Belajar Memotret Makanan Dengan Kamera Smartphone

Share

memotret makanan dengan kamera smartphone

Belajar Memotret Makanan Dengan Kamera Smartphone – Sebagai blogger dan penulis buku yang fokus pada tema-tema tentang makanan sehat, tentu saja saya sangat perlu untuk bisa memotret makanan yang mouthwatering. Makanan sehat kan saat ini belum terlalu menjadi makanan yang populer ya. Jadi memang perlu effort untuk bisa mengenalkan healthy food pada khalayak, salah satunya adalah “mempengaruhi” pikiran pembaca blog atau follower sosmed saya dengan tampilan makanan sehat yang menggiurkan. Sempat ngebet banget punya dslr. Tapi kemudian nyadar, bahwa kalau pakai dslr, pasti akan lebih makan waktu. Sedangkan saya hanya bisa nge-blog dan motret di sela-sela waktu saya sebagai ibu dan PNS.

Tapi Tuhan Maha Pemberi rezeki ya…. diberinya saya smartphone dengan kamera kece, dengan perantara ASUS. Thanks to ASUS  Nah, kamera kece udah di tangan. Lalu apa lantas dengan serta-merta foto menjadi meningkat jauh kualitasnya? Ah… saya kok merasa belum ya. Makanya kemudian gemes banget ingin belajar smartphone food photography. Sejak nyusun buku pertama (akhir 2014) pun, sebenarnya mulai belajar motret makanan. Tapi saya merasa kemajuan saya termasuk lambat. Duh…. mungkin saya terkatagori slowlearner ya.

Menjajal Kamera Zenfone 3 Saat Launching di Bali

Maka kemudian saya gemes sama diri sendiri. Kenapa fotonya masih begitu-begitu aja? Dengan Zenfone 3, okelah, foto saya sudah cling. Wah… pasti itu. Karena kameranya 16 MP plus masih ditambah kualitas lensa yang oke. Tapi, saya masih sangat payah di komposisi dan food styling. Aduh mbokk… kudu berguru ke mana aku? Iri dengki banget sebenernya lihat postingan teman-teman yang bisa ikutan workshopnya Mbak Ariana, seorang selebgram yang jago motret pakai hape. Saya sih, sudah follow Mbak Ariana lama banget. Tapi karena lokasi saya jauh banget dari ibukota (dan kota besar lainnya), jadilah saya hanya bisa mupeng ngeliat serunya teman-teman belajar motret.

Tapi… the show must go on! Kamera superkece sudah di tangan. Printilan foto, macem alas lipat, artificial flower, napkin wooden utensils sudah semua-mua dibeli. Coba, kurang niat bagaimana eykeh? Sekarang tinggal membulatkan tekad, setidaknya menyediakan waktu secara berkala untuk belajar dengan cara browsing dan langsung berlatih. Lalu sejak beberapa bulan lalu, saya mulai merutinkan diri berlatih memotret. Modalnya selain browsing, adalah ngepoin habis-habisan akun instagram para selebgram. Kebetulan beberapa di antaranya suka berbaik hati ngasih foto behind the scene.

Nah… foto BTS inilah yang sering jadi bahan saya belajar. Dan, inilah beberapa hasil jepretan saya. Please jangan bully ya…. namanya juga sedang belajar. Silakan berikan masukan, jika teman-teman berkenan. Nah, setelah sekian lama nyoba berlatih lebih intense, menurut teman-teman bagaimana hasilnya? Bilang aja bagus ya! Biar saya seneng. Wkwkwk…

Nah, sesuai janji saya kepada beberapa teman, saya kali ini akan share poin-poin yang saya pelajari selama ini. Ini samasekali BUKAN memberi tip atau nuturi ya… anggap aja sekadar berbagi “catatan pelajaran”, karena saya juga masih harus terus dan terus belajar.

Cahaya…cahaya…cahaya…

Memotret dengan kamera hape memang sangat mutlak memperhatikan waktu. Terlalu siang, cahaya keras, terlalu sore cahaya redup kekuningan, kepagian? Gelap doong. Tapi, syukurlah, pakai kamera dari zenfone 3 ini, agak bisa membantu. Setidaknya, kalau hanya kesorean dikit, foto masih bisa tertolong. Atau mendung dikit, foto juga masih bisa bagus, atau setidaknya masih layak saya posting di instagram @widyanti_yuliandari. Bagi saya, ini membantu banget.

asus-smartphone-foodphotography-5

Dipotret saat mendung, pagi hari, sedikit editing bright. Udah Cakep kan?

Yang tak kalah penting menurut saya, adalah berlatih mengenali lokasi. Di mana dan kapan kita motret dengan hasil terbaik. Kalau di rumah, saya suka memotret persis di ambang pintu ruang tamu yang menuju teras depan kalau pagi atau agak siang dan sore. Atau di ruang makan (ruang makan kami terbuka) yang terletak di teras belakang. Reflector juga ngebantu banget lo. Dia fungsinya untuk memantulkan cahaya. Misal kalau saya motret di teras, cahaya dari kanan, maka ditaruhlan reflektor di sebelah kiri, supaya cahayanya imbang. Jangan bayangin kita harus rogoh kocek utnuk dapetin reflector. Cukup pakai styrofoam atau kardus dilapis kertas HVS putih. Mamak-mamak yang doyan baking juga bisa pakai loyang as a reflector. Dah beress …Meski gak hobi baking, loyang doang sih saya punya. Warisan emak. Wkwkwkw….

Oh iya, ternyata penggunaan flash juga enggak bagus. Baik itu motret makanan maupun produk. Saya sudah mencoba beberapa kali, emang enggak natural hasilnya kalau kita pakai flash. Kalau dengan kamera Zenfone 3 ini, andai cahaya minim, kita bisa pakai moda Low Light. Atau kalau telaten bisa menggunakan moda manual aja, dengan belajar mengatur ISO dll nya. Kalau udah jago, hasilnya bisa lebih kece sih. Hanya saya masih harus banyak belajar.

Komposisi

Duh… saya sebenarnya seperti enggak khatam-khatam belajar topik ini. Selalu masih bingung mau motret dari mana, dengan penataan bagaimana. Tapi, saya harap makin banyak berlatih, saya akan makin gape. Setidaknya dengan banyak melihat, mengamati foto-foto para selebgram ataupun fotografer keren, saya bisa sedikit-sedikit belajar. Dimana sebaiknya saya meletakkan makanan sebagai lakon utama, di mana juga properti pelengkapnya dan dari sisi mana memotretnya.

Yang paling terasa memudahkan adalah dengan mengikuti aturan rule of third. Teorinya sih, area foto dibagi menjadi 9 kotak dengan dua garis vertikal dan dua garis horisontal. Nah akan ada 4 titik sebagai pertemuan garis-garis tersebut. Objek menarik diletakkan pada salah satu dari keempat titik tersebut. Ini saya masih sering failed. Dan kalau kebeneran lagi ingat, memang sih hasil fotonya jadi cakep gitu. Ha..ha… dilarang protes ya.

Teori lainya adalah, seyogianya objek mengisi 1/3 saja dari keseluruhan, sedangkan sisanya adalah background. See? Konon dalam fotografi, background bukanlah ruang kosong/hampa yang tak berguna. Ia sama pentingnya dengan objek. Di sini mulai rada galau, kenapa? Aku sukanya foto rada ramean, ada bunga atau props apa gitu…. Namun, sekali lagi, ini teori lo ya. Tidak semua teori harus kita ambil. Kalau buat aku, asal foto enak dipandang aja udah cukup.

Dead center, paling mudah sih

Dead Center, gampang sih…. tapi bosan juga kalau begini terus

Oya, masih soal komposisi. Adakah yang seperti saya, ngerasa mati gaya saat motret karena hasilnya kok lagi-lagi objek ada di tengah gitu aja? Begitu…. begitu aja. Komposisi dead center emang paling gampang maaak…. setidaknya itu menurut saya. Sudah deh saya ngaku. Tapi, apa iya ratusan foto di IG mau saya isi foto semacam itu semua. Saya sendiri bosen liatnya, apalagi follower saya? Ha..ha… ada memang beberapa instagrammer yang sangat konsisten soal komposisi. Galeri mereka dead centre semua, bahkan sampai ke warna piring konsisten. Ha..ha… ngaku deh, dalam hal ini saya bukan tipe setia. Maka saya coba juga nih komposisi diagonal. Asyik juga ternyata main-main komposisi begini.

Ditata begini saja, sudah beda jadinya kan?

Ditata begini saja, sudah beda jadinya kan?

Perpaduan Warna

Kalau dalam teori makanan sehat, tubuh kita butuh berbagai macam warna. Karena berbeda warna, berbeda nutrisi. Dan tahu kan, tubuh kita butuh berbagai macam nutrisi, bukan itu lagi…itu lagiii. Kalau di foto, saya suka warna-warni. Menurut saya lebih segar aja di lihat.

Warna-warni, selain sehat juga indah dilihat

Warna-warni, selain sehat juga indah dilihat

Minimalis Lebih Baik

Ini salah satu teori yang saya dapat entah di mana. Lupa, saking banyaknya web yang di-kepo-in. Mungkin sebagian setuju, sebagian juga tidak.Yang jelas, untuk sementara, teori ini cocok untuk saya pribadi. Kalau  semangka sebulet gede jangan semua difoto maaak…  sangat tidak memenuhi estetika kalau difoto glundungan gitu. Buah semangka yang dipotong mungil, lalu ditempatkan di piring small atau medium, rasanya lebih mengundang selera. Dan… kalau bagi saya lebih mudah juga untuk difoto. Kenapa? Karena alas lipat yang saya punya ukurannya tidaklah terlalu lebar. Kalau pakai piring yang besar (apalagi wajan dinaikan ke sana) penuh maaakkk… wkwkwk ya iyalah!

Soal Property

Foto yang sepi rasanya kurang menggigit kalau buat saya. Dan ternyata nyoba main-main dengan property cukup menyenangkan juga. Karena temanya makanan, saya merasa sangat aman main-main dengan napkins. Jangan dikira napkin saya mehong bok! Enggaaakk…. bahkan ada yang saya buat dari bahan kain kotak-kotak yang dibeli lalu dipotong sendiri. Duh… murce makk… Oh ya… soal napkins, kalau buat saya challanging banget itu nata supaya rada awut-awutan, terlihat natural, namun tetap cakep. Duh…suerrr…saya butuh waktu berbulan-bulan melatihnya. Enggak papa deh dibilang slow learner, tapi saya puas bisa belajar hal baru begini.

Dan thanks god kenal sama Emak Gaoel. Diantara properties motret saya, terselip juga satu karya Mbak Winda aka Emak Gaoel. Tentu saja, sesuaikan dengan temanya dong ya. Karena saya penggiat makan sehat, ya lettering nya saya pesan enggak jauh-jauh dari tema itu. Sendok-sendok kayu murce marice harga lima ribuan sampe yang paling murah seharga dua ribuan saja juga udah bisa jadi pelengkap food photography yang cukup manis. Irit banget ya? Cuma beda dikit sama tahu bulet limaratusan digoreng dadakan di mobil …

memotret makanan dengan smartphone

Properties bikin foto makin manis

Saya juga suka ada bunga dalam foto saya. Enggak tahu kenapa. Mungkin karena masa kecil saya yang dikelilingi bunga-bunga liar nun jauh di tepi hutan dekat Taman Nasional Baluran sana. Mau nyambung atau tidak dengan tema makanan, rasanya saya nggak rela kalau misalnya dilarang motret makanan pakai bunga. *lebayluhmak

Nah teman-teman, rasanya Cuma itu yang bisa saya bagi. Saya sendiri merasa haus untuk terus belajar soal Smartphone Foodphotography ini. Siapa mau bikin kursus online? Saya mau dong ikut…

Special Thanks To:

Asus Indonesia

13 comments

  1. Diah says:

    Huaaa suka mupeng deh klo lihat foto2 kece gini. Baca tips2 jg tp blm mudeng juga, hihihih. Masih harus banyak belajar plus langsung praktekin ini, heheh.

    Anyway makasih tipsnya Mbak.:)

Leave a Reply