Dua Yang Bikin Mati Gaya Versi Saya

darkness

Semalam di daerah kos saya listrik padam. Entah memang pemadaman berkala untuk maintenance atau memang ada jaringan yang rusak karena siang hingga sore kemarin Surabaya memang hujannya sungguh mengerikan. Hujan dengan angin kencang, dan saya tengok dari ruang kuliah, jatuhnya air hujan nyaris horizontal, sakin kencangnya angin.


Kalau sudah begini jadi mati gaya dan juga makin kepikiran keluarga di rumah. Semingguan lalu Raniah, si anak wedok tetiba chat di WA. “Bun, di sini hujan dan gelap karena mati lampu”. Duh… duh…. kasihan. Dalam kondisi begitu kok ya pas saya tidak di rumah. Biasanya kalau ada saya dan listrik padam cukup lama, kami kruntelan saja di tempat tidur. 


Padamnya listrik yang berjam-jam semalam, bukan hanya bikin mati gaya, tapi juga menghambat banget. Padahal rencananya malam itu saya akan menyelesaikan sebuah tugas paper, belajar untuk persiapan kuliah paginya dan mengampu kelas Blogging Indscript. Semua rencana gagal, karena saya lelah menunggu listrik menyala. Sempat bekerja sebentar dengan bantuan emergency lamp, tetapi kemudian saya putuskan tidur saja karena kurang nyaman dengan cahaya lampu tersebut.


Kalau di rumah Bondowoso, memang terhitung sering kami mengalami pemadaman listrik. Selain itu, dulu juga berkali-kali kami mengira listrik padam, padahal ternyata kami kehabisan token. Mungkin karena sebelumnya, bertahun-tahun Tagihan PLN kami bayar langsung di kantor PLN atau tempat-tempat pembayaran lain, sejak berganti dengan sistem token ini di awal-awal sering lupa. Padahal alarm juga sudah berbunyi, tapi kebiasaan menunda memang bikin kacau jadinya.


Makin ke sini memang kita seolah-olah tidak bisa hidup tanpa listrik selain listrik padam, satu lagi yang juga bikin mati gaya adalah kehabisan pulsa. Nah…. ini saya banget. Coba tho, kemarin suami chat, nanya “ mau diisiin pulsa, Bun?” ah… pikir saya, ngapain sih isi, perasaan pulsa masih baru beli. Tapi coba iseng saya cek. Ternyata feeling suami saya benar, pulsa saya tiris, hanya tersisa sekitar seribuan rupiah. Tak lama sesudah mengiyakan, bahwa saya memang butuh pulsa, eh muncul notif hp udah keisi pulsa. Sudah lama juga, urusan pulsa menjadi urusan suami, seperti halnya juga urusan nge-charge hp. Aduh… jadi merasa jadi istri paling mannnn….jyahhhh sedunia. Maafkan aku Pak suami. Ha..ha…


Karena sangat terbiasa mengisikan pulsa untuk hp saya dan hp beliau sendiri, bahkan juga terkadang mengisikan pulsa untuk hp Nenek, pak suami jadi paham betul dimana dan bagaimana beliau bisa Mendapatkan Pulsa Murah. Karena pulsa sudah menjadi kebutuhan ya, dan mengisinya juga lumayan sering, maka meski selisih sedikit, akumulasinya juga bisa banyak juga. Maka tentu pilih yang termurah lah.


Bagaimana dengan teman-teman, apa yang bikin teman-teman mati gaya? 
 

7 comments

  1. Eni Rahayu says:

    Saya yang bikin mati gaya tuh kehabisan gincu dan kehabisan uang mbak, kalau ga ada uang trus gak bisa beli gincu, muka pucat kayak mayat hidup, aiiihhh…. gak alamiah banget yak…

Leave a Reply