Lebaran Ini Milik Ibu!

Share

 

Kalau kamu sekolah lagi, kamu akan makin jarang mengunjungi Ibu

Saya tidak mungkin lupa, kekhawatiran ibu ketika saya meminta izin beliau untuk kembali ke bangku kuliah di akhir tahun lalu. Kepada beliau saya menjanjikan, kami bisa bersama-sama lebih lama nanti ketika Lebaran.

Menjalani LDR karena harus kembali back to campus, sejak awal Februari lalu, membuat saya hanya punya satu hal saja yang  saya inginkan saat Lebaran, apa itu? Sebanyak mungkin waktu ngumpul dengan keluarga terdekat saja, ibu, suami dan anak-anak. Ini karena Lebaran bertepatan dengan Liburan semester, saya tidak ingin membuang-buang energi untuk hal yang tidak terlalu perlu. Cuma ingin tinggal lebih lama di rumah ibu, dan berkumpul bersama suami dan anak-anak.

Makanya, persiapan Lebaranpun kami buat minimalis. Tidak terlalu banyak persiapan kue lebaran, yang sedikit itupun semuanya dibeli. Kepada ibu, saya berpesan, masak buat Lebaranpun makanan hari-hari sajalah. Tak perlu persiapan heboh, yang penting ngumpul aja. Kepada beliau saya juga minta izin, untuk hanya akan mengunjungi saudara terdekat saja selama Lebaran. Pokoknya pengen menghemat energi dan menghabiskan waktu hanya dengan orang-orang terdekat.

Beberapa hari sebelum Lebaran tiba, saya sudah berada di rumah ibu, yang hanya berjarak 20 kilometeran dari rumah saya. Datang lebih awal ke rumah ibunda, selain agar dapat tinggal bersama lebih lama dengan beliau, juga supaya dapat membantu ini-itu persiapan Lebaran. Maklumlah, beliau sudah makin sepuh dan skoliosis yang diderita beberapa tahun terakhir, kian merenggut kelincahan beliau.

Lebaran hari pertama, acarapun tidak begitu padat. Hanya “mengunjungi” bapak di peristirahatan terakhirnya, bersalam-salaman dengan beberapa tetangga di sekitar rumah ibu, dan mengunjungi Bude, kakak Ibu satu-satunya yang masih hidup. Beberapa hari pertama Lebaran, kami mengunjungi Nenek saya, beberapa sepupu dan, beberapa saudara yang hubungannya paling akrab. Sudah, itu saja.

Ternyata banyak hikmahnya juga saya memutuskan Lebaran nyantai begini. Puas-puasin bersantai di rumah ibu, berkumpul dengan suami dan anak-anak. Menyiapkan sarapan buah dengan tangan saya sendiri setiap pagi untuk ibu, suami dan anak-anak. Mencucikan pakaian kotor ibu, membersihkan setiap inchi rumah ibu…. Sungguh luar biasa. Rasanya, hal sederhana begini juga tidak lantas mengurangi makna idulfitri bagi kami. Saya pikir memang penting kemampuan untuk bisa membuat prioritas. Seperti lebaran kali ini, ibu adalah prioritas saya… Lebaran ini milikmu, Bu!

 

 

5 comments

  1. Yati Rachmat says:

    Memang bagi orangtua, apalagi seorang ibu, tidak ada kebahagiaan lain selain di saat lebaran berkumpul dengan anak cucu dan keluarga terdekat. Itulah kebahagiaaan yang hakiki bagi seorang Emak.

Leave a Reply