Karena Widya Adalah Ilmu Pengetahuan, Ini Resolusi Saya Tahun 2018

Share

Theragran-M

 

Widya….

Lima tahun terakhir, saya lebih suka dipanggil dengan nama, Widya. Sebelumnya, memang saya punya berbagai nama panggilan, meski secara umum orang memanggil saya dengan nama kecil: Wiwid. Entah, ada sesuatu yang tidak dapat saya mengerti, ketika dipanggil dengan kata Widya, rasanya ada energi yang berbeda. Maka sejak saat itu, setiap kali berkenalan dengan orang baru, saya selalu menyebut Widya sebagai nama panggilan saya, bukan lagi Wiwid, nama kecil saya.

Sampai suatu ketika, saya membaca analisis seseorang yang ada di friendlist saya, beliau adalah seorang ahli rekonstruksi nama. Dalam tulisannya, beliau meminta Bapak presiden Joko Widodo untuk tak lagi dipanggil sebagai Jokowi, karena menurutnya, Joko Widodo lebih mantap atau apalah. Jujur saya lupa alasan lengkapnya.  Saat itulah saya sadar, mungkin benar adanya, ada energi dalam diri saya, yang tidak secara baik terwakili oleh panggilan Wiwid, tetapi lebih pas digambarkan dengan kata: WIDYA.

Widya adalah ilmu pengetahuan….

Widya adalah bakti…..

Widya adalah benar…..

Oh… pantas saja, saya lebih nyaman dengan panggilan Widya. Rasanya energinya benar-benar pas dengan jiwa saya. Mungkin sebagian dari teman-teman saya akan berkomentar, “ah… tahayul banget kamu, Wid!” haha…. terserah. Kalo saya sih, percaya banget bahwa nama bukan hanya sekadar kata-kata. Nama mengandung makna, harapan dan energi. Maka izinkan saya meminta pada Anda, terutama yang sudah mengenal saya sejak saya kecil, tolong mulailah berhenti memanggil saya dengan nama kecil saya. Kini … saya adalah Widya….

 

***

 

Sedikit flash back. Maret 2016, saya melaunch buku solo kedua saya. Buku yang lahir dalam waktu sangat singkat, penuh energi, penuh harapan, penuh dengan cinta dan dukungan orang-orang baik. Dalam perjalanan menulis buku hingga proses launchingnya, saya dipertemukan kembali dengan banyak orang yang ketika kami bertemu, sepertinya terasa ada frekuensi yang sama. Orang-orang baik tersebut adalah Bapak rektor ITS, dosen-dosen saya ketika S1, para senior dan sahabat-sahabat saya ketika S1 dulu.

 

Pak Eddy Setiadi Soedjono, Dosen saya yang mengisi halaman testimonial di bagian awal buku.

 

Bersama dua sahabat saya, pendukung yang tak pernah bosan.

 

Menerima Taliasih dari Ibu Warmadewanthi yang kini Dekan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian dalam Acara Bedah Buku di Kampus

 

Singkat cerita, memenuhi dorongan energi dari nama panggilan baru favorit saya, dan dorongan beberapa orang-orang baik yang saya ceritakan di atas, sejak Februari tahun lalu, kembalilah saya ke kampus kesayangan demi memenuhi gairah saya kembali belajar. Yah… sejak Februari 2017 saya menjalani kuliah di Magister Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian, ITS. Artinya, itu sudah hampir setahun lalu. Lalu apa hubungannya urusan nama panggilan dengan resolusi? Ada! Ada banget!

Pertama kali kembali menginjakkan kaki di kampus untuk menempuh pendidikan  bulan Februari tahun lalu rasanya saya seperti pulang kembali ke rumah yang saya rindukan. Yeah…. I’m coming home …. hari pertama untuk perwalian, seorang dosen menyapa saya. Welcome home …. sambut beliau. Duh… rasanya saya benar-benar datang ke tempat yang tepat.

Lalu tanpa terasa, kini saya sudah menjalani dua semester. Hai…. apa kabar? Bagaimana kuliah? Baguskah IP? Haha…. Saya baik-baik saja. Saaaaangat baik. Kuliah membuat saya bersemangat. Belajar membuat saya makin menikmati hidup. Nilai? Well, saya bukan orang yang bertipe memburu nilai berupa angka-angka. Tapi, bolehlah kalau indikator sukses sekolah dinilai dari sana. Indeks Prestasi 3,83 dengan skala 4  di semester pertama, sungguh membuat saya makin bangkit! Emak-emak gitu lo… nyaris 40 tahun, sudah 14 tahunan tidak sekolah, dan kini mendapat nilai terbaik di satu kelas. Boleh dong saya bahagia?Apalagi karena hal tersebut adalah salah satu resolusi saya untuk tahun 2017. Bukan Cuma soal bahagia aja dapat pencapaian bagus. Namun, pencapaian itu, juga menjadi bahan evaluasi langkah saya ke depan sehingga saya bisa berkata ….  yeah I’m on the right track! Insyaallah…

 

Karena Widya adalah ilmu pengetahuan …

Saya mendedikasikan tahun 2018 untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan. Menuntaskan pendidikan magister saya dengan penuh gairah dan tanggung jawab. Menekuni dengan segenap jiwa raga tesis saya yang kini baru mulai saya tulis, belajar mempublikasikan tulisan ilmiah saya di jurnal internasional, bukan semata demi memenuhi syarat kelulusan, melainkan benar-benar karena saya ingin melakukannya. Saya juga bertekad untuk menconvert sebanyak mungkin naskah-naskah ilmiah tersebut ke dalam bentuk tulisan-tulisan popular entah itu dalam bentuk blogpost, postingan di sosmed, artikel di media cetak hingga dalam bentuk buku popular. Yah, semua pengabdian saya untuk ilmu pengetahuan, akan saya lakukan dengan menghimpun seluruh passion saya. Passion sebagai periset, passion sebagai blogger, passion sebagai socmed agent, passion sebagai penulis buku. Bismillah…

 

Belajar Dari Gagalnya Sebuah Resolusi

Siapakah yang tak pernah gagal dalam mencapai resolusi? Teman-teman merasa pernah bahkan sering gagal? Tenaaaang… Anda tak sendirian, kok. Saya juga pernah gagal dalam membuat resolusi. Contohnya, tahun lalu saya membuat salah satu resolusi yakni: saya mau teratur lari, yoga dan berjalan kaki. Anda tahu kenyataannya? Duapertiganya gatot alias gagal total! Wkwkwk…. bahkan sebuah survey membuktikan bahwa hanya delapan persen saja orang yang berhasil mencapai resolusinya. Angka yang terhitung kecil bukan?

Tetapi, bagi saya, itu bukan alasan untuk tidak berupaya seoptimal mungkin dalam mencapai resolusi. Saya yakin seyakin-yakinnya, perpaduan antara strategi yang matang, upaya yang dahsyat dan doa yang diijabah akan mampu membuat resolusi dapat dicapai.

Salah satu strategi memastikan resolusi saya berhasil adalah dengan belajar dari pengalaman. Salah satunya dengan mencari faktor apa sih yang membuat resolusi-resolusi saya di tahun-tahun kemarin bisa gagal? Coba ya, kita blejeti dulu beberapa resolusi 2017 saya yang gagal total dan setengah gagal.

Pertama dan utama banget, adalah ketika saya mencoba menjadi orang lain. Resolusi untuk menjadi runner misalnya, sebenarnya itu bukan saya banget. Hanya karena ikut-ikutan pak suami yang sudah dua tahun ini rutin berlari. Jadi ketika saya mentargetkan berlari dua minggu sekali, wajar kalau akhirnya gagal.

Kedua, kurang realistis. Melongok kesibukan saya kuliah 4 hari dalam seminggu ditambah mengerjakan tumpukan tugas. Lalu, 3 hari dalam seminggu saya harus kembali ke rumah mengurus keluarga. Ditambah lagi saya harus berada di perjalanan setidaknya 2 kali 6 jam setiap minggunya dengan kereta, rasanya target untuk lari dua minggu sekali memang kurang realistis.

Ketiga adalah kelelahan. Iyess…. ini terasa banget menghambat perjuangan mencapai resolusi. Contohnya, resolusi saya untuk menghasilkan  lebih banyak postingan di blog dan lebih banyak draft buku. Enggak gagal total sih, at least sudah ada i buku saya yang lagi lay out dan tinggal nungu terbit saja. Tapi saya lumayan gagal di blog. Job sih masih banyak, dan Alhamdulillah itu ngebantu banget biaya kuliah saya. Tapi…. syedihnya, trafik saya 2017 ini hanya tinggal setengah dari biasanya. Huwaaa…… pengin nangis rasanya. Meski dengan trafik segitu, masih masuk lah untuk minimum traffic buat dapet kerjaan-kerjan review. DA dan PA pun masih stabil. Tapi…. ada satu katagori yang gagal saya hidupkan. Apa itu? Katagori baru: #CatatanEmakKuliah yang saya buat untuk menampung cerita remeh temeh saya di kampus. Itu hanya saya isi beberapa saja di awal. Nah, disini kendala utamanya ya lelah itu. Akhirnya pasca ngerjain tugas kuliah, saya lebih sering memilih tidur atau kongkow.

Theragran M

Saya berkali-kali harus mengingatkan diri untuk mawas diri. Hei… raga ini adalah satu-satunya kendaraan tempat jiwa ini tinggal. Teman-teman yang sudah sering bersama-sama dengan saya pasti tahu, saya cukup konsisten menjaga pola makan. Tapi, jujur harus diakui, kondisi nge-kos sedikit banyak telah menurunkan kualitas makan saya. Nge-raw jadi agak terbatas, apalagi karena di kos tak tersedia lemari es. Sedikit banyak, itu juga mempengaruhi stamina. Akibatnya, mudah lelah pasca nguber deadline tugas sehingga blog dan draft buku menjadi agak terbengkalai capaian targetnya.

Tahun depan saya bertekad kembali memperbagus pola makan saya. Semoga cukup rezeki untuk sesekali order menu khusus FC atau rawfood dari catering-katering sehat yang kini menjamur di kota-kota besar, syukur-syukur ada yang minta endorse or review. Wkwkwk… kode keras ini mah!

Tidak bisa dimungkiri, ya, kelelahan kuliah kadang membuat saya merasa sudah enggak punya waktu mengurus makanan yang bergizi untuk tubuh saya. Ditambah lagi pola hidup juga memburuk akibat kurang istirahat dan mulai sering begadang. Apalagi tahun depan ini, yakin deh, waktu saya akan banyak tercurah untuk riset. Riset saya yang topiknya tentang bioassesment (suatu metode penilaian kondisi lingkungan dengan menggunakan indikator biologis) akan mengharuskan saya sering trekking. Mendaki gunung, menuruni lembah, nyebur ke sungai… ahai…. sedap nian! Ah…tampaknya saya butuh tambahan suplemen.

 

Theragran-M, Senjata Ampuh

Ada saat saya butuh suplemen. Suplemen, sebagaimana arti harafiahnya, adalah suatu produk yang melengkapi makanan kita dan mengandung berbagai bahan, biasanya sih vitamin dan mineral. Mari kita kenalan dengan Suplemen yang satu ini, Theragran-M.

 Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan

Vitamin dan mineral sih, sudah terdapat dalam makanan kita dan dapat memenuhi kebutuhan tubuh dengan catatan…. makanannya sangat baik, fresh, bervariasi dan…. aktivitasnya juga normal-normal saja. Dalam kondisi seperti saya, anak kos yang makanannya pasrah pada Ibu warung dekat kos atau Ibu Kantin di kampus, ya … tentu belum bisa dibilang ideal ya. Apalagi, saat aktivitas tubuh ini memang butuh extra alias lebih dari biasanya.

Apalagi kalau sampai jatuh sakit. Aduh…. drama banget deh jadinya. Seperti kejadian saat menghadapi UAS sebulan lalu, saya kena flu. Padahal saya biasanya paling tahan deh, meski sekelas pada batuk dan flu biasanya saya akan sehat-sehat saja. Namun karena waktu itu makannya amburadul, ditambah kurang istirahat, sakit deh. Untung Cuma flu. Dalam kondisi begitu, sakit jangan kelamaan. Yaelah…. siapa juga yang suka sakit ya?

Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan

Makanya, perlu banget sedia senjata ampuh, ya Theragran-M ini. Kenapa Theragran-M? Tuh…di gambar di atas alasannya. Theragran-M ini vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Jadi kalaupun terpaksa jatuh sakit kayak akhir semester lalu, jangan-lama-lama deh. Sehari aja dan besoknya udah bisa beraktivitas kembali. Kalau kelamaan bahaya to? Bisa dadah babay itu resolusi. Waduhhh…jangan sampai deh!

Jadi, begitulah Resolusi 2018 saya. Mungkin memang tidak mudah. Tapi saya sudah yakin dan optimis menjalaninya. Lalu, apa resolusi 2018 Anda? Yuk sharing disini supaya kita bisa saling berbagi, saling mengamini dan saling menguatkan. Selamat menyongsong tahun 2018!

 

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M

 

 

 

 

 

 

37 comments

  1. Lidha says:

    Mbak widya..widya..widya (diualng biar bahagia)
    Kalau bukan dari tulisan mbak, manalah saya tau FC.
    Semoga resolusinya tercapai ya mbak Widya yang keren

  2. Ratna says:

    Salut sama kebulatan tekadnya untuk back to school. I know how it feels; juggling between Mom-Wife-Student. Kalo aku dulu plus as an employee lalu bertanya pada diri “Me time guwehnya kapaaaan?” hahaha.

    Dan modal utama agar semuanya bisa seiring sejalan adalah kombinasi antara sehat dan “kewarasan” ^_^

    Sehat-sehat terus yaa!

Leave a Reply