Antara Aku, Ibuku Dan Diabetes

cara mengatasi diabetes
“Bengkaknya makin parah, Wid. Ibu juga demam”.

Suara lemah ibu di seberang, membuatku langsung mengambil keputusan.

“Saya jemput segera, Bu. Kita ke dokter hari ini juga”

Begitulah awalnya….peristiwa itu baru saja berlalu sekitar dua minggu lalu. Di blog ini saya pernah bercerita tentang Ibunda yang memang masih terus dibayang-bayangi obesitas. Diabetes, menjadi hal yang saya khawatirkan setelah hampir dua tahun lalu beliau terdiagnosa skoliosis, yang kata dokter juga sangat boleh jadi diperparah oleh kondisi kegemukannya.

(Tentang obesitas Ibu saya, pernah saya tulis di sini: Tips Mengatasi Obesitas)


Ya, bagi saya sangat meragukan ungkapan, “biar gemuk asal sehat”. Saya yakin, Tuhan menciptakan manusia untuk bertubuh ideal. Ideal dalam batasan tertentu pasti, bukan harus lencir superlangsing bak tubuh para model.
Ibunda memang sudah memperbaiki pola makan, atas saran dokter. Dan karena saya penganut food combining, Ibupun akhirnya mengikuti pola makan saya, maski hanya setengah-setengah. Dan gula darahnya selalu aman…. hingga dua minggu lalu, saat dokter mendiagnosa beliau diabetes.  Di hadapan nutrisionis beliau mengaku, yah… akhir-akhir ini memang terhitung sering makan kue-kue manis. Nah! Ketahuan! Saya hanya bisa gregetan dalam hati saja. Duh….

Dua minggu ini saya berusaha memastikan pola makan ibu berada di jalur yang benar. Pagi, sarapan buah, seperti kebiasaannya. Siang nasi hitam (saya sudah tidak beliau makan nasi putih) dalam jumlah tertakar sesuai anjuran nutrisionis, malam juga nasi hitam ditemani sayuran. Saya berusaha juga setiap kali makan didampingi raw veggies alias sayuran segar. Dua minggu ini STOP sama sekali gula pasir, saya mengganti gula untuk keperluan bumbu masakan dengan gula aren. TIDAK ada lagi camilan-camilan berbahan dasar karbo kesukaan beliau.

Baca Juga:

Tips Membuat Jus Sayur Enak

Variasi Jus Dan Smoothie Buah

Cara Memasak Nasi Merah Enak

 

Alhamdulillah, dalam seminggu kemarin, abses di kaki beliau sudah mengempis. Bisul-bisul kecil di sekitar tumit juga sudah kering. Next …. saya harus membantu beliau keluar dari obesitasnya. Saya tahu, ini bukan pekerjaan mudah. Beberapa kali beliau mencoba mengatur pola makan, lalu BB turun…. namun ini tidak lama. Setahun lalu beliau disiplin makan dominan buah dan sayur segar, BB turun 7 kilogram dalam 3 bulan. Lalu kemudian naik lagi, mencapai BB sebelumnya 70 kg. 

 

Diabates Dan Faktor Genetik
Ibu dan saudari-saudarinya, semua pernah berada dalam fase kegemukan. Almarhumah kakak ibu (Budhe saya) mengalami obesitas sejak usia mudanya, kemudian harus hidup berdampingan dengan diabetes hingga akhir hayatnya. Kakak ibu satunya juga obesitas sejak usia mudanya, meski hingga saat ini tidak terdiagnosa diabetes, tapi beliau tidak bisa dibilang prima kesehatannya. 


Saya tahu, ada peran faktor genetis di sana. Dan saya sadar, sayapun bisa jadi sedang diintai diabetes. Maka, meski secara usia saya masih merasa muda (30 something menuju 40, muda kan yaaaa… ha..ha…), saya berupaya disiplin menjaga pola makan dan pola hidup secara keseluruhan.


Suami sayapun, yang saat ini 40 tahun lebih sedikit, beberapa tahun lalu pernah menunjukkan gula darah yang tinggi saat dilakukan pemeriksaan darah. Saat itu, beliau sering merasa lemas dan mudah capai. Nah, sejak saat itu juga saya merasa harus lebih sering mengingatkan beliau untuk berpola hidup sehat. Syukurlah, makin ke sini, pola makannya makin membaik. Bahkan saat ini beliau juga sangat rajin olahraga. Saya amati makin usianya bertambah, kini beliau makin sehat dan bugar. 

 

Cegah, Obati Dan Lawan Diabetes

Bicara soal diabetes, ibunda dan Budhe saya, hanya setitik contoh. Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat. Bahkan, diabetes saat ini sudah menjadi pembunuh nomor 3 di Indonesia. Secara globalpun, diabetes menjadi masalah dunia. Berdasar data WHO, 1 dari 10 penduduk usia 18 tahun ke atas, menderita dabetes type A. Artinya apa? Sekitar 10 persen penduduk dunia bisa jadi sedang tergantung pada aneka obat-obatan dalam upaya mengendalikan diabetesnya. Bahkan, sangat boleh jadi, sebagian mereka sedang berhadapan (sudah mengalami atau berisiko) dengan komplikasi yang diakibatkan diabetes, misalnya: gangguan pada pengelihatan, gagal ginjal, impotensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, dll.


Dahsyat juga ya impactnya diabetes ini. Trus, kita bisa apa? Mau diam aja, nunggu nasib? Enggak lah ya… kabar baiknya adalah, kita bisa kok mencegah dan mengobatinya. Sebelum mencegah, mari kita kenalan dulu dengan diabetes.

Apa sih diabetes itu? Diabetes Mellitus alias DM atau disebut Diabetes, saja, adalah gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin atau, tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya? Terjadi peningkatan konsentrasi gula dalam darah, atau yang disebut hiperglikemia.

 

Apa gejalanya?

  • Rasa haus yang sering dan berlebihan. Kalau haus yang karena memang kurang minum, bukan ya.
  • Juga sering BAK terutama di malam hari
  • Sering merasa kelaparan, meski sudah cukup makan
  • Terkadang diikuti penurunan BB yang enggak jelas penyebabnya
  • Massa otot berkurang
  • Mengalami kelelahan. Nah… ini yang sering dikeluhkan ibu.
  • Luka yang susah sembuh. Ini awalnya kami curiga ibu diabetes. karena hanya digigitnyamuk lalu digaruk, kaki ibu sampai bengkak parah dan muncul semacam bisul-bisul kecil
  • Acapkali timbul infeksi, contoh pada gusi, kulit, saluran kemih, dll.


Bagaimana Menanganinya?
Sebagai penulis yang concern tentang kesehatan dan pola makan sehat, saya tentu sangat ingin memberikan yang terbaik untuk Ibunda saya. Saya ingin beliau sehat, karena masih banyak hal yang ingin saya lakukan bersama beliau. Nah, saya menemukan panduan yang sebenarnya menurut saya sifatnya global ya, bisa diterapkan pada kondisi apapun, termasuk diabetes. Ini nih…, Singkatannya lucu yaaa…. PATUH


Periksa kesehatan rutin
Atasi Penyakit
Tetap diet sehat
Upayakan beraktifitas fisik
Hindari rokok (atau asap rokok)

 

cara mengatasi diabetes

Periksa kesehatan rutin, ini jelas lah yaa… apalagi udah seusia Ibu saya, yang tahun ini memasuki 64 tahun, pastilah kesehatan harus senantiasa dipantau. Check up ruti secara berkala juga penting. Trus kalau ada gangguan kesehatan, ya kudu banget langsung atasi penyakitnya. Kalau saya, mengatasi biasanya selain memperbaiki pola hidup, tentu juga dengan bantuan layanan kesehatan yang memadai seperti RS atau dokter praktik swasta.

Nah, yang ketiga nih yang sering menimbulkan berbagai penafsiran, tetap diet sehat. Tetapi saya mencoba "memadukan" keyakinan saya tentang pola makan sehat yang berbasis pada bahan-bahan makanan alami utamanya buah dan sayur, juga memperhatikan saran dokter dan ahli gizi yang menangani Ibu. Di antara beberapa saran tentang makanan adalah sebagai berikut:

 

cara mengatasi diabetes

 

Yang jelas dan semua orang tahu, dan ahli gizi juga menekankan banget: Ibu harus menghindari gula, utamanya gula pasir/rafinasi. Daaaan… yang kadang orang kurang waspada, perlu juga menghindari gula yang bersembunyi dalam berbagai bentuk makanan. Menurut ahli gizi yang memberi konsultasi di tempat praktik dokter swasta yang kami datangi, gula pasir masih dibolehkan sekadar untuk bumbu masakan. jadi bisa disimpulkan jumlahnya kecil banget ya.

Ibu juga harus mengontrol karbohidrat yang dikonsumsi. Saya menganjurkan ibu mengkonsumsi nasi hitam, nasi merah ataupun brown rice. Itupun, tetap dalam jumlah yang terkontrol. Setiap kali makan besar, dianjurkan dominan sayur saja, sehingga tetap memberi rasa kenyang dan Ibu juga mendapat berbagai kebaikan sayur. Yang juga ditekankan adalah: makan harus KENYANG. Kenapa? rasa lapar justru akan memicu ibu untuk ngemil. Bisa-bisa kalap mengudap apapun yang diinginkan.

 

cara mengatasi diabetes

 

Ibu juga harus melimpahi tubuhnya dengan buah dan sayur segar. Ahli gizi sih tidak menyarankan jenis-jenis buah tertentu seperti misalnya: sawo. Tapi kalau bagi saya, yang terpenting prinsipnya variatif dan tidak berlebihan ya. Menurut saya adalah sangat penting tubuh mendapat aneka warna buah setiap harinya. Oh ya, senangnya, sang ahli gizi juga memiliki keyakinan yang sama dengan saya: MAKAN BUAH DALAM PERUT KOSONG. Nah… mungkin teman-teman yang sering main ke blog ini sudah tahu apa sebabnya. 

Untuk pola makan saat ini, alhamdulilah ibunda sangat disiplin menerapkan food combining. Teman-teman yang belum begitu mengenal food combining, bisa baca di tulisan-tulisan berikut:

Menu Food Combining

Cara Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining

Pro Kontra Food Combining

 

 

cara mengatasi diabetes

Saran lain yang juga sesuai slogan di atas dan dianjurkan dokter, adalah: upayakan beraktifitas fisik. Ibu memang agak terbatas geraknya akibat skoliosisnya. Tapi bagaimanapun, bergerak itu penting. Karena saya yakin, sehat itu adalah keseimbangan kapan bergerak dan kapan diam atau istirahat. Jadi, gerakan-gerakan peregangan ringan, atau pose-pose yoga sederhana mungkin sesuai untuk beliau.

 

cara mengatasi diabetes


Hindari rokok (atau asap rokok), kalau ngerokok jelas tidak ya. Tapi mungkin, ibu harus juga mulai say no terhadap asap rokok dari perokok di sekitarnya. 

Nah, teman-teman, mungkin itu secuplik info diabetes yang bisa saya share. Besok, saya akan mengantar Ibunda kembali ke rumah di kampung, karena alhamdulillah Beliau sudah sehat. Mohon doanya ya, teman-teman, supaya Ibunda bisa konsisten dengan serentetan “pesan” baik dari dokter, ahli gizi, maupun dari saya, anaknya yang sangat mencintai beliau.


Selamat Hari Jumat
Have a nice Weekend all
Salam hangat from the hidden paradise,

WY
 

10 comments

  1. Dipi says:

    Ibunda dipi jg sakit diabetes bertahun tahun, sudah tiada dua tahun yg lalu. Dipi jg mnemani beliau n mngawasi makannya, pernah kondisi down setahun dipicu oleh jatuh halaman lalu tangannya patah. Beliau mninggal krn stroke tak sadarkan diri (koma), waktu itu dipi sdh jauh dibawa suami, lama tak bisa rawat ibu krn kmi tinggal beda pulau. Betul sekali, pola makan hrs sgt diatur, yg pasti butuh ketabahan jg. Komplikasi mbayangi penyakit ini ya mba. Ada sodara jg yg diabet larinya ke ginjal. Smoga ibunda mba wid stabil terus kondisinya. 

  2. April Hamsa says:

    Jaman dulu diabetes identik dengan org yg sudah sepuhm sekarang krn gaya hidup yg muda pun bisa kena ya mbak. Apalagi kalau secara genetik, keluarganya ada riwayat penyakit ini.

    TFS mbak, jd lbh aware kudu ngurangin makan manis2

  3. nur rochma says:

    Ibu (almh) saya juga kena diabetes. Dan memang sulit untuk mengatur pola makan. Sejak tahu penyakit ibu, saya merasa dintai oleh penyakit ini. Apalagi nenek, saudara-saudara ibu juga kena.

    Makasih sharingnya, mba Wid.

  4. Untari says:

    Bapakku dan ibu mertua juga mengidap diabet, bumer masih bisa disiplin dan menerapkan puasa senin kemis. Tp kakinya ttp sering bengkak.padahal kadang konsumsi sedikit makanan manis. Kl bapakku krn ada ibuku jd bisa ada yang mengingatkan. Makasih sharingnya ya mba. Semoga ibu bisa sehat kembali

Leave a Reply