Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
Share

Ketika mengunjungi Kampoeng Batja, sebuah tempat hangat penuh buku dan kegembiraan di salah satu gang sempit di Jember, saya dan suami berbincang hangat dengan Bapak Iman Suligi. Pendiri Kampoeng Batja yang di kalangan pegiat literasi akrab dipanggil ‘Kung’ ini sempat mengungkapkan pada kami, kurang lebih begini: Literasi masyarakat kita masih rendah. Kemampuan membaca apalagi memahami juga masih memprihatinkan. Bahkan di media sosial tak jarang terjadi ketegangan gara-gara tak paham dengan apa yang ditulis. Memahami lelucon terkadang justru dipahami secara serius, sehingga menimbulkan salah tafsir yang berujung masalah.

kampoeng batja
Bersama anak-anak berkunjung ke Kampoeng Batja di Kabupaten Jember

Saya dan suami setuju dengan yang dikatakan beliau. Apalagi juga diperparah dengan etika berinternet yang masih sama memprihatinkannya. Ribut-ribut karena hal yang sebenarnya tak penting atau hanya sekadar salah paham, kini menjadi hal yang sering terjadi. Sepulang kami dari sana, kami berdua (saya dan suami) terlibat banyak diskusi asyik tentang literasi. Sebagian kecil saya tulis di sini.

Apakah Sebenarnya Literasi itu?

Literasi tak hanya soal baca dan tulis. Jauh lebih luas dari itu. Bagaikan sebuah paket, literasi adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah literasi atau literatus, dalam bahasa Latin yang mengandung makna, orang yang belajar. Jadi memang tak sekadan membaca dan menulis. Akan tetapi juga mengandung kemampuan untuk memahami bacaan, menganalisis dan memanfaatkannya.

Pengertian literasi memang tak terhenti di aktivitas baca dan tulis saja, namu jauh lebih luas. Walau demikian, kemampuan membaca dan menulis adalah hal yang sangat mendasar.

Benarkah Literasi Kita Rendah?

Kita sering disuguhi data literasi yang memprihatinkan. Meski demikian, menurut saya, tak lantas seluruh data kita telan bulat-bulat. Menurut penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017, orang-orang Indonesia rata-rata hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi 30-59 menit (nasional.kompas.com).

Tapi benarkan tingkat literasi kita rendah? Saya mengamati di lingkungan terdekat saya. Beberapa tahun lalu, saat anak-anak kami masih kecil, ada seorang anak tetangga yang kerap bermain di rumah kami. Sangat betah bermain karena dia juga asyik sekali membaca buku-buku milik anak kami. Karena amat sulit diminta pulang, walau hari telah senja, saya merayunya. “Ayo pulang dulu, Nak. Bukunya besok bisa dibaca lagi. Atau, minta Mama membelikan, ya”.

Diluar dugaan, bocah cilik itu menjawab, “Mamaku enggak bakalan mau belikan, Tante”. Hari-hari selanjutnya memang saya amati, membelikan buku bacaan bukan sebuah budaya di masyarakat sekitar kami. Padahal kami tinggal di sebuah perumahan yang penghuninya terhitung cukup mampu. Sebagian besar ASN, berpendidikan setidaknya sarjana.

Ini hanya secuplik fakta. Hasil perbincangan dengan beberapa tetangga selanjutnya menyadarkan saya, bahwa kebiasaan membeli buku belum terbentuk. Keluarga yang memiliki anggaran untuk membeli buku, seperti kami, dipandang sebagai keluarga kaya. Cukup memprihatinkan juga. Ini masih di puau Jawa, bukan tempat terpencil. Bagaimana dengan lokasi-lokasi yang secara geografis lebih sulit dijangkau? Tanpa melihat data lain versi berbagai lembaga internasional, saya bisa merasakan. Literasi kita tidak sedang baik-baik saja.

Budaya Literasi Keluarga, Kami Harus Menjadi Solusi!

Hanya ada dua pilihan,yaitu kita menjadi masalah, atau menjadi bagian dari SOLUSI! Kami memilih menjadi solusi. Budaya literasi di keluarga kami dimulai dari dua lelaki sederhana yang kami panggil Bapak. Almarhum Bapak Dadari, bapak saya, dan almarhum Bapak Soetarno, bapak dari suami.

Dimulai dari Orang Tua yang Cinta Membaca

Almarhum ayah saya, lelaki sederhana, PNS biasa, namun memberi contoh yang amat baik bagaimana kami harus menjadikan buku sebagai harta berharga. Di tengah kondisi pas-pasan, beliau kerap memboyong setumpuk buku dan majalah-majalah berkualitas ke rumah. Kebanyakan bukan barang baru, tapi beliau dapatkan di lapak loakan. Bekas, tapi yang penting otak dan jiwa kami beroleh nutrisi.

Berkat beliau saya bisa menikmati kemewahan, lahap kami baca majalah Trubus, Intisari, Tabloid Mutiara, Surat Kabar Jawa Pos, Sinar Tani dan masih banyak lagi lainnya. Di rumah kami, buku dan majalah diperlakukan penuh hormat dan kasih sayang. Diletakkan di tempat-tempat terbaik, bahkan jika ada kelebihan rezeki, Bapak tak segan membundelnya dengan apik, agar lebih awet. Membaca, secara rutin menjadi kebiasaan keluarga.

Bapak Soetarno tak kalah kuatnya mencintai bacaan. Buku dan komik-komik cerita wayang, menjadi gizi sehari-hari bagi suami saya dan saudara-saudaranya di masa kecil hingga remaja. Padahal bapak mertua juga hanya PNS biasa, dan mereka punya 6 orang anak yang tentu membutuhkan banyak biaya. Tentu tidak mudah menyisihkan dana untuk membeli buku, apalagi ibu saya dan ibu mertua juga bukan perempuan pekerja yang bisa membantu penghasilan keluarga.

Teladan ini kami pegang teguh hingga sekarang. Hidup tak selalu memberi kami kemewahan untuk bisa memboyong tumpukan buku. Tapi, kami tak putus asa, info-info diskon selalu kami manfaatkan. Selain membeli buku dengan harga umum, di toko-toko buku, tentu saja amat menyenangkan memanfaatkan diskon bahkan obral di mana saja tersedia.

Buku adalah jendela untuk melihat dunia, begitu tampaknya yang ingin ditanamkan orang tua kami. Hidup boleh sederhana, tetapi mimpi dan karya tak boleh setengah-setengah. Buku adalah jembatan yang mempersempit jurang antara kondisi kami yang sederhana masa itu, bersekolah di desa dengan fasilitas sederhana, dengan impian menghasilkan karya yang tak boleh main-main, di masa depan. Kami harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Membuat Diri Sendiri Terdidik

Sebuah karya harus dimulai dengan membuat diri sendiri melek terlebih dahulu. Karya dalam bidang apapun itu. Saya sangat menyadarinya. Melahap buku-buku berkualitas, adalah salah satu caranya. Saya bertekad menjadikan diri saya seorang pembelajar, salah satunya diawali dengan kemauan membaca buku yang baik.

Dompet agak tipis tidak mengapa, asal masih bisa membawa pulang buku-buku yang dibutuhkan atau sekadar diinginkan sebagai hiburan bergizi bagi otak dan jiwa. Di awal pernikahan kadang memang sedikit kesal pada suami yang ternyata jauh lebih royal dari saya dalam hal buku. Ayah saya dan suami ternyata tipe orang yang sama. Sama gilanya membaca. Lama kelamaan akhirnya saya mengamini saja ketika suami kerap memborong tumpukan buku. Rezeki akan selalu ada jika kami memelihara niat baik, itu saja yang diyakini. Lemari buku di rumah mungil kontrakan kami, jauh lebih cepat penuh dibanding lemari pakaian kami yang isinya hanya itu-itu saja.

Menemani si bungsu membaca, ketika dia masih kecil

Buku untuk anak-anak bahkan telah dibeli sebelum si anak lahir. Sejak masih bayi kami bergantian membacakan buku-buku cerita untuk mereka. Ketika anak-anak mulai bisa membaca, seringkali, setumpuk buku-buku yang diborong adalah buku untuk anak-anak kami.

Namun, mungkin karena setiap individu membawa karakter masing-masing, dua anak kami memiliki kebiasaan yang berbeda terkait aktivitas membaca. Dik Raniah, si bungsu tumbuh menjadi penggila buku. Meski sudah sering membeli buku, dia masih merasa kurang bahan bacaan. Jadwal membaca di perpustakaan sekolah, menjadi saat yang dinantikannya. Namun Kak Asa, si sulung justru belum terlalu menggemari buku. Walau demikian, kami tetap menyediakan dan membelikan ketika dia meminta buku tertentu. Seringkali, ujung-ujungnya adalah tak terbaca tuntas. Tak mengapa, mungkin dia masih dalam tahap belajar mencintai. Kami dorong dan sediakan saja fasilitasnya, karena begitulah seharusnya orang tua.

Perpustakaan, Tempat Bermain yang Menyenangkan

Ruang baca Teknik Lingkungan ITS, tempat saya menghabiskan banyak waktu ketika menempuh studi master.

Sejak anak-anak masih kecil, kami sering mengajak ke perpustakaan. Terutama ketika kecepatan membaca Dik Raniah sudah semakin menggila dan kami sudah kewalahan menyediakan bahan bacaan untuknya, perpustakaanlah tempat harapan kami. Sayangnya, lama-kelamaan laju membaca anak ini terlihat jauh melebihi laju pertambahan koleksi buku di Perpustakaan Daerah di kota kecil kami. Tak lama kemudian dia menjadi bosan, karena tak menemukan bacaan baru.

Mengisi buku tamu dahulu di Perpustakaan Daerah Bondowoso, berburu buku kemudian.

Setidaknya, sesekali kami masih datang ke perpustakaan. Siapa tahu kami sedang beruntung menemukan koleksi buku-buku baru. Dan jika sesekali sedikit koleksi baru kami temukan, rasanya bagaikan habis menang undian.

Menulis, Jalan Meningkatkan Kualitas Diri Sekaligus Berbagi

Sejak tahun 2008 saya didorong untuk berani menulis oleh suami. Beliau meyakini bahwa menulis dapat menjadi jalan bagi saya untuk menyumbangkan ide-ide kepada masyarakat. Sebagai orang yang tidak lahir dari keluarga penulis, awalnya saya enggan. Beliau terus mendorong.

“Kalau menulis Tugas Akhir yang segini tebalnya saja Bunda bisa, masa enggak bisa menulis buku?”

Arundya Taufiq

Didorong oleh semangat meningkatkan kualitas diri serta keinginan kuat untuk melakukan sesuatu bagi dunia literasi Indonesia, tahun itu juga saya mulai membuat naskah dan mengirimkan ke penerbit. Meski ternyata menerbitkan buku tak semudah yang saya pikir sebelumnya.

Buku solo pertama saya, upaya berkontribusi untuk dunia literasi

Perjuangan panjang akhirnya menemui hasil. Naskah ke sekian yang saya tulis selesai di tahun 2012 dan buku solo pertama saya terbit di tahun 2015. Ah… rasanya lega dan bangga. Setidaknya saya berkontribusi menyediakan bahan bacaan berkualitas bagi masyarakat Indonesia.

“Kalau sudah menulis satu buku, nanti akan ketagihan”, demikian kata salah seorang mentor menulis saya. Eh, ternyata ada benarnya. Setahun kemudian lahir buku solo kedua. Tahun depannya lagi saya menghasilkan dua buku anak.

Pak Eddy Setiadi Soedjono, Dosen saya yang mengisi halaman testimonial di bagian awal buku. Foto ini diambil ketika acara bedah buku di kampus.
Salah satu buku antologi. Sinergi komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis dengan Kemendikbud.

Tahun 2018 tak ada buku solo, sebab saya sedang berjibaku menyelesaikan ‘buku’ bernama TESIS. Iya, walau usia makin merambat naik, saya masih sangat suka kembali ke kampus. Kekosongan buku solo saya bayar dengan lahirnya beberapa antologi di tahun 2018. Tahun ini, semoga naskah saya yang sedang lay out, bisa terbit. Satu buku solo setahun, lumayanlah.

Blog, Bentuk Tanggung Jawab Literasi Digital Saya

Belum selesai urusan perbukuan yang masih menyisakan banyak PR, kita menghadapi tantangan selanjutnya. Zaman bergerak dan berubah begitu cepatnya. Kini zaman bergerak menjadi semakin digital.

Baik, di satu sisi. Saya amat merasakan manfaatnya. Betapa ilmu-ilmu yang tidak dapat saya raih melalui buku-buku yang masih terbatas, kini dapat dengan mudah saya peroleh hanya dengan ujung jari. Aneka kegiatan produktif dapat saya lakukan dengan kemajuan bernama internet. Internet membuat saya makin mudah belajar.

Tapi di sisi lain, masyarakat yang budaya membacanya saja belum matang, kini berhadapan dengan serbuan informasi yang masif melalui internet. Konten yang tentu saja tidak semua baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemudahan membuat dan mempublish konten digital membuat siapapun bisa memproduksi konten. Kominfo bahkan menyebutkan terdapat 800 ribu situs penyebar berita palsu dan ujaran kebencian. Banyak, tapi jika tidak mencerahkan, untuk apa? Alih-alih mencerdaskan yang ada justru masyarakat yang terjerumus dalam kegelapan.

Salah satu kemenangan dalam kompetisi blog. Salah satu upaya menghasilkan konten berkualitas yang menuai apresiasi.

Dalam kondisi seperti ini saya berharap, blog adalah salah satu hal yang bisa saya kontribusikan. Maka sejak tahun 2008, saya termasuk penulis yang berdiri di dua dunia. Satu kaki saya memijak dunia perbukuan, satu kaki lainnya berada di dunia blogging. “Tak fokus, membuat performamu buruk!” Ujar sebagian teman. Saya tak peduli. Bagi saya, tak semua orang dapat mengakses internet. Dan, tak semua orang cukup sabar untuk membaca buku.

Anak-anak juga tahu profesi Ibunda mereka sebagai blogger. Sejak dini mereka sudah melihat saya mengetik dan mengutak-atik blog. Tak jarang saya mengajak serta mereka ke acara-acara yang melibatkan blogger. Meski kini belum ada diantara mereka yang menunjukkan minat ke dunia blogging, saya yakin, semua yang telah saya kenalkan akan bermanfaat kelak.

Membangun Budaya Literasi Bersama-sama

Berkomunitas adalah sebuah kunci bagi saya untuk bisa mengoptimalkan kemampuan menulis. Sama merasakan komunitas adalah sebuah kompor. Nyalanya bisa membuat apapun di dekatnya menjadi hangat bahkan panas.

Saya merasa ‘dirawat’ dan ‘dibesarkan’ oleh sejumlah komunitas menulis dan blogger. Maka ketika pada tahun 2017 saya diberi amanah untuk menjadi leader Ibu-ibu Doyan Nulis, sebuah komunitas perempuan penghobi menulis yang beranggotakan 20.000 orang lebih, saya tak ingin menolak. Walau saat itu saya sedang disibukkan dengan studi master saya.

Saya memang belum menjadi penulis hebat, yang bukunya sudah berderet-deret di rak best seller. Tapi merawat komunitas, turut memfasilitasi perempuan-perempuan yang juga ingin memperoleh kemajuan dalam menulis, bagi saya itu amanah yang luar biasa membahagiakan.

Mengisi sebuah acara bersama komunitas menulis di Bondowoso atas undangan Perpustakaan Daerah, beberapa tahun lalu.

Saya bersyukur diberi kesempatan turut merawat IIDN, artinya saya bisa bersinergi dengan puluhan ribu perempuan yang memiliki cita-cita sama untuk dunia literasi: Menghasilkan tulisan lebih berkualitas!

Beberapa buku antologi karya Ibu-ibu Doyan Nulis, sungguh bahagia mengawal mereka menghasilkan bacaan yang baik bagi Indonesia.

Berbagai program kami jalankan di komunitas kami yang sederhana namun semarak. Mulai berbagai sharing gratis tentang tema-tema penulisan, membuat training berbayar, menjembatani member dengan agensi untuk dapat menulis dan menerbitkan buku, menulis dan menerbitkan buku antologi, dan masih banyak lainnya.

Anak-anak juga sudah terbiasa dengan aktivitas ibu mereka di komunitas. Sering saya berpamitan selepas memasak dan menemani mereka makan malam untuk mengisi sharing online di komunitas. Terkadang bahkan si anak penasaran, apa yang dibagikan ibunya di grup-grup facebook, WA, atau kadang telegram. Saya dengan senang hati menunjukkan kepada mereka materi-materi diskusi kami. Bahkan saya menawarkan kalau-kalau anak-anak berminat untuk saja ajarkan cara menulis.

Bersama-sama Bondowoso Writing Community, anak-anak juga biasa kami ajak berkegiatan.

Seringkali juga kami ajak anak-anak untuk urut hadir saat kopdar komunitas penulis lokal. Di usia cukup dini, anak-anak kami telah kenal dengan bedah buku, diskusi buku, dan acara-acara komunitas lainnya dalam hal literasi.

Begitulah budaya membaca dan menulis yang sedang kami rawat di keluarga kami. Prinsipnya tak muluk-muluk. Lakukan saja dan beri keteladanan. Libatkan anak sebanyak mungkin dalam setiap aktivitas literasi kedua orang tuanya. Ya, sesederhana itu. Tapi jika Ini dilakukan banyak keluarga, saya amat yakin Indonesia tak akan lagi disebut sebagai salah satu negara dengan kondisi literasi yang kurang menggembirakan.

Sahabat Keluarga

Apakah teman-teman sudah tahu, bahwa kita memiliki #SahabatKeluarga? Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayan terdapat Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga juga Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas. Teman-teman bisa mengakses lamannya di Sahabat Keluarga.

Kedua direktorat ini dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015, tugasnya adalah menyiapkan dan merumuskan dan juga melaksanakan kebijakan di bidang pembinaan pendidikan keluarga. Nah, program pendidikan keluarga yang dimaksud di atas, salah satunya adalah menumbuhkan budaya literasi masyarakat Indonesia melalui Gerakan Literasi Keluarga (GLK).

Setelah saya baca-baca laman tersebut, ternyata banyak hal yang bisa kita manfaatkan untuk membantu membangun budaya literasi keluarga. Di sana bisa ditemukan informasi program dan kegiatan kedua direktorat. Menariknya lagi, juga tersedia Forum. Dalam forum tersebut, para pelaku dan pemerhati pendidikan keluarga termasuk budaya literasi keluarga, bisa saling berdiskusi dan berbagi informasi.

sahabat keluarga

Bagian yang tak kalah menariknya adalah Pustaka. Ternyata banyak sekali materi bagus yang tersedia pada bagian tersebut yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Saya juga baru tahu. Duh, kemana saja saya selama ini?

Mari Mulai Budaya Literasi dari Rumah!

Cerita saya sudah sangat panjang. Intinya sebenarnya begini, setiap keluarga memiliki potensi besar untuk bangkit dalam hal literasi. Kuncinya hanya mau memulai. Sekadar memulai kebiasaan membaca sepuluh menit saja dalam sehari, akan sangat berarti. Semoga informasi di atas bermanfaat bagi teman-teman. Ayo dong, ceritakan bagaimana budaya #literasikeluarga di rumah teman-teman. Saya tunggu di kolom komentar, ya.

Post Author: wyuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

48 Replies to “BULIKE: Dari Rumah, Menuju Masyarakat Berbudaya Literasi”

  1. Lengkap banget bahasannya, anakku juga sekarang ikut-ikutan nulis diary kegiatan hariannya, terutama kalau habis bepergian, mirip travel blogger, tapi nulisnya masih di buku

    1. Wah salut sekali dengan bapak Mbak Wid yang menyediakan buku buku dan majalah sejak Mbak Wid masih kecil ya. Aku dulu juga pengunjung setia perpustakaan. Dari SD, SMP, SMA sampai kuliah. Kecintaan membaca memang dimulai dari kecil ya Mbak. Salut sama si bungsu yang melalap semua buku. Bahkan perpus daerah ya Mbak.

  2. Jadi kena sentilan saat membaca artikel ini 🙂 kalau diingat-ingat sudah lama sekali saya ga baca buku, bahkan koleksi novel sudah mulai berdebu karena ga di tengok…
    Mulai budayakan membaca juga ah, sekalian beri contoh ke anak, kalau membaca itu menyenangkan dan bisa jadi sumber ilmu

    1. perpustakaan kota kami adalah tempat yg paling sering saya dan si kecil jadikan tujuan wisata, bermain, belajar, bergembira. Kalau saya lagi bingung, nanya si kecil :”enaknya jalan-jalan ke mana ya kita hari ini, pasti jawabnya: perpus dong.” hehehe

    2. Literasi kita memang rendah. Saya menilai diri sendiri di keluarga kami. Biasanya satu bulan minimal ada satu buku yang saya baca, sekarang malah gak ada sama sekali. Kalah sama kegiatan online dan digital. Tapi setidaknya masih terhibur dengan aktifitas menulis blog.

  3. Setujuuuu! Mau anak doyan baca ya ortunya beri contoh. Dari bayi diajak read aloud itu ngefek banget lho. Meski si anak udah bisa baca, kadang tetap bacain buat bonding juga

  4. Mbaaaak widddd ♥️♥️♥️ masya Allah keren sekaliii mbakku satu ini. Barakallah mbaak semoga apa yang dibagikan lewat tulisan yg begitu inspiratif ini memberikan banyak kebaikan lagi kedepannyaa. Terus semangat berbagi inspirasi di dunia literasi ya mbak ♥️

    Aku pribadi juga bersyukur banget punya ayah dan kakek yang gemar baca dan selalu memberikan support guna mendapatkan bacaan yg bagus dan berkualitas, semoga calon suami nanti juga begitu. Aamiin 😅 kok jd curhat disni ya hahaha

    Sukses selaluu mbakku ♥️ semogaa bisa meetup yaa someday, aku lg d surabaya ini skrng hehehe

    1. Dirimu juga kereeeeen. Apalagi ada pengalaman sekolah ke luar Indonesia juga. Itu bisa ditulis dan bakal sangat menginspirasi. Semoga dapat suami yg juga suka buku. haha…Aamiin. Aku ada rencana mengisi Writing Clinic di Surabaya.

    2. Setuju banget mbak, budaya melek dan cinta literasi itu harus dimulai dari rumah. Org tua memegang peran penting di sini.
      Btw pembahasannya lengkap banget selalu keren tulisan buketu

  5. Halo, Mbak Widya…
    Salam kenal sebelumnya,

    Berkunjung ke artikel ini mengingatkan aku yang masih malas-malasan mengerjakan deadline padahal Mbak Widya kesibukannya melebihi aku. Tidak peduli sudah atau belum menikah, literasi memang sangat diperlukan sehari-hari dengan membaca beragam buku yang tak hanya banyak tapi juga berkualitas agar kemampuan berpikir kita dapat terasah dengan baik.

  6. Bener banget mbak, memupuk budaya literasi itu memang harus dimulai dari rumah.

    Pastinya orangtua menjadi teladan bagi anak.

    Keren sekali mbak wid, ya nulis buku ya ngeblog..

    Mantap 🙂

  7. Itulah kenapa saya suka belikan buku untuk anak. Rasanya senang liat anak bahagia dan bs berbagi bacaan bersama teman2nya. Bukan barang mewah tapi bangga memilikinya karena bs membudayakan suka baca buku

  8. iya emang setiap anak itu unik, perlakuannya sama tapi hasilnya bisa aja berbeda. Anak pertama saya juga penggila buku, bahkan makan pun disambi baca buku. Anak kedua, suka baca juga, tapi tak “segila” kakaknya.

    Lengkap banget ulasannya, semoga menang lombanya ya mbak

  9. Masya Allah, Mbak … biarpun mengatakan dirimu tak hebat, di mata saya dan banyak orang, Mbak Wid adalah sosok luar biasa.

    Sehat selalu ya Mbak Wid agar selalu memotivasi di grup IIDN dan di mana pun :*

  10. Sepakat banget kalau membangun literasi ini diajarkan sejak dari rumah. Nemanin nak membaca, nemanin baca buku, beliin buku. Memang ini proses tapi sebagai orangtua, kita harus lakukan ini. Semangat, mba

  11. Memang betul mbak, membuat budaya literasi lekat di kehidupan berawal dari keluarga. Menumbuhkan kecintaan itu nggak mudah, pe-er sekali jadi orang tua agar anak-anak bisa melek literasi.
    Saya besar di rumah yang penuh dengan surat kabar, majalah dan buku-buku. Lambat laun, saya pun mencintai buku. Jodoh pun dengan laki-laki pecinta buku. ^^
    Sejak kecil, anak-anak suka saya ajak ke toko buku, membiarkan mereka memilih buku sendiri.
    Itu sih, cara-cara kecil saya menumbuhkan literasi di lingkup keluarga.
    Tulisannya lengkap banget mbak, semoga menang. ^^

  12. Aku percaya bahwa tidak banyak keluarga yang membiasakan anaknya untuk dibelikan buku, mbak. Macam buku tuh harganya lebih mahal dari pada baju. Karena di lingkungan sekitarku nemu aja gitu.Tapi,aku paling suka kalau beliin ponakan aku buku cerita gitu mbak, dia antusias banget, jadi yang beliinnya tambah semangat, ehehehe
    Aku jadi inget ada banyak bukuku yang belum kubaca nih, huhuuuu

  13. Masya Allah, mentorku yang satu ini memang hebat bener. Kereen!
    Idenya bisa ditiru ini, keknya akau kurang berusaha untuk meningkatkan minat baca anak-anakku. Tapi setuju, semua dimulai dari keluarga ya..Wah jadi makin semangat lebih peduli pada budaya literasi di rumah ini

  14. Minat membaca pada anak-anak sebenarnya memang tinggi
    Kendalanta ya itu, orang tua minat beli bukunya rendah. Atau mungkin bisa jadi, pendapatannya yang minim, jadi tidak ada sisa bagian buat beli buku. Gajinya pas untuk makan.
    Saya ada keinginan membuka taman baca mungil, eh terkendala dana buat sewa kios.
    disini lumayang mahal.
    Koleksi buku saya sebenarnya juga sudah lumayanlah.

  15. Minat baca anak di mulai dari rumah ya seharusnya, tapi kadang ada beberapa orang tua keberatan untuk membelikan buku anaknya. Masih ada cara lain sih kalau memang niat supaya anak gemar membaca. Semoga masayrakat Indoensia lebih meningkatkan lagi berbuday aliterasinya

    1. Membangun busaya literasi memang tidak bisa instan ya mba, harus dimulai dari keluarga. Dari orang tua lah anak-anak belajar untuk makin mencintai aktivitas membaca yang merupakan awalan kecintaan pada literasi.

  16. aku sudah masuk ke tahapan orang tua yang support membelikan buku bacaan anak mba cuman belum pernah ajakin anak-anak ke perpustakaan nih jadi pengen deh ajakin mereka beneran kasih ide nih buat aku baca ini

  17. Happy banget kalau lihat anak-anak sedari kecil sudah suka membaca dan pintar menuliskannya kembali. Entah itu dalam bahasanya sendiri atau persis seperti aslinya. Jadi literasi itu adalah sebuah proses memahami dan belajar.

    Btw,
    Kak Widya ITS Teknik Lingkungan angkatan berapakah?
    **hehehe…ini di luar topik yaa…soalnya sepupuku juga ada yang teknik Lingkungan ITS namanya Halimatussa’diyah.

    1. Keren…
      Saya sempat membuat Pojok Baca di teras depan toko, tapi sekarang vakum karena kendala tempat.
      Btw, buku “Food Combining” ini sukses bikin saya berpikir seratus kali buat makan bakso lho, hehe…
      Meski kadang hasrat makan-apa-saja tetap lepas kontrol, terutama saat liburan dan jalan2.

  18. Alhamdulillah keren mbak, saya juga lagi belajar untuk menerapkan literasi ke keluarga. Semoga bisa mengikuti jejak mbak, memiliki anak yang gila baca, dan bisa menelurkan buku-buku solo yang bergizi dan manfaat. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *