ZenBook UX331UAL Teman Berkarya “Menebus” Cum laude

Share

 

Cum laude adalah bekerja lebih keras, berpeluh lebih deras, berkarya lebih cerdas dan berperjalanan lebih sering dan lebih jauh-WY

 

Eat Bo**, 14 September 2018 Bakda Isya

“Kamu tahu, aku terkadang berpikir, apakah aku pantas menyandang cum laude ini?”

Perempuan Jawa di sebelah saya menggeleng-geleng.

“I can’t find any candidates better than you!”

Lalu meluncurlah omelan darinya, doktor lulusan Taiwan, dosen di tempat saya kuliah yang sebentar lagi merangkap dosen terbang di Vietnam, sahabat saya sejak masa menempuh S1 dulu. Sahabat rasa saudara! Bahkan kopi di hadapannya yang menurutnya enak, tak mampu meredam omelannya. Huh, tahu bakal begini aku enggak bakalan curhat, batin saya.

 

Kalijudan Taruna, 14 September 2018 Larut Malam

“Ngene iki lo kudune! Ngene iki untuk membuktikan cum laude-mu kuwi”

(“Begini seharusnya! Begini ini untuk membuktikan cum laude-mu itu”)

 Tiba-tiba Ibu dosen, sahabat yang saya ceritakan tadi menunjuk ke layar paparan project di gawai sahabat saya yang lain. Selesai dinner malam itu kami melaju ke rumah salah seorang sahabat kami yang lain. Sejak menempuh S2 saya terhitung cukup sering bertemu dengan sahabat-sahabat masa S1, dan malam itu kami tengah mendiskusikan sebuah project yang sedang dikerjakan salah seorang diantara kami. Itu adalah sebuah project remediasi lingkungan yang rusak pasca kegiatan pertambangan.

Iya, saya tahu. Bahkan mungkin tanpa diberitahupun saya sadar bahwa karya terbaik adalah satu-satunya cara untuk membuat predikat cum laude ini pantas berada di pundah saya. Karya yang bukan sekadar karya, namun karya nyata yang mampu menjawab permasalahan di masyarakat sesuai bidang keilmuan yang saya geluti, environmental engineering.

 

Graha Sepuluh Nopember, 16 September 2018

“Wisudawan Program Magister Teknik Lingkungan …Widyanti Yuliandari, lulus dengan predikat: PUJIAN …”

Suara Sang Kepala Departmen Teknik Lingkungan lantang terdengar di speaker. Saya maju dan melangkah dengan mantap. Ibu Dekan siap menyalami di panggung sambil menyerahkan ijazah berikut tanda penghargaan atas prestasi cum laude. Lalu saya menuju ke tengah-tengah panggung yang megah itu, di mana Bapak Rektor yang sangat kami cintai dan hormati, berdiri untuk menyalami semua wisudawan.

Cum laude!

Alhamdulillah…

Terbayar sudah lelah.

Terbayar sudah rindu yang harus dibungkus rapi dalam linangan air mata.

Terbayar sudah malam-malam dengan letih yang sempurna.

Terbayar sudah tabungan ludes  demi studi.

Terbayar sudah menahan-nahan rindu travelling demi studi

Cum laude sangat mewah bagi saya.  Cum laude dalam pikiran saya adalah sesuatu penuh tanggung jawab yang menyertai. Tidak terbayang sebelumnya, karena saat S1 bahkan saya pernah tergabung dalam HIMASAKOM-Himpunan Mahasiswa Satu Koma. Iya benar, karena IP semester saya angka depannya hanyalah angka 1. Di masa SMP dan SMA bahkan saya pernah harus menanggung bully demi bully hanya gara-gara dipandang tak becus pada pelajaran matematika dan fisika. Lalu kini cum laude pada Program Magister Teknik Lingkungan, ITS? Jika bukan berkah mewah luar biasa dari Gusti Allah, harus saya namakan apa lagi?

Berminggu-minggu, membayangkan predikat tersebut akan tersemat di pundak saya, rasanya ngeri. Berat. Cum laude bagi saya bukan gaya-gayaan. Saya emak blogger ndeso, PNS di sebuah kota kabupaten kecil, yang baru saja mentas dari gelar teringgal, cum laude dan menyelesaikannya hanya dalam 3 semester di Institut teknologi paling bergengsi di Indonesia timur. Terkadang masih seperti mimpi. Benarkah saya?

Tetapi saya manusia dewasa. Saya sadar sepenuhnya bahwa harus segera move on! Kini saatnya kembali perpeluh untuk memantaskan diri atas cum laude ini. Bismillah…. Inilah beberapa hal yang sudah saya rencanakan dengan matang sebagai wujud syukur atas kelancaran studi yang sudah diberikan Gusti Allah, juga sebagai upaya “menebus” lunas cum laude ini:

 

Membuat Blog Baru

Lo, cum laude di bidang Teknik Lingkungan, kenapa justru menggarap blog? Iya,  tepatnya saya akan membuat sebuah online media yang isinya all about environment. Topik ini bukan topik seksi saya rasa, tak banyak yang suka dan mau menggeluti. Kalah jauh deh, dengan tema-tema beauty, health, lifestyle, dan sejumlah topik populer lainnya. Jadi sebagai seorang master di bidang environmental engineering, saya merasa inilah tanggung jawab yang seharusnya saya lakukan.

ZENBOOK UX331UAL

 

Melakukan Lebih Banyak Aktivitas Keilmuan

Saya bertekad membaca lebih banyak jurnal, buku dan materi lain terkait keilmuan yang saya tekuni. Juga hadir di lebih banyak seminar, conference, workshop dan apapun yang terkait dengan bidang ilmu saya. Saya tahu, sangat penting untuk selalu up date, karena segala hal berjalan sangat dinamis. Saya juga akan mulai lebih percaya diri menerima tawaran menjadi public speaker baik itu sekadar menjadi dosen tamu, maupun mengisi acara seminar dan semacamnya.

Beberapa tawaran sudah masuk dan saya iyakan. Bagian ini memang butuh effort. Salah satunya adalah karena Bondowoso, tempat tinggal saya itu akses transportasinya lumayan sulit dan mau ke mana-mana terasa jauh. Padahal poin ini akan membuat saya lebih banyak berperjalanan.

 

Mempersiapkan diri Untuk Melanjutkan Studi pada Strata Selanjutnya

Menerima anugrah cum laude, bagi saya salah satu maknanya adalah “ditabok” sayang oleh Gusti Allah. Saya seperti disadarkan bahwa saya benar-benar mampu, Kok. Ini juga membuat saya bertekad, harus bisa menempuh studi hingga strata tertinggi nanti. Selama studi magister, saya banyak bergaul dengan mahasiswa program doktoral. Wuihhh berat banget melihat beban akademik mereka. Di usia saya yang tak lagi terlalu belia, saya sadar, saya harus melakukan persiapan lebih matang jika akan menuju ke sana, and yess, I will.

Amat banyak hal butuh dipersiapkan. Mulai dari dana, sampai topik riset untuk disertasi nanti. Saya sudah mereka-reka, kapan waktunya saya harus berburu tema, mulai mencari beasiswa serta perguruan tinggi terbaik untuk nantinya lanjut pada strata pendidikan tertinggi ini. Tentu saja saya juga harus terus belajar, mengasah dan mengisi otak saya dengan hal-hal yang nanti akan digunakan pada jenjang doktoral. Saya sudah merancang, bahwa saya tetap harus membaca sekian jurnal ilmiah dalam seminggu, lantas melakukan review terhadap jurnal tersebut dan menerbitkan literature review pada jurnal-jurnal internasional. Ah…. Sepertinya bakal menguras energi dan memeras otak. Tapi saya akan melakukannya. Salah satunya karena bisikan dari suami tercinta, sponsor utama studi saya  ketika kemarin saya diwisuda dan cum laude. “I proud of you,” katanya. Lalu buru-buru menambahkan, “Ntar S3 cum laude lagi, ya…”.

 

Kembali Aktif Mengajar Kelas Online

Keberhasilan saya studi S2 dalam kondisi keuangan keluarga justru tidak sedang bagus-bagusnya, tanpa bantuan beasiswa pula, meneguhkan niat saya untuk terus terlibat pada aktivitas women empowering. Saya makin teguh berniat untuk terus berupaya memberdayakan perempuan untuk dapat meraih kebebasan finansial melalui dunia literasi. Mengapa literasi? Karena melalui passion di bidang literasi baik buku maupun blog, saya dapat membiayai studi S2 ini. Blog dan digital marketing adalah minat saya dan sejak dua tahun lalu saya telah aktif mengajar kursus di Indscript Creative untuk tema tersebut.

Saya yakin, perempuan yang berpenghasilan berpeluang untuk lebih berdaya. Kebebasan finansial juga akan dapat mendorong perempuan untuk meraih impiannya. Hei… bukankah segalanya butuh duit? Meski memang bukan hal utama. Saya merasakan sendiri, bagaimana blog dan royalti buku turut men-support biaya untuk studi master saya. Saya ingin lebih banyak perempuan juga dapat merasakan hal yang sama, apapun impian mereka.

Bekal Untuk Kembali Ngajar Online

Saya melakukan persiapan cukup memadai untuk come back ke dunia kursus online pasca studi. Salah satunya, dua mingguan lalu saya mengikuti sebuah training bertajuk Training for Mentors, di Sekolah Perempuan. Pada training tersebut saya belajar mendesain kelas baru yang harapannya akan lebih efisien. Semoga segalanya lancar, Oktober ini saya akan kembali membuka kelas.

 

Aktif Menulis di Media Cetak

Ada masa di mana saya aktif menulis di media cetak. Beberapa media nasional maupun regional Jawa Timur pernah memuat tulisan-tulisan saya yang rata-rata bertema lingkungan. Kini saya merasa tanggung jawab keilmuan makin melekat di pundak saya. Maka saya berencana kembali mengirimkan karya-karya saya ke berbagai media cetak.

Persoalan lingkungan di Indonesia belum cukup mendapat perhatian seperti misalnya masalah ekonomi. Maka memang sangat perlu untuk menulis tema ini di banyak media. Lagi…. Lagi… dan lagi.

 

Menyelesaikan Draft dan Menerbitkan 2 Buku

Saya menetapkan target yang cukup tinggi ketika awal studi S2, salah satu yang kelihatannya ketinggian adalah: Menerbitkan 2 buku selama masa studi. Saya kira saya bakal studi selama minimal 2 tahun. Eh, enggak tahunya, dengan jurus ngebut ala-ala Valentino Rossi, 3 semester kelar. Tapi? Belum satupun draft berhasil terbit.

Tapi…. Alhamdulillah 1 draft sudah beres 100 persen, meski ia tak berjodoh dengan penerbit mayor, saya bertekad menerbitkannya secara indie saja.

Draft 1 lagi masih sedang saya kerjakan. Nah, yang ini mengandung misi idealis saya untuk meng-encourage emak-emak se Indonesia Raya agar berani berjuang untuk meraih impian akademik mereka. Idenya datang dari keprihatinan saya mendengar curhat banyak perempuan, bahwa sebenarnya mereka masih punya impian back to campuss, tapi berbagai ketakutan menjadikan impian hanya tinggal impian saja.

 

Kembali Aktif Ngeblog

Apakah saya hiatus ngeblog selama studi? Tidak bisa dikata demikian. Masih nulis, kok. Masih up date walau jarang-jarang. Saya berhutang pada BLOG! Iya betul! Blog yang sedang Anda baca ini, termasuk Anda para pembacanya sungguh telah berjasa turut memuluskan jalan meraih impian saya. Impian akan pendidikan lebih tinggi. Saya akan segera melakukan banyak pembenahan pada blog ini dan berjanji pada teman-teman pembaca untuk menghadirkan konten yang lebih berisi.

 

Saya Butuh Partner!

Anda cukup sabar jika berhasil membaca semua mimpi saya sampai di sini. Inhale….exhale…. bahkan membacanya saja rasanya cukup butuh banyak energi. Iya enggak? Karenanya, saya pasti butuh butuh partner untuk semua kerja keras yang bakal saya lakukan ini. Partner yang bakal menjadi teman diskusi dan merintis banyak hal, sudah saya punyai. Suami tercinta yang juga berperan sebagai mentor blogging, motivator sekaligus selalu menyediakan pundak sekadar tempat bersandar di saat letih. Ehm…. Saya juga punya teman-teman rasa saudara, yang kegilaannya cukup memadai untuk diajak merintis segala sesuatu yang dalam pandangan umum dinilai sulit. Tapi…. saya juga  butuh partner berupa perangkat yang super mumpuni, dong. Kriterianya?

Bandel dan Kuat itu harus! Karena gawai ini akan bekerja ekstra keras lebih dari gawai-gawai saya sebelumnya. Dia juga akan bekerja lebih lama dan “melek” lebih sering dibanding laptop saya yang manapun.

Berperforma, juga sebuah kebutuhan, karena akan sangat banyak pekerjaan penting nantinya bakalan dilakukan bersamanya. Ibarat asisten, dia harus bisa bekerja sesuai tugas yang diberikan tuannya. Eh…nyonya ding ya. Kerja…kerja…kerja, jadi soal performa ya sebaiknya jangan ditawar.

Ringkas dan Ringan sesuai untuk dibawa berperjalanan. Mengapa? Karena gawai ini bakal dibawa-bawa ke mana-mana, bakal lebih banyak travelling yang dialaminya dibanding gawai-gawai saya yang sebelumnya. Menghadiri seminar perlu berperjalanan. Mengikuti workshop juga butuh berperjalanan. Apalagi saya dan suami juga merencanakan lebih banyak liburan. Ya kan sesuai dengan prinsip: Work hard, play hard. Kerjanya keras ya mainnya kudu seru dan jauh, yekan?

Apalagi, saya masih punya “dendam” yang harus dibalaskan. Akibat ngebut kuliah, saya terpaksa menjadi fakir piknik. Duh…kasihan ya. Nah, waktu-waktu sekarang ini saya ingin membayarnya. Selama satu setengah tahun studi S2 saya hanya sempat berperjalan ke tempat yang dekat-dekat rumah saja, karena memang tak banyak waktu tersisa. Contohnya seperti tempat ini:

Dan ini …

Atau ke sini…

Impian sih main jauh ke Belitung, kek. Raja Ampat, Kek. Atau ke Yogya aja deh yang lebih terjangkau. Tak satupun yang tercapai selama masa studi. Haha… semua energi tercurah pada upaya meraih prestasi akademik sebaik mungkin dalam waktu secepat mungkin. Jadi sekarang kesempatan membayar lunas semuanya!

Makin ke sini saya bukannya makin muda. Dalam kondisi traveling, bawa-bawa laptop bakal berpotensi menambah beban bagi tulang belakang emak yang seyogianya makin harus dijaga. Perangkat yang ringkas dan enteng bakal mempermudah gerak dan tak memberi tambahan beban berarti bagi tulang belakang saya.

Laptop Asus adalah sahabat andalan saya sejak 2012. Hingga saat ini sudah 3 kali ganti laptop (ketiganya Asus). Dan ganti laptop bukan karena yang lama sudah rusak , lebih karena kebutuhan yang sudah berubah sehingga harus menyesuaikan pula perangkatnya.

Laptop Asus yang saya pakai sekarang adalah seri X 555O. Gawai saya yang ini adalah kawan bekerja dan belajar hingga meraih cum laude. Diajak multitask ho oh aja. Selain buat browsing, baca jurnal, bikin paper, ngolah data, juga digunakan untuk blogging. Mulai sekadar mengetik draft hingga mengedit foto dan video (kalau lagi rajin). Seringkali lupa dimatikan karena saya tertidur hanya sebentar-sebentar. Terkadang lupa saat nge-charge dan penuh tapi tak kunjung saya sadari dan lepas charger-nya, saking larutnya saya dalam pekerjaan. Alhamdulillah masih ok hingga setahun saya pakai.

Akhir Agustus lalu saya bertugas mewakili Institut Teknologi Sepuluh Nopember, almamater saya untuk mengikuti international conference di Kuala Terengganu Malaysia. Tentu Laptop Asus andalan harus ikut. Karena, meski untuk berpresentasi, materi telah siap terkopi, namun selama conference saya harus pandai mencuri waktu untuk tetap bekerja. Ada beberapa pekerjaan yang tak bisa ditunda, salah satunya adalah proyek penulisan buku tentang cagar budaya.

Well, saat itulah saya sadar, ternyata saya punya sedikit masalah dengan gawai saya yang ini. Si Leppy yang saya mesrai sejak dua semester lalu ini memang benar-benar kuat, bandel, nyaman banget dipakai, sungguh responsif. Namun, bobot dan dimensinya tampaknya kurang sesuai jika dibawa bepergian.

Iya… makin ke sini saya makin mobile. Well…saya bukan traveller sejati sih ya. Malu dah kalau ngaku-ngaku. Tapi saya sangat mencintai jalan-jalan tugas ke depan juga akan menuntut saya banyak berperjalanan. Jadi, Ringkas dan Enteng adalah kriteria yang tak bisa dikompromikan lagi.

ZenBook UX331UAL

Pecinta dan pemerhati laptop pasti sudah pada tahu Zenbook salah satu keluarga laptop andalan Asus yang terkenal sangat ringan, slim, tapi sangat berperforma. Bagaimana dengan yang satu ini, ZenBook 13 UX331UAL? Hasil penasaran dan cari sana-sini, akhirnya dapat nih beberapa hal menarin mengenai sang gawai.

Superslim, seperti saya. Eh?!

Hal menarik pertama adalah, gawai ini sangat ringan, tipis namun kuat. Ketebalannya hanya 13,9 milimeter dengan bobot yang  tak sampai 1 kilogram. Tebak berapa tepatnya? Hanya  985 gram saja! W o w!

Lalu bagaimana cara Asus memberikan kekuatan pada body yang sangat ramping ini? Ternyata dengan memberikan konstruksi berbasis magnesium alloy pada ZenBook 13 UX331UAL membuatnya sangat tangguh. Konon kalau diraba mirip plastik, tapi ini bukan plastik lo! Meski sangat kuat dia entengnya konon ngalahin aluminium alloy. Bahkan bobotnya masih sekitar 33 persen lebih ringan jika disbanding dengan alluminium alloy standar yang biasa digunakan pada laptop. Padahal tadinya saya berfikir bahwa aluminium alloy itu udah top banget enteng dan kuatnya.

Jangan remehkan kekuatannya, karena kabarnya, walau bobotnya super enteng, ZenBook 13 UX331UAL ini udah memenuhi standar military-grade MIL-STD 810G. Pengujiannya meliputi uji daya tahan untuk memastikan kemampuannya beroperasi dalam berbagai kondisi lingkungan seperti misalnya pada ketinggian ekstrem, temperature dan kelembaban bahkan guncangan yang cukup ekstrem. Kalau teman-teman suka nonton youtube, ada beberapa tuh video youtube yang membuktikan kekuatan ZenBook 13 UX331UAL dengan menginjak-nginjaknya hingga melindas dengan motor dan gawai ini tetap ok. Ssst….tapi…. andai saya mendapat anugrah untuk mengadopsi gawai ini, saya sungguh enggak bakal melakukannya, walau yakin sama kekuatannya. Duh…. cinta soalnya.

Performa…. Performa… Performa… Saya yakin, walau menginginkan gawai yang ringkas, tak ada seorangpun yang rela menukar dengan performa. Jika ringan dan ringkasnya sebuah gawai harus mengorbankan performanya, siapa yang mau? Apalagi jika gawai ini memang dipilih untuk menjadi partner kerja yang enggak main-main.

Oh… jangan khawatir, saya mendapat kabar bahwa, jika kita menginginkan gawai super tipis dengan kekuatan prosesing yang mumpuni, maka ZenBook 13 UX331UAL ini adalah pilihan yang tepat! Menggunakan generasi terbaru Prosesor Intel® Core™ i5 Generasi ke-8 yang superngebutt, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCIe® membuat si ramping ini memungkinkan kita ajak kebut-kebutan. Sepertinya ini sangat cocok buat saya. Kenapa? Karena seringkali saya merasa yang ada di otak harus diekspresikan dengan superngebut. Saking banyaknya. Haha…

Dibekali Kekuatan dan Performa: Ini nih, tradisi Asus yang paling saya sukai!

Ada kabar baik satu lagi yang tampaknya akan sangat membantu bagi saya terutama dalam melakukan pekerjaan penulis yang membutuhkan kenyamanan mengetik serta responsivitas. ZenBook UX331UAL dengan keyboard backlit  memungkinkan aktivitas mengetik yang tetap nyaman walau dalam pencahayaan minim.  Walau mungil, gawai ini juga memiliki jarak penekanan tombol keyboard 1,4 mm yang masih terbilang optimal untuk kenyamanan mengetik. Laptop ini juga masih dilengkapi lagi dengan teknologi palm-rejection juga  mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan. Wow! Pekerjaan menulis ribuan kata per hari bisa terbantu banget nih dengan adanya gawai ini.

Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya adalah tentang kekuatan baterai. Baterai lithium-polymer 50Wh memberikan ZenBook UX331UAL daya tahan hingga 15 jam! Jadi mungkin cukup sekali aja nge-charge ya dalam seharinya. Ini sip banget buat kalau bepergian kan, ya. Sehingga kita tak perlu sebentar-sebentar repot melakukan charging.

Aaak…..ternyata saya sudah “ngoceh” lebih dari dua ribu kata. Semakin diobrolin, semakin mupeng segera memiliki si slim ini. Bismillah aja deh, semoga berjodoh dengannya. Toh kalau jodoh tak ke mana ya, Mblo… 

 

 

37 comments

  1. Bunda Erysha (yenisovia.com) says:

    Barakalallah sekali lagi bu Ketu untuk kelulusannya. Semoga ilmunya barokah dan pasti dibutuhkan oleh banyak orang. Pasti suami Bu Ketu bahagia sekali ketika menyaksikan istri tercintanya lulus dengan cumlaude. Pasti itu bukan sesuatu yang mudah sekali di raihnya. Jadi inget waktu pak suami kuliah lagi dan lulus dengan cumlaude juga, ada rasa haru di hati saya melihatnya di sana karena saya tahu dengan perjuangannya 😍. Ahhh jadi bernostalgia rasanya hahha. Doakan ya Bu Ketu, smga suatu hari nanti, saya bisa lanjut kuliah lagi. Aaaminn

  2. Andi Nugraha says:

    Keren, Teh. Pas belum baca tulisan deket foto yang dilingkari merah bingung. Apa ya yang dilingkari, di cek gak ada apa-apanya..hehe

    Pas baca ternyata pegel. Pegel memang tak terlihat ya. Semoga pegal dan capeknya jadi lilah ya, Teh.

    Asus ini memang juara, keren dan ringan pula. Cocok buat dibawa kemana-mana 🙂

  3. Mugniar says:

    Waah Buketu saya di IIDN nih … banggaku padamuu. Masya Allah. Moga berkah, yaa. Moga terlaksana semua. Selamat sudah membuktikan dirimu mampu. Semoga makin bermanfaat buat orang banyak. Bisa selamanya menulis di media massa dan menulis blog. Ayo jadikan blog baru itu ….

    Wah ini kenapa saya yang bersemangat yaa hihihi

  4. adeuny says:

    sama bangetttt mbakk.. aku kadang juga aebel bawa laptop tuh gara2 beratttt… duh rasanya boleh ga sih dikerjain di rumah aja jangan suruh saya bawa laptop wkkwkkw

  5. April Hamsa says:

    Penulis, blogger, sekaligus mahasiswa emang butuh laptop yg mumpuni. Kalau laptopnya kyk UX331UAL emang enak ya dibawa traveling,soalnya slim dan tahan banting banget.

  6. Visya says:

    Waah selamaaat mbaa. Aku dulu nikah saat masih esatu dan kmrn baru wisuda esatu hehe. Luar biasa perjuangan jadi ibu sambil jadi mahasiswa sarjana 😀

  7. Nur Said Rahmatullah says:

    punya laptop tipis dengan spesifikasi yg gahar emang jadi impian banyak orang pasti. apalagi dengan orang yg ke mana2 bawa laptp. semua kerjaan di sana. gak bawa laptop, hidup terasa hampa. eaaa. zenbook 13 ini cocok banget buat yg ke aman dan di mana pun mau bawa laptop. nyaman, aman dan ringan.

  8. Maria Soraya says:

    saat aku komen di blognya mbak widya ini pun komennya paka asus, tapi jarang digembol buat kerja mobile soale lumayan juga klo masuk ke dalam tas

    jadi aku pakai asus klo bekerja di rumah, klo pergi2 lebih suka pakai netbook, asik kali ya klo bisa punya asus zenbook

Leave a Reply