Apakah Food Combining Melarang Kurma dan Madu?

Share

food combining

Beberapa waktu lalu saya mendapat colekan sayang dari my food combining guru, sekaligus mbak penulis, dosen dan nutrisionist senior yang kecantikan nya bikin iri (di usia jauh lebih senior dari saya), Mbak Eti Widayati.

(Profil beliau pernah saya muat dalam tulisan ini: Lebih Dekat Dengan Eti Widayati, Ahli Gizi Yang Pro Food Combining)

Kejadiannya begini, ada  saat seorang teman berpendapat di salah satu status Mbak Eti, bahwa food combining itu "mengharamkan" kurma dan madu. Mbak Eti mensyen saya di salah satu komentar dan bahkan setelahnya beliau meng-inbox saya.

Waduh… saya lumayan khawatir juga, jangan-jangan saya turut menyebabkan kesalahpahaman ini, mungkin lewat tulisan di blog ini atau status-status serta note di facebook. Jadi saya pikir enggak ada salahnya pendapat saya tentang hal tersebut saya muat ulang di sini. Sekaligus sebagai klarifikasi, jangan-jangan saya pernah salah menulis atau menuliskan dengan “kurang jelas” sehingga menimbulkan pemahaman yang salah di kalangan teman-teman pelaku food combining. Inilah pendapat saya:

(Mungkin yang masih rada asing dengan food combining, bisa baca tulisan ini: Menu Food Combining)

Kurma itu buah tho ya? Jadi kalau dalam bentuk segarnya ya, menurut saya sama sekali enggak ada masalah. Perlakukan saja sebagaimana food combining memperlakukan buah. Dimakan sebagai sarapan atau kudapan sore dalam perut betul-betul sudah kosong.

Bagaimana keringnya? Nah, disini yang harus memilih. Kabarnya kurma kering yang beredar banyak yg mengandung gula. (catatan: gula putih atau gula pasir, maksud saya). Tapi ini bukan berarti semua kurma kering itu mengandung gula lhoo…

Kalau saya pribadi, memandang kurma moderate saja ya. Saya percaya, Rasul menyarankannya karena ada manfaatnya. Tapi… tetap keberpihakan pada produk lokal itu tetap ada. Jadi saya mengonsumsi kurma sesekali saja. Amunisi utama tetap buah, sayur, bebijian lokal Indonesia.

Oya, soal madu. Saya juga mengkonsumsi seperlunya. Kadang dalam bentuk dressing. Atau kalau pas pengen banget minum manis. Dalam hal madu, juga yang perlu diperhatikan adalah, dia asli atau enggak? Raw atau enggak? Karena saya punya teman terpercaya yang menyediakan madu, jadi enggak kuatir madunya aspal.  Gitu aja. Kalau ada teman pelaku FC lain yang berbeda pandangan, ya itu wajar. Jangan cari perbedaan, cari persamaannya saja. Karena sudut pandang setiap orang 

Tambahan dari Mbak Eti:
Perlu diperjelas lagi nih! Kurma mengandung gula. Itu pasti. Baik kurma segar maupun kurma kering. Tidak ada kurma yang tidak mengandung gula. Makanya rasanya manis. Tapian tentu saja gula alami. Yang dimaksud di atas pasti gula pasir yang ditambahkan, kan? Dan memang kurma kering rasa manisnya lebih berasa dibanding kurma segar, ini terkait dengan kandungan airnya yang sdh hilang. Sebagian takut makan kerena curiga ada tambahan gula rafinasi. Oke, bagus.. kurma jenis ini memang mending dihindari. 

Sebagian lainnya takut makan karena kuatir kadar gulanya naik. Padahal kurma itu tinggi serat, Serat akan mengontrol kenaikan kadar gula dalam darah agar tidak melesat. Serat tak larut akan mengikat fruktosa dalam usus halus sehingga fruktosa yang diserap oleh dinding usus halus sudah berkurang jumlahnya. Serat larut yang ikut terserap akan memperlambat perubahan fruktosa menjadi glukosa (di hati) sebelum glukosa hasil perubahan tsb masuk ke darah untuk dikirim ke jantung (dulu) yang akhirnya dipompa ke seluruh tubuh oleh jantung. Selama tidak makan berlebihan tidak masalah. 

Kurma adalah salah satu buah yg disebut dalam Al-quran, yang tentunya ditujukan untuk semua manusia dimanapun berada. Itu sebabnya, meski tidak dalam bentuk segar, kurma kering layak dikonsumsi bahkan hingga berbulan-bulan hingga bisa pergi jauh kemana-mana agar bs dimakan oleh siapapun dan dimanapun.
 

Nah, jadi begitu yaa pendapat saya dan Mbak Eti soal kurma dan madu. Semoga para pemula food combining tidak bingung lagi.

 

2 comments

Leave a Reply