Melestarikan Hutan Melestarikan Kehidupan


Mas Tian bilang, lakukan sesuatu walau aksi-aksi kecil. Salah satunya adalah berbagi cerita tentang hutan. Adopsi hutan juga bisa dilakukan. Aksi ini tak butuh kita datang jauh-jauh, cukup dari mana saja kita berada.

Leuser, Pesona dan Problematikanya Serta Apa yang Bisa Blogger Lakukan


Siang itu hadir pula Irham Hudaya Yunardi, ketua Forum Konservasi Leuser. Kalau saya coba kepoin di medsos mereka, FKL ini adalah organisasi nirlaba yang berkomitmen terhadap perlindungan ekosistem Leuser di Provinsi Aceh.


Menurut Bang Irham, saat ini ekosistem Leuser masih mendapati ancaman berupa illegal logging, perambahan liar dan perburuan liar. Oh iya ngomong-ngomong, dengar ketiga istilah di atas, teman-teman ngahuleung enggak? Soalnya saya tadinya sempat merasa ketiganya mirip. Ternyata ada bedanya. Kalau illegal logging alias pembalakan liar itu adalah kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Lengkapnya teman-teman bisa cek Wikipedia. Sedangkan kalau perambahan hutan itu adalah aktivitas menduduki hutan untuk kemudian dijadikan areal pertanian, perkebunan, pertambangan dan lainnya baik untuk sementara maupun untuk jangka waktu lama. Kalau perburuan liar, lebih jelas ya, yakni mengambil tumbuhan atau hewan secara illegal/ tidak mengindahkan aturan konservasi.

BACA JUGA: Pangan Dari Hutan Tulisan tentang salah satu produk hutan non kayu dari daerah saya.


Menurut “sang penjaga” Leuser ini, keanekaragaman hayati di sana sangat kaya. Bentang alamnya pun amat beraneka, mulai dari dataran, pegunungan, sungai, air panas juga. Dalam kesempatan ngobrol hangat siang tersebut, Bang Irham juga bercerita tentang Stasiun Penelitian Soraya. Sebuah area bekas logging yang kemudian menjadi hutan lindung dan kini menjadi pusat penelitian.


Kawasan Soraya ini merupakan penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dengan hutan belantara yang luas lengkap dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Untuk fauna, di tempat tersebut masih bisa dijumpai badak, harimau, orang utan serta burung rangkong. Flora langka pun ada di sana seperti bunga bangkai dan rafflesia.
Bukan hanya berfungsi sebagai pusat penelitian, SOraya juga menjadi pusat patrol dari tim ranger. Selain kegiatan patrol, juga ada aktivitas edukasi masyarakat, pengumpulan fenologi dan tanda satwa (catatan: kajian fenologi semacam penanggalan yang didasarkan pada penampilan/perilaku berbagai organisme.)


Saat Rian Ibra, host siang itu menanyakan, apa yang bisa dikontribusikan para blogger untuk hutan? Bang Irham menjawab begini:


Kontribusi Blogger bagi Hutan Indonesia
Terlibatlah dalam aksi-aksi kecil, semisal Adopsi Hutan
Tulislah cerita positif tentang hutan, ini akan dapat at least menumbuhkan kecintaan pada hutan dan pada akhirnya menumbuhkan kepedulian.

Leuser in The Eyes of Satya Winnie, Ketagihan Ketambe!


Ada energi yang jelas menguar ketika Satya Winnie, traveller blogger yang demen bertualang di alam ini menceritakan tentang Leuser. Beberapa foto perjalanan milik Satya, yang ditayangkan pada kesempatan gathering dan diceritakan kembali oleh pemilik sekaligus pelakunya, benar-benar luar biasa!

ketambe leuser aceh
Satya Winnie dan cerita Manis Tentang Ketambe


Bagi Satya, Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya Ketambe adalah tempat yang sangat menarik. Sangat lengkap untuk dijelajahi karena memiliki hutan yang luar biasa keanekaragaman hayatinya, juga lengkap dengan sungai, bahkan sungai dengan air panas di mana kita bisa berendam di airnya. Tak hanya fisik dan kekayaan hayatinya, Satya juga mengagumi masyarakat Katambe yang menurtnya luar biasa ramah. Apalagi menurutnya lagi, orang Katambe masakannya enak-enak. Gleks… waduh! Jadi pengin ikut mencicipi juga.


Sebuah foto di awal cerita, menunjukkan Satya sedang minum langsung air sungai di tengah belantara. Baginya, ini adalah semacam keasyikan tersendiri. Minum air langsung di sumbernya di tengah alam yang masih terjaga, adalah wujud syukurnya atas alam dan hutan yang telah menyediakan air bagi kita. Kebayang segarnya, yaaa.

Penasaran, saya pun kepo-in blognya Satya, dan saya menemukan foto dengan pose serupa yang ditayangkan di slide. Ini dia.

Minum di Sumber Air Tengah Hutan (Sumber: Blog Satya Winnie)


Satya juga bercerita tentang fauna yang ditemuinya di alam Ketambe. Orang utan yang baaaaaanyaaaak menurutnya, bisa ditemui di Ketambe. Begitu pua dengan satwa lainnya seperti gajah. Menurut Satya, tidak acara kasih makan para satwa itu, ya. Bahkan sikap kita selama di sana juga kudu dijaga. Jangan sampai berisik, berjalan pun hati-hati, berbicara jangan terlalu keras, memotret juga tanpa menggunakan flash agar tak membuat para satwa itu kaget dan terganggu.


Cerita Satya ini bikin saya ingat pada monyet-monyet di Taman nasional Baluran yang saya temui. Di sana ada banyak papan larangan tapi tak dipatuhi. Para monyet sudah amat terbiasa meminta makanan pada pengunjung. Bahkan jika lengah, akan dicurinya makanan kita yang bisa mereka raih. Sayang banget ya.


Pada kesempatan itu, Satya juga bercerita asyiknya River Camp. Tenda-tenda mereka dirikan di tepi sungai di belantara sana. Bayangin asyiknya berendam di air panas, lalu mentas untuk kemudian melahap makanan yang baru saja dimasak. Hmmm…


Pendeknya, Satya sadis benerrrrr. Wkwkwkwk. Segala ceritanya membuat hasrat bertualang meronta-ronta. Jadi kapan ke sana.

Juara Lomba Blog “Melestarikan Hutan dengan Adopsi Hutan”


Menutup perjumpaan siang hingga sore itu, diumumkan pula pemenang lomba blog, games juga IG post. Dan inilah para juara blog.

Juara 1: Nabilla DP
Juara 2: Panji Gusti Akbar
Juara 3: Fajar Laksana

Mbak Wid keok di kompetisi kali ini. Wkwkwk. Tuh… kan makanya kalian jangan suka “nuduh”, Mbak Wid menang terus kalo ngelomba, fitnah itu! Haha…
Tapi tetap hepi lah, udah diajakin hangout sama Blogger Perempuan dan Hutan Indonesia, karena saya suka banget tema ini. Dan juga selalu berharap akan datang terus kesempatan berbuat sesuatu untuk hutan Indonesia. Buat BP dan HII, jangan sungkan lo ya, kalau mau ngajakin ke Ketambe. Emak-emak ini siap angkat ransel. Wkwkwk. Haluuuu…

Share

31 thoughts on “Blogger Gathering Hutan itu Indonesia X Blogger Perempuan: Melestarikan Hutan dengan Adopsi Hutan

  1. Hutan kita luar biasa betul banget mbak, nah ini tugas kita juga untuk tau dan melihat secara langsung, maklum selama ini tinggalnya jauh dari hutan. Jadi suka takjub melihat hutan. Melalui cerita positif generasi penerus juga semoga bisa melestarikan hutan

  2. aku belum pernah bertemu dengan orangutan selain di kebun binatang mba, sedih ya kalo melihat lingkungan hutan saat ini, banyak tangan-tangan gak bertanggungjawab makanya perlu diterapkan program adopsi hutan untuk melestarikan hutan

  3. ide adopsi hutan ini keren. Walau tinggal jauh dari hutan, kita tetap bisa berpartisipasi menjaga hutan.

    Wah ada raflessia juga di kawasan Soraya. Semoga hutan di pegunungan Leuser dan juga daerah lain di Indonesia tetap lestari ya

  4. aku juga kemarin menyumbang untuk adopsi hutan! seneng banget bisa berpartisipasi dalam melestarikan hutan dan masyarakat yang tinggal di sekeliling hutan.

    btw iri banget pengen jalan-jalan liat hutan meski virtual saja hehehehe

  5. Aku suka cerita-cerita tentang petualangan di hutan, baik itu cerita nyata atau fiksi. Rasanya seperti dibawa ke hutan betulan. Dulu waktu SMA pernah ke hutan buatan yang ada di Bogor aja udah seneng bangett. Dan memang benar sih, hutan kita ini kerennya luar biasa. Harus dijaga dan dilindungi baik flora maupun faunanya.

  6. I always welcome such lovely initiatives like adoption of forest or even highway, well they can reduce the amount of trash being sent to the streets. All the best for our forest and stay green Indonesia

  7. Ya ampun kangen banget sama Satya, traveler yang santai dan membumi banget. Pernah barengan sama dia di Nusa Lembongan dulu. Emang asyik banget orangnya.

    Mba, aku bersyukur sekarang udah resign lho. Istilah ilegal logging ini amat lekat dengan kehidupan pekerjaanku dulu hehehe.. Bagus juga ya saat ini semua orang bisa berpartisipasi untuk memperbaiki hutan melalui adopsi hutan.

  8. Pas kapan bewe itu nemu banyak tulisan tentang adopsi hutan, baru tercerahkan kalau ada program yang begitu kerennya. Senang sekali bisa jadi bagian yang turut melestarikan hutan ya mba, aku sering lewat hutan alas roban di Batang. Tapi jarang monyetnya, semoga hutan bisa selalu kita jaga karena dari sana kesejukan berasal. Walaupun nggakmenang, tapi mba Wid selalu menginspirasiku.

  9. Di tengah pandemi seperti ini terus diajak jalan-jalan ke hutan secara virtual tuh rasanya pasti seneng banget ya Mbak. Aku jadi kangen masa kecil waktu sering diajak nenek ke hutan dekat rumahnya, walaupun bukan hutan belantara tapi nyaman aja soalnya masih bisa liat burung-burung berbulu indah.

  10. jadi ingat waktu kecil main ke hutan yang masih alami, sempat ketemu sama ular tapi gak kapok ke hutan karena sejuk banget dan memang sepantasnya buat dijaga.
    kapan hari main ke kebun teh dan ada sungai yg airnya masih jerniiih, seger banget sayangnya banyak pengunjung yang buang sampah sembarangan huhuhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!