Meraih Mimpi di Usia Matang dengan #AksiSehatCeria

Share

Mimpi adalah energi … (kata sebuah iklan pada suatu masa)

Siap bilang impian cuma milik anak-anak, remaja atau anak muda. Bagi saya impianlah yang memberi tenaga lebih pada hidup ini. Saat berhenti bermimpi, maka rasanya sama dengan berhenti bergerak. Berhenti bergerak, sama dengan mati sebelum kematian yang sebenarnya.

Saya baru saja mencoret satu hal dari daftar mimpi, artinya, untuk poin tersebut misi telah selesai! Impian tercapai. Impian melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 baru saja saya selesaikan dengan manis, hanya 2 bulan dari ulang tahun saya yang ke empat puluh. Alhamdulillah. Sungguh tak ada lagi yang dapat saya lakukan selain berterimakasih pada Gusti Allah yang memudahkan segalanya. Apa wujud terimakasihnya? Diantaranya adalah melanjutkan perjalanan meraih mimpi-mimpi berikutnya.

Saya memulai pendidikan master ketika berusia 38, 5 tahun. Artinya? Saya menempuh master dalam 3 semester saja, dan syukur pada Tuhan telah memberikan bonus berupa predikat cum laude untuk upaya saya. Ada satu hal yang saya syukuri, yakni: saya memulai master saya di usia justru tak lagi muda. Mengapa? Masa muda saya sakit-sakitan. Di usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan saya selalu didera alergi berkepanjangan, masih ditambah berbagai gangguan kesehatan lainnya yang datang silih berganti.

Ada banyak kebiasaan hidup baru yang lebih sehat yang saya lakukan sejak sekitar tahun 2010-2011 hingga saat ini. Semua kebiasaan tersebut saya rasa adalah hal-hal penting yang membentuk kesehatan dan kebugaran tubuh yang mendukung aktivitas saya. Termasuk aktivitas lumayan berat ketika 3 semester menempuh master.

Selama tiga semester menempuh studi, sungguh rasanya tidak mudah. Setiap pekan diawali dengan perjalanan menuju Surabaya dari Bondowoso. Bondowoso-Jember dengan motor, hingga stasiun Jember, lalu dengan menggunakan kereta api saya akan menuju Surabaya. Setiap pekan, sekitar 3-4 hari berada di Surabaya untuk berbagai aktivitas akademik seperti kuliah dan nge-lab, terkadang juga masih ditambah melakukan liputan atau menghadiri event.

 

Makin berat ketika semester 3 saya harus melakukan riset untuk tesis. Objek penelitian saya ada di Bondowoso, sementara laboratorium utama di Surabaya. Masih ada lagi beberapa parameter yang harus diuji di laboratorium yang berlokasi di Probolinggo dan Banyuwangi. Sungguh bukan pekerjaan ringan buat emak-emak usia 40-an. Apalagi objek penelitian saya adalah sungai. Saya harus nyebur dan melakukan sampling sendiri selama berbulan-bulan.

Saat itulah sungguh terasa, betapa kesehatan adalah karunia luar biasa. Tanpa kesehatan, saya tak mungkin dapat beraktivitas seperti yang saya ceritakan di atas. Tanpa kesehatan prima, mustahil impian saya akan pendidikan tinggi dapat teraih dengan baik. Jadi izinkan saya berbagi #AksiSehatCeria yang menjadi rahasia sehat saya dan turut mendukung saya.

 

Makan Sehat

Teman-teman yang sudah lama sering mengikuti blog ini dan media sosial saya, pasti sudah tahu kebiasaan saya yang ini. Kebiasaan saya makan buah kalau pagi hari, kebiasaan saya melahap sayur-sayuran dan menghindari/membatasi minuman dan makanan manis/tepung-tepungan apalagi makanan instan dan ber-aditif. Bagaimana kebiasaan makan ini saat saya kuliah dan resmi menyandang predikat “Anak Kos”? Oh…ya tetap konsisten, dong.

 

Ada yang bertanya, apa tidak repot dan tidak mahal tuh menjaga pola makan sehat dalam kondisi nge-kos? Sama sekali enggak. Ya sebisa-bisanya menyesuaikan dengan apa yang ada di sekitar saya aja. Belanja buah seminggu dua kali di supermarket dekat tempat kos. Sekali belanja juga paling sekitar lima puluh ribuan saja, kok. Bandingkan dengan harga junkfood ataupun berbagai street food yang seringkali menjadi pilihan makan anak kos? Ya masih lebih hemat belanja buah dan sayur saya dong!

Dan jangan lupa impactnya? Iya kan? Alhamdulillah selama 3 semester di Surabaya, sakit ringan hanya sekali dua kali saja, itupun ketika beban aktivitas fisik juga sudah gila-gilaan. Itupun, hanya perlu istirahat sehari dua hari juga Alhamdulillah diberi sembuh oleh Allah. Sekali lagi, semua memang tak lepas dari karunia sehat yang diberi Tuhan, tapi tentu juga karena upaya dong, ya. Masa iya minta sama Tuhan dikasih sehat, tapi kita tak berupaya? Malu, ah.

Apakah saya sama sekali tak pernah makan junkfood atau makanan-makanan instan yang biasa dikonsumsi anak kos? Pernah juga lah. Saya masih manusia, jauh dari sempurna. Haha… saya hitung, makan di fastfood pernah dua kali, dan makan mie instan juga dua kali selama 3 semester tersebut. Tergoda makan mie instan karena salah saya juga, sih. Saya beli sebagai persiapan jika sangat malas ke luar kos untuk cari makan. Akhirnya suatu saat tergoda betul, deh untuk menyantapnya, karena saya udah bertahun tak pernah makan mie instan.

Sesekali, saat menghadiri acara blogger, saya juga makan kudapan manis yang aduhai kalau dihitung nilai kalorinya. Tak apa. Toh sesekali dan hanya sedikit saja. bagi saya, menikmati makanan enak namun kurang sehat juga mengandung tujuan rekreatif. Ujung-ujungnya ya bikin senang juga memang. Tapi…. harus sadar diri. Untunglah, sejak menerapkan pola makan sehat, saya merasa mudah sekali puas saat menyantap makanan kurang sehat tapi enak. Makan 1 atau 2 kudapan super imut udah sangat puas rasanya.

 

Bergerak Proporsional

Saya sangat percaya, kesehatan yang prima adalah perpaduan yang pas antara diam (istirahat) dan bergerak proporsional. Jadi keduanya harus terpenuhi secara seimbang. Karenanya, meski sibuk saya berusaha tetap bergerak seimbang. Saat mulai kuliah, saya memulai hari dengan melakukan gerak tubuh ringan, begitu bangun tidur. Sesekali yoga dan selalu mengupayakan jalan kaki untuk pergi dan pulang dari kampus.

Dengan cara ini, tubuh saya terasa lebih fit dan bugar. Badan ini rasanya enteng dibawa beraktivitas. Pun gangguan ringan seperti pegal-pegal dan keseleo atau nyeri otot jarang sekali saya alami.

 

Berpikir Positif

Pikiran memprogram segalanya dalam tubuh kita. Baiklah, mau tak mau saya harus percaya itu. Ketika pikiran saya terjaga selalu positif, tubuh merespon juga dengan memberikan kondisi terbaiknya: sehat, bugar. Kadang saya tak bisa menghindari, orang lain di sekitar saya belum tentu sama cara berpikirnya dengan saya. Maka yang bisa saya lakukan adalah dua: pertama, membuat semacam barrier energi, saya tak mengizinkan energi negatif dari orang lain menyentuh saya.

Kedua, menjauhi toxic people. Jujur, saya sadar bahwa saldo energi positif saya bisa saja terbatas. Kalau terus menerus tergerus karena berurusan oleh orang-orang yang negatif, lama-lama habis juga saldo positif saya. Jadi, sering juga saya memutuskan untuk menjauhi seseorang karena saya merasa bahwa orang tersebut energi negatifnya terlalu kuat.

Begitu pula dengan social media yang seringkali riuh oleh berbagai pro-kontra. Saya tak mau socmed menghabiskan energi positif saya. Baik sekali ada fungsi unfriend, unfollow bahkan blokir. Jadi saya bisa mengkondisikan aura positif senantiasa lebih dominan di sekitar saya. Termasuk di dunia maya.

Bersenang-senang

Apa cara saya bersenang-senang? Wow, banyak! Saya tahu, hal ini sangat penting, maka saya membuatnya sederhana. Having fun dengan banyak hal membuat diri saya dibanjiri semangat. Hal-hal kecil saja sudah dapat memberikan saya banyak kesenangan, kok. Makan di kafe langganan bersama sahabat kesayangan, padahal yang kami pesan hanya nasi pecel tempe bacem, itu sudah membuat bahagia luar biasa.

Blog ini juga adalah bagian dari cara saya bersenang-senang. Menulis dan membagi ide saya dengan teman-teman pembaca, itu aja sudah bikin saya senang. Hadir ke sebuah event blogger, walau mungkin tak selalu mendapatkan fee, itu juga sudah bisa bikin saya senang. Bertemu teman-teman, seru-seruan, mendapatkan informasi baru dalam event tersebut sudah cukup membuat saya bahagia.

Jalan-jalan ke tempat wisata di dekat-dekat rumah saja juga sudah bisa membuat sudah bersenang-senang. Udah deh, tak harus ke Raja Ampat apalagi Santorini, diajakin ke Puncak Patirana yang hanya selemparan kolor dari rumah, juga udah hepi banget rasanya. Alhamdulillah ya…

Sekadar window shopping di beberapa toko online juga sudah membuat saya bahagia. Padahal juga tidak membeli. Hanya sekadar mengagumi produk-produknya, sudah memberikan kesenangan buat saya. Apalagi kalau kemudian sedang ada rezeki untuk membelinya. Amboi…. #bahagiaItuSederhana itu nyata adanya.

 

Donor Darah

Ini yang masih menjadi impian. Dulu waktu masih usia 20 hingga awal 30an, enggak mungkin mikir ini, kenapa? Karena tensi saya cenderung selalu rendah dan juga anemia. Nah, maka setelah makin sehat, beberapa waktu lalu saya hepi banget saat tahu di kantor ada acara donor darah. Saya tahu, ada banyak manfaat donor darah, selain tentu juga alasan kemanusiaan. Manfaat kesehatan dari donor darah pernah saya baca di web doktersehat.

Nah, kembali lagi ke cerita donor darah di kantor. Langsung dong, semangat 45 menemui petugas dan ditensi. Ok bagus, normal, karena saya memang sudah sehat dan fit. Tapi lalu saya ingat sesuatu… Oooo… ternyata saya lagi menstruasi dan sedang deras-derasnya. Batal deh! Langsung ditolah oleh petugasnya. Sejak saat itu memang belum sempat untuk mencoba lagi. Semoga segera!

 

Jadi begitulah… seusia ini saya masih memilik daftar impian yang cukup panjang.

Memperbanyak traveling bersama keluarga.

Mengunjungi kerabat dan sahabat di berbagai kota.

Mengunjungi baitullah juga tentu masuk di list saya.

Kembali ke kampus untuk menempuh strata pendidikan tertinggi.

Dan masih banyak lagi lainnya…

 

Saya sangat yakin, umur adalah kuasa Gusti Allah. Jadi yang harus saya lakukan adalah menjaga agar performa saya senantiasa terbaik untuk setiap tahap kehidupan saya. Tidak tua lebih cepat dari seharusnya. Tidak nglokro. Tetap bersemangat menjalani anugrah kehidupan. #AksiSehatCeria seperti saya ceritakan di atas akan terus saya jalani dan nikmati. Bukan dengan perasaan was-was dan takut sakit, tetapi lebih dengan rasa penuh tanggung jawab dan syukur atas nikmat sehat hingga saat ini. Bagaimana dengan Anda? Cerita dong…

One comment

Leave a Reply