Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
paru-paru basah
Share

Sungguh, ketika dikabari oleh teman-teman dari Jurnalis Sahabat Anak, bahwa Pneumonia telah menjadi kasus yang cukup serius di bukan hanya di Jawa Timur, tetapi juga di Indonesia dan dalam skala dunia. Saya sebenarnya agak kaget. Apa iya? Dulu memang saya memang sempat beberapa kali mendengar cerita beberapa teman yang menderita paru-para basah, nama popular untuk pneumonia. Namun, saya enggak menyangka seserius ini. Apalagi cerita-cerita paru-paru basah itu saya dengar udah lama banget, zaman SD. Saya bahkan mengira, bahwa penyakit ini sudah punah.

Membedah Kejadian Pneumonia di Jawa Timur


Membuka pemaparan pada acara DISKUSI MEDIA “MENEBAR AKSI MELAWAN PNEUMONIA” Pagi itu , Rabu 28 Agustus 2019 di Hotel Kampi Surabaya, Dr. dr. Muhammad Attoillah Isfandiari, M.Kes, Pakar Epidomologi FKM Unair Surabaya menyampaikan bahwa prevalensi Pneumonia di Jawa Timur tergolong tinggi.

gejala pneumonia paru-paru basah
Narasumber bersama moderator acara diskusi Menebar Aksi Melawan Pneumonia

dr. Kohar Hari Santoso ApAn. KIC. KAP., Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur yang juga turut hadir pada acara yang sama menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2018 pneumonia yang terjadi di Jatim mencapai 92.913 (penderita di bawah usia lima tahun). Sedangkan penderita di atas lima tahun adalah 32.910 jiwa.

Mengenali Gejala Pneumonia/Paru-paru Basah dan Pencegahan

Sederhananya, pneumonia itu adalah peradangan pada paru. Penyebabnya juga bisa bermacam-macam. Bisa virus, bakteri ataupun jamur. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A.K, dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) salah satu pembicara pada diskusi tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa gejala Pneumonia mulai gejala awal seperti panas, batuk dan pilek. Lalu, gejala yang lebih khusus seperti sesak, nafas cepat dan pernapasan cuping hidung, tubuh membiru hingga akhirnya mengalami kegagalan napas.

Dokter Dominicus, hadir memaparkan santai penuh humor

Tentunya dengan mengetahui gejala di atas, kita bisa mewaspadai jika ini sampai terjadi pada orang-orang di sekitar kita, ya teman-teman. Tidak menunggu penyakit memasuki tahap berbahaya, namun lebih awal segera mendapatkan bantuan medis. Mengapa? Karena menurut beberapa pemapar siang itu, perjalanan pneumonia hingga menyebabkan kematian itu bisa berlangsung cepat. Berbeda dengan kasus diare, misalnya, yang bisa butuh berhari-hari hingga memasuki kegawatan. Karena ini berhubungan dengan organ napas. Sebentar saja mengalami gangguan, maka akibatnya bisa fatal. Jadi jangan menunda jika telah ada gejala.

Dokter Dominicus siang itu juga menjelaskan beberapa upaya pencegahan pneumonia. Pertama IMD dan ASI. Tuh, siapa yang masih suka beralasan, “aku enggak bisa ng-ASI”. Dear… pikir panjang ya, sekarang mencari bantuan untuk urusan ASI-meng-ASI-hi itu bisa didapat dengan mudah. Cari konsultan, kontak AIMI, dapatkan support system. Bahkan Echa teman saya yang penyitas kanker dan keras kepala untuk urusan ASI pernah bilang. “Aku ini penyakiten, rek. Tapi aku keras kepala soal ASI.” Dia memang membuktikannya, sukses memberikan ASI ketiga buah hatinya.

Kedua, menurut beliau adalah jauhkan anak-anak dari orang yang sedang batuk atau pilek. Nah, yuk… yang masih suka datang tilik bayi walau kondisi kurang fit, tobat ya teman-teman. Demi kebaikan semua terutama si bayi dan keluarganya. Strategi lainnya menurut dokter Dominicus adalah imunisasi.

Beberapa intervensi yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi pneumonia adalah nutrisi yang baik, perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan kualitas udara yang baik. Nah, berbicara soal kualitas udara ini, jangan pernah lupa soal rokok, yang memiliki keterkaitan pula dengan pneumonia. Pernah menemui anak pneumonia yang ayah atau keluarganya perokok? Saya pernah.

Strategi Penanganan Pneumonia

Menurut kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, strategi penanganan Pneumonia harus diawali dengan komitmen, terutama komitmen pimpinan daerah. Salah satu indikator komitmen ya disediakan pendanaan dan keperluan lainnya. Strategi berikutnya adalah analisis dan solusi, lalu sosialisasi dan pencegahan, penanganan pasien dan seterusnya.

Berbicara soal strategi, dalam pertemuan tersebut turut hadir kepala perwakilan UNICEF untuk pulau Jawa, yakni Bapak Arif Rukmantara. Salah satu yang disampaikan beliau adalah tentang tinginya biaya untuk pengobatan. Pneumonia tanpa penyakit penyerta, biaya pengobatannya bisa berkisar antara 1 hingga 30an juta rupiah. Widih!

Klise, tapi benar kata orang ya teman-teman, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Teman-teman, saya akan menulis satu artikel lagi tentang Pneumonia yang lebih lengkap dan menyeluruh.Jangan lupa baca, ya. Harapan saya, teman-teman dan keluarga dapat terhindar dari penyakit yang satu ini juga lainnya. Syukur jika bisa berkontribusi dalam edukasi yang lebih luas untuk cepat bikin punah ini momok menakutkan. Ditunggu, yaaa.

Salam Sehat,

Mbak WY

Post Author: wyuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

21 Replies to “Pneumonia atau Paru-paru Basah Ternyata Kini Menjadi Penyakit Pembunuh Nomor 2”

  1. Kalo denged paru-paru basah, jadi keinget adek yang pernah sakit paru-paru basah karena kamarnya waktu di pondok lembab dan deket pembuangan sampah gitu.

      1. Iya, Mak. Dan sekian persennya juga biaya pengobatan dari BPJS kan ya. Emang kalau dipikir benerbener, mending preventif daripada harus kuratif. Jatohnya bukan cuma mehong, dampaknya bisa ke mana-mana juga.

      2. Pernah ketemu anak yang kena pneumonia. Kasian. Anak-anak rentan terhadap penyakit saluran pernapasan. Mesti berjuang bareng-bareng buat mengurangi penyakit ini dan menjadikan udara yang lebih baik.

    1. Aku baru tahu kalau Pneumonia jadi pembunuh nomor 2 di Indonesia.
      Dan sama kukira sudah enggak ada penyakit ini.
      Duh
      Semoga makin banyak yang peduli dengan mengedukasi dan sosialisasi tentang pencegahan, gejala dan seputar Pneumonia ini

  2. Inalillahi, suka ngeri kalo ngedenger penyakit soal paru².. krn ume kehilangan adek ume krn itu penyakit timoma. 😭
    Kita harus beneran aware sama kesehatan kita dan org sekitar jgn menganggap remeh sakit yg terjadi..

  3. Pneumonia ckup asing ditelinga aku mbak, aku taunya penyakit paru saja. Sepupu aku dari kecil mengidap penyakit paru ini, sedih kalau pas kambuh, bernafaspun susah. Sangat penting tahu bgaimana ciri-ciri dan cara pencegahan penyakit ini, agar bisa dilakukan pencegahan penularannya.

  4. Alm. Uwa (Kakaknya Mama) dulu meninggal karena Paru-Paru basah juga. Ingat banget waktu Beliau gemuk dulu, hingga akhirnya berat badannya turun drastis karena sakit tersebut 🙁

    Harus diwaspadai dan ditangani sedini mungkin memang ya Mba, terutama untuk Bayi yang masih sangat rentan, aku pun suka gemes dan deg-degan kalau ada Sodara yang sedang kurang fit (tanpa masker pula) mau gendong Anakku, mau gak mau izin mau gantiin popok dulu yang penting secepatnya aku ambil alih Anakku, huhu.

  5. Degdegan kalo baca tentang penyakit paru, karena aku pun pernah mengalami saat kecil. Setelah sembuh, pernafasan tetap rentan alergi sampai dewasa begini. Saat baca pencegahannya dengan IMD dan ASI jadi tenang, alhamdulillah kedua anakku IMD dan ASI.

  6. Sempat kejadian sama keponakan. Awalnya dikira flek saja ternyata sudah masuk pneumonia. Perawatannya tentu saja jadi ekstra banget. Ya ekstra tenaga ya biaya. Sejak itulah aku mulai aware kalau anak-anak batpil. Iya sih, sepertinya penaykit biasa, tapi kalau diabaikan bisa berbahaya juga.

  7. Kalau di lingkungan saya ada yang bilang tidur di lantai terus menerus bisa menyebabkan paru-paru basah. Benar nggak sih Mbak? Kemudian ada teman pendaki gunung senior yang meninggal, semasa sakit beliau buat status di facebooknya kalau paru-paru basah yang dideritanya saat itu adalah efek sering berada di suhu udara yang lembab di gunung. Benar nggak sih Mbak?

  8. Melihat bayi dan anak kalau kena pilek aja suka khawatir. Kasihan melihatnya susah bernapas. Apalagi pneumonia begini. Semoga semakin mengecil angka anak yang terkena penyakit ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!