Tips Food Combining Saat di Luar Rumah

Share

Duh, Mbaaaak. Hidup cuma sekali, makan ya dinikmati ajalah makan enak toh tidak tiap hari!

Ribet amat sih food combining. Gimana dong Mbak kalau lagi makan di luar rumah?

Kalau lagi ada acara, atau makan di resto gimana dong?

 

Jreng….jreng….

Pertanyaaan-pertanyaan seperti di atas atau yang semacamnya, tak pernah benar-benar selesai. Selalu saja ada yang menanyakan. Sangat wajar, terutama bagi pemula. Baiklah, sebelum saya menjawab secara gamblang pertanyaan di atas, ada  hal prinsip yang menurut pengalaman saya penting untuk diketahui agar tidak bingung ketika menemukan berbagai kondisi yang berbeda-beda.

Pertama, sangat penting untuk mengetahui prinsip dasar food combining. Bukan sekadar menghafal contoh menu ataupun menyontek menu food combining orang lain. Kedua, ini kabar baik. Food combining, menurut saya bukan sesuatu yang saklek bin kaku. Jika merujuk buku Ibu Andang Gunawan, food combining gurunya Indonesia, kita tidak harus, lo tujuh hari dalam seminggu full selalu makan dengan berpedoman pada food combining. Cheating istilahnya, alias makan di luar pola food combining itu dibolehkan, tentu sesuai kondisi masing-masing. Saya sudah pernah menulis seluk beluk cheating ini. Namun jangan salah memahami cheating sebagai “jatah” yang harus dilakukan ya. Kalau saya memandangnya sebagai kewajaran yang bisa dipilih tanpa keterpaksaan dan dengan kesadaran penuh akan risikonya.

Lalu, bagaimana praktiknya saat harus menjalani food combining saat makan di luar rumah? Misalnya nih, saat kita makan di restoran. Nah, saya akan bercerita sesuai pengalaman dan pengetahuan saya saja, ya. Kemungkinan besar sih ada perbedaan dengan food combiner lain. Yeah… namanya juga beda kepala ya, wajar beda isi. Kebetulan siang tadi saya dengan senang hati menyambut undangan Maxone Hotel melalui Mbakyu Blogger saya tercinta, the one and only, Mbak Avy.

Waktu Mbak Avy mengirim pesan ke saya, pertama kali saya tanyakan adalah, “di sana banyak pilihan menunya, Mbak? Saya juga sempatkan browsing terlebih dahulu untuk mengintip menu di Maxone. Ternyata cukup banyak pilihan, yang artinya saya sangat bisa leluasa untuk TIDAK CHEATING. Siang tadi saya tetap bisa makan enak dengan tetap mengacu pada pola makan food combining.

Jadi ketika teman-teman harus makan di luar rumah, pertama kali kenali dahulu apa saja pilihan menunya. Pertama datang dan disilakan mengintip seluruh menu yang sudah dihidangkan, mata saya cepat menyapu seluruh meja. Oh… ternyata raw veggiesnya termasuk lumayan melimpah, lalu juga masih ada pilihan sayur yang disajikan matang, beberapa pilihan karbo yakni nasi putih, nasi goreng serta sangat banyak pilihan protein hewani berupa ikan, cumi dan ayam.

Ayam Taliwang, Primadona siang itu

Sekarang, kalau sudah tahu pilihan menunya, tinggal putuskan saja, mau pilih menu protein atau karbo? Jika memilih menu protein kita bisa makan sayuran plus protein hewaninya tanpa menambahkan karbo ke piring kita. Sebaliknya jika memilih menu karbo, siang tadi saya bisa memilih nasi goreng atau  nasi putih. Sayangnya tadi lauk nabati tidak terlalu banyak pilihan, sehingga saya memutuskan mengambil menu protein saja. Jadi apa pilihan saya?

  1. Pertama saya mengambil ketoprak yang saya tambahkan lettuce dan paprika dari salad yang tersedia siang itu. Maksudnya sih, agar sayur mentahnya makin kaya, baik rasa maupun nutrisinya.
  2. Lalu saya juga mengambil sedikit sup. Saya skip komponen yang berupa protein hewani, karena tidak ingin terlalu banyak protein hewani siang itu
  3. Nah, makanan utama saya jatuh pada ayam taliwang yang saya temani dengan (lagi-lagi) lettuce.

Ketoprak dengan tambahan paprika dan lettuce dari bowl sebelah

Dikit amat makannya, banyakan sayurnya? Ya memang begitulah porsi ideal. Sayuran harus lebih banyak!

Beres kan? Apakah enak makan demikian? Apaan makan kok enggak pakai nasi? Mas Bro, Mbak Sis, pola makan sehat itu kadang memang perlu diperjuangkan.  Katanya sih lidah itu hanya 12 senti dan saluran pencernaan 12 meter. Apa hanya gara-gara memperjuangkan kemauan yang 12 senti, kita rela mengabaikan kesejahteraan bagian yang 12 meter? Selera sangat bisa dibentuk.

Nyatanya, bagi saya, makan seperti ini sangat luar biasa nikmatnya. Apalagi, betul seperti bisik-bisik Mbak Avy, di Maxone traditional culinarynya endyang bambang! Original taste yang sungguh membuai lidah. Ayam taliwangnya terasa banget bumbunya. Kuat aroma rempahnya. Dagingnya cukup empuk, bumbu meresap pas tanpa menjadi terlalu lembek. Daun lettuce yang saya pilih menemani ayam taliwangnya juga segar dan sangat kriukkk. Jadi siang kemarin saya makan dengan luar biasa nikmat tanpa rasa bersalah. Tanpa khawatir timbangan bergeser jarumnya ke arah kanan. Uups! Maturnuwun Maxone.

Saya akan berbagi tips dari Sang Chef tentang bagaimana rahasia membuat masakan yang endang bambang alias enak banget itu tadi ya. Tungguin di blogpost mendatang.

 

 

4 comments

  1. Estelita Zainal says:

    Mbak Wid,

    Berarti ketopraknya nggak boleh pake lontong ya, bolehnya pake tahu aja?
    Kalo pilih yang karbo, terus nasi gorengnya ada sosis dan bakso berarti nggak boleh dimakan dong, ya,? Terus dalam sehari emang boleh makan karbo aja atau protein aja, atau siang protein dan malamnya karbo,? Maap nanyanya kebanyakan.

  2. Estelita Zainal says:

    Mbak Wid,

    Berarti ketopraknya nggak boleh pake lontong dan bihun ya, bolehnya tauge sama tahu aja? Kalo pilih yang karbo terus nasi gorengnya ada bakso dan sosis berarti nggak boleh dimakan dong ya?

Leave a Reply