Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
tips sukses kelas online
Share

Peringatan:

Awas, jika Anda baperan, lebih baik segera tutup saja blogpost ini. Tulisan ini mengandung curhat dalam kadar yang cukup tinggi. Dan maaf, tulisan ini juga hanya saya buat berdasarkan pengalaman saya mengampu kelas-kelas online. Jadi mungkin akan berbeda dengan pengalaman orang lain. Tulisan ini juga gambarnya cuma satu, wkwkwk… iya yang di atas itu ajah. Asli ini tulisan kejar-kejaran nulisnya di sela ngerawat anak-anak yang masih kurang fit.

Baiklah. Begini …

Waktu membaca tulisan Mbak Carolina Ratri alias Mbak Carra, saya semacam yang … wow? Iyakah? Ternyata sama ya? Lo, sekelas Mbak Carra, bisa juga mengalami hal seperti saya? 

Sebagai blogging mentor yang sudah membuka belasan kelas online melalui Indscript Training Center, saya sebenarnya bukannya yang heran-heran amat, sih. Karena, hal senada juga terjadi pada kelas saya. Bahkan, mungkin kondisinya lebih parah. Cuma saya sedikit tidak mengira, karena dalam ekspektasi saya, orang-orang yang masuk ke kelas tersebut pastilah sudah terseleksi sedemikian rupa. Jika melihat dari materi-materi yang dibawakan Mbak Carra, saya kok punya insting bahwa yang masuk ke kelas itu adalah blogger-blogger setidaknya kelas menengah lah ya, bukan pemula lagi dan sudah memiliki niat yang kuat untuk serius di bidang blogging, sehingga perkiraan saya ya pastilah mereka semua adalah mentee yang sudah siap berjibaku untuk belajar. Tapi ternyata saya tak sepenuhnya benar, saudara.

Membaca tulisan Mbak Carolina Ratri, saya kok jadi ingin ikutan menulis pengalaman saya yang senada dengan beliau berdua. Dan secara kebetulan, ini kok ya barengan dengan pas saya membuat keputusan untuk pamit dari dunia kursus online. Maka sekalian saya tulis bla…bla…nya kursus online yang saya geluti sejak lebih dari dua tahun lalu. Harapan saya sih, tulisan ini bisa memberi manfaat pada teman-teman yang ingin belajar (apapun bukan hanya blog) secara online, juga teman-teman yang berniat membuka kelas online.

Oh ya, untuk jelasnya, supaya tidak menimbulkan salah penafsiran, baiknya Anda juga baca tulisan Mbak Carra ini:

Belajar Gratis Susah, Belajar Tidak Gratis Disia-Siakan – Begitukah Mindset Umum Yang Ada?

Tentang Korelasi Biaya Kelas Online dan Capaian Belajar

Saya berubah-ubah pandangan mengenai ini. Awalnya saya mengira, banyak yang berminat ikut kelas online namun terhalang biaya. Ih, polos banget ya saya? Kenapa? Karena banyak sekali yang inboks ke saya, kata mereka pengin ikut belajar tapi belum ada duitnya. Lama-lama saya kaya yang merasa bersalah. Wah, jangan-jangan saya ketinggian mematok harga sehingga niat tulus untuk belajar jadi tersandung biaya. Tiba-tiba saya merasa menjadi orang paling jahat sedunia. Sedih.

Karenanya, saya pernah membuka Kelas Suka-suka, artinya? Ya bayarnya pun suka-suka, semampu dan seikhlas peserta. Wow, betapa membludaknya isi kelas saya. Awalnya saya senang, Alhamdulillah, saya bisa sedikit memudahkan niat lebih dari seratus perempuan untuk belajar.

Kelas pun berjalan. Seperti apa kondisinya? Ah, ternyata ya sama saja. Mungkin kelas ramai oleh diskusi, secara isinya juga buanyakkk. Tapi pasca kelas? Sunyi senyap, sebagian kecil saja yang aktivitas ngeblognya terus berlanjut. Sisanya?Entah ke mana.

Saya juga pernah berkali-kali memberikan beasiswa. Lumayan banyak juga yang pernah merasakan beasiswa saya. Alhamdulillah sebagian memang tepat sasaran. Karena saya memang menyeleksi dengan demikian ketat. Pernah juga saya menjadikan tiket masuk ke kelas saya sebagai hadiah giveaway. Berupa voucher yang tidak 100 persen biaya tertanggung sih. Pemenang masih harus menambah sekitar 2/3 dari nilai voucher tersebut. Bagaimana hasilnya? Juga agak di luar ekspektasi saya. Saya pikir, mereka toh tidak 100 persen masuk kelas dengan gratis. Mereka tetap membayar nominal yang bagi saya cukup besar. Kenyataannya? Sekitar setengahnya saja yang memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.

Evaluasi Materi dan Metode Belajar

Kondisi kelas-kelas online yang demikian, membuat saya terus menerus melakukan evaluasi. Setiap batch kelas saya tak pernah sama. Ada saja hal yang saya perbarui. Mulai dari materi hingga metode belajarnya.

Setiap selesai 1 batch, saya evaluasi kembali. Berulang kali bongkar-pasang, saya tak pernah puas. Saya sadar, amat banyak faktor yang berperan dalam kesuksesan belajar. Kelas online memang memiliki banyak keuntungan yakni keleluasaan waktu dan tempat. Guru dan murid dapat mengakses kelas dari mana pun dan kapan pun. Kelemahannya tentu ada. Dibanding kelas offline, kelas online memang membuat mentor lebih sulit meraih peserta belajar. Ini yang saya rasakan.

Kadang kelas sunyi luar biasa. Dicolek bagaimanapun yang muncul hanya satu-dua. Apalagi tiba waktunya bikin tugas. Berapa persen saja yang mengerjakan dengan upaya memadai. Giliran kelas hampir berakhir, barulah satu per satu berunculan dengan keluhan … saya tak dapat memahami. Saya belum sepenuhnya mengerti …endebrai-endebrai. Kemarin ke mana?

Itu kalau bicara soal kegagalan. Memangnya enggak ada cerita keberhasilannya? Ya tentu ada. Banyak. Dan saya bersyukur, itulah yang menjadi penyemangat saya. Beberapa alumni menunjukkan progress yang sangat menggembirakan. Bahkan pada saat saya membuat kuisioner untuk memantau perkembangan alumni, saya mendapati beberapa diantaranya sudah bisa dibilang memperoleh penghasilan memadai dari blog. Namun kalau bicara persentase, yang begini ini jumlahnya kecil bingits.

Mentor Juga Butuh Training

Karena tidak puas dengan kondisi kelas-kelas yang saya ampu selama dua tahunan ini, dan juga penasaran banget bagaimana sih trik mengelola kelas sehingga kelasnya bisa asyik, hidup dan tujuan belajarnya tercapai? Maka beberapa bulan lalu saya sempatkan ikut kelas Training for Mentor yang besutan Sekolah Perempuan. Mentornya adalah Cikgu Ana Farida, mentor kesayangan banyak penulis di sekitar saya.

Dalam kelas tersebut kami belajar bagaimana merancang kelas, bagaimana memilih berbagai platform untuk kelas hinga bagaimana menghandle berbagai karakter yang adadalam sebuah kelas. Iya lo, sampai begituan dibahas. Misalnya bagaimana kalauada peserta dengan karakter sulit. Orang-orang yang maunya maju, maunya bisa,cita-cita setinggi langit, endebrei…endebrei, tapi giliran dikasih pe er, malah ngumpet. Emang ada? Ada! Ah… Cikgu memang luar biasa dan saya kembali bersemangat. Oya, buat Anda yang berniat terjun membuka kelas online, saya sangat merekomendasikan training ini.

Pasca mengikuti training tersebut, saya kembali merancang kelas online. Sebenarnya sih, salah satu rancangan kelas adalah tugas yang diberikan pada training tersebut dan sudah mendapat banyak masukan dari Cikgu. Ada 3 kelas yang saya rancang. Pertama Belajar Ngeblog dari Nol, kedua review for Blogger dan terakhir Canva for Blogger. Kelas pertama adalah kemasan baru dari kelas Blogging untuk pemula yang sudah saya buka sebanyak 5 batch sebelumnya. Saya mengemas menjadi berbeda karena dalam kelas ini saya benar-benar “memaksa” semua yang ikut untuk mengosongkan gelasnya. Membuat mereka pada posisi nol sebagai blogger, dan meng-create blog dari awal, dari blog gratisan dulu.

Baca beberapa tulisan saya mengenai dunia blogging berikut ini :

Perempuan blogger dan impian pendidikan tinggi

Blogger Ndeso juga bisa berkarya

Tips memilih penyedia hosting terbaik untuk blogging

Di kelas ini juga peserta belajar menulis blog dari basic banget. Konsekuensinya? Uh…lala…waktunya dong, jadi panjaaaang. Kelas ini adalah kelas terlama yang pernah saya bikin. Waktu belajar sebulan. Peserta pun dibuat dalam kelas kecil maksimal 10 orang. Saya berharap banyak pada model baru ini.

Nyatanya? Jreng … jreng … Ada sih peningkatan dibanding kelas-kelas sebelumnya.Minimal, dengan kondisi kelas kecil, saya lebih bisa “menyentuh” peserta. Tapitak juga seluruhnya sukses. Peserta yang terlambat bahkan tidak mengerjakantugas juga masih ada kok. Walau sudah dicolekin satu-per satu setiap hari. Giliran kelas udah mau tutup, ada yang komen, lo… kok sudah mau habis? Ghlodhaggg!!Jadi harus bikin kelas berapa lama? Setahun? Alamakjaaaaang

Nah, kelas lainnya adalah review for blogger. Ini juga sebenarnya adalah kemasan baru dari Kelas Seluk Beluk Job Review, yang sudah dilaksanakan kalau enggak salah 4 batch. Kelas sebenarnya saya rancang hanya 4 hari. Namun ternyata Karena masih banyak yang harus dibahas, diperpanjang hingga seminggu. Nah, kelas yang ini cukup lumayan menurut saya capaiannya. Peserta yang serius juga lebih mendominasi.

Dibanding kelas-kelas saya sebelumnya saya memang melakukan perubahan besar pada kelas online ini. Yang signifikan adalah perubahan platformnya. Saya juga menerapkan disiplin lebih ketat lagi pada kelas ini. Telat setor tugas, ya sudah. Wassalam… di awal kelas kami bikin kesepakatan dalam bentuk rules belajar. Semua diatur lugas, jelas. Saya sudah tidak peduli pada cap “Mentor Galak” yang diberikan oleh banyak peserta kelas saya. Yang menjadi concern saya hanyalah: Semua peserta mencapai tujuan belajar yang disepakati di awal. Titik!

Kelas saya yang saat ini masih berjalan adalah Canva for Blogger. Barangkali ada nyinyirers, saya persilakan lo. Saya sudah sangat khatam kok dengan nada : Canva aja kok diajarin! Haha…. biasa aja kalo saya. Kadang orang tak bisa memahami bahwa gaya belajar tiap orang bisa berbeda banget. Nah, kelas ini juga bagi saya cukup melegakan capaiannya. Kalaupun ada kendala, itu karena pas di tengah ternyata anak-anak saya sakit dan menyusul saya juga sakit. Terpaksa harus re-schedul dan hawa-hawa liburan cukup mempengaruhi. Namun secara umum, kelas ini berjalan cukup menyenangkan capaiannya.

Pamit Dari Kelas Online

Pada akhirnya, meski kemudian saya merasa (untuk sementara) saya sudah menemukan rancangan kelas yang pas, akhir tahun ini saya tetap harus pamit dari Indscript. Saya telah putuskan, kelas Canva for Blogger akan jadi kelas saya di Indscript Training Center yang terakhir. Terakhir untuk tahun ini dan sampai batas waktu yang saya belum tahu.

Mengajar memang passion saya. Namun ternyata untuk mengampu kelas online yang dalam standard saya benar-benar oke, ternyata menguras energi luar biasa besarnya. Pada saat yang sama ada beberapa hal yang sedang saya rintis dan meminta energi yang besar pula. Maka pada akhirnya saya tetap harus memilih. Mungkin suatu saat saya akan come back, atau juga tidak? Entahlah.

Kapok jadi mentor, Mbak? Ah enggak. Ada juga niatan suatu saat refreshing dengan cara buka kelas lagi entah seperti apa bentuknya. 

Tips Sukses Mengikuti Kelas Online

Kenali siapa mentornya. Begitu tahu ada training Mbak Carra, saya sebenarnya pengin ikut. Yadong, siapa yang enggak tahu beliau ((BELIAU)) wkwkwk … saya termasuk sering belajar dari blog Mbak Carra. Tapi Mbaknya jahad sama saya, masa saya gak boleh ikut. Hiks…#deramah

Oke, cukup deramahnya. Maksud saya begini, kenali rekam jejak calon mentor Anda. Namanya juga mau berguru ye, jangan salah orang.

Ketahui kisi-kisi kelasnya. Anda berhak menanyakan apa saja materinya, bagaimana materi diberikan, kapan jadwalnya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kelas. Pastikan semua sesuai dengan yang Anda butuhkan.

Lakukan upaya untuk memanajemen waktu, jika perlu pasang pengingat. Hampir di setiap kelas saya, ada saja peserta telat masuk hanya gara-gara lupa. Bahkan ada yang baru ingat masuk kelas persis saat training mau saya tutup. Lumayan konyol kan. Nah, jangan sampai Anda mengalaminya. 

Ikuti dengan baik, dengan konsentrasi penuh setiap bentuk materi yang diberikan. Gunakan kesempatan untuk bertanya. Jangan berfikir bahwa, jangan-jangan pertanyaan konyol yang Anda lontarkan. Jangan, ya. Tapi pastikan Anda membaca dahulu semua materi termasuk pertanyaan peserta lain serta jawaban yang diberikan. Gak asyik kan kalau sampai mengulang apa yang sudah dijelaskan.

Kerjakan penugasan sebaik mungkin. Gak usah membuat ekspektasi, ah… ntar gue pasti bisa lah ngerjain sendiri. Toh ada handout ini. Salahhhh …. justru hand-out atau materi pdf atau apalah, itu seringkali kecil lo persentasenya dari pada latihan atau praktik. Jadi JANGAN ketinggalan ngerjain tugas

Tips Untuk Mentor/Calon Mentor

JANGAN BAPER.Coba turunkan level BAPER Anda ke tingkatan terendah. Jika perlu, nolkan! Wkwkwk.

KULAKAN SABAR, ini wajib, karena mungkin Anda tidak bisa mengira-ngira ada di mana level tiap peserta kelas Anda (kecuali jika Anda setting di awal).

HARGAI dan HORMATI, saya senantiasa mengingatkan diri sendiri. Ada harimau siap mengaum dalam dada setiap peserta. Kalau mereka nanti sukses, bukan berarti itu karena saya.

PAHAMI, tidak semua peserta punya tujuan sama apalagi kalau kelas Anda terhitung berbiaya hemat. Ada (bahkan banyak) yang bisa jadi juga cuma sekadar pengin tahu aja. Apa sih isi kelasnya. Terkadang peserta memang mengalami kondisi tertentu yang menyebabkannya kesulitan mengikuti kelas. Kesulitan sinyal, tiba-tiba mendapat tugas kantor, endebrai-endebrai. Saran saya, ya dipahami saja sebatas Anda bisa.

Nah, cukup sekian tulisan sekian persen tsurhat sekian persen tips ini. Selamat menikmati akhir tahun yang sudah beraroma liburan. Semoga tulisan ini enggak bikin baper tetapi justru bikin semangat membara.

Salam bahagia dari Bondowoso yang dinginnya mulai enggak ramah

Share

Post Author: wyuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

16 Replies to “Belajar dari Kegagalan Kelas-kelas Online, Inilah Tips Sukses bagi Peserta dan Mentor”

  1. Aku termasuk tipe murid yang mana yaaa? Heuheuu … jangan off dong mentor galak #eh… wkwkw… Bukan galak sih menurutku mba Wid itu tegas, daan aku merasa ikut kelas review itu bermanfaat sekali, jadi ngerti GA, ratecard, endebrai2… Apapun keputusanmu sukses, Mbaaak!

  2. Terus terag saya baru kali ini mampir ke blog ini, ternyata saya mengunjungi blog seorangmentor.. semula saya hanya ingin blog waalking.. akhirnya malah bisa menambah pengetahuan saya dari blog ini… saya termasuk baru memulai untuk ngeblog walaupun masih gado gado tema .. saya menyiapkan salah satu blog saya untuk bisa belajar menulis yang rapi dan teratur,… semntara blog itu saya jadikan untuk konsumsi pribadi.. dan blog saya yang lainnya saya publikasikan.. semoga dengan sering berkunjung keberbagai blog akan bisa memperkaya pola menulis saya… mohon dukungannya

  3. Ow … baru tahu beratnya jadi seorang mentor kelas online. Saya belum pernah ikut kelas di Indiscript sih, tapi pernah ikut kelas online-nya salah satu perkumpulan penulis Wattpad. Bermanfaat, tapi ya itu … sulit “tepat waktu”-nya. Belum lagi kalau kebanyakan peserta malah jadi sibuk bacain komen-komen peserta yang lain.

    Semangat Mbak. Semoga bisa ketemu di kelas online-nya (kalau nanti memutuskan untuk aktif lagi).

  4. Makk aku belun ikutan berguru padamuu 😀

    Eia Mak Carra ga jahad, kalo Mak Wid ikutan jg mau ngapain karna udah expert, hihihi.

    Tetap semangat dan moga sukses terus ya makk :*

  5. Waaaah saya merasa punya jawaban dari apa yang selama ini ingin tanyakan. Saya sendiri bukan mentor online, saya hanya sebagai pebisnis MLM yang juga harus membina TEAM. Dan ternyata tidak semua team semangat pada saat di kasih materi, hanya beberapa saja yang aktif, dan beberapa waktu kemudian mereka menanyakan materi yang pernah saya sampaikan di grup, dan saya bertanya tanya kemana mereka selama ini, apa tidak menyimak kelasnya. 😄😄😄.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!