Saya, Stunting, dan The Hidden Paradise

Share

cegah stunting

Tugas kehidupan membawa saya kembali ke tempat ini lebih dari lima belas tahun yang lalu. Sepotong serpihan surga yang terserak atau… entah siapa yang pertama kalinya memanggil tempat sejuk ini sebagai The Hidden Paradise. Nyatanya keindahan yang dipuji-puji sedemikian rupa ini tak mampu menghibur saya pada suatu masa. Ya… masa saya sempat mengalami tanda-tanda frustasi berada di sini.

Tempat ini sungguh indah. Ya, benar! Tempat ini punya banyak, aaamat banyak mata air jernih yang gemericik airnya nyaris tak pernah berhenti mengalir sepanjang tahun. Ya, itu juga benar. Tempat ini pun punya segudang kekayaan flora dan fauna. Oh…ya, tentu saja ini juga benar. Bahkan kopi dan macadamia yang tersohor hingga ke mancanegara itu, di sinilah rumahnya. Bahkan beras hitam organik yang mensuplay healthy lifestyle orang-orang di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya, di sinilah asalnya.

Lalu apalagi?

Ah…kontras dengan yang disebut di atas, saya masih ingat rapat demi rapat hampir setiap pekan, selama bertahun-tahun yang didalamnya berulang-ulang pembicaraan semacam:

“Berapa persentase akses jamban kita?”

“Lima puluhan persen.”

“Waduh, kita harus 100 persen nih sebentar lagi”

“Air bersih berapa persen?”

“Enam puluh sekian.

“Kekejar enggak nih 2019? Bisa 100 persen gak?”

Itulah salah satu sumber kegemasan. Gemas pada diri sendiri. Saya ASN di sini belasan tahun. Saya lulusan Teknik Lingkungan di salah satu PTN terbaik negeri ini. Nyatanya, saya tak punya daya untuk berbuat sesuatu.

 

Bondowoso dan Stunting

Lingkaran energi positif siang itu bernama “Kopdar Baik”, hasil kerjasama Kominfo dan Good News from Indonesia. Siang itu, saya berada dalam lingkaran itu. Tentu saja setelah mengosongkan gelas sebelumnya.

cegah stunting

Ibu Wabup (berkerudung merah), Ibu Bupati (Batik hitam) dan Prof Merryana (paling kanan)

Anda tahu apa yang saya rasakan setelah dengan sabar mendengarkan satu demi satu narasumber berbicara sesuai kapasitas masing-masing? Saya seperti kembali hadapkan kembali pada selembar puzzle dengan amat banyak kepingan yang di masa lalu tak mampu saya selesaikan. Kali ini sang puzzle disodorkan kembali ke hadapan saya dengan dibekali clue sehingga saya mulai dapat mereka-reka, bagaimana saya akan merangkainya.

 

Bagaimana Stunting Bisa Terjadi?

Sebenarnya stunting itu apa sih? Tadinya saya mengira stunting itu hanya melulu soal tinggi badan yang kurang. Ternyata saya salah. Stunting bukan saja  ditunjukkan oleh tinggi badan yang kurang dari seharusnya, namun ada berbagai hal lain yang menyertai misalnya: pertumbuhan sel otak yang tidak optimal, mukosa sel epitel yang juga berbeda dengan kondisi normal sehingga menyebabkan tidak optimalnya fungsi fagositosis yang berhubungan dengan kemampuan untuk memakan kuman. Akibatnya, anak-anak stunting lebih mudah sakit.

 

Menurut Prof. Dr. Merryana Adrian, SKM, M.KES, stunting sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan langkah-langkah yang tepat dalam masa 1000 hari terbaik, yakni 1000 hari pertama kehidupan. Seribu hari terbaik ini terhitung sejak terbentuknya janin hingga 9 bulan dalam kandungan, lahir, dan hingga usia dua tahun. Berbagai hal yang penting dilakukan untuk mengoptimalkan 1000 hari terbaik guna cegah stunting, seperti yang dipaparkan Prof. Merry, saya rangkum dalam gambar berikut.

cara mencegah stunting

 

cara mencegah stunting

 

Tiga Penyebab Stunting di Bondowoso

Mendekati akhir acara, Tim Penggerak PKK Kab. Bondowoso membeberkan data, bahwa di Bondowoso terdapat 10 titik kejadian stunting. Stunting di Bondowoso disebabkan tiga hal: pertama kurangnya penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) diantaranya ditandai tingginya angka BABS (Buang Air Besar Sembarangan). Wah, saya jadi langsung ingat betapa “fakir” kami akan jamban. Penyebab kedua, menurut PKK, adalah kebiasaan merokok (khususnya di dalam rumah dan ketiga adalah rendahnya pemberian ASI eksklusif.

Saya mengaitkan tiga hal tersebut dengan penjelasan panjang dan detail yang dipaparkan Prof Merry di sesi sebelumnya. Sanitasi rendah membuat bayi dan balita sangat rentan terpapar pada penyakit menular. Penyebab kedua, kebiasaan merokok. Jelas, rokok meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti , alergi, asma, bronkitis, pneumonia, meningitis. Padahal Prof. Merry mengatakan, seyogianya bayi dijaga jangan sampai sakit. Mengapa? Karena ketika sakit, tubuh berkonsentrasi untuk penyembuhan dan mengorbankan aktivitas hormon pertumbuhan. Jika ini terjadi berulang-ulang maka pertumbuhan tidak akan terjadi secara optimal di 1000 hari pertama.

Penyebab ketiga adalah rendahnya pemberian ASI eksklusif. Ah… hati jadi perih mendengarnya. Masih saja ya? Saya jadi ingat perjuangan meng-ASI-hi Kak Asa dan Mbak Raniah, dua buah hati kami. Saat Kak Asa lahir bidan memaksa suami menebus satu merk susu di apotek. Kejadian saat Mbak Raniah lahir, di bidan yang berbeda, memang tak separah yang pertama. Namun kali ini Bu Bidan memberikan sepaket souvenir yang salah satu isinya adalah, SUSU FORMULA! Untung saya berhasil ngotot tak menggunakannya.

 

Pekerjaan Rumah Saya Banyak!

Iya, saya merasa mendapat setumpuk PR besar. Saat ini saya memang masih dalam posisi jeda, menungguu surat penempatan kembali pasca menyelesaikan studi master saya September lalu. Belum masuk kantor. Tapi saya sudah membuat beberapa poin yang harus saya kerjakan sekembalinya saya ke unit kerja nanti. Apalagi kalau bukan soal sanitasi, yang erat sekali kaitannya dengan kualitas lingkungan yang menjadi bidang kerja saya di Dinas Lingkungan Hidup.

Senang sekali, di acara Kopdar baik kemarin juga berkesempatan ngobrol dengan Ibu Wabup. Saya sempat menyampaikan temuan saya saat riset tentang kualitas air sungai untuk tesis kemarin. Kuat dugaan saya bahwa kurang memadainya kualitas air sungai berkaitan pula dengan masalah sanitasi. Rendahnya akses terhadap jamban, membuat masyarakat menjadikan sungai sebagai salah satu “toilet” untuk menyelesaikan hajatnya. Kami berjanji untuk berjumpa kembali membicarakan solusi permasalahan ini. Masalah stunting, kompleks memang. Betul kata Prof. Merry. Semua stake holder harus duduk bersama membicarakan solusi dan siapa melakukan apa. Semoga Kopdar Baik ini menjadi awal yang baik untuk penyelesaian masalah stunting di Bondowoso.

2 comments

  1. Febriyanti DS says:

    My CikGu ❤
    Nice article Mba Wid.

    Semoga prilaku & kesadaran masyarakat untuk hidup bersih & sehat bisa segera membaik.
    Daaannn.semoga Tim Penggerak PKK setempat tidak pernah bosan memberikan penyuluhan yang intens untuk masyarakatnya..,

  2. Cahya Legawa says:

    Stunting masalah yang kompleks dalam hal faktor risiko dan tata kelolanya. Semua harus bisa berjalan berbenah diri, setidaknya mulai dari seorang perempuan lahir dan tumbuh besar, hingga siap menjadi calon ibu, kesehatannya harus benar-benar diperhatikan. Sehingga saat jadi ibu, sang perempuan cukup sehat menghasilkan putra putri yang sehat juga. Dan baru kita bisa berharap generasi mendatang ada berkah terputusnya rantai stunting. Ini memerlukan kerja keras kita semua. 🙏

    Tidak hanya mutlak milik ranah mereka yang kerja di kesehatan, semua pihak harus turut serta menurut hemat saya.

Leave a Reply