Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
cara mengelola sampah
Share

Bersekolah di bidang lingkungan dan bekerja di bidang yang sama pula, membuat saya cukup sering bersinggungan dengan masalah sampah. Tempat Pembuangan Akhir/TPA di berbagai kota pun sudah pernah saya kunjungi. Memang sudah ada beberapa TPA yang cukup terkelola dengan baik, tetapi mostly, masalah penyediaan lahan untuk sebuah TPA ini masih menjadi PR di banyak tempat. Jika sudah penuh, akan kemana kita membuang sisa aktivitas yang sudah tak terpakai?

Sejumlah tokoh sudah melakukan aksi mereka menggugah kesadaran masyarakat untuk peduli pada pengelolaan sampahnya masing-masing. Bukan lagi “membuang sampah pada tempatnya” yang digaungkan, karena itu saja tak cukup. Kepedulian masyarakat sudah harus menyentuh upaya bagaimana agar sampah bisa terkelola dengan baik. Terkelola dengan baik di sini, kalau yang saya tangkap maksudnya adalah: jika memungkinkan dicegah, ya dicegah. Jika sudah terlanjur menjadi sampah, ya diupayakan bisa dimanfaatkan ulang baik dengan cara reuse maupun recycle.

Aksi Sederhana Mengelola Sampah

Dalam hirarki pengelolaan sampah, reduce atau mencegah terjadinya sampah, mencegah sebuah materi menjadi sampah ada dalam kasta tertinggi. Setidaknya, begitulah yang banyak dikatakan dosen-dosen saya di Jurusan Teknik Lingkungan ITS.

Bijak dalam membeli barang

Menyikapi ini, sudah lama saya melakukan upaya bijak dalam memutuskan membeli atau tidak. Teman-teman yang tahu keseharian saya pasti sudah hafal betul. Saya hanya punya pakaian yg jumlahnya tak banyak. Kerudung, sepatu juga demikian. Coba cek IG feed saya di @widyanti_yuliandari, teman-teman akan mendapati blus putih atau kemeja soft denim yang dipakai lagi … lagi… dan lagi. Demikian juga dengan jaket dan celana jeans. Bahkan T-Shirt saya, yang kata beberapa orang cukup keren, itu adalah hadiah beberapa lomba yang saya menangi. Dan itu tetap saya pakai dan sayangi bak pakaian yang dibeli di butik mahal.

Kemeja yang muncul entah berapa kali di feed IG saya. Dipakai ngafe, ngemall, kuliah, jalan ke Malaysia memenuhi sebuah undangan juga pakai ini. Wkwkwk

Prelove, sumbangkan, atau Sewa

Salah satu yang kadang bikin dilema adalah jika kita membutuhkan barang-barang yang sebenarnya hanya akan dipakai sebentar. Tapi mau tidak mau benda tersebut harus ada. Jika memiliki bayi, misalnya. Ada sejumlah perlengkapan bayi yang cukup mahal, sangat dibutuhkan, tetapi kita hanya akan menggunakannya dalam waktu singkat sebagai contoh beberapa perlengkapan bayi seperti stroller, box bayi dsb.

Nah, hal seperti ini bisa diatasi dengan cara menyewa. Sekarang usaha atau jasa penyewaan peralatan bayi relatif mudah ditemukan kok. Cara lain adalah dengan meminjam milik saudara atau teman. Biasanya hal seperti ini lazim dilakukan. Jika Anda tetap ingin membeli sendiri, mungkin agar type yang dibeli bisa benar-benar pas dengan kebutuhan dan selera, Anda bisa menjualnya kembali jika sudah tidak diperlukan.

Pilah dan Olah

Memilah sampah memang PR banget ya. Iya, saya juga masih sedang belajar. Di rumah kami punya sudut yang khusus digunakan menyimpan barang bekas yang bisa didaur ulang seperti kardus bekas snackbox atau lunchbox, plastik bekas makanan dan sebagainya. Kelak jika terkumpul banyak, benda-benda tersebut akan kami berikan kepada pemulung langganan kami.

Kenapa tak ke bank sampah saja, Mbak? Mungkin ada yang bertanya demikian. Sejak zaman sebelum ngetrend adanya bank sampah, upaya ini sudah kami lakukan. Bagi kami, dengan cara ini sampah-sampah kami memiliki kontribusi sosial. Maka setelah kemunculan bank sampah di lingkungan kami, kami tetap menggunakan cara lama. Senang rasanya melihat pemulung langganan berbinar mendapatkan barang “berharga”.

Nah, jika Anda termasuk yang telaten melakukan pengomposan, Anda bisa lo mencoba membuat kompos sendiri di rumah dengan menggunakan bahan baku sampah dapur atau sampah kebun.

Pakai Ulang dan Daur Ulang

Ada banyak benda yang bisa dipakai ulang. Tapi hati-hati juga, ya. Kenali jenis bahan dan aman digunakan ulang untuk apa. Karena, biasanya kemasan plastik (misalnya botol plastik bekas minuman) tak aman untuk digunakan kembali untuk makanan-minuman.

Wadah-wadah plastik bisa kita gunakan ulang untuk pot tanaman, atau bahan membuat prakarya. Jika memiliki waktu dan kemampuan, bisa juga didaur ulang menjadi aneka produk yang bisa digunakan bahkan dijual dengan harga fantastis.

Air bekas mencuci juga masih bisa kita pakai ulang, lo. Air yang masih agak bersih bisa untuk siram-siran halaman yang berdebu. Bisa juga digunakan merendam lap-lap yang kotor.

Hindari Produk Sekali Pakai

Saya pribadi bukan yang anti terhadap penggunaan plastik, tisu dan semacamnya. Hanya saja, sifat “sekali pakai” nya yang dihindari. Maka, bagi kami, membawa bekal makanan dan minuman, sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Selain hemat dan higinis, membawa makanan sendiri membuat kami tak terlalu banyak menyumbang sampah plastik atau kertas ke bumi ini.

Kebiasaan membawa sapu tangan juga terus kami latih. Kadang memang terasa rempong, tapi kami terus mencoba. Membawa tas belanjaan sendiri uga sempat kami biasakan, namun saat ini karena saya enggak belanja sendiri, seringnya masih pakai plastik. Cuma ya selalu saya upayakan dipakai ulang.

Nah, itu cuma beberapa cara sederhana. Saya yakin teman-teman juga punya cara lain yang mungkin juga mudah dilakukan dan efektif. Yuk share!

Post Author: widyanti yuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, pola makan sehat, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

37 Replies to “Bumi Makin Dibanjiri Sampah, Yuk Lakukan Ini untuk Bantu Mengelola Sampah”

  1. Sama mbak. Saya juga kalau mau beli baju dipikirin banget kalau modelnya sudah ada cuma warnanya beda saya nggak jadi beli. Biasanya beli kalau memang modelnya belum punya dan butuh untuk ke suatu event. Yah resikonya sih nggak bisa banyak foto ootd, wkwkwk.

    1. Haha…mungkin memang enggak pas kalau buat fashion blogger ya. Tapi sebenernya tetap bisa diterapkan sih, misalnya dengan teknik mix and match. kalau aku biar cuma itu-itu aja, teteuuuppp pede bikin banyak futu.

    2. Sampah memang menjadi masalah pelik jika tidak ditangani dengan baik ya mba. Ayoo.. banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk membantu bumi menjadi lebih baik

  2. Yup bener, Mak. Kita harus mulai dari diri sendiri yah.

    Sekolah anak-anakku udah mulai mengetatkan aturan penggunaan sampah plastik. Anak-anak udah dilarang bawa air minum dengan plastik sekali pakai.

      1. Semua aksi mengurangi sampah ini bagus sekali. Apalagi kalau dilakukan banyak orang.
        Saya yang belum sewa dan olah sampah sepertinya. Kalau preloved..barang bayi dulu pemberian atau beli preloved saja
        Sekarang sih enak, banyak yang disewakan

        1. Suka sedih liat tumpukkan sampah yang ada dilingkungan sekitar rumah. Apalagi tempat buat menaruh sampah sementara gak tersedia dengan proper di lingkungan sekitar rumah. Akhirnya berderet deh tuh gerobak isi sampah parkir dijalanan

  3. Kardus bungkus susu, bungkus makanan biasanya juga saya kumpulkan. Kalau sudah banyak, pagi-pagi saya taruh di dekat bak sampah di depan rumah, dengan harapan nanti diambil oleh pemulung. Biasanya kalau pagi ada pemulung yang lewat depan rumah.

  4. Aku juga lagi memilah barang2 di rumah nih mana yang harus dipertahankan mana yang harus dikeluarkan, rasanya pingin punay sedikti barang aja. Bener juga nih aku harus stok saputanngan, padahal dulu kemana2 suka bawa juga

  5. alhamdulillah, gencarnya Hemish Daud kampanye anti plastik di laut bikin semua orang semakin aware *eeeh…

    sebenernya gaung jangan nyampah sejujurnya udah dari aku bayik digaungkan. Aku bingung aja sama para produsen makanan dan lain lain makin gencar “nyampah” juga. ya gimana, kebutuhan kali ya pikir mereka.

    seharusnya yang ditegor dan dijewer duluan si produsen yang nekad bikin kemasan berlapis lapis pake plastik itu, dong, jangan kitanya doang yang diteriakin terus…

  6. anakku sekarang udah mulai sadar lingkungan mba.
    kalo diajak beli minum, misalnya… dia pilih minum di gelas kaca (di restonya) dan tdk dibawa pulang karena kan bakal produksi sampah plastik lagi.

    Tapi, emaknya masih semangat ngumpulin sampah plastik sih. Ha buat naik bus suroboyoooo 😀

    1. Iyaya…naik bus suroboyo kudu pakai plastik. Itu aku susah. Soalnya gapunya banyak sampah plastik terutama kaytanya yg berupa botol plastik. Bener gak sih? Soale kalao botol plastik aku bener2 hampir gak pernah menghasilkan. Anak2 yo gak pernah beli minuman kemasan.

  7. Aku menerapkan bawa tas sendiri saat belanja mbak
    Pernah pas beli di toko karena bawa tas sendiri, belanjaan aku dikasih diskon ehehhee
    Kirain aku aja mbak yg kadang gini, masak iya baju aku cuma itu itu aja,
    Mungkin sampe apal rang orang
    Padahal banyak pakaian kadang ada yg nggak kepake hhee
    Makasih inspirasinya Mbak Widya ^_^

    1. Nah saya pengen banget nih memberikan barang-barang preloved agar tidak terbuang percuma dan menjadi sampah. Sementara barang-barang itu masih bagus. Lagi nyari komunitas preloved ada nggak ya?

  8. Sedih kalau lihat kondisi bumi semakin banyak sampah. Padahal kalau bumi sakit, manusia juga yang ikut sakit. Saya juga semakin berusaha untuk bijak sama sampah. Terutama sampah plastik, nih. Mencoba sangat dikurangi penggunaannya

    1. Betul banget, lha habitatnya manusia ya di bumi. Kalo rusak ya manusianya yg rugi. Sebenernya kelihatan banget sih ya Mbak.Cuma gatau kenapa belum banyak yg peduli.

  9. Aku tisu yang gak bisa ngehindari. Sering kena flu, atau pas dingin tuh suka bersin2. Pakai satu tangan tuh gak cukup. Kalau pakaian kaya baju bayi, Mbakku sering ngasih lungsuran gitu. Jadi beli paling berapa biji biar ada yang baru. Bayi kan cepet pertumbuhannya

  10. Setuju banget, Mba Widyanti, sampah saat ini sudah cukup merasakan. Di daerah saya, ada di pinggiran kota sudah tercium sampah. Yang entah mereka membuangnya sembarangan atau sudah bingung mau dibuang ke mana lagi itu sampah.

    Untuk diri saya sendiri, saat ini mencoba mengurangi penggunaan plastik, belanja di swalayan saya usahakan untuk menolak menggunakan plastik, memilih saya masukannya ke tas yang saya bawa. Sedangkan botol-botol plastik yang di rumah, saya coba jadikan sebagai tempat tanaman. Atau kadang dibawa adik saya ke sekolah untuk membuat kerajinan tangan dari botol plastik.

    Tentang memakai baju, saya juga sukanya begitu, bajunya itu-itu mulu. Karena bagi saya yang penting juga nyaman dipakai, dan tentunya sopan. Kaos dari hadiah lomba blog pun saya memakainya terus. Hihihi..

    Berbicara perlengkapan bayi emang sebaiknya sewa ya, karena perlengkapan bayi yang kita gunakan ada jangka waktunya. Setelah anak besar, tentu perlengkapan itu tidak digunakan lagi.

  11. Aku masih susah hidup tanpa tissue mba, apalagi sering ke toilet. Lagi mikir buat ganti ke kain khusus cuma masih harus cari informasi sebanyak-banyaknya. Terima kasih sudah diingatkan ya mba.

  12. Aku so far baru sebatas memisahkan botol-botol plastik dan mengurangi memakai sedotan aja nih mba. Pakai baju yg everlasting, trus pengen juga mengurangi sampah pembalut tapi belum pede pakai menstruasi cup hehehe

  13. Ya mbak, skrng juga mikir2 kalau misalnya mau beli barang, ini kira2 kepakai apa gak, trus barang lama diapain gtu.
    kesadaran masyarakat akan sampah aja msh minim,, soalnya jgnkan mengurangi plastik, msh sering liat org cuek aja buang sampah sembarangan gtu 🙁
    Ya yg penting kita mulai dr diri sendiri dan keluarga ya, kyk kurang2in plasti, trus beli barang kalau emang butuh dlll

  14. Menggunakan tumbler, membawa totte bag, meminimalisasi penggunaan plastik serta mini campaign ‘go green”dengan lingkungan terdekat, aku pilih untuk mengejewantahkan sayang bumi

    Kudu mulai dari diri sendiri, sekarang juga!

Leave a Reply to Liza Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!