Catatan Emak Kuliah: Rahasia Kuliah Lebih Mudah

Share

Di awal-awal masa perkuliahan pasca sarjana saya, jujur saya ngerasa nervous banget. Apalagi penyebabkanya kalau bukan lamanya waktu saya berpisah dengan institusi pendidikan. Selepas saya dari ITS tahun 2002, saya memang langsung bekerja di sebuah PTS di Surabaya sebagai asisten dosen, dan akhir 2002 saya pulang kampung karena diterima sebagai PNS. Selama masa bekerja, memang beberapa kali mengikuti diklat baik diklat teknis maupun jabatan, tapi kan, tetap saja rasanya beda dengan sekolah betulan. Ha..ha… Beberapa celotehan teman bahkan membuat saya sedikit khawatir. Kata mereka, rasainlah nanti kalau S2, enggak bisa berkutik karena tugasnya bakal segambreng. Nyatanya?

Iya sih, tugasnya memang segambreng. Secara materi, kuliahnya juga tidak bisa dibilang mudah buat saya yang sudah usia cantik jelita. Wkwkwk. Tapi…tapi….nyatanya, semester pertama saya lalui dengan baik. Semua baik-baik saja, termasuk nilai akhir semester ini. Bahkan nilai yang saya dapat, alhamdulillah diatas ekspektasi.

Bicara soal nilai, sebenarnya saya sudah jauh-jauh hari diwanti-wanti suami saya untuk jangan terlalu memedulikan nilai. Sudahlah, sekolah saja. Saya setuju, namun bukan berarti saya kuliah asal kuliah. Upaya tetap kudu full. Lalu apa yang bikin kuliah saya rasakan jauh lebih mudah?

Menulis! Ya, passion menulis saya. Menulis itu tahapan lengkapnya seringkali dimulai dengan riset. Riset itu ya membaca, ya mendengar, bertanya, berdiskusi, mengalami, endebray…endebray… dan itu, ya ternyata sama aja dengan yang dijalani sehari-hari di kampus. Tugas-tugas yang rata-rata menulis itu ya meminta kemauan kita membaca. Jangan dikira saya sangat β€œtabah” membaca. Saya belum bisa membaca cepat dan membaca terlalu banyak. Apalagi hampir semua literatur kan dalam bahasa Inggris. Membaca setumpuk paper dalam sehari, itu juga bikin otak lumayan pegel linu kok! (Bahasa lu Mak, mana ada otak pegel linu!).

Dalam kondisi seperti itu, ya jangan menyerah. Masih ada input lain yang bisa bikin saya ngerti materi kuliah ataupun bisa memahami dan mengerjakan tugas. Paling saya sukai adalah mendengarkan orang lain. Mendengar dosen di kelas, waktunya terbatas banget dong. Hanya sebatas jam kuliah saja. Maka sesekali saya juga berdiskusi dengan teman sekelas maupun kakak kelas. Saya juga kadang nongkrong sambil dengerin teman saya yang praktisi lingkungan cerita a-z tentang projectnya yang nyambung dengan materi kuliah saya. Pernah juga WA teman, minta dia cerita tentang pengalaman lapangannya.Kalau dipikir-pikir, prosesnya jadi mirip dengan ketika saya mengejar narasumber untuk naskah buku maupun blog. Ha..ha…

Karena terbiasa menulis, maka proses saya mengerjakan tulisanpun bisa lebih cepat dari teman-teman lain. Kalaupun kemudian tugas saya nyatanya butuh waktu lebih lama, itu karena kadang saya merasa terlalu menikmatinya, sehingga tidak segera puas dengan hasilnya, jadi masih ditambah pembahasan selengkap-lengkapnya. Apaan, bikin tugas kok hobi! Begitu mungkin pikir teman-teman saya.

Ternyata modal banget ya passion nulis itu. Semester pertama yang 4 bulanan ini tiba-tiba udah selesai, aja! Alhamdulillah. Jadi kalau ada yang bilang, kemampuan menulis itu penting bagi siapapun, itu enggak sedang ngecap, sodara!

 

 

 

15 comments

    • wyuliandari says:

      Ssst….suka nulis itu juga salah satunya akibat dulu maksa minta dibimbing sama dosen super killer, yang beneran perfecto kalau soal tulisan. Dikau menangi ndak yaa…beliau kalau asistensi setiap kata diblejeti. harus logis semua kalimat dan kudu efektif.

  1. noriko reza says:

    Salim dulu sama senior sesama alumni hehe..

    Tapi bener sih mbak karena suka nulis , merangkai kata buat tugas jadi lebih gampang nyambung dan jelasin nya..
    Saya malah sempet sempet nya bantuin bikin tugas punya eehm “mantan pacar”..mulai tugas kecil, tugas besar sampe tugas akhir..ckckck..untung sekarang mantan nya ganti rugi jadi imam jadi gak rugi kan *hehe

Leave a Reply