melestarikan-hutan-dengan-adopsi-hutan

Gotong Royong Lestarikan Penjaga Kehidupan dengan Adopsi Hutan

Share


Bagi Widya kecil, istilah “hutan” agak terlambat disadari. Tumbuh besar berdampingan dengan sebuah hutan kecil di daerah Asembagus, Situbondo tak lantas membuatnya kenal dengan kata hutan. Ya, yang orang sebut sebagai hutan, baginya sama saja dengan halaman bermain. Keberadaannya tak jauh berbeda dengan halaman di depan rumah dinas yang ditempati, atau ladang jagung di belakang rumah.

Hutan Adalah tempat Bermain yang Asyik

Widyanti Yuliandari

Jauh sesudahnya, setelah belasan tahun, barulah disadari bahwa pengalaman memiliki halaman bermain berupa hutan adalah hal yang amat mewah. Sungguh luar biasa mengguratkan kesan dalam jiwa. Bukan hanya karena asyiknya bermain di sana, namun setelah menyadari betapa besar peran besar hutan dalam kehidupan. Inilah ceritanya…

Hutan Adalah Referensi Pertama Saya Tentang Tempat dari Mana Makanan Berasal


Dardir, penjaga kantor Bapak yang berada persis di sebelah rumah, memperkenalkan saya pertama kali pada tanaman bekol. Gara-gara Dardir saya jadi tahu, bahwa buah kecil berbentuk mirip apel itu bisa dimakan. Bukkol, begitu masyarakat lokal menyebutnya. Jika teman-teman berkesempatan berkunjung ke Taman nasional Baluran, ada sebuah savana beken berjuluk Savana Bekol. Nah, pohon bekol ikonik di tengah savana itulah yang serupa dengan bekol yang saya kenal di masa kecil.

bekol

Buah Bekol atau disebut bukkol dalam bahasa Madura (Sumber: Researchgate)


Bagi lidah kanak-kanak saya, buah bekol luar biasa enaknya. Maklumlah, sebagai cah ndeso, saat itu saya belum pernah mencecap apel, anggur, dan semacamnya. Saking enaknya, saya mengira buah ini jangan-jangan adalah buah khuldi, yang bikin Adam-Hawa terusir dari surga. Ah, dasar bocah!


Pesona bekol sempat luntur gara-gara kakak bercerita, bahwa jauh di dalam hutan sana dia menemukan lobi-lobi. Kakak memang kerap menyertai kawannya menggembala kambing hingga ke tengah hutan. Suatu saat, saya membaca tentang lobi-lobi di majalan TRUBUS milik bapak. Bertambah penasaranlah saya akan lobi-lobi.

Ada lagi buah eksotik yang namanya rambusa. Rasanya mirip markisa. Tapi cerita bahwa buah ini disukai ular, kerap bikin deg-degan. Khawatir ketika kami memetik, ternyata ada ular bersembunyi di dekatnya dan mematuk kami.

hutan musim
Tipikal hutan seperti inilah kenangan masa kecil saya. Hutan yang jika kemarau akan mengering dan pepohonannya mirip dengan yang kita lihat di film-film tentang hutan Afrika (Foto: dikumentasi pribadi, Lokasi: Taman Nasional Baluran, Situbondo-Jawa Timur)


Begitulah, bukan hanya halaman bermain. Hutan bagi saya dan juga kakak di masa kecil, adalah tempat penyimpanan makanan yang selalu bisa diakses kapan saja. Sungguh mewah!

Bukan Sekadar Kumpulan Pepohonan, Ini Pengertian Hutan yang Lebih Menyeluruh


Seiring berjalannya waktu. Berkembangnya pengetahuan dan wawasan, saya mendapatkan banyak insight baru tentang hutan. Hutan memang dicirikan sebagai sebuah tempat yang penuh pepohonan. Akan tetapi bukan sekadar sampai di situ saja pengertian hutan.

Kini saya terus belajar tentang makna hutan secara lebih menyeluruh. Bukan hanya kumpulan makhluk hidup berikut faktor fisiknya seperti tanah, udara serta airnya. Hutan juga rumah bagi sejumlah masyarakat. Ada adat istiadat dan budaya yang turut berkembang di dalamnya.

definisi-hutan
(Foto: Dokumentasi Pribadi, Lokasi Hutan Kawasan Patirana-Grujukan-Bondowoso, Jawa Timur)

Karenanya, bagi saya, hutan adalah berkat luar biasa untuk umat manusia. Bukan hanya untuk masyarakat lokal di mana hutan itu berada. Boleh dikata, hutan adalah kekayaan lokal yang turut menjaga lingkungan global. Keren ya?

Manfaat Hutan dalam Berbagai Aspek Kehidupan, Bukan Hanya untuk Manusia

Pendeknya, hutan adalah berkah bagi kehidupan. Bukan Cuma untuk manusia, melainkan bagi semesta. Kalau mau diurai, banyak banget manfaat hutan. Singkatnya kira-kira begini.

manfaat hutan
(Foto: Dokumentasi Pribadi, Lokasi Hutan Kawasan Patirana-Grujukan-Bondowoso, Jawa Timur)

Manfaat Klimatologis

Hutan menjaga kestabilan iklim. Salah satu perannya adalah dalam siklus karbon. Sebanyak 2,6 miliar ton CO2 yang diemisikan dari penggunaan bahan bakar fosil, diserap oleh hutan. Bahkan, hutan juga dipandang sebagai solusi terpenting dalam mengatasi perubahan iklim.

Manfaat Ekologis

Sudah sering disebut-sebut, bahwa hutan adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup. Keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya lebih dari 80 persen dari keseluruhan keanekaragaman hayati di bumi.

Manfaat Hidrologis

Pernah enggak sih berpikir, apa jadinya air hujan yang jatuh ke bumi jika tak ada hutan? Kebayang banget. Hutan dan siklus hidrologi enggak bisa dipisahkan bukan? Hutan berfungsi sebagai penampung air hujan. Hutan juga mengatur siklus air dalam tanah. Dedaunan, akar, serasah, dan banyak hal yang ada di hutan berperan dalam mencegah erosi.

Contoh dampak erosi di tempat saya tinggal yakni banjir lumpur sebanyak dua kali di daerah Kecamatan Sempol Ijen Kabupaten Bondowoso pada awal tahun 2020 ini. Banjir ini terjadi akibat pengalihan fungsi hutan di gunung Suket, berada di sebelah timur Kecamatan Sempol, menjadi perkebunan kentang.

Akibat banjir lumpur yang menghancurkan ratusan rumah penduduk di Kecamatan Sempol_Bondowoso. Foto: Dokumentasi pribadi ketika menyalurkan bantuan sosial.

Manfaat Ekonomis

Berbagai produk bisa kita dapatkan dari hutan, mulai dari kekayaan pangan, obat-obatan, serta produk hutan non kayu lainnya. Hutan juga dapat menggerakkan sektor wisata. Secara global, hampir 1,6 miliar warga dunia ini bergantung pada hutan sebagai mata pencahariannya.

Itulah Mengapa, Penting untuk Melestarikan Hutan!
Melihat perannya yang begitu penting, bisa dibilang hutan adalah penjaga kehidupan. Musnah hutan, merana kehidupan.

Ancaman Terhadap Hutan, Ancaman Bagi Kehidupan

Yang bikin sedih, manfaatnya yang amat penting bahkan luar biasa, ternyata belum membuat keberadaannya benar-benar mendapat perhatian yang proporsional. Ini dibuktikan angka deforestasi yang terbilang serius. Komodifikasi kayu juga sektor migas yang menjadi penyumbang utama pendapatan negara, menjadikan luasan hutan makin mengecil. Kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa dekade terakhir.

laju-deforestasi-hutan-indonesia
Background foto: koleksi pribadi, Lokasi: TN Baluran Situbondo


Berdasarkan Lembar Fakta yang dirilis oleh Forest Watch Indonesia. Pada tahun 2000 angka laju deforestasi adalah 2 juta hektar per tahun. Pada periode 2000-2009 sebesar 1,5 juta hektare per tahun dan 1,1 juta hektare per tahun di 2009-2013. Sedangkan menurut laporan Forest Watch Indonesia, untuk periode 2013-2017 angka laju deforestasi adalah 1,47 juta per tahun.

Melihat kembali fungsi hutan di atas, tidakkah angka-angka tersebut membuat kita merasa terancam? Well, saya pribadi harus mengakui, kita tidak sedang baik-baik saja.

Melestarikan Hutan Melestarikan Kehidupan, Ini Cara Manusia Modern Jaga Hutan!


Tanpa menyalahkan siapapun, penting bagi kita untuk turut terlibat dalam upaya pelestarian hutan. Tergelitik saya untuk melontarkan pertanyaan pada sahabat-sahabat saya di media sosial. “Apa yang terpikir ketika disebut tentang Pelestarian Hutan? “. Teman-teman saya yang baik hati ini memberikan beragam jawaban. Mari kita lihat, ini dia:

Polling sederhana yang dilakukan di facebook. Background : Pattirana_Grujugan_Bondowoso (dokumentasi pribadi)

Menjaga Hutan di Era Kekinian

Sebenarnya, banyak yang bisa dikontribusikan manusia modern kekinian untuk hutan. Di mana pun mereka berada, tak peduli berapa mil jauhnya dari hutan, hutan tetap bisa amat dekat untuk bersama-sama diperjuangkan.

cara melestarikan hutan

Berkunjung ke Hutan

Kepekaan bisa ditumbuhkan dengan kedekatan. Saya dan suami bercita-cita menumbuhkan anak-anak yang cinta dan peduli pada hutan. Kelak ketika mereka menjadi manusia dewasa, mereka bisa turut berperan aktif dalam pelestarian hutan.


Sejak kecil anak-anak kami ajak jalan-jalan ke hutan. Bagi kami yang tinggal di daerah, mudah sekali menemukan hutan, walau sekadar hutan homogen yang dikelola PERHUTANI. Tak apa asal mereka merasakan suasana hutan, menghirup udaranya, menjejak tanah suburnya, menikmati segar hijau dedaunannya, membaui aromanya, dan mengindra banyak hal dari hutan.

Foto: koleksi pribadi, Lokasi: Patirana Bondowoso


Agak besar sedikit, anak-anak kami bawa untuk mengenal ekosistem hutan dari yang biasa mereka lihat. Kami ingin menunjukkan Africa Van Java, bahwa ada “bentuk” hutan yang berbeda, lengkap dengan faunanya yang bisa mereka kenal.

hutan-indonesia-taman-nasional-baluran
Foto: koleksi pribadi, Lokasi: TN Baluran Situbondo


Hutan Mangrove juga sangat menarik untuk dikenalkan pada anak-anak. Mereka jadi punya banyak referensi tentang berbagai jenis hutan, berbagai bentuk ekosistem.

hutan-mangrove
Foto: koleksi pribadi, Lokasi: Kawasana Mangrove Ekowisata Kampung Blekok, Situbondo

Inspirasi dari Hutan

Teman-teman bukan penulis? Bukan bloger? Eh, tapi kok punya kemampuan mencipta musik, lagu, puisi atau apapun karya yang bisa dinikmati. Inspirasi tentang pelestarian hutan dapat teman-teman sematkan dalam setiap karya yang dibuat. Asyik juga tampaknya.
Coba deh, ingat lagunya Katon yang kaya gini nih…


Meniti hutan cemara
Sekilas jejak tertinggal dalam lumpur terkubur
Jenuh ku adalah beban yang tak boleh terulang

Katon Bagaskara

Speak Up, Cerita Tentang Hutan

Keberanian mengambil peran untuk bersuara, penting banget untuk menularkan virus kesadaran akan hutan yang lestari. So, kita bisa turut menggaungkannya lewat berbagai saluran yang kita punya. Mungkin instagram, bisa juga youtube. Atau, pilih cara seperti yang kerap saya lakukan, lewat tulisan di blog seperti ini.

Jangan merasa itu gak ada artinya. Walau suara kita kecil, tapi kalau bersuara ramai-ramai bersama jutaan manusia lainnya, tentu bisa terdengar juga.

Konsumsi Hasil Hutan Berkelanjutan

Keanekaragaman hayatinya yang luar biasa, sebenarnya menjadikan hutan sebagai “gudang” bagi banyak hal yang kita butuhkan. Bukan hanya kayu, lo. Seperti yang saya ceritakan di awal tulisan, hutan kaya akan makanan.
Berbagai umbi, buah, sayuran, madu, obat-obatan, bahkan gula aren adalah contoh produk-produk yang bisa kita dapatkan dari hutan. Kini, manusia modern seperti kita tak perlu repot mencarinya. Cukup di ujung jari, di marketplace-marketplace besar bertebaran lapak yang menyediakan hasil hutan.

Salah satu produk hutan sustainable yang saya sukai adalah madu. Pernah saya tuliskan di blog ini:

madu hujan ijen

Menyesap Manfaat Sehat Manisnya Madu Hutan Pegunungan Ijen Bondowoso

Beli dan Gunakan Merchandise yang Mendukung Pelestarian Hutan

Sekarang mudah lo, menemukan lembaga yang melakukan ini. Cari saja, pasti akan menemukan banyak di internet. Tapi pastikan benda-benda tersebut memang kita butuhkan dan akan kita gunakan, ya.

Adopsi Hutan

Istilah ini belakangan mulai populer. Ibaratkan adopsi anak, yang melibatkan perasaan cinta dari si pengadopsi terhadap yang diadopsi. Demikian pula adopsi hutan. Ini adalah cara praktis namun berdampak langsung terhadap kelestarian hutan.

Adopsi Hutan, Gotong Royong Menjaga Tanpa Harus Berdekatan dengan Hutan

Saya juga baru tahu, bahwa kita punya peringatan yang didedikasikan terhadap hutan yakni Hari Hutan Indonesia. Bedain ya dengan Hari Hutan Sedunia. Melalui peringatan ini kita diajak untuk mensyukuri berkah luar biasa bernama hutan Indonesia.


Tahun 2020 ini, tema peringatan Hari Hutan Indonesia adalah Hutan Kita Juara. Ini sebagai pengingat bahwa hutan Indonesia luar biasa. Indonesia menjadi salah satu dari 3 hutan terluas di dunia. Karena itu, ini patut dipertahankan salah satunya juga dengan menggalang partisipasi masyarakat. Kemasannya? Ya, salah satunya adalah adopsi hutan.

Berbeda dengan adopsi anak, di mana si anak bisa kita boyong ke rumah, tinggal bersama-sama. Pohon, tanah, air, udara, binatang dan segala yang ada di hutan mah, biar di tempatnya saja. Kita turut merawat dari jauh saja.

adopsi-hutan

Jadi, gimana maksudnya sih, Mbak Wid? Begini, melalui adopsi hutan kita bisa mendonasikan sejumlah dana. Bisa melalui kitabisa.com ya. Nah, dana yang terkumpul akan disalurkan pada organisasi pendamping masyarakat sekitar hutan yang masih menjaga hutan agar tetap lestari. Di mana saja itu? Ada 10 lokasi hutan, mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara.

hutan itu indonesia

Menurut Andre Christian, Ketua Hutan Itu Indonesia, dana yang terkumpul itu nantinya digunakan dalam berbagai bentuk kegiatan pelestarian hutan seperti patroli, pengembangan masyarakat sekitar hutan, juga untuk mendukung pendidikan dan pengembangan masyarakat sekitar hutan.

Sudah enggak bingung lagi ya, bagaimana caranya turut berperan dalam melestarikan hutan? Yuk ikutan adopsi hutan. Atau bahkan ada yang sudah ikutan Adopsi Hutan? Cerita dong, di kolom komentar. Saya juga mau nihh!

Salam Lestari

Referensi:

hutanitu.id

https://www.wwf.id/

https://www.iucn.org/resources/issues-briefs/forests-and-climate-change

Share

54 thoughts on “Gotong Royong Lestarikan Penjaga Kehidupan dengan Adopsi Hutan

  1. Suka dengan isi tulisannya. Jika tidak ada hutan, sudah pasti kehidupan akan punah seperti di gurun-gurun. Kesulitan air sdh pasti. Contohnya di kota-kota besar yang air minumnya tidak lagi berasal dari air tanah.

  2. Menjaga hutan bukan hanya dilakukan golongan orang dewasa saja.

    Saya setuju sekali dengan mengenalkan Anak-anak sejak dini pentingnya hutan. Karena hutan kan warisan mereka untuk Kita.

    1. Generasi penerus untuk peduli bahkan merawat Dan menjaga hutan disiapkan mulai sejak usia Anak-anak. kalau cars yang Saya pandang efektif ya mengajak anak-anak main ke hutan,melibatkan mereka pada aksi penanaman pohon dan merawat tanaman di rumah.

  3. Kalau aku membaca berita kebakaran hutan dan juga pembabatan hutan, rasanya sedih sekali dan pengen marah. Karena kan hutan bukan hanya pohon saja, di sana ada tanaman dan hewan bahkan ada yg hampir punah. Betapa besar kekayaan yang ada di hutan. Betapa kita mengabaikan itu.

  4. Tulisan blog yang menarik banget tentang pentingnya hutan. Saya sndiri tinggal di Surabaya merasakan gimana tidak adanya pepohonan seperti di daerah pegunungan. Udara panas dan air tanah yang tidak layak minum.

  5. Aku juga termasuk yang terlambat mengetahui indahnya hutan, justru setelah punya anak begini. Tinggal di kota yang jauh dari hutan jadi kurang mengenal alam dari dekat. Tapi sekarang happy kalau diajak ke alam seperti hutan.

    Aku baru tau buah bekol dari tulisan ini, bentuknya seperti apel ya, rasanay aku belum pernah menemukan di sekitar sini yang menjual bekol.

    Nak-anak jaman sekarang juga perlu dikenalkan dengan hutan & ikut melestarikannya juga.

  6. Masya Allah banyak banget manfaat hutan ya. Di tulisan ini jauh lebih saya sadari lagi. Kita terancam dengan terancamnya hutan kita. Bahkan hingga kehidupan keturunan kita.

    Btw, saya baru tahu ada yang namanya buah bekol. Buah endemik ya itu, Mbak Wid?

    1. Buah bekol (bhs. Madura) bahasa nasionalnya buah bidara, tumbuh di daerah yang kering. Kebetulan Situbondo di daerah dekat pantai memiliki iklim kering. Di Sumba, Bima, Timor juga ada jenis buah ini, dengan nama daerahnya masing-masing.

      Terima kasih sudah berkunjung, Kak 😀

  7. Cara efektif membangun kecintaan pada hutan pada generasi penerus ya dengan membawa anak-anak dan remaja ke hutan, hiking, termasuk berkemah. Mereka juga bisa diajarkan berdialog langsung dengan petani dan penduduk sekitar hutan sehingga paham hubungan antara manusia dengan hutan.

    Syukur-syukur nantinya terlibat dalam aksi-aksi penghijauan bahkan aksi penyelamatan hutan seperti terjadinya kebakaran hutan.

  8. Aihh iya yaa…sesekali memang perlu untuk datang langsung ke hutan, melihat, merasakan suasana di sana. Tentunya dengan tetap menjaga etika agar tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak ekosistem hutan. Dengan mengunjungi hutan, maka sedikit banyak kita bisa merasakan..betapa hutan itu sangat dibutuhkan, betapa kelestarian hutan sangat mempengaruhi kehidupan.

    1. Untuk anak-anak emang yang efektif melalui pendidikan yang memungkinkan mereka untuk bisa kontak langsung, dengan pohon, sungai, suara burung, atau monyet yang berlompatan di dalam hutan. Pengalaman yang mengesankan itu akan berdampak pada munculnya rasa cinta pada hutan.

  9. Waahhh, parents perkotaan (terutama dirikuuu) pasti tersentil banget nih Mbaaa.
    Kami jarang bgt mengajak anak2 untuk berinteraksi dgn alam, termasuk hutan.
    Sudah waktunya menumbuhkan kesadaran itu ya Mbaaa
    Very GREAT ARTICLE!

    1. Emang di hutan banyak binatang. Saat kemarau gini, ya nyamuk, saat hujan muncul lintah, belum lagi binatang yang lebih besar 😀 Kalau di taman nasional baluran monyet, rusa, banteng, berbagai burung, bahkan konon masih ada harimaunya.

  10. Bagi saya yang sejak lahir hingga sekarang hidup di kota besar, hutan bisa terasa sangat jauh. Mengenal huta seringkali lewat buku atau media lainnya. Tetapi, memang tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak peduli. Hutan meskipun jauh, manfaatnya untuk seluruh umat manusia

  11. Wah jadi paham maksud dari adopsi hutan, aku belum pernah nih.. mau juga dong berkontribusi untuk negara tercinta dengan cara adopsi hutan, ya kalo bukan kita siapa lagi ya mbak yang akan menjaga dan melestarikan hutan indonesia kita

  12. Wah jadi paham maksud dari adopsi hutan, aku belum pernah nih ikutan adopsi hutan.. mau juga dong berkontribusi untuk negara tercinta dengan cara adopsi hutan, ya kalo bukan kita siapa lagi ya mbak yang akan menjaga dan melestarikan hutan indonesia kita

    1. Oh itu ya maksudnya adopsi hutan, tak pikir yg lain gitu 🙂
      Intinya kita tetap bs berkontribusi thp pemeliharaan hutan ya. Krn ya sadar gak sadar hidup kita bergantung pada keberlangsungan hutan ya.

      1. Sukakk banget mbaa ceritanya, jadi bayangin punya rumah deket hutan pasti seneng banget. Aku kalo lewat hutan suka penasaran, di dalamnya ada apa aja ya? Pasti banyak yg menarik.

  13. Tulisan yang keren. Lengkap bangeeet. Yakin deh pasti menang lombanya.
    Btw, keren juga dengan program adopsi hutan ini. Mengajak kita untuk peduli pohon-pohon di hutan sekaligus dengan penjaganya. Supaya hutan kita tetap lestari ya. Semoga programnya banyak didukung orang-orang

  14. Dulu di sana patokannya bondowoso. Kalau bondowoso banjir situbondo tenggelem😂
    Tapi memang hijaunta bondowoso masih ada

    Semua kudu ikut ya mak agar hutan ttp lestari karena penting banget

  15. Bekol, rambusa, lobi-lobi…aku baru kenal dari sini.
    Sungguh terpana bahwa ragam tanaman di daerah Jawa sungguh kaya.
    Baruuuu di Baluran.
    MashAllah~
    Sayang sekali kalau kita kehilangan keindahan dan kekayaan seperti ini. Anak cucu kita nanti gak bisa ikutan mencicip gimana enaknya bahan pangan dari hutan.

  16. Saat ini belum bisa menyumbangkan yang berarti untuk menjaga kelestarian hutan. Baru langkah kecil dengan tidak melanjutkan bekerja di perusahaan yang memiliki andil terhadap deforestasi secara besar-besaran nih mba. 🙂
    Sebenarnya pemanfaatan hutan itu asalkan diimbangi dengan penanaman kembali sebagai langkah sustainable dibolehkan. Sayangnya baru negara-negara maju yang bisa menerapkan hal itu untuk kayu-kayu dari hutan alam.

  17. Sesama orang ndeso pun saya juga dulu sering sekali bermain di hutan sampai seluncuran di tebing pake pelepah kelapa. Kami memetik cengkih, menebang bambu untuk hiasan 17an di desa, kami mencari tebu dan langsung dihisap di tempat. Suka banget ada program named adopsi hutan karena namanya catchy dan bikin orang penasaran ya Mba. Semoga ke depannya hutan bukannya makin habis karena keserakahan orang orang yang berkuasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!