Dokter Masa Gitu?

Share

dokter masa gitu

Disclaimer

Tidak ada maksud menggeneralisir dalam tulisan ini. Tidak ada niatan untuk menjelekkan suatu profesi. Nama, inisial bahkan data apapun yang menjurus kepada pihat terkait, tidak saya sebut untuk melindungi image dan privasi mereka.

Saya cukup lama memikirkan untuk menuliskan ini atau tidak. Lama mengendapkan emosi, karena jangan-jangan, kalaupun segera saya tulis, tulisan kemudian menjadi penuh dengan letupan esmosi. Ora ilok ah… Tapi untuk tidak ditulispun rasanya sayang. Dan lagi sesekali, bolehlah saya tsurhat menye-menye di blog ini. *dikepret. Maka sekaranglah saatnya, ketika pikiran fresh sepulang liburan bersama orang-orang kesayangan dan saya insyaallah sudah tidak menyisakan marah ataupun jengkel kepada pihak yang terlibat.

Kepergian kami sekeluarga selama sepuluh hari, menempuh perjalanan menyinggahi kota-kota: Porwokerto-Cilacap-Banjarnegara-Semarang-Yogya dan Solo, sedianya adalah hadiah kami untuk si anak lanang dan anak wedok. Anak Wedok tepat berulang tahun ke 10 saat hari kami berangkat. Sedangkan bagi Asa, ini adalah hadiah yang dimintanya sebagai reward  karena akhirnya dia berani dikhitan, bahkan meminta sendiri. Jadi ceritanya, menjelang ujian semester ini, Kak Asa minta untuk dikhitan. Maka singkat cerita, saya langsung membuat janji dengan sebuah rumah sakit swasta di Jember, mereka menyarankan untuk bertemu terlebih dahulu dengan dokternya sekaligus membuat janji dengan dokter tentang hari H nya.

Drama dimulai dengan kesalahan petugas menginfokan jadwal. Saat saya menelefon petugas menginfokan agar kami datang pukul 3 sore. Sesuai jadwal tersebut datanglah kami tepat pada waktunya. Kak Asa terlihat sangat antusias. Ndilalah… ternyata dokter tersebut dijawalkan berpraktik pukul 7 malam. Jreng…jreng…. baiklah… mari kita tunggu Nak.

Kak Asa menunggu dengan sabar. Padahal biasanya anak itu benar-benar tidak sabaran. Saking tidak sabarannya, sewaktu kecil pernah disangka ADHD, meski kemudian tidak terbukti melalui serangkaian pemeriksaan. Jam 7 lebih dokter datang. Kak Asa sudah berkali-kali bertanya, kenapa kami tak kunjung dipanggil? Namun suster sangat pelit berbagi info. Kenapa susah sekali ya menginfokan saja nomor urut kami. Setidaknya saya bisa punya jawaban untuk pertanyaan Kak Asa yang mulai terlihat kurang sabar setelah menunggu lebih dari 4 jam.

Akhirnya jam 8 an malam nama Kak Asa dipanggil. Langsunglah semangat full dia masuk ruang praktik dan langsung nyerocos, “ dok… aku mau disunat ya…”
Dan jawaban dokter yang sungguh membuat hati saya hancur saat itu …
“Ya… nanti saya potong semua ya”
Sontak Kak Asa berteriak-teriak sambil mengomeli dokter. Ketika kemudian Kak Asa tenang (tidak terlalu lama membuatnya tenang). Dokter lalu kembali berkata-kata yang juga cukup membuat saya sedih saat itu.
“Anak Ibu ada kelainan kejiwaan?”

Sebagai Ibu yang sudah pernah berkali-kali menerima judge bermacam-macam tentang anak (meski semua tidak ada yang terbukti) saya berusaha semeleh saja. Saya mencoba menjelaskan. Bahwa anak ini memang sedikit rewelan, tapi dia baik-baik saja. Saya sampaikan bahwa kata-kata dokter lah yang membuat Kak Asa ketakutan.

Dokter lalu memberikan opsi, bahwa jika anak saya tetap mau dikhitan, kami harus memilih prosedur pembiusan total (General Anastesi). Opsi yang kemudian kami tolak. Karena kami yakin seyakin-yakinnya, sejatinya Kak Asa sudah punya keberanian menghadapi prosesi khitan, hanya kata-kata dokter tersebutlah yang kebangetan, yang telah menanamkan ketakutan sedemikian rupa.

Maka malam itu kami tinggalkan rumah sakit dengan keputusan Kak Asa TIDAK JADI KHITAN. Kami memilih memulihkan dan menyembuhkan batinnya terlebih dahulu sampai suatu saat dia siap. Bagaimana dengan rencana liburan? Sudah terlanjur basah. Tiket PP sudah di tangan, hotel sudah dipesan, beberapa kerabat sudah kami kontak tentang rencana silaturrahim kami. Biarlah, acara jalan-jalan kali ini menjadi pelipur baginya atas peristiwa tidak enak yang barusaja harus dia hadapi. Lagipula, liburan akhir tahun sudah menjadi tradisi kami. Jadi Enggak jadi sunat yo ra popo, nglencer yo jalan terussss….

Maka…. marilah Nak kita lanjutkan bersenang-senang. Bersilaturrahmi dengan sanak kadang, yang kalau tak benar-benar diniati bakalan susahhhhh banget ketemunya. Mari kita sowan Mbah-Mbah di Jawa Tengah yang pasti sudah menantikan kita datang. Masih banyak waktu untuk menjadwalkan ulang khitan. Tuhan pasti Maha memaklumi.

Jadi…ya…begitulah ceritanya. Tidak ada maksud menggeneralisir dalam tulisan ini. Tidak ada niatan untuk menjelekkan suatu profesi. Mungkin kebetulan saja dokternya lagi pengen bercanda namun kebablasan. Mungkin juga ini cara Tuhan untuk menunda proses khitannya Kak Asa. Dan… alhamdulillah, yang membuat saya lega adalah, ternyata Kak Asa tidak menjadi ketakutan dengan “khitan”nya. Dia tahu bahwa dokter saja yang berkata-kata kurang tepat.

Pelajarannya adalah, jangan sekali-kali menakut-nakuti, atau bercanda yang kelewatan. Terutama buat teman-teman dokter atau paramedis ya. Apalagi untuk pasien anak-anak. Rasanya membesarkan hati mereka dengan tutur kata yang baik jauh lebih bernilai, daripada memberi mereka candaan tak berguna yang justru merontokkan optimismenya.

Cukup sekian tulisan kali ini. Terimakasih telah bersedia membaca curhatan menye-menye ini.

Salam hangat,

WY

26 comments

  1. Pakde Cholik says:

    Saya sependapat dengan tulisan diatas agar petugas kesehatan memperlakukan pasien dengan baik. Tutur kata, sikap, dan tingkah laku dokter bisa menyembuhkan atau memperparah penyakit yang diderita pasien.

    Siapapun tahu bahwa yang dihadapi petugas kesehatan setiap adalah manusia-manusia yang sedang 'menderita'. Mereka bisa saja jenuh, dongkol, bahkan stress menghadapi ulah aneka pasien. Namun demikian, sekali lagi,  petugas kesehatan tetap dituntut untuk memperlakukan pasien dengan sebaik-baiknya.

    Tahun 1962, saya juga berangkat pagi-pagi ke rumah sakit untuk disunat. Ternyata doktenya belum datang. Bagi kami orang desa, sunat adalah peristiwa sakral dan besar. Lha kok dokter yang dijanjikan tidak ada. Kami akhirnya disuruh ke rumahnya untuk sunat di sana.Alhamdulillah, putul tuh burung unyu.

     

    Salam hangat dari Jombang,

  2. Donna Imelda says:

    Alhamdulillah Kak Asa gak trauma ya dengan kata-kata dokter tsb.  Memang mengeluarkan kata-kata itu harus bijak, meski becanda.  Apalagi untuk masalah khitan,  buat anak-anak ini adalah urusan yg gak sepele menghadapi secara mental. Orang dewasa apalagi paramedis harus paham soal ini. 

    Tapi aku lega bacanya kalau Kak Asa gak trauma. Nanti dicari waktu dan  tempat lain yg kondusif paramedisnya.

    Daaaan…. Aku suka gaya jalan-jalan kalian sambil menjalin silaturahmi,  hal yg sampai saat ini agak susah aku jalani hehehe.  Kalau udah traveling fokusnya melencer sahaja hahaha

     

  3. indah says:

    Aduh, mba wid sabar banget ngadepin dokter kaya gitu. Kalau saya, wah tak omelan dulu dokter itu trus langsung keluar ga pake ngomong baik2 lagi

  4. Seni Lukis says:

    Kalau saya merasakian apa yang dialami kak widya pasti saya sudah nelpon mamah saya, kak. Karena bingung juga kalau saya ngomelin ke dokter, pasti jawabannya susah dimengerti. Entah sayanya yang nggak ngerti atau memang dokternya ngeselin. Tapi memang kakau saya mengalami pasti saya sudah panggil mamah saya. Hehe

  5. Yurmawita says:

    Masha Allah aku bisa membayangkan betapa tidak mengenakkan ,karena butuh perjuangan panjang untuk menumbuhkan keberanian anak agar mau disunat, bukan sehari dua tapi bertahun tahun..

  6. Santi Dewi says:

    Iih.. Gemes saya mba. Kalo saya hrs nunggu dr jam 3 sampe jam 7, udah saya tinggalin. Yg salah info kan petugas rs nya. Untungnya kak asa gak down lg ya…. Mudah2an nanti kalo mau khitan dimudahkan ya….

  7. Hastira says:

    nah , aku selalu cari2 dokter samapi aku ketemu dokter yang mau dengar keluhan dan diskusi, akhirnya bisa nemu yang jadi langganan keluagaku, kalau doketr itu libur dan ada yang sakit rasanay mau ke dokter lain itu rada gimana lagi. aku juga pernah dapat yang judesnay minta ampun dan pernah dibentak2. Suamiku pernah di uatu ruamh sakit juga dimarah2ini dibilang sok tahu, padahal hanay nanay sbg orang awam

  8. Dewi Nielsen says:

    Mbak Wid, laporkan saja itu dokter ke pihak manajemen RS. Biar next time dia hati2 bicara kepasiennya.Saya selaku orang kesehatan gemes dengar dokter kayak gitu. Nggak banget!

  9. Tarry KittyHolic says:

    Dokter masa gitu? Disini khitan tradisional (pak calak namanya) masih jadi favorit mbak. Kebetulan oranya ramah, jadi rame banget. 🙂

    Asa hebat ya, tidak trauma Semoga  ga ketemu dokter macam itu lagi ya Mbak

  10. Rosanna Simanjuntak says:

    Pernah alami hal yang sama saat Yasmin sakit dan mau dicari pembuluh darahnya. Saat itu Yasmin baru berumur 18 bulan.
    Suster yang merawat tak kunjung menemukan pembuluh darah untuk dipasang infus, sudah beberapa kali jarus berpindah-pindah lokasi, di tangan dan kaki. Mencapai puncaknya saat disuntik di kaki, jarumnya agak digerakkan sedikit, Yasmin yang sudah kesakitan, menjerit kesakitan, sampai biru mukanya, mungkin kesakitan sekali.

    Suami yang sudah meredam emosi, akhirnya jebol, emosi dan minta agar perawatnya diganti. Seorang perawat senior datang dan mampu menuntaskan dengan gampang.

    Aku hanya bisa berbagi tangisan karena tak kuat menyaksikan Yasmin disuntik beberapa kali. 

    Aku bisa merasakan kesedihanmu, mbak…

    Semoga khitan Asa dimudahkan ya, Aamiin…

     

     

     

  11. Jalan-Jalan KeNai says:

    setujuuuu banget sama Mbak Wid. Kalau saya yang ngalamin juga bakal langsung membatalkan khitan. Tapi sebelum dibatalkan, saya bakal ngomel dulu. Minimal memberi teguran keras. Menurut saya ucapan dokter tersebut sama sekali gak lucu. Apalagi kalau anak sampe disangka mengalami gangguan kejiwaan.

  12. Ilayatifa says:

    Ya Allah,  aku baru baca ini mb Wid. 

    Menumbuhkan keberanian anak untuk di khitan itu kan bukan perkara mudah,  lha koq bisa-bisanya dokter ngomong gitu.  Bikin down anak. 

    Seperti kata Pak Dhe Choliq, didaerahku pun moment khitan itu termasuk sakral. Butuh milih hari yg dianggap paling tepat dll. 

  13. herva yulyanti says:

    Ada kotak saran atau customer care RS-nya mba?saya rasa ini perlu ditanggapi terlebih saya sangat kesal dengan pernyataan beliau bilang kelainan kejiwaan. Meski saya cuman lulusan S1 Psi tapi saya belajar untuk tidak memberikan label dan judgement ke seseorang sebelum ada bukti2 anamnesa dari seseorang. Gilakkkk ini main ngomong kelainan jiwa seolah dy tahu mendalam. peluk mba wid

  14. Adriana Dian says:

    Kok dokternya gitu banget sih maaaak. Jahat banget itu mah, kayanya yang punya kelainan jiwa dokternya deh. Nyebeliiinnnnn! Kak Asa tetap semangat yaaaaa, semoga makin berani ya di khitannya setelah liburaaaannn 😀

  15. Rach Alida Bahaweres says:

    Waduh mba. Mungkin niatnya becanda tapi kayaknya tak tepat juga bercanda dalam kondisi begitu ya. Karna anak kadnag nggak tahu itu becanda atau tidak. Apalagi diucapkan dengan ekspresi tanpa senyum pasti anak makin takut. MIris tuh omongan dokter yang bilang "Anak ibu kelainan jiwa" DUh! Smoga tak terulang lagi mba 🙂

  16. Arinta Adiningtyas says:

    Duh, kalau saya di posisi Mbak Wid, mungkin saya udah mutung sejak awal. 🙁

    Dokter koq gitu. Ikutan gemes bacanya. Mosok ngga tau cara berkomunikasi yang baik dengan pasiennya. Dengan anak-anak apalagi. 🙁

  17. enny says:

    Kalau aku sudah pasti bakal negur tuh dokter dan membatalkan khitan. Bagaimanapun keadaan anak kita, sakitlah rasanya kalau ada orang mengatakan hal yang tak semestinya kepada anak kita

  18. Indah Nuria says:

    Memang inappropriate ya mba.. mungkin kalau aku sudah protes keras dan mempertanyakan sikapnya yg tidak profesional menurutku. Semoga dia tidak melakukan hal yang sama ke orang lain ya

Leave a Reply