Tanya Jawab Food Combining: Food Combining Untuk Anak, Amankah?

food combining

Sejak awal sekali saya mulai menulis tentang food combining, pertanyaan ini sering muncul. Meski nyatanya sudah banyak teman-teman food combiner yang juga menerapkan pola makan ini terhadap seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak, masih ada hal yang menjadi kekhawatiran tentang food combining untuk anak, salah satunya yang disampaikan teman saya, Avizena Zen, beberapa waktu lalu.

food-combining-untuk-anak

Tanya: bagaimana penerapan food combining untuk anak-anak? Bukankan food combining sendiri masih kontroversi, lebih-lebih penerapan pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Mereka butuh kalsium tapi nggak boleh minum susu. Butuh protein tapi kalau makan hewani tidak boleh dicampur karbo.
 
Jawab:
Pertanyaannya sangat wajar menurut saya. Khas tipikal ibu-ibu yang memiliki kekhawatiran terhadap tumbuh kembang putra-putrinya. Pertama, yang ingin saya luruskan adalah: Food combining kan TIDAK melarang konsumsi protein hewani, berbeda dengan vegetarian atau vegan. Artinya, anak-anak yang diberikan pola makan food combining, masih tetap mendapatkan protein hewani, bedanya hanya soal kombinasi dan waktunya saja. Nah, sebenarnya di sini apa yang perlu dikhawatirkan?


Kedua, kalaupun dalam FC protein hewani disarankan tetap dikonsumsi secara bijak, artinya tetap dibatasi jumlahnya, toh, anak-anak sudah memperoleh sesuai yang dibutuhkan. Karena faktanya, manusia bahkan anak-anak sekalipun tidak membutuhkan protein hewani sebanyak yang kita kira. Contohnya, jangan jauh-jauh, anak-anak saya sendiri. Mereka belum tentu seminggu sekali minum susu, mereka juga hanya beberapa kali dalam seminggu makan protein hewani, saat ini pertumbuhannya bagus kok. Mereka tumbuh tinggi (tidak kontet seperti kepercayaan orang-orang jika anak kurang protein hewani/susu), kedua anak saya bahkan dari tingginya termasuk lebih dibanding kawan-kawan sekelas/seumurannya. Bahkan, yang vegan/vegetarian sekalipun, jika melakukan dengan benar (artinya memperhatikan variasi makanan serta kebutuhan setiap unsur), anak-anaknya juga tumbuh sehat, bahkan lebih jarang sakit daripada anak-anak yang diberikan pola makan pada umumnya.


Terkadang ada yang khawatir untuk menjalankan FC karena dalam pola makan ini tidak semua komponen dimakan dalam satu waktu. Pagi, misalnya, hanya buah saja. Protein hewani hanya dengan sayur saja atau sedikit tambahan protein nabati tanpa karbohidrat. Sebagian khawatir akan kecukupan nutrisi yang bisa dipenuhi dengan cara begini. Pertanyaannya adalah: apakah memang semua unsur makanan harus dimakan dalam satu waktu? Bukankah semua unsur tersebut, baik karbohidrat, lemak, protein dll, semua dipecah terlebih dahulu baru bisa dipergunakan oleh tubuh? Jadi mengapa begitu khawatir hanya karena TIDAK makan mengikuti kebiasaan complete meal?


Lalu ada kekhawatiran begini: “Butuh kalsium tapi tidak boleh minum susu”. Apakah sumber kalsium terbaik adalah susu? Betulkah hanya susu yang bisa memenuhi kebutuhan kalsium anak? Coba cek di tulisan yang ini:  Susu Dalam Pandangan Food Combining


Nah, seperti itu kira-kira jawaban saya untuk pertanyaan ini. Namun, disamping itu, menerapkan FC untuk anak-anak tentunya butuh strategi tersendiri. Kalau yang saya pegang sih, “jangan kaku”. Namanya juga anak-anak, sesekali mereka bosan, sesekali mereka tergiur sarapan nasi goreng bertabur sosis seperti yang dimakan teman-temannya. Kalau untuk anak-anak saya, biasanya saya bolehkan saja, tentu setelah terlebh dahulu saya sampaikan risikonya, dan bernegosiasi, mana tahu masih mau mereka menunda bahkan membatalkan keinginannya.

Semoga jawaban saya bisa membantu.

Salam Hangat,

 

WY
 

4 comments

  1. Susan says:

    Mba Wid, emang tantangan banget bikin anak jadi doyan sayur dan buah. Tapi saya yakin kalau orang tuanya membulatkan tekad pasti bisa, tentu saja dengan teladan ya kan…

    Seneng baca artikel begini, jadi tambah pinter saya 🙂

Leave a Reply