Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
plagiat
Share

(Tulisan ini dibuat dari hasil diskusi bersama suami dengan tujuan sebagai bahan refleksi)

Ada 3 tulisan blog saya di copy paste oleh blogger lain, bahkan termasuk komentar di artikel itu. Well, sebagian teman bilang, itu bukan copas melainkan import, karena persis sama bahkan sekalian komentarnya. Apapun lah, ya. Copy paste tulisan blog ini adalah yang kedua oleh blogger lain, yang saya ketahui. Tulisan copy paste itu kemudian dihapus setelah blogger tersebut saya kontak. Sedangkan kasus plagiat yang pertama kali saya ketahui, sampai sekarang malah tulisannya masih bertahan di blog tersebut. Ya udah, biarlah. Haha. Saya mah pemaaf orangnya. (Siapkan kresek ya …)

Copy paste tulisan blog lain atau plagiat atau menjiplak telah menjadi cerita lama dan menurut catatan google, jumlahnya meningkat. Siapapun pasti tahu dan setuju bahwa tindakan menjiplak, bahkan yang lebih halus adalah mencontek, adalah tindakan tidak terpuji, curang, tidak jujur, tidak bertanggung jawab bahkan lebih jauh dinilai sebagai tindakan mencuri karena mengganggap karya orang lain adalah karyanya sendiri. Bukan hanya di dunia digital, di dunia perbukuan juga kasus plagiat tak pernah sepi. Seolah setiap masa melahirkan plagiator-plagiator baru.

Jumlah plagiasi di rekaman digital naik dari waktu ke waktu.  Permintaan penghapusan konten plagiat tersebut ke Google makin meningkat.

plagiat

Gambar laporan permintaan menghapus konten ke Google akibat plagiasi konten.  Sumber : trancparency report google

Sejak masuk sekolah dasar dulu kita telah diajarkan untuk tidak mencontek. Bertahun setelah sekolah bahkan kuliah, kita diajarkan bagaimana cara membuat kutipan, bagaimana cara menuliskan referensi yang menjadi sumber tulisan kita dan lain–lain. Sayangnya, kasus mencontek dan plagiasi tersebut selalu saja ada. Kondisi yang miris, bukan?

Saya bahkan melihat, sontek-menyontek makin ke sini makin biasa saja. Bukan menjadi sesuatu yang hina, memalukan atau semacamnya. Salah satu tandanya adalah ketika saya beberapa waktu lalu kembali ke bangku kuliah. Makin banyak yang nyontek dari pada masa saya kuliah S1. Sepertinya justru lebih banyak yang mencontek (baik sewaktu ujian maupun mengerjakan tugas) daripada yang mengerjakan sendiri.

Informasi yang Berlimpah Harusnya Membuat Makin Pintar

Awal datang ke Bondowoso tahun 2003, di kota ini hanya ada 2 penyedia internet, 1 punya Telkom dan 1 lagi warnet. Akses internet terbatas. Bertahun–tahun seperti ini, hingga muncul beberapa warnet. Akses internet, kami peroleh secara leluasa baru pada tahun 2011, saat jaringan speedy sudah bisa dijangkau di perumahan.

Dengan keterbatasan internet selama 8 tahun, kami kira, kami akan ketinggalan banyak informasi bahkan isu dan trend–trend terbaru. Tidak tahunya, ketika internet benar–benar sudah mudah dijangkau dan berlimpah sekarang, anggapan itu salah besar.

Ketertinggalan kami pada akses internet selama bertahun–tahun dikarenakan menunggu tersedianya jaringan internet ternyata tidak membuat kami tertinggal dibandingkan yang sejak awal sudah menjangkau internet dengan mudah. Saya kira kami akan tertinggal dari dunia luar.

Berbagai perbincangan di ruang publik, respon netizen terhadap berita yang dishare, berita yang tidak dalam, berita yang diplintir isinya dan perdebatan dengan bahasa yang kasar dan sarkasme, membuat kami menyimpulkan bahwa keberlimpahan informasi sekarang ini tidak (selalu) menjadikan orang menjadi pintar.

Puncaknya adalah narasi dunia, termasuk Indonesia, hanya sebatas 2 titik yang menghubungkan cebong–kampret (maaf, saya terpaksa menyebut spesies ini, meski sebenarnya tak suka, sekadar untuk membuat jelas ceritanya). Di luar itu tidak ada lagi. Padahal narasi dunia bahkan Indonesia adalah ruang yang dibangun oleh banyak titik–titik yang membangun bidang dan bidang menyusun ruang. Dunia dan Indonesia jauh lebih luas dari sekedar titik cebong dan kampret.

Sebuah analisa menyimpulkan penyebab kondisi itu yaitu adanya lompatan dari masyarakat yang BELUM berbudaya membaca, langsung menjadi masyarakat menulis (komentar dan status di media sosial). Padahal, pondasi untuk bernalar, menganalisa dan memahami banyak jenis perbedaan,  belum terbentuk yaitu mulai dari kebiasaan membaca dan menelaah isi bacaan.

Dengan pondasi yang rapuh karena belum berbudaya membaca maka ketika masuk era keberlimpahan informasi, terjadi ironi yaitu sulitnya mencari informasi yang benar.  Era informasi justru menyuburkan limpahan berita palsu. Dari HANYA membaca judul berita, melihat foto (hasil editan) dan menonton video ( yang juga sudah diedit), langsung men-share, menyimpulkan dan fanatik. Mekanisme internal untuk cek dan ricek berita, dan merujuk ke sumber berita yang sahih, tidak ada. Mekanisme itu hanya bisa dilakukan setelah kita terbiasa membaca.

Sisi lain, era informasi mendorong kita untuk memiliki ritme hidup yang lebih cepat dan tidak sabar, termasuk mengunyah informasi yang dibaca, didengar dan ditonton. Muncul banyak cara untuk meringkas informasi. Gelombang informasi yang ringkas ini menjadi tak terelakkan akibat media untuk mengaksesnya-pun adalah media digital. Sehari–hari kita mengunyah informasi yang tidak dalam. Informasi yang tidak dalam akan menggerus daya analitis otak kita. Inilah resiko dari dunia yang bergerak cepat dan kita telah bermetamorfosis menjadi makhluk tidak sabaran,tidak menghargai proses membuka lembar demi lembar bacaan, melakukan proses pengendapan apa yang dibaca, dan lainnya.

Dalam kondisi yang masih mentah dengan pondasi yang rapuh, kita telah berani menjadi penulis / komentator dan pakar segala hal. Kita berkeyakinan bahwa kita sudah benar dengan dasar emosi dan anggapan,  tanpa memperhatikan fakta dan sudut pandang pihak lain. Era ini disebut sebagai era post truth.

Lampu Merah Dunia Literasi Kita

Di tengah kondisi seperti di atas, kita perlu menelaah kondisi literasi di Indonesia. Literasi ini berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Ujung tombak dari dunia pendidikan adalah pendidikan tinggi baik universitas,  institut, akademi, politeknik, dan lainnya. Simbol puncak dari ‘ keterpelajaran ‘ terletak pada guru besar atau profesornya. Lantas, seperti apa budaya menulis di kalangan profesor tersebut ?

Ternyata, dari 5,366 professor di Indonesia, baru 1,551 yang menulis publikasi  dan memenuhi syarat di aplikasi Science and Technology Index (SINTA). Sisanya sekitar 3,800 profesor belum pernah menulis jurnal.  Kendala utama mengapa tidak ada karya jurnal, menurut Ali Ghufron Mukti , Dirjen SDID Kemenristek Dikti adalah budaya menulis yang belum baik di kalangan profesor itu. (sumber : Menristekdikti ingatkan profesor

Tautan penting tentang SINTA : http://sinta2.ristekdikti.go.id/

Jika profesor yang menjadi simbol puncak intelektualitas seperti di berita di atas, lantas bagaimana dengan yang di bawahnya. Bahkan kasus plagiat bisa kita temukan di oknum yang bergelar profesor.

Cobalah ketik kata “plagiasi di dunia pendidikan” di mesin pencari google, kita akan menemukan sangat banyak tulisan dan berita mengenainya.

Kondisi literasi kita yang masih jauh dari harapan bisa kita lacak dari : jumlah judul buku yang diterbitkan tiap tahun, jumlah jurnal, konsumsi buku tiap orang, dan lain – lain. Yang ujung – ujungnya adalah kondisi yang memprihatinkan.

Jangan dulu berbicara kemampuan untuk meneliti, karena itu terlalu jauh. Jika dilihat alurnya seperti ini : membaca – menulis – meneliti, maka di semua tahap itu rangking Indonesia berlepotan dimana – mana.

Tautan penting :

Informasi kondisi muramnya publikasi ilmiah dari Indonesia bisa dibaca di : Muramnya Wajah Dunia Riset Indonesia

Jadi, kasus blogger yang memplagiat tulisan blogger lain adalah kasus yang bisa menceritakan banyak hal. Dilihat dari sudut literasi akan mengulang kesimpulan yang sudah lama yaitu dunia literasi kita dalam posisi lampu merah.

Lantas, apa yang harus dilakukan?

Tugas Mulia Sebagai Blogger

Sub judul ini, boleh jadi terlalu berat. Ya, setidaknya dalam pandangan saya. Sub judul ini saya tuliskan sebagai bahan refleksi dan pengingat ketika akan menulis dan memposting tulisan dan konten di blog kita.

Bagi saya menulis di blog itu memiliki tujuan pragmatis dan jangka panjang. Tujuan pragmatis tentu berpijak bahwa blog adalah media publishing yang memiliki potensi bisnis yang tinggi, termasuk berbagai kanal media sosial lainnya.

Tujuan jangka panjangnya adalah bahwa isi tulisan atau konten memiliki nilai yang akan diwariskan ke pembaca, lebih–lebih ke anak cucu nanti.

Sudah semestinya bahwa tulisan dan konten yang dibuat adalah produk yang berkualitas dan bukan copy paste. Karena menulis di blog berfungsi juga sebagai media belajar sehingga hasilnya pasti tidak sempurna dan final.

Menjadi blogger adalah upaya untuk membuat banyak titik–titik lain sehingga terbentuk bidang dan ruang yang memperkaya narasi mengenai Indonesia dan dunia.Tugas mulia itu tentu menantang di tengah masyarakat yang belum berbudaya untuk membaca dan menulis, apalagi meneliti.

Bagaimana dengan Anda?

Gambar: Unsplash

Post Author: wyuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

32 Replies to “Blogger Plagiator dan Ironi di Dunia Berlimpah Informasi : Apa yang Harus Dilakukan?”

  1. Duh banyak banget yang plagiat. Jujur saja ketika ada yang plagiat tulisan di blog, rasanya sebel. Pengen aku labrak saja orangnya. Sampai beberapa waktu masih kebayang juga.

    1. Memang akan menjadi tantangan tersendiri sebagai blogger untuk menularkan tugas mulia di dunia literasi.

      Dan tentang para plagiator saya juga pengen marah-marah ke orangnya sekenceng-kencengnya. Ada beberapa artikel saya yang dicomot gitu aja. Iya, tanpa edit sedikitpun. Sediihh rasanya banyak blogger yang begitu. 🙁

      1. Bener ironi sekali banyak blogger plagit gitu. Jadinya aku hijrah ke yutub.. Muka ga bisa dicopas soalnya..

      2. Jelas orang yang melakukan plagiat itu nggak punya malu. Apalagi kalau sampai nggak mau ngaku. Ini sih emang mentalnya payah. Pengin punya karya tapi modal ambil karya orang lain.
        Saya setuju dengan tindakan Mba. Selain harus menegur trus melaporkan ke Google. Bikin tulisan seperti ini juga perlu sebagai peringatan bagi plagiator di luar sana.

  2. Selama daya baca masih rendah, jangan harapkan tulisan-tulisan berkualitas, apalagi riset, akan banyak ditelurkan…

    Plagiat/copy paste/nyontek marak mungkin karena malas membaca, membaca saja malas, apalagi menulis. Maunya enaknya saja langsung jadi.

    Bisa dilihat dari hal yg sangat simple, yg sering kita jumpai di sosial media entah fb atau ig, dll.
    Seorang penjual menawarkan barangnya, lengkap dengan harga.
    Dan pada reply/komentar yg ada masih saja banyak yg menanyakan “berapa harganya?”

    #fiuh #sad

    1. Wow fantastis banget angka laporan ke google itu ya. Aku juga punya pengalaman serupa tulisanku dicopas foto juga dicopas. Ya sudah ikhlaskan saja walau emang nggak rela. Haha ikhlas tapi nggak rela itu gimana caranya ya? 😅

  3. Heran juga ya ada yg sebegitu malesnya nulis d blogg sendiri sehingga main mudah kopas aja. Udah gitu mau terkenal dan mencetak uang dari ngeblog.Apa gak kita saranin buat cari pesugihan aja ya mbak Wid

    1. Mau instan ya mungkin mbaaa. Malas sudah pasti.
      Mudahnya copas jadi bablas klo ilmunya nggak ada. Padahal fungsi copas sesungguhnya bukan buat hal kayak gitu 😆

  4. Si Copaser belum kena batunya Mbak. Mungkin karena motivasi INGIN CEPAT KAYA yang membuat mereka harus super kilat untuk membuat konten, walau cara yang dipakai bakal membuat pemilik tulisan asli bakal marah.

    Kalau menurut saya sich, kalau ada artikel kita yang di copas jangan diam saja, paling tidak lapor DMCA, share ke komunitas, kasih pengaman terhadap blog dll…..

    kalau saya perhatikan, yang sering jadi sasaran copaser adalah blog wanita, dan ini yang membuat saya kadang geram, mungkin mereka mengira para blogger wanita bakal ngak tahu atau bakal diem saja diperlakukan seperti itu.

    saran saya sich……semoga para ibu – ibu komunitas, memperdalam ilmu tentang antisipasi copaste, cara jitu menghadapinya, dan dll.

    kalau saya mah..ogah main curang kayak gitu, uang hasil blognya bakal ngak BERKAH dan Ujung2nya banyak musuh.hahahah…….

  5. Ya ampun baru tau ada yang copas sampai ke komen2nya Mba, huhu sedih liatnya . Ini emang topiknya berat tapi jadi tahu banyak hal yang aku belum denger sebelumnya 🙂

  6. Ibu ketua, dari awal sampe akhir ni berbobot banget sama seperti subjudul isiannya pun berbobot banget mba 🙂

    setuju mba makin berlimpahnya informasi yang ada makin subur berita palsu dan di WAG juga ada saja yang share tanpa saring kadang disitu aku kesel..

    Dan untuk si plagiat or copaser sayang sekali yah aku sampe kepoin IG-nya dan tidak menyangka 🙁

  7. Yap…saya merasakan bagaimana menulis satu artikel saja harus buka belasan bahkan puluhan literatur, belum lagi harus melacak literatur ke sumber yang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan, berat banget dan memang kesel sih kalau sampai di copas. Mencari sudut pandang yang menarik itu juga melalahkan, semoga banyak yang sadar kalau copas itu sama saja zalim dengan orang lain, pun jika ingin menulis ulang pastikan meminta izin dan mencantumkan sumber atau linknya. Tapi saya termasuk jarang mengecek soal copas ini, mudah-mudahan nanti ada waktu khusus.

  8. Mau berkarya tapi ga mau usaha, gimana yah. Duh saya suka miris sama tukang kopas nih mereka tuh kok ga mikir ya usaha orang buat nulis tuh lumayan loh, lahiya dia tinggal copy paste, beres. Ga bakalan berkah juga sih usaha dari kopas plek ketiplek

  9. Mungkin ini masalah mental ya mbak. Karena nyatanya, mahasiswa di kampus juga banyak yang copy paste. Karena semakin mudah, mereka semakin malas. begitu juga blogger, kalau sikap mentalnya negatif, dia bisa menghalalkan segala cara

  10. Waw, banyak banget ya plagiator. Semoga kita nggak termasuk dari salah satunya. Saya berusaha banget untuk tidak copy paste dari karya orang lain. Karena Plagiat itu sama degan mencuri

    1. Kemarin aku sempat denger mba beberapa blogger tulisannya di copas, ternyata mbak juga termasuk ya.. menurutku, apapun yang didapat dari mencuri semua nggak bakalan berkah. Aku sih nggak bakalan tenang hidup begitu dunia akhirat.

  11. Blogger copas capis gitu biar apa ya mbak? Pengen cepet kaya kali ya. Duh, kok kelakuan kayak gitu sih. Gemes banget sama blogger yang kelakuannya macam gitu. Tambah sebel lagi pas di bagian profesor juga plagiat. Waduwww……kok separah itu sih.

  12. Copy paste di dunia maya khususnya dunia blog nggak pernah ada matinya. Selalu saja ada. Kesel bin sebel pasti. Saya juga pernah mengalami. Ditegur eh tetep saja masih tayang.

    Jadi ingat nasehat salah satu blogger senior. Kalau mau bikin tulisan atau foto diniatkan untuk sedekah saja. Biarkan saja siapapun yang mau copy paste. Jejak digital nggak akan pernah hilang. Orang lain pasti tahu siapa yang posting duluan. Ntar dia juga bakal malu sendiri kena sangsi sosial.

    Namun susah banget menerapkan nasehat beliau. Ikhlas lahir batin ini loh yang susah. Sampai sekarang saya masih terus belajar ikhlas.

  13. Aku yang notabene bukan Blogger yg artikelnya dicopas aja gemes gething banget rasanya mbak. Bisa2nya main copas tulisan orang. Padahal untuk bisa bikin 1 artikel aja effortnya luar biasa, loh.

  14. Aku belum pernah main ke blogger plagiator dg mencatut seluruh isi artikel + komentar dr blogger2 yg nggak asing banget buat aku itu mbak, khawatir nambah pageview blog dia, eheheee

    Kok misalkan mau ngeblat seuutuhnya bisa nyaman gitu ya mbak, padahal gaya bahasa dan lain-lainnya juga nggak sama. Kalau buatku pribadi itu mengganggu banget misalkan mau copas, Emang bener deh, darurat baca dan mudah banget tinggal copas aja.

    Informatif sekali mbak, postingannya,
    Terima kasih yah mbak

  15. Padahal untuk Hadi penulis dia bisa belajar ya,,, rajin membaca terus berlatih pasti bisa mudah2an jni terakhir strlh peristiwa itu gk ada lg plagiarism

  16. HUhuhu, bikin keingetan masalah kemaren deh. Walopun gak ikut dicopas, tapinya ikutan gemes dan nyesek. Apalagi tahu dia ngelakuin itu semata2 buat mendulang dollar. 🙁

  17. waktu sekolah sd-sma keknya nyontek itu biasa. Begitu masuk kuliah, aturan kampusku ketat banget, mbak. Yang ketahuan nyontek namanya akan dipajang di mading dan ga lulus mata kuliah itu. Beneran deh pada takut, biar aja nilai jelek namun karya sendiri.
    Sebagai blogger, langkah kita dimulai dari diri sendiri untuk menghargai karya orang lain.

  18. kubaca kisahnya di fb. ikutan gemess mbaa
    kalo orangnya bisa copas ampe ke komen2nya, sbnernya dia tu pinter. tapi pinter keblinger. coba kepandaiannya jng dipake buat nyontek, bikin konten berkualitas sndiri kan bisa

    1. Kalau yang aku tangkap sepintas, sekarang justru makin mudah melakukannya Mbak Inna. Ada tools yang bisa mudahnya melakukan itu. Dan gilanya, ada sekumpulan orang yg menyebut dirinya blogger yang memang menganggap hal kek gini gak apa-apa, jadi ya…makin suburlah praktiknya.

      1. Melelahkan banget baca kelakuan plagiator yang dilaporkan teman-teman . Miris karena ada yang lakukan secara canggih. Uang dan popularitas adalah tujuan utama padahal gak berkah.
        Paparan Mbak Widya bernas kayak tulisan akademis. Semoga yang plagiator dan copas kena batunya agar tobat.

  19. Tugas mulia seorang blogger, menurut saya, adalah rajin menulis artikel bagus. Tujuannya, agar semakin banyak orang yang mau membaca dan tertarik untuk menulis. Artikel blog umumnya personal dan kuat pengaruh opininya, jadi lebih dekat secara emosional dengan pembacanya. Asumsinya, artikel blog lebih mudah dipahami daripada artikel jurnal atau novel sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!