Bahaya Di Balik Lezatnya Makanan Ber-Gluten

Share

bahaya gluten

Bahaya Di Balik Lezatnya Makanan Ber-Gluten – Hai, hari gini pasti udah pada nggak ngobrolin si roti nganu itu, kan? Ha..ha… tapi boleh dong ya, masih ngobrolin ruti? Tentu dari sisi yang berbeda ya, sesuai wilayah saya. Kebetulan sudah lama pengen banget nulis soal bahaya gluten. Dan di blog ini juga saya kan pernah share resep kudapan dengan menggunakan tepung non gluten ya. Bisa dibaca di: Resep Kudapan Bebas Gluten Untuk Kesayangan

Emang kenapa sih dengan gluten?

Ngobrolin terigu, kalau bagi saya memang bukan semata kaprihatinan bahwa kita sudah menjadi pengimpor terbesar kedua, jenis tepung populer ini. Walah…. padahal negeri kita ini kurang kaya bagaimana akan sumber karbo? Beras putih, beras merah, beras hitam, ubi jalar, singkong, ubi ungu, ganyong, dan baaaaanyak lagi lainnya. Semua kita punya lo. Nah, why gluten? Ada apa emangnya dengan suatu jenis protein yang terdapat dalam terigu ini? Sering tho ya sekarang mendengar ada Roti Gluten Free alias GF bread. Pas momen Lebaran kemarin juga pasti banyak teman-teman yang pernah melihat iklan, bahkan sudah membeli dan mengkonsumsi gluten Free Cookies. Duh yaaa…. di beranda saya itu hilir mudik yang namanya cookies-cookies gluten free. Sampai saya ngiler dan repot sendiri karena kalaupun order, mahal di ongkir dan berisiko renyek. Wkkwkwkwk.

Oke. Kemarin saya browsing, dan menemukan 2 buah artikel yang cukup berimbang dan komperhensif soal bahaya gluten ini. Penulisnyapun cukup meyakinkan menurut saya. Karena dia adalah seorang doker naturopath. Sedangkan artikel satu lagi saya dapatkan di sebuah web Paleo Diet. Jadi, yang akan saya tulis berikut ini omongane dokter lo ya… ya…. bukan omongan saya sendiri lo… ojo nesu ya yang masih suka gluten. Ha…ha…ha…. piss bro..sis…

Pertama, Gluten itu apa sih? Gluten adalah sejenis protein yang terdapat di bebijian. Dia biasa terdapat pada gandum, rye, barley, dan sebagainya. Adanya di mana aja si gluten ini? Roti-rotian yang umum di pasaran, hampir pasti mengandung gluten karena sebagian besar bahan bakunya adalah terigu, kecuali yang sudah berlabel Gluten Free. Begitu juga dengan aneka cake, kue-kue basah macam pastel, mie instan, pasta, dan kudapan-kudapan populer lainnya. Gluten juga sangat mungkin “tersembunyi” dalam jumlah kecil dalam aneka saus bahkan kecap.

Bahayanya Apa? Sederhanyanya sih, karena manusia tidak dapat mencerna gluten (atau sulit sekali mencerna) Gangguan kesehatan yang sering disebut-sebut memiliki hubungan dengan gluten adalah Celiac Desease (sebuah gangguan autoimun). Jadi celiac desease ini adalah gangguan di mana tubuh mengenali gluten sebagai ancaman bagi tubuh maka sistem kekebalan tubuh kemudian menyerangnya dan juga mengenai jaringan tubuh lainnya. Jika ini terjadi terus-menerus bisa merusak dinding usus dan akhirnya mengganggu penyerapan nutrisi di sana.

Penyakit Celiac ini gejalanya banyak banget. Yang paling sering adalah diare, ya iyalah ya, kan penyerapan nutrisinya udah terganggu. Gejala lainnya adalah perut terasa kembung, mudah lelah, perasaan lemas dan letih, muntah pasca mengkonsumsi gluten, dsb. Nah, 30 hingga 40 persen manusia memiliki latar belakang genetik yang potensial mengarah ke celiac desease, namun hanya 1-3 persen saja yang mengalaminya. Sisanya? Aman dooong? Bebas dong makan gluten?

Eh…. tunggu dulu… Ternyata, ada yang namanya non-celiac gluten sensitivity (NCGS). Gampangnya, bukan celiac, namun sensitif ama gluten. Jadi, meski individu tersebut tidak menderita celiac, tetapi tubuhnya sensitive terhadap gluten. Nah… jangan-jangan kita termasuk dalam golongan ini nih.

Inflamasi Pada Pencernaan – Inflamasi alias peradangan, sebenarnya adalah reaksi normal tubuh, saat dia dikenai sesuatu diluar kebiasaan ya. Misal saat tangan kita tersayat pisau, atau keseleo, area sekitarnya menjadi memerah, membengkak dan jaringannya melunak. Nah…. ternyata, reaksi demikian ini terjadi juga di pencernaan kita diakibatkan oleh protein yang ada di dalam gandum. yang paling sering sih, ya kibat si gluten tadi. Baik individu tersebut mengalami celiac desease ataupun non celiac gluten sensitivity. Bahkan, pada individu yang tidak sensitif sekalipun.

Lalu, kenapa kalau terjadi inflamasi? Bukankah tadi disebut itu reaksi yang wajar? Jadi… begini ceritanya. Saat terjadi inflamasi itu, permeabilitas pencernaan itu meningkat. Apapun jadi lebih mudah beredar di sana karena sistemnya sedang (katakanlah) kacau, nah… sadar dan yakin kan, bahwa setiap harinya kita juga turut menelan berbagai organisme jahat bersama makanan kita. Kebayang dong, kalau sistem pertahanan di pencernaan sudah melemah.

Berbagai Keluhan Di Pencernaan – Pada orang-orang dengan penyakit celiac, gluten menyebabkan berbagai keluhan di pencernaan dalam waktu singkat pasca dikonsumsi, misal: diare, kembung, muntah, hingga feses yang berbau enggak sopan sangat. Sedangkan pada individu dengan non-celiac gluten sensitivity, gejalanya kurang lebih mirip dengan yang dialami pada celiac desease. Bahkan pada orang-orang yang tidak memiliki sensitivitas terhadap gluten secara khusus, berbagai komponen dalam gandum juga memicu inflamasi dan menimbulkan aneka gangguan di usus.

Mengganggu Ekosistem Usus – Tahu kan, di usus kita banyak anak kos? Nah, anak kos baik-baik banyak banget manfaaatnya bagi tubuh kita. Entah itu buat bantu mencerna, mengusir anak kos nakal, mensintesa nutrien, mengirim tanda rasa kenyang/lapar dan banyak hal baik lainnya. Lah… kabarnya, si anak kos baik ini ternyata sangat…sangat tidak suka gluten dan sebaliknya, gluten juga musuhan sama si anak kos baik ini. Orang-orang dengan celiac desease ini seringkali dilaporkan memiliki masalah yang sangat buruk dengan flora di pencernaan mereka. Orang-orang dengan non-celiac gluten sensitivity juga bermasalah dengan flora usus mereka. Bahkan orang-orang tanpa gangguan sensitivitas terhadap gluten juga dapat mengalami permasalahan serupa diakibatkan komponen lain dari terigu. Nah looo…

Gangguan Pada Kulit Dan Otak – Kalau kemudian kita berpikir, bahwa gangguan akibat gluten hanya berkaitan dengan pencernaan (karena menag pintu masuknya di sana), ternyata kita salah. Ngobrolin gluten, ternyata TIDAK hanya tentang berbagai gangguan pencernaan seperti yang sudah kita bahas di atas. Gluten ternyata juga memiliki korelasi dengan Alzheimer dan demensia. Inflamasi dan gangguan flora usus yang diakibatkan gluten, ternyata meningkatkan kerentanan terhadap demensia dan penyakit Alzheimer. Autoimunitas secara umum juga memiliki hubungan dengan depresi. Ini bukan berari gluten sepenuhnya bertanggungjawab terhadap berbagai permasalahn kesehatan mental, lo. Tidak juga dapat dikatakan bahwa STOP memakan gluten akan menyelesaikan semua permasalahn terkaitak kesehatan mental. Let say… kesehatan mental itu banyak sekali faktornya, dan pada sejumlah individu, gluten bisa menjadi salah satu diantaranya.

Bagaimana dengan kulit? Pada individu yang mengalami celiac desease, permasalahan kulit populer yang sering terjadi diakibatkan gluten, adalah dermatitir herpetiformis. Gejalanya adalah gatal, dan ruam memerah dan gejala ini biasanya terjadi pada orang-orang di atas usia 20 tahun. Dan…sekali lagi, problem gluten pada kulit tak hanya berhenti pada orang-orang dengan celiac desease. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada individu non-celiac gluten sensitivity, gluten meningkatkan terjadinya perbagai problema kulit seperti gatal, psoriosis, eczema, atau juga dermaitis herpetiformis

Huwaaa…. ternyata panjang banget daftarnya ya. Itu belum lagi kalau ditambah kesaksian teman-teman saya yang mantan pemakan gluten. Misal, Mbak Arie Primedewi Soekamto yang profilnya pernah saya muat di blog ini juga. Sebelum kemudian terdiagnosa kanker, beliau adalah penghobi baking dan menikmat kue-kue (sebagaian besar berbahan terigu). Bukan bermaksud mengatakan makan gluten/terigu akan menyebabkan kanker lo ya. Sekali lagi, seperti di atas tadi. Kanker itu faktor pemicunya banyak, dan bisa jadi tingginya konsumsi gluten adalah salah satunya. Saya sering sekali menemukan customer saya yang sakit kanker dan berbagai penyakit serius lainnya punya kesukaan mengudap makanan-makanan berterigu.

Saya Dan Gluten

Apakah saya juga sudah bebas gluten? Oh belummmm….. saya masih baru sampai pada tahap meminimalisir saja. Kalau, sebelum ber-food combining, dulu saya bisa belanja berkilo-kilogram terigu dalam sebulan. Belanjaan bulanan full of roti-rotian, mie kering, makaroni/pasta, berbagai biskuit. Njajan kue basah bisa beberapa kali dalam seminggu. Dan Anda tahu riwayat kesehatan saya masa itu? Saya penyakiten, alergi-an ra uwis-uwis…. kena dingin sithik batuk, mbeler, gatel. Tubuh ringkih, dikit-dikit sakit. Dikit-dikit radang tenggorokan. Bentar-bentar infeksi ini-itu.

Baca Juga: Menu Food Combining

Sekarang kami makan terigu hanya saat cheating, dan untuk bikin tempe kemul kalau pas gluten free flour nya habis. Dalam bentuk mie, makaroni dan pasta, kami sudah sangat jarang makan. Anak-anak hanya mengkonsumsi mie beberapa kali dalam setahun (saya mungkin hanya 1-2 kali setahun) Ke depan, saya berencana makin terus mengurangi konsumsi gluten. Makanya juga kadang menyempatkan belajar membuat makanan yang mengeliminasi gluten, menggantikan kehadiran terigu dengan tepung atau bahan lainnya. Enggak rajin sih, saya kan mamak-mamak rempong, kudu kerja, kudu ngeblog, kudu jualan dan nulis buku, dan masih jalan-jalan pulak. Wkwkwkw…

Untuk teman-teman yang di Jabodetabek, dan kota-kota di sekitarnya, saya punya info seorang teman yang memproduksi panganan gluten free. Ada Gluten Free Bread, Gluten Free Cookies, dll. Bisa dibaca di sini:

Yanty Dygg: Mengudap Tanpa Rasa Bersalah

Nah… begitulah. Sudah selesai cerita saya tentang apa dan bagaimana gluten mempengaruhi kesehatan kita. Keputusan di tangan Anda. Suka silakan ambil, tidak suka nggih mboten nopo-nopo. He..he… Salam hangat dari Bondowoso yang udan ra wis uwis

9 comments

  1. Relita Aprisa says:

    Makasih banyak mba sharingnya. Sehatan jg produk dlm negeri yaa mba, aa ubi, singkong, ganyong, dll..jelas bahannya, pasti gizinya, sekaligus memajukkan ekonomi kerakyatan. Sepakat mb, sy mau nyoba sedikit demi sedikit ngurangi trigu, smg bisa. Aamiin

  2. Ratna Dewi says:

    Duh, setiap bulan stok mie instan, cemilan cookies, sama pasta di rumahku banyak bener nih. Jadi merasa bersalah. Kalau roti gandung mengandung gluten juga kah, Mbak? Aku udah jarang makan roti tawar putih sih, prefer roti gandum karena dari segi rasa pun lebih cocok roti gandum. Nggak nempel-nempel di gigi.

Leave a Reply