Ngeblog Di Sela Waktu Ala Emak Blogger Multiprofesi

Share
asus
 

 

"Sudahlah beli Asus saja. Bandel dan hemat". Begitu saran Kakak saya satu-satunya yang langsung saya percaya. Otak emak-emak macam saya, waktu itu enggak ngeh jika diajak ngomong spesifikasi. Tahunya, enak dipakai dan murah!  Baru akhir-akhir ini aja akhirnya mau enggak mau kudu belajar juga memahami spesifikasi. Soal prosesor misalnya. Kalau dulu (duh…serasa tua banget) ngobrolin prosesor pentium 3, 4 dan lainnya rasanya …. wah….Sekarang udah sampai di eranya prosesor dengan core sekian… sekian… sekian. 

Kalau yang emak-emak seperti saya, mungkin juga pernah bingung bedanya, mulai dari Intel® Core™ i7 6500U Processor, Intel® Core™ i5 6200U Processor, juga Intel® Core™ i3 6100U Processor. Simpelnya sih, makin gede corenya, makin oke performanya. Dalam hal cache misalnya, Core™ i7 lebih besar dibandingkan Core™ i5. Lebih besar cache lebih banyak data yg bisa diakses dengan cepat. Makin besar corenya makin banyak jumlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam satu waktu.

Lalu pilih mana? Yang paling gede? Kalau menurut saya sih segala sesuatu sesuai kebutuhan saja. Kalau kebutuhannya memang kompleks dengan tuntutan performa sebuah perangkat yang harus sempurna, ya pilihannya yang core nya paling besar. Untuk blogger yang sering kali butuh mengedit gambar dan video, core i7 mungkin akan lebih mendukung. Namun tetap segala sesuatu disesuaikan dengan bujet yang tersedia, ya. Seperti cerita saya ini. Di awal karier nulis, saya cukup puas kok, dengan perangkat hanya seharga dua jutaan saja. Ini ceritanya ….

logo_asus_isoi_intel-300x99

 
******
 
Teman-teman yang  tahu super rempongnya saya sehari-hari, sebagian besar pernah bertanya. “Trus kamu ngeblognya kapaaan?” Pertanyaan yang wajar, karena mereka melihat saya pagi sampai sore berperan sebagai PNS. Di sela-sela itu juga saya melayani pelanggan saya di bisnis herbal yang saya kelola bersama suami. Tugas saya di sana adalah memberikan saran-saran seputar penggunaan produk sekaligus menyarankan pola hidup yang mendukung penyembuhan mereka terutama berkaitan pola makan. Selain itu saya juga menulis buku. Lalu bagaimana saya tetap nge-blog? Biasanya malam harilah yang saya gunakan untuk menulis. Baik menulis buku maupun blogging. Sudah menjadi komitmen, bahwa keduanya harus sama-sama berjalan baik dan bisa saya nikmati.  Hanya tersisa sedikit waktu untuk mengerjakan pekerjaan layaknya seorang blogger. 
 
 
Blog Planner
Emang apa saja kerjaan blogger? Posting lalu selesai? Oh tidaaak…. Hampir sama dengan menulis buku, kalau saya sebuah blogpost berawal dari riset. Apa sih yang diperlukan pembaca? Meski tidak selalu demikian juga, ya. Terkadang hadirnya blogpost random saja. Tiba-tiba ingin menulis sesuatu, jadi saya tulis. Atau ada teman bertanya tentang sesuatu, dan saya pikir jawabannya akan panjang dan mungkin berguna buat banyak teman lain, jadi saya tulis saja dalam blog.
 
asus
Kalau beberapa teman punya Blog Planner yang kece-kece, saya justru enggak. Saya justru susah kalau terlalu rapi dan detail. Biasanya sih, memang oret-oret rencana buat blog di buku catatan, tapi untuk skedulnya itu seringkali sangat luwes. Paling saya hanya membuat skedul bulanan. Judul apa saja yang akan saya publish dalam satu bulan. 
 
Selain tulisan review atau paid post lain yang memang sudah terjadwal dan terikat kontrak, tulisan-tulisan lainnya saya posting sesuai kondisi dan kadang suasana hati. Ah…lagi pengen publish tulisan A dulu, ya udah, tulisan itu yang saya publish duluan. Karena, saya enggak ingin kehilangan keasyikan ngeblog sebagai hobby.
 
Frekuensi publish juga tergantung kesibukan di kantor dan di rumah. Kalau lagi agak senggang, saya bisa rajin posting. Tetapi kalau di kantor lagi full, mungkin sekali seminggu saja udah syukur banget. Tapi biasanyanya saya punya lah “tabungan” tulisan untuk diposting pada saat-saat benar-benar sibuk. Dengan cara ini, blog saya terhindar dari vakum sampai berminggu-minggu.
 
Memotret, Mengedit dan Blogwalking Pakai Smartphone 
Draft selesai lalu apa lagi? Bikin foto juga dong! Tidak semua memang blogpost di sini menggunakan foto koleksi pribadi, tetapi sebagian besar iya. Saya tidak punya dslr, dan meski punyapun mungkin saya tidak punya waktu untuk mempelajarinya dan menggunakannya dengan baik. Maka saya berusaha mengoptimalkan kamera smartphone saya.
 
ASUS Zenfone 3 yang saya gunakan hingga saat ini, sangat membantu untuk menghasilkan foto-foto yang memadai dalam waktu singkat. Memotret dengan smartphone sangat membantu menghemat waktu saya. Biasanya saya memotret pagi-pagi sebelum ke kantor atau sore setelah pulang dari kantor. Untuk foto-foto yang butuh perhatian lebih, biasanya saya lakukan saat libur.Nah, dengan menggunakan smartphone, foto-foto ini bisa saya edit kapan saja dan dimana saja. Terkadang sambil menunggu sebuah acara meeting yang molor, saya gunakan utak-atik smartphone mengedit foto. Break untuk makan siang juga kalau masih tersisa waktunya saya gunakan mengedit.
 
Saya biasanya pakai aplikasi snapseed dan picsart. Keduanya buat saya userfriendly banget. Mamak-mamak setengah gaptek macam sayapun tak kesulitan menggunakannya. Apalagi, untuk edit, paling-paling saya hanya butuh atur brightness, contrast, shadow sedikit aja. dengan teknik memotret yang tepat, ditunjang kamera kece dari Asus Zenfone 3 yang saya pakai, plus sedikit editing, sudah cukuplah dibilang layak. Meski "hanya" memanfaatkan kamera smartphone. Bahkan akhir-akhir ini saya sering mendapat pujian dari klien. Mereka bilang fotonya makin cantik. (semoga saya enggak ke-GR-an).
asus

Foto-foto Yang dibuat Menggunakan Asus Zenfone 3

 
Cerita lengkap saya belajar memotret dengan smartphone saya tulis di:
 
 
Apalah arti ngeblog tanpa blogwalking. Itu buat saya, lo. Asyiknya blogwalking sayangnya sering terkendala waktu. Maka, sama seperti urusan edit foto, BW pun kerap saya lakukan di sela-sela waktu kerja. Kadang harus antre lama di depan ruang kepala, untuk bisa menghadap dan menyampaikan laporan. Nah… saat-saat seperti itulah asyik dipakai untuk BW, daripada melamun kan?
 
Lalu ada yang bertanya. Bagaimana bikin title yang cantik-cantik Mbak? Nah… saya jawab di sini juga. Saya masih gagap menggunakan photoshop dan lain-lain untuk edit. Maka sampai saat ini saya masih setia menggunakan aplikasi edit online canva. Buat saya, canva mudah dipakai dan cukup membantu menghasilkan titling ataupun infografik yang cukup memadai untuk keperluan blog saya.
Buat saya, canva mudah digunakan memberikan banyak sekali pilihan desain. Sedikit time consume sih, memang. Membuat Title begini adalah salah satu me time yang saya senangi juga. Asyik sih!
Title Canti Begini DIbuat Menggunakan Canva

Membuat Blogpost Title Begini Memang Butuh Kesabaran, Tapi Buat Saya Ini Bagian Menyenangkan Dari Nge-Blog

Nah… kalau sudah begini, tidak bisa di smartphone udah maaak. Mesti pakai laptop. Begitupun proses menulis draft hingga mempublishnya. Saya bukan tipe blogger yang bisa posting dari smartphone. Jangan ngeblog, nulis status saja sering salah kalau pakai smartphone. Entahlah… padahal jemari saya lentik gemulai lo, bukan tipe-tipe jari yang jempol semua. Ha…ha…ha..
 
ASUS Dua Jutaan Partner Merintis Blog
Terimakasih pada Gusti Allah mengetuk hati saya untuk mencoba laptop ASUS sejak sebelum 2012 lalu. Waktu itu, ASUS belumlah se nge-hits sekarang. Apalagi di kota kecil seperti Bondowoso. Saya kenal ASUS karena direkomendasikan oleh Kakak saya yang punya sebuah bisnis jual beli dan servis komputer. Menurutnya, “sudahlah pakai ASUS saja. Bandel dan harganya bersahabat”. Dan jujur, karena waktu itu semua masih dalam tahap merintis, modalnya juga sangat ngepas, akhirnya dibawalah pulang ASUS Eee PC X101H dengan hanya dua jutaan saja. Yeay…. punya laptop baru akhirnya! 
 
Sejak saat itulah, ASUS menjadi sahabat, partner kerja sekaligus saksi bagaimana saya meniti karir blogging dan menulis buku. Tahun-tahun itu adalah awal saya sadar bahwa, blog bisa memberi saya banyak hal, bukan sekadar curhat dan nulis apa yang sedang ingin saya tulis. Maka sejak itu pula saya lebih serius ngeblog dan tak lama memperoleh job review pertama saya yang hanya sekitar cepek nilainya. Dan tetap menjadi teman sampai review saya bisa berkali-kali lipat nilainya.
 
ASUS dua jutaan itu pulalah yang menjadi teman menulis belasan outline buku, dan 2 diantaranya berhasil mewujud buku yang diterbitkan penerbit mayor papan atas di Indonesia. Bagaimana bisa enggak cinta sama ASUS kalau begini caranya?
 
Cerita lengkap tentang ASUS notebook pertama ini pernah saya tulis lengkap…kap kap..kap…di blog lama saya yang masih blog gratisan.
 
 
asus
 
 
Oh ya, atas nama peningkatan produktivitas, maka dengan penuh penghormatan, ASUS Eee PC X101H saya pensiunkan, dan diganti Asus X453S yang lebih segar dan bandel tentunya. Itu beberapa bulan (enggak sampai setahun) lalu. Artinya, ASUS Eee PC X101H ini sudah menemani saya selama 4 tahun lebih.
 
Asus

Laptop Asus Kedua

Well… udahan dulu cerita masa lalunya. Sekarang udah 2017 dan bagi saya, tahun ini akan menjadi tahun penuh perjuangan. Kenapa? Karena saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya di tahun ini. Saya merasa, bagi emak-emak hampir 40 tahun yang sudah meninggalkan bangku kuliah 14 tahun lalu, pasti tidak mudah untuk survive di dunia baru ini. Apalagi saya memilih tetap linier sesuai pendidikan S1 saya, Teknik Lingkungan. “Kamu masuk jurusan neraka!” kata salah seorang teman.
asus
 
Di saat yang sama, saya tidak ingin sedikitpun kehilangan kesempatan untuk tetap ngeblog. Bahkan saya ingin bisa meng-upgrade blog ini. Membuatnya terlihat makin cantik, sedikit-sedikit belajar grafis dan… ingin juga dong belajar nge-vlog. Bagaimanapun, bagi saya blogging adalah salah satu cara ampuh untuk menjaga jiwa saya tetap waras. Maka apapun kondisinya saya membutuhkannya. Dan enggak mau muna, saya tentu butuh extra biaya untuk studi saya kan? Dan blog adalah salah satu sumbernya.
 
Jadi bagaimana? Rasa-rasanya saya akan punya waktu makin sedikit untuk ngeblog, namun saya tidak seharusnya menurunkan kuantitas dan kualitas ngeblog. Ah…. saya butuh meningkatkan semangat, menambah skil dan …. saya butuh partner kerja baruuuuuuu….partner yang lebih bandel, dan lebih kencang larinya … yang bisa sinkron dengan kecepatan jari saya mengetik dan putaran ide di kepala saya. Yang tidak rewel ataupun ngadat ketika saya paksa bermultitasking. Juga bisa memberikan saya kenyamanan kerja, mengingat jam kerja saya nantinya akan lebih panjang.
 
 
 

ASUSPRO P2430U, Kandidat Partner Baru

 

asus


Inilah yang ada dalam bayangan saya. Bermimpi boleh kan? Kenapa saya butuh ASUSPRO P2430U? Karena ini adalah salah satu perangkat yang memenuhi kebutuhan saya. Emang kebutuhannya apa?

Kalau ngintip speknya sih, perangkat ini bisa dibilang memiliki perpaduan antara performa, kehandalan, mobiltas tinggi sekaligus tetap memiliki sisi elegan dan stylish. Sebuah perpaduan yang cukup jarang dimiliki sebuah perangkat.

spesifikasi asuspro

Mari kita kenali jeroannya dulu. Karena untuk sebuah perangkat kerja, bagi saya, “otak” nya adalah bagian yang sangat…sangat…penting. Memiliki perangkat yang “otaknya” bisa sinergis dengan otak saya tentu membantu banget ya. Mungkin saat otak saya sedang bekerja standar saja, tidak terlalu ngefek, kecepatan “berpikir” sebuah perangkat. Tetapi ada kalanya, putaran ide di kepala itu bak tornado. Swiiiingggg….. perangkat mainstream, bisa-bisa udah KO. 

ASUSPRO P2430U beda. Ia menawarkan performa oke, didukung dengan prosesor intel core generasi ke 6. Sedangkan untuk kemampuan grafisnya yang kece menggunakan Nvidia GeForce seri 900. Bagaimana dengan memorinya? ASUSPRO P2430U menggunakan DDR4 sebesar 4 GB, yang juga masih bisa ditambah kapasitasnya. Dalam perangkat ini tersedia 2 slot memori, bisa menampung RAM hingga 16 GB. Ini tentu akan mendukung produktifitas, dan bakalan membantu banget saat kudu (atau ingin) ber-multitask.

Hal penting lainnya adalah kenyamanan digunakan. Jam kerja yang panjang, plus pasti nanti akan kejar-kejaran dengan target, membuat saya membutuhkan perangkat yang nyaman digunakan. Nyaman di mata, nyaman di tangan. Nah… ASUSPRO P2430U ini memiliki keyboard supernyaman dan memberi kemudahan serta mendukung kecepatan bekerja. Ditambah lagi anti glare display nya, yang memberi kenyamanan pada mata. Permukan layarnya yang matte mencegah terjadinya refkleksi yang tidak diinginkan, dengan demikian kelelahan mata dapat diminimalkan.

Bagian lain dari ASUSPRO P2430U yang kemungkinan besar akan berguna buat saya adalah adanya 4 port USB. Biasanya sih, perangkat mainstream hanya punya rata-rata 3 bahkan ada yang hanya menyediakan 2 port. Satu daru 3 port tersebut adalah USB 3.0 yang kecepatan transfernya 10 kali lipat dari USB 2.0.  Oh ya… kabar baiknya adalah soal portabilitasnya. Untuk notebook dengan performa sekeren ini, tadinya bayangan saya bakal berat banget. Duh… piye? Padahal saya sudah bertekad bakalan berjalan kaki saja ke kampus yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari tempat kos. Lha, kalau nggembol notebook berat (belum buku-buku) nanti bisa sakit tulang belakang saya. Namun….. syukurlah, ternyata perangkat kece ini beratnya hanya beda tipis dengan notebook yang sedang saya pakai sekarang. Ya… ASUSPRO P2430U beratnya hanya sekitar 1,95 kg.Wah! Keren! Semoga suatu saat dapat menentengnya. Aamiin …

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Asus yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Asus Indonesia.


 

36 comments

    • wyuliandari says:

      Ha..ha… rada minder bu sama temen2 yg blogplannernya cantik-cantikkkk gitu. Detail pulak. Saya cuma oret2 gini. Tapi daripada terlalu cantik dan rapih malah saya bingung. Krn saya emang rada berantakan orangnya.

  1. Mas Bocah says:

    Wah, aku kok nggak bisa yaa manfaatin "waktu di sela-sela" begitu? Soalnya pasti nggak bakalan konsen 😂😂

    Jadi kalo ngapa-ngapain mesti ada waktu khusus. Kurang canggih nih aku 😂😂

    • wyuliandari says:

      Ha…ha… cari task yg buatmu paling mudah Mas, nah itu dicobain di waktu sela. Kalau emang gak bisa, berarti emang nasib. Wkwkwk…krn yg terkenal mampu multitask emang emak2. Hahhayyyy … Kami bisa ngeblog sambil masak dan ngurus anak.

  2. ina says:

    sekarang blogger itu memang harus kreatif ya mba…tidak sekedar bisa nulis tp juga harus bisa motrer, ngeditnya bahkan bikin grafis…tentu harus didukung komputer yang memadai dan keren seperti Asus..selamat berlomba.,.moga menang ya

  3. PutriKPM says:

    Jadi blogger dan emak itu 2 pekerjaan besar dan salut banget sama yang bisa ngelakuinnya secara bersamaan. Btw Mbak Wid, bener banget. performa, kenyamanan, portabilitas itu emang perlu banget sebelum memilih laptop.

  4. Amir Mahmud says:

    Saya juga pakai ASUS dengan prosesor generasi ke 6, mengetik, membuat infografis, mengedit video, buka tutup aplikasi, browsing dan lain sebagainya menjadi lebih mulus, keren banget dah pokonya notebook ASUS. Btw kunjungan baliknya ya, terimakasih 🙂

  5. Zia says:

    Betul-betul multipfofesi ini mba Wid. Salut aku dengan segudang aktivitas masih semangat terus. Produk Asus kayaknya emang bersaing dan banyak menawarkan keunggulan yah. Semoga impian mba Wid tercapai. 

    Sukses terus ya mba. Love you.

  6. Langit Amaravati says:

    Kurang lebih proses kreatif membuat blogpost-nya sama sih, cuma satu yang agak beda: blogwalking. Hahaha. Aku emang pemalas, jarang banget ke blog orang lain. Terkendala waktu juga sih sebetulnya. Hiks.

  7. moiismiy says:

    Setiap orang punya cara sendiri buat blog plannernya. aku bikinnya juga sederhana aja kok mbak. Btw kalau blogwalking pake smartphone emang lebih cepet. hehehehe 

Leave a Reply