Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
Share

Beberapa teman bertanya, “Mbak, bagaimana eksekusi food combining untuk pemula?” Sebagian mengira, menerapkan food combinng harus plek ketiplek dengan contoh-contoh menu yang sudah banyak beredar, termasuk salah satunya saya tulis di blog ini.
Baca juga: Menu Food Combining

Nooo … jangan.
Jadi begini, contoh-contoh menu yang beredar tersebut dibuat hanya sekadar untuk mempermudah teman-teman pemula saja. Sedangkan eksekusinya dalam kehidupan teman-teman sehari-hari, sebenarnya bisa luwes asalkan tetap berpegang pada rules ataupun prinsip tertentu dalam food combining.

Menurut saya justru rugi jika memahami food combining sekadar berhenti pada contoh menu tersebut. Jangan, ya. Karena kadang jika contoh menu tersebut di-adopt tanpa pemahaman yang cukup, justru berbahaya. Misalnya gimana? Contoh begini: sarapannya udah benar, eksklusif buah. Tapi makannya terburu-buru. Apalagi makannya hanya sedikit, dibatasi jumlahnya karena takut gemuk. Akibatnya? Tubuh tekor energi, lemes lah akibatnya. Bisa ditebak, kemudian Food Combining menjadi kambing hitam. Naaaaa, bahaya. Iya khaaaaan?

Beberapa hal di bawah ini penting banget diketahui sebelum meng-eksekusi food combining. Yang jelas, begini, kalau eksekusinya udah bener, hampir enggak mungkin food combining menyebabkan sesuatu yang sampai dinilai berbahaya, misal pingsan atau asam lambung gara-gara sarapan buah. Enggak bakal deh insyaallah. Kalau kejadian? Ya seringkali disebabkan eksekusi yang ternyata masih salah. Atau … bahkan karena kekhawatiran berlebihan yang akhirnya beneran kejadian. Percaya enggak percaya sih, terserah pembaca ya. Tapi beneran lo, kalau udah khawatir kebangetan bahwa jeruk nipis peras bisa bikin perut sakit, terkadang justru kejadian beneran.

Irama Sirkadian dalam Food Combining


Simpelnya bisa teman-teman lihat dalam infografis bikinan Bang Aldo, kawan saya berikut ini ya.

irama sirkadian dalam food combining
Pentingnya Memahami Irama Sirkadian (Infografis by Arnaldo Wenas)

Nah, apa yang diambil dari infografis di atas? Ya kalau lagi jam buang, jangan lah kasih tubuh substansi yang berat-berat buat dicerna. Lalu apa yang mudah cerna? Paling mudah ya buah-buahan segar. Buah segar memberi energi siap pakai buat tubuh.

Trus biasanya muncul pertanyaan, emangnya kalau dicampur sayur, enggak boleh ya Mbak? Nah, ini sebenarnya bukan masalah boleh atau enggak boleh. Bagi sebagian teman FC-ers, sarapan emang mutlak cuma buah dan air putih. Tetapi ada juga yang menganggap, sayur segar pun tak apa-apa.

Mbak wid termasuk yang mana? Saat ini saya termasuk yang luwes dengan tetap memprioritaskan buah. Sepanjang masih bisa banget saya usahakan, ya sarbu (sarapan buah yaaaa … bukan sarapan bubur. Wkwkwk). Tapiiii …. saya enggak mengharamkan sarapan smoothies yang dicampur hijauan alias green smoothies dan saya merasa enggak ada masalah di perut dengan mencampur buah dan sayur.

Tetap perlu diketahui, beberapa ahli menyarankan untuk yang perutnya sensitif, sangat disarankan sarapan berupa buah-buahan segar saja! Ini saya sangat setuju, kenapa? Tempo-tempo saat food combining saya kurang kencang dan perut saya mulai sedikit berulah, sarapan dengan mencampur buah dan sayur bakalan bikin perut saya makin enggak enak. Begitu …

Apa lagi yang bisa dicermati dari ritme sirkadian? Stop makan! Tubuh kita tidak dirancang untuk 24 jam menggiling makanan. Jadi saat ritme udah masuk fase cerna, stop! Upayakan kita pergi tidur sudah dalam kondisi makanan tergiling. Maka 2 jam sebelum tidur atau sekurang-kurangnya pukul 20.00 seyogianya sudah berhenti makan. Jadi bagusnya bobo nya pun kudu sebelum pukul 10, ya.

Prinsip Kombinasi Serasi dalam Food Combining

Nah, sekali lagi, untuk memudahkan mari kita nikmati infografis dari Bang Aldo (once again, thankyou Aldo). Padu padan serasi bisa sontek di nomor 2, ya.

Prinsip Padu Padan Serasi dalam Food Combining
Infografis by Arnaldo Wenas

Jadi jelas banget kan ya kombinasinya? Mana yang oke, mana yang enggak. Jika teman-teman ingin tahu lebih detil tentang kenapa sih udu diatur kombinasi begini? Kindly Check Blogpost berikut ini, yaaa …
Baca Juga: Cara Sehat dan Langsing dengan Food Combining

Prinsip Keseimbangan Asam Basa dalam Food Combining

Mudahnya berfood combining, salah satunya karena kita enggak perlu menakar ataupun menimbang makanan. Bagian penting dari cara makan sehat ini yang terkait dengan seberapa banyak kita boleh makan adalah: pertama komposisi, kedua sikap/cara makan.

Nah, komposisi apa saja dan berapa banyak masing-masing unsur yang kita makan, dipengaruhi juga oleh prinsip keseimbangan asam basa. Jadi tubuh sehat yang kita inginkan akan cenderung berada pada pH netral. Sebagian besar makanan yang “enak-enak” seperti karbohidrat, protein, minyak, lemak umumnya (bukan semua yaaa) itu membentuk situasi asam. Sedangkan buah, sayur terutama yang mentah/segar adalah pembentuk basa dalam tubuh. Protein hewani, daging-dagingan terutama daging merah adalah pembentuk asam yang sangat penting. Itu kenapa jumlah konsumsinya biasanya sangat dibatasi. Dengan berpatokan pada hal-hal di atas, maka seyogianya kita makan pembentuk basa lebih banyak dari pada pembentuk asam. Ya kan?

Lalu bagaimana dengan sikap atau cara makan? Mengapa ini justru turut mempengaruhi porsi makan kita? Wait … kita bahas dalam sub judul berikutnya, ya.

Cara Makan yang Turut Mendukung Keberhasilan Food Combining

Wow ternyata cara makan juga ngaruh ya? Iyaaaa dong. Bayangin bedanya kedua kondisi seperti ini:

  1. Makan dalam kondisi tenang, duduk tegak, kunyah perlahan sampai lumat betul. Makan tidak disela pekerjaan lain, seperti nonton TV atau main hp misalnya.
  2. Makan sambil lalu, sambil nonton TV, ngunyah macam PKL dikejar satpolpp.

Dari keduanya, mana yang cenderung bikin makan kita lebih banyak, pemirsa? Mana yang bikin perut kita nyaman, terisi hingga kenyang yang wajar dan tiada sensasi sebah atau justru kepenuhan? Nah, cara makan demikian itu yang disarankan. Tentang berapa gram akhirnya kita makan, itu TIDAK usah dirisaukan, ya.

Jangan lupa, minum jus atau smoothie pun dianggap kaya makan, ya. Setidaknya dikunyah ringan sehingga tercampur dengan air liur, baru teguk. Minum jus bukan dengan langsung ditenggak glek …glek …glek. Karena sejatinya kita sedang makan, bukan minum.

Memahami Waktu Cerna dalam Food Combining

Setiap jenis makanan membutuhkan waktu cerna yang berbeda. Secara umum, buah-buahan memiliki waktu cerna tersingkat sedangkan daging terutama daging merah membutuhkan waktu paling lama untuk dicerna.
Ada beberapa alasan mengapa kita perlu mengetahui waktu cerna ini. Alasan terpenting menurut saya adalah agar kita tidak sampai (secara tidak sadar) mengkonsumsi dua atau lebih jenis makanan yang ternyata tidak cocok kombinasinya. Emangnya bisa? Bisa aja!

Suatu saat pernah ada teman baru yang curcol bahwa dia tidak mendapat manfaat sama sekali dari Food Combining. Supaya masalahnya jelas, saya minta dia menceritakan dengan detil apa saja yang dimakannya lengkap beserta jam makannya. Setelah dicermati ternyata dia salah besar dalam memahami food combining karena tidak memahami waktu cerna ini. Jadi di waktu makan siang, dia makan nasi, protein nabati dan sayuran. Oke, sampai di sini benar. Lalu di mana salahnya? Tak sampai satu jam kemudian dia ganyang tuh protein hewani karena katanya makan tanpa protein hewani kok rasanya belum makan. Yaaaa… pantes ajah. Bener sih, si protein hewani tak bersatu dalam satu piring dengan karbohidrat. Beda jam makan, tapi karena tak memperhatikan waktu cerna, ya akhirnya ketemu juga tuh di lambung.

Jadi berapa lama setiap jenis makanan perlu dicerna? Menurut yang saya baca, jus dicerna hanya dalam 15-20 menit. Sedangkan buah-buahan dicerna dalam waktu sekitar 20 hingga 40-an menit. Semangka adalah buah yang paling cepat proses cernanya yakni hanya sekitar 20 menit. Sayuran berkadar air tinggi semisal timun, selada, tomat (dalam keadaan mentah) butuh waktu 30 menit untuk dicerna. Sedangkan sayuran hijau dalam keadaan matang bisa membutuhkan waktu 40 menit. Bebijian seperti beras merah butuh waktu sekitar 90 menit, seadngkan kacang-kacangan butuh waktu hingga 3 jam. Daging sapi 4 jam dan daging babi 5 jam waktu cerna.

Jadi andai Anda makan siang dengan seporsi steak beserta sayuran (tanpa karbo), dan sore ingin kudapan yang berupa buah ataupun karbohidrat, setidaknya tunggulah sekitar 4 jam dari jam makan siang Anda. Begitu deh, kira-kira contoh penerapannya.

Penyusunan Menu Food Combining untuk Pemula

Banyak banget yang nanya soal menu food combining, seperti yang saya ceritakan di atas. FC sangat beda lo dengan beberapa diet lain yang menunya udah semacam fix disetting sedemikan rupa. Justru bagi saya dan banyak kawan pelaku food combining lainnya, inilah hal paling menarik dari FC.

Paling nyaman, kuasai dulu prinsip-prinsip seperti di atas, lalu kemudian susun menu sesuai ketersediaan bahan di lokasi teman-teman. Juga sesuaikan dengan kebiasaan memasak di rumah teman-teman. Tentu mungkin ada hal-hal yang perlu disesuaikan. Sebagai contohnya begini:


Di Jawa timur, salah satu masakan khasnya adalah rawon. Rawon biasa dibuat dari daging sandung lamur, disajikan bersama nasi putih, telur asin dan sambal dengan kecambah mentah. Nah, tentu enggak cocok ya dengan prinsip FC, tapi kita tetap bisa memasak rawon dengan sedikit modifikasi, contoh:

Buat rawon dengan isian berupa sayuran saja seperti terung, oyong/gambas, makan dengan nasi, sambal dan kecambah mentah.

Atau ….

Buat rawon dengan daging seperti biasa, berikan sayuran supaya daging tidak menjadi unsur dominan (misal labu siam, atau sayuran seperti yang di atas), makan tanpa nasi.

Wah… ternyata banyak juga yang perlu diketahui sebelum ber-food combining. Ya, untuk dapat menerapkan dengan benar memang sebaiknya dikuasai betul dahulu prinsipnya. Mari, yang mau coba food combining, silakan dikunyah dahulu tulisan ini ya. Silakan ditanyakan jika ada yang masih kurang jelas.

Salam

Post Author: wyuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

5 Replies to “Inilah Beberapa Prinsip Food Combining yang Perlu Diketahui oleh Pemula”

  1. Sama mba, aku kalo sarapan lebih suka minum jus sama air putih. Tapi, jeleknya aku masih ga terlalu suka sayur. Jadi, lebih sering mencampurkan protein hewani dan karbohidrat pati 🙁

  2. FC itu buat orang yang ingin langsing ya? Bagaimana bagi yang ingin gemuk kayak saya? Bisa terapkan FC juga? Aku baru tahu nih ttg FC, ternyata masih nggak boleh digabung sama daging dan ayam ya. Padahal itu kombinasi yang enak lho.😆

    1. Kebetulan saya mau diet, tp ga nemu metode yg pas, gagal terus. Baca metode fc yg mba wid bahas lsg auto paham, deskripsinya pun jelas dan sepertinya simple ga mesti ngitung2 lg.
      Makasi ya mba.

  3. Oh jadi food combining ini yang terpenting bukan terletak pada menunya ya tapi pada prinsip food combining itu sendiri ya mba. Nah, Mba Wid aku tu kan kurus banget ya orangnya. Menurut mba Wid food combining ini apa cocok juga nggak sih buat orang kurus yang pengen naikin berat badan?

Leave a Reply to Nurul Dwi Larasati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *