Susu dalam Pandangan Food Combining

Share

susu dalam food combining

Susu Dalam Pandangan Food Combining — Tulisan ini saya buat sama sekali tanpa bermaksud memperpanjang daftar war-war an di dunia maya. Jadi semoga jangan ada yang baper-an saat baca tulisan ini. Tulisan ini saya buat sangat lama, setelah membaca banyak literatur dan mengkaji ulang apa yang sudah saya dan keluarga alami. Bahkan mungkin inilah tulisan yang paling lama proses ngedraftnya. Sepanjang drafting yang udah setahunan ini, saya berkali-kali bolak-balik berbagai referensi terpercaya.

Ini karena saya ingin semua info di dalamnya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Dan please, tidak ada perdebatan dalam kolom komen ya. Cocok, silakan diambil, alhamdulillah. Enggak cocok, silakan buang. Anggap saja angin lalu. Saya tidak ingin berdebat hanya soal “makan apa” atau “tidak makan apa”. “minum apa” atau “tidak minum” apa. Soal agama saja yang demikian pentingnya (menyangkut surga – neraka) kita diperintahkan-Nya lakum dinukum wal yadin, apalagi “cuma” urusan isi perut. Ha..ha.. peace…peace…

Draf ini sebenarnya sudah lama tersimpan dalam laptop, hanya menunggu saat tepat untuk menyelesaikannya. Kebetulan beberapa waktu lalu (udah lama banget sebenarnya) saya mendapat colekan dari Emak cantik Fenny Ferawati yang menanyakan soal kenapa kesannya menghindari bahkan terkesan “mengharamkan” susu dan protein hewani. Pertanyaan yang sering sekali saya dengar. Bahkan banyak teman menyatakan, “aku pengen food combining, Cuma kalau FC nggak boleh susu ya? Wah… nggak bisa!

Oke… ini dia penjelasan dari pertanyaan yang mungkin ada di benak banyak teman tentang susu dalam pandangan food combining.

Baca Juga:

Menu Food Combining

Peminum Susu Yang Fanatik

Iya, saya! Dulunya, sih. Tepatnya sebelum saya kenal food combining. Padahal masa kecil saya jarang minum susu, maklum anak PNS, he..he… kami hanya minum susu kalau pas dapat bingkisan lebaran atau pas ada kerabat datang membawa buah tangan berupa susu kental manis. Haahhhayyy… zaman baheula geetoh!

susu dalam food combining

Susu Coklat Kesukaan …. Duluuuuu

Saat SMA, mulai lebih sering minum susu, terutama susu coklat. Rasanya, kalau capek dikit, langsung penyelamatnya itu susu. Lebih-lebih ketika kost karena kuliah di ITS. Ibu saya juga kalau telepon sering mengingatkan, “minum susu ya!” dalam pandangan beliau, anaknya di rantau akan sehat kalau rajin minum susu.

Tahu kan, anak teknik kalau sudah bergumul dengan tugas, kayak apa hebohnya? Beuhh… kadang 3 hari 3 malam tidak tidur (secara khusus), tetapi tertidur tepat di atas kertas gambar. Ha..haa.. Nah, saat itu andalannya ya, susu. Padahal ya termasuk jenis mahasiswa kere, tapi bela-belain beli susu. Rasanya kalau udah minum susu, apalagi yang ada embel-embelnya “low fat” atau high calcium, itu sepertinya sudah brasa bakal tahesss! Faktanya? Anemia ya teuteeep sesekali, nggleyang-nggeleyang kadang-kadang, maag juga, batuk pilek radang tenggorokan? Seriiiing! Alhamdulillah yaaa… enggak sampe tipes gitu.

Baca Juga: Food Combining Untuk Anak Kos

Setelah bekerja dan berpenghasilan sendiri, tambah menjadi-jadi kebiasaan minum susu. Lebih-lebih ketika hamil. Cocok dong, ibu hamil kan kata iklan disuruh minum susu. Ya udah, jadi semacam dukungan untuk terus dan terus minum susu. Apalagi, susu bumil yang rasa coklat itu, rasanya enak bok! Enggak cukup hanya dalam bentuk minuman susu hangat. Susu juga sering saya konsumsi dalam bentuk es krim. Alesan yang ngidam lah, si jabang bayi pengenlah, jadi sering-sering minta beli es krim.

susu dalam food combining

Es Krim, Susu Dalam Wujud Berbeda

Sehatkah saya? Tidak begitu, tapi alhamdulillah setidaknya saya masih bisa melahirkan bayi sehat secara normal. Tapii…. Saat hamil itu pula, baru ketahuan, ada kista lumayan besar di rahim saya. Dan… saat hamil anak pertama ini, mulailah saya didera alergi. Pilek sepanjang waktu, sampai saya bingung, apa ya penyebabnya? Kondisi ini memburuk setelah saya melahirkan anak kedua. Mulai bronchitis, infeksi saluran kencing, ambeien, sering radang tenggorokan dan batuk alergi yang sering merampas waktu produktif saya.

Setelah punya anak, memang saya menyusui keduanya. Anak pertama menyusu hanya sampai 13 bulan, karena saya kemudian hamil anak kedua, dan mungkin kondisi saya tidak mendukung untuk dapat mengandung sekaligus menyusui dalam saat bersamaan. Kak Asa saat 13 bulan, tiba-tiba saja menolak diberi ASI.

Lepas dari ASI, anak-anak saya beri susu formula. Saat susah makan, seperti kebanyakan orang tua, susu jadi andalan. Menganggap, kalau sudah minum susu, maka nutrisi anak udah aman! Itulah kesalahan saya saat itu. Anak-anak terbilang ringkih, meski alhamdulillah sakitnya hanya seputar batuk pilek. Dik Raniah, anak kedua bahkan pernah menderita diare berkepanjangan. Saya sendiri-berhenti ? Alergi makin parah. Bukan lagi hanya bersin dan hidung meler. Tapi dari hari ke hari ditambah lagi dengan mata gatal saat udara mulai dingin. Batuk hebat dan tak berhenti

Seiring makin meleknya untuk urusan kesehatan, saat usia TK kedua anak saya hentikan minum susu nya. Sesekali saja saya berikan UHT, untuk “hiburan”. Anak-anak saya kondisikan untuk lebih banyak menyantap makanan padat. Hingga saat ini, si sulung 11 tahun dan adiknya 9 tahun, mereka hanya minum susu UHT paling 1 atau 2 kali dalam sebulan. Alhamdulillah mereka sehat, cerdas dan ceria. Sakit ringan paling batuk pilek hanya 2-3 kali dalam setahun. Dan biasanya hanya saya berikan makanan lebih berkualitas, tanpa obat. Lalu sembuh dengan sendirinya. Saya sungguh bersyukur melihat mereka sehat.

Baca: Pro Kontra Food Combining

Mengapa Susu?

Ada apa dengan susu? Mengapa food combining kesannya sangat menghindari konsumsi susu (dan turunannya)? Sungguh pandangan yang antimainstream. Saat orang-orang berlomba untuk bisa mengkonsumsi susu, produsen juga berlomba menggaet konsumen dan bahkan tingginya angka konsumsi susu sampai dijadikan ukuran “kemajuan” suatu masyarakat, ternyata ada kalangan yang justru sangat membatasi susu.

Halooo apa kabar saya, orang yang dulunya penikmat fanatik susu, lalu kemudian menerapkan food combining? Fine! Saya baik-baik saja. Makin sehat tanpa susu. Tanpa sedikitpun kesulitan untuk move on dari susu. Well, memang saya tidak berpantang, toh sesekali saat cheating saya masih menikmati susu dalam bentuk es krim atau es campur dan teman-temannya. Meski itu sangat jarang, belum tentu sebulan sekali. Saya sudah tidak menginginkan lagi minum segelas susu coklat hangat, yang dulu saya agung-agungkan sebagai penyelamat di kala drop. Semua baik-baik saja dan bahkan makin baik tanpa susu.

Mengapa bisa begitu? Salah satu penjelasan yang sangat mencerahkan soal yang satu ini, saya dapatkan dari buku Hiromy Shinya. Ijinkan saya bercerita agak panjang tentang isi buku ini pada bagian yang menyangkut susu. Tetapi sebelumnya saya akan sedikit meringkas  hal-hal penting tentang tinjauan susu dalam kacamata seorang Food Combining Guru di Indonesia, siap lagi kalau bukan Ibu Andang Gunawan.

  1. Susu Dalam Pandangan Food Combining

Jika penasaran dengan bagaimana susu dalam pandangan food combining, paling mudah lihatlah buku Ibu Andang Gunawan, Food Combining Guru nya Indonesia. Dalam buku beliau, Food Combining Kombinasi Makanan Serasi, yang menjadi acuan hampir semua food combiner di tanah air (termasuk saya), disebutkan bahwa: meskipun bergizi, struktur molekul gizi susu sapi tidak cocok bagi pencernaan manusia. Komposisi protein, lemak dan karbohidrat dalam susu sapi hampir sama besar (ada 3 unsur gizi dominan). Beda dengan ASI yang hanya karbo nya saja yang dominan.bahkan kadar kasein (bentuk protein yg kental dan kasar) dalam susu sapi 3 kali lipat dari kasein pada ASI! Ini terlalu berat untuk pencernaan manusia.

Fakta lain yang diungkap Ibu Andang, bahwa setengah populasi manusia di dunia ternyata tidak memproduksi enzim untuk mencerna laktosa, sejak usia muda, bahkan ada yang sejak lahir. Sering dengar istilah lactose intolerant kan?

Nah, bagaimana dengan Kalsium? Substansi ini kan yang sering menjadikan susu digadang-gadang sebagai minuman untuk kesehatan? Penjelasannya begini, kalsium dalam susu sapi memang tinggi segelas susu sapi mengandung 300 mg kalsium. Penyerapan kalsium memerlukan protein, tetapi yang diperlukan manusia tidak sebanyak itu . Berlebihnya protein justru meningkatkan keasaman tubuh dan kalsium hancur dalam keasaman tinggi.

  1. Pengalaman Keluarga Dokter Shinya

Hiromy Shinya, dalam bukunya bercerita tentang pengalaman keluarganya dengan susu. Putra dan putrinya sempat mengalami gangguan kesehatan berkepanjangan saat bayi. Di ceritakan, putrinya mendapatkan susu formula bayi yang terbuat dari susu sapi karena sang ibu tidak dalam kondisi fit untuk menyusui. Nah, si bayi ini kemudian mengalami ruam dan gatal di sekujur tubuhnya. Lalu lahirlah kemudian bayi lelaki yang juga diberikan susu formula, sama dengan kakaknya. Nah, si adik ini kemudian mengalami peradangan pada usus besarnya (kolitis ulserativa).

Shinya terpukul, karena sebagai seorang dokter tak dapat menyembuhkan putra-putrinya sendiri, begitu pula dengan istrinya (yang kemudian diceritakan ternyata menderita lupus). Lalu beliau berupaya mencari penyebabnya, membanding-bandingkan kondisi di Jepang dan di Amerika. Karena menurut beliau di Jepang belum pernah melihat bayi mengalami hal serupa. Lalu dia berpikir mungkin penyebabnya adalah susu yang dikonsumsi, karena di Jepang konsumsi susu tidaklah banyak. Maka pemberian susu dihentikan dan ternyata si bayi lalu segera membaik.

  1. Raut Usus Peminum Susu

Bagi saya, inilah fakta yang tak terbantahkan. Sungguh-sungguh meyakinkan. Foto-foto raut usus para peminum susu yang sungguh memprihatinkan kondisinya, menurut saya sudah lebih dari cukup untuk membuat saya berhenti menjadikan susu minuman kesehatan atau minuman yang dikonsumsi rutin. Cukup… cukup sudah saya mendzolimi pencernaan (dan keseluruhan tubuh) saya dengan substansi yang ternyata tak sebaik yang saya duga. Cukup sudah saya  “memaksakan” diri membeli sesuatu yang saya pikir sehat, ternyata sebaliknya.

Lho? Nggak nyunnah banget! Mungkin akan ada banyak orang yang men-judge demikian. Tapi biarlah. Toh dalam hal susu, saya tidak “mengharamkan”. Sesekali masih saya konsumsi saat cheating. Lagi pula, saya juga sudah berkonsultasi pada seorang teman yang bisa disebut ustadzah. Katanya, peternakan zaman rasulullah dengan saat ini sungguh beda. Dari bagaimana kambing (masa itu susu kambing) itu diternakkan sampai dikonsumsi, berbeda jauh dengan praktik peternakan populer masa kini. Makanan ternak masa itu, hanya hijauan berkualitas. Sekarang? Sedangkan cara mengkonsumsinya juga beda. Dulu susu diminum dalam kondisi segarnya. Sekarang? Rasanya saya tak perlu lagi bercerita, betapa panjang proses dari pemerahan hingga siap kita minum yang dialami susu masa kini. Dan… siapa bisa menjamin, susu bubuk bahkan UHT sekalipun bebas dari bahan aditif? Apalagi yang sudah ada embel-embelnya “rasa coklat”, “rasa stroberi” ?

  1. Susu dan Soal Oksidasi

Dalam buku best sellernya The Miracle Of Enzyme, Shinya menyebut susu sebagai makanan yang paling mudah teroksidasi setelah minyak. Susu, di sini yang dimaksud adalah susu prosesan yang biasa kita temui di toko. Selain itu disebutkan bahwa susu telah kehilangan seluruh sifat baiknya sepanjang proses pengolahannya. Nah lo!

Memangnya ada apa dengan makanan teroksidasi? Kenapa kesannya jadi menakutkan begitu? Di halaman 124 buku tersebut, Shinya menulis bahwa “tubuh akan teroksidasi jika terus menyantap makanan teroksidasi”. Radikal bebas terbentuk ketika makanan teroksidasi memasuki tubuh. Radikal bebas dapat menghancurkan DNA dalam sel-sel, menyebabkan kanker dan aneka masalah kesehatan lainnya.

Memang sih, makanan teroksidasi bukan satu-satunya biang terbentuknya radikal bebas. Alkohol, tembakau, dan berbagai faktor lain juga menjadi penyebab si radikal bebas.

Nah, ada lagi penjelasan kaitan oksidasi dengan kesehatan di buku dokter Shigeo Haruyama The Miracle Of Endorphin, salah satu buku best seller juga di negaranya sono. Di halaman 191 Haruyama menulis Oksidasi = Bahaya. Nah! Senyawa teroksidasi yang termakan, akan memacu laju oksidasi di dalam tubuh.

Begini Caranya Move On!

susu dalam food combining

Jadi bagaimana dong? Kami pecinta susu, namun pengen mulai belajar hidup sehat dengan pola makan food combining, ada solusi? Pertanyaan ini sering juga muncul. Oh… tenaaaaaang…. tenaaaang teman-teman. Ada banyak jalan untuk sehat, asal serius dan bertekad kuat ya.

  1. Jangan dibeli dan jangan punya stock susu. Ya kan? Kita pasti akan terpicu untuk makan/minum apapun yang kita punya stocknya. Mungkin ini agak susah untuk yang punya anak-anak masih nyusu.
  2. Jika memang belum bisa stop total, carilah pengganti. Bisa dengan almond milk, susu kedelai (organik non GMO), dan susu-susu dari bebijian yang lain. Tapi…. teteupppp bukan minuman wajib setiap hari ya. Sesekali saja.
  3. Limpahi tubuh dengan makanan sehat. Kalau pagi ya, kalau buat food combiner wajib jeniper. Pengalaman saya di awal, minum jeniper sedikit memberikan efek tubuh tidak terlalu meminta makanan/minuman tidak sehat di pagi hari (misalnya kalau dulu saya selalu ngeteh kan)
  4. Kenyangkan perut dengan makanan sehat sesuai waktu. Kalau jam sarapan buah… ya sarapan buah. Perut kalau kenyang itu insyaallah enggak pengen macam-macam lagi kok.
  5. Hidrasi tubuh. Nah, ini juga sesuai pengalaman saya. Saat kita cukup terhidrasi, tubuh nyaman tak meminta macam-macam.
  6. Detoksifikasi. Sebenarnya, sarapan buah itu udah ada efek detoksnya. Tapi, kalau mau tubuh lebih clean lagi, (yang mana menurut pengalaman saya saat tubuh bersih kita sudah enggak lagi nagih makanan tidak sehat) ya lakukan detoksifikasi tambahan. Bisa dengan melakukan detoks buah-buahan, juice detoks, bisa juga lakukan enema kopi. Bagi saya, enema kopi sangat membantu menurunkan hasrat terhadap substansi tak sehat.

Itu saja tulisan saya kali ini tentang Susu Dalam Pandangan Food Combining. Semoga bisa menjadi tambahan informasi bagi teman-teman. Dan yang ingin ber-food combining tapi masih ngeri kalau dilarang minum susu, ng-FC aja sih. Mulai aja FC nya, nanti akan berproses makin sehat tubuhnya kan, dan pasti ke depannya juga bisa dieleminir keinginan untuk mengkonsumsi susu hewan.

Salam hangat, daan…stay healthy yaaa

WY

40 comments

  1. Ade Delina Putri says:

    Selain dasarnya ga suka susu hehe,  aku pun udah sering mengingatkan hal ini ke banyak orang. Tp rasanya memang sulit diterima sm masyarakat kita. Krn iklan susu baik pun msh berkeliaran

  2. ruli retno says:

    Sangat membuka pikiran sy yg juga fanatik susu. Ilmu baru bagi sy. Setidaknya ini sdh mulai menggoyahkan pendapat sy ttg susu.. 

    Salam kenal ya mba sbg sesama alumni ITS.. 😉

  3. Yunike says:

    Saya jg sdh pernah dengar ttg ini.., cuma blm bs move on dr susu, aplg anak2 sdg masanya susah makan. Teh & kopi…, mm.., masih tiap hari ih..
    Smoga bs sgera mnerapkn pola hidup yg lebih sehat. Thank you utk ulasannya.

  4. fanny fristhika nila says:

    jujurnya aku sih ga suka susu mbak.. tp diet ala food combining ini juga ga :D… blm bisa rutin, pdhl dr segala macem diet, ya FC ini yg paling aku suka ;).. mungkin prlu dibiasain ya supaya lama2 terbiasa… abis aku orgnya gampang tergoda kalo soal makanan ;p

    • Dilla says:

      Saya juga gak mau berdebat masalah susu. Hanya ingin memberitahukan kepada seluruh muslim di dunia bahwa ada 3 jenis minuman di syurga yg disebutkan dalam Alquran yaitu susu,madu dan jahe. Dan dalam satu hadist shohih disebutkan bahwa Rasulullah melarang kita menolak jika diberi susu.

      Silahkan di analisa pakai logika kenapa susu sampai di sebut dlm Alqur'an dan hadist.

      • wyuliandari says:

        Akhirnya muncul juga komen berbada seperti ini. He..he…

        Tampaknya ada yang luput Anda baca.

        Salam hangat dan damai

         

        PS. sayapun ingin minum susu di syurga-Nya nanti. Karena saya yakin bukan seperti susu di dunia yg mengandung aditif.

         

  5. Ade says:

    Halo mbak, postinganya mengedukasi sekali. Saya juga termasuk orang yang jarang sekali konsumsi susu. Termasuk saat hamil anak pertama pun tidak konsumsi susu karena berpikir sumber kalsium bukan hanya dari susu. Saya juga berniat akan memberikan hanya ASI saja kepada bayi saya,  tanpa sufor sedikit pun. Tapi kenyataannya berkata lain, rejeki ASI sy beda dengan mbaknya dan ibu2 normal lainnya. Minta donor sudah dilakukan, tapi gak bisa terus2an, dan akhirnya pakai juga sufor krn bingung di Indo gak ada yg jual jasa nyusuin. Tiap kali nyusuin botol selalu sedih, bahkan setiap malam sebelum tidur sering menyesali keadaan sy yg gak senormalnya ibu2 ASI. Terimakasih postinganya,  seperti kata mbak,  gak cocok ya dibuang aja. Cuma tiap kali liat postingan yg serupa, jadi selalu berpikir, jalan lain apaya yg bisa sy kasih ke bayi saya yg belom bisa makan,  selain sufor? Krn tersiksa juga, ngasih sesuatu yg kita tau buruk, tapi gak tau pilihan lain apa yg bisa di ambil. Maaf loh mbak jadi curhat lebay disini hehe

  6. Agung Nursabil says:

    Pernah dikasih info teman yang ibunya dokter, susu itu bikin pengendapan di usus malah bikin kotor pencernaan, jadi tambah yakin dengan membaca artikel ini, tapi ya tetap saja saya masih konsumsi susu. Ibarat perokok sudah tau efek negatif tetap aja ngerokok. Hehehe

  7. tutwuri says:

    saya dari kecil pecinta susu dan turunannya, keluarga saya juga begitu. bahkan dari lahir saya pun sdh minum sufor,,, ya begitulah riwayat sakit saya… selalu rutin kena tipes… hehehehe

    setelah saya kenal FC dari tahun 2013, saya stop susu alhamdulillah selalu sehat, karena saya sayang keluarga, saya jelaskan buruknya susu sapi bagi pencernaan manusia, bagaimana hasilnya? saya dibully sampai skrg… hahahaha biarlah toh niat saya baik hanya ingin semua keluarga sehat… dan saya ini di cap orang yang dietnya kenemenen (terlalu), hahaha *ketawa lagi, sekali lagi biarlah yang penting saya yang merasakan tubuh saya sehat. bahkan keluarga saya berkali-kali konsumsi obat karena sakit ini sakit itu tapi tetap tidak percaya tentang apa yang sudah mereka konsumsi itu sangat memberatkan pencernaan sehingga efeknya sakit.

    semoga lambat laun banyak generasi yang terbuka hatinya mengetaui apa yang sehat dan tidak untuk pencernaan.

     

    salam kenal bunda widya, saya juga dari surabaya.

  8. rita dewi says:

    Saya dan anak sulung saya jg sdh lama sekali stop susu. Bukan krn FC tp krn eneg aja sih hihi…. tapi anak kedua saya masih sangat tergantung sama susu. Apa apa hrs susu… m7ngkin nanti pelan2 akan saya jauhkan jg dr susu… eh tapi sebetulnya saya juga blm stop2 amat sih… kadang kadang masih suka makan es krim. Minum es reler… itu kan pake susu juga ya..

     

  9. Santi Dewi says:

    saya sempet khawatir dulu anak pertama saya gak suka susu, sampe pernah dipaksa2, karena memang saya gak tau. Yang saya tau bahwa susu itu sehat. Dan anak kedua ternyata malah doyan susu. Haduuh… jadi mulai goyah nih sama tulisan ini hehe… saya mungkin akan sedikit2 mengurangi konsumsi susu pada anak kedua saya. jadi pengganti susu, baiknya apa ya mba? jus atau smoothie? seperti banyak resep smoothie di blog mba Wid ini…

  10. Sinta says:

    Setuju bgttt mbaaa

    Sy mmg ud sgt lama ga konsumsi susu….

    Krn sy vegan dan belakangan ikut fc 

    Mudah2an bs istiqomah sll 

    Amin 

    • wyuliandari says:

      Minum susu untuk menggantikan daging? Hmm… bagi saya ini terdengar gimanaaaa gitu ya. Apa yang kita harapkan dari makan daging? Biasanya kan jawabannya protein, begitu ya. ATau ya… protein kelas premium. Sesuai anggapan kebanyakan.Andai orang tahu, bahwa tubuh justru lebih mudah menggunakanp protein nabati, rasanya tak perlu memaksakan untuk bisa makan daging, dan mencari pengganti daging ketika substansi tsb ternyata tidak disukai. Itu sih pendapat dan pengalaman saya Mbak. Saya bukan vegetarian, tapi bisa dihitung dg jari dalam sebulan (bahkan setahun) saya makan daging. 

       

      salam hangat 🙂

  11. Eko Nurhuda says:

    Saya ada pengalaman terkait sufor dan anak yang mengonsumsinya. Anak pertama saya karena satu hal tidak bisa mengonsumsi ASI lagi sejak berumur 4 bulan, jadi dilanjut sufor sampai usia 4 tahun. Saya sangat telat sekali mengetahui mengenai tidak baiknya susu bagi tubuh, jadi baru bisa stop di usia itu. Andai saja saya tahu lebih awal.

    Nah, anak kedua full ASI dari lahir sampai berusia lebih dari dua tahun. Keliatan sekali bedanya kedua anak ini. Nantilah saya ceritakan lebih lanjut dalam posting saja, hehehe…

    Anyway, tulisannya mencerahkan sekali, Teh. Saya dulu sempat beberapa bulan jalani food combining, tapi terus berantakan dan kok ya susah sekali mau mulai disiplin lagi. Duh.

  12. Zaenudin says:

    lengkap sekali mba pembahasannya, apalagi soal susu sapi,saya jadi lebih tahu alasannya kenapa. sebagai seorang pecinta susu,saya akan coba move on. hehe  Makasih mba

  13. Elisamonic says:

    Selalu seru kalo baca postingan dirimu mbak, fyi saya food combiner yg masih level abal. Maksudnya yang baru bisa nerapin sarapan buah dan jeniper doang, siang dan malamnya makannya masih nyampur2 seperti nasi sama ayam gitu haha. efek nyata dari cuman makan buah sebagai ganti sarapan, sariawan saya cepet banget sembuhnya, banget.

    Mengenai susu, saya pernah jga baca ini di salah satu blog, mereka jg mengacu ke buku the miracle of enzym itu. 

    tapi almond milk masih ditolerir toh ya?

  14. Ophi Ziadah says:

    aku sih mudah move on dr susu dan turunannya mba…meski sekali2 cheating saat anak2 ngeskrim dan sejnisnya.

    tp buat ngurangi dr anak2 yang susah nih

    sempet ganti yg kedelai asli dr penual tahu home amde…tp krn ga sedia setiap saat akhirnya tetep msh nyetok UHT. tp emamng gak seheboh dulu.

     

  15. Aty says:

    Alhamdulillah sejak dulu saya kurang suka sm Susu paling klo susu murni itu pun jarang, awalnya saya takut krn ada informasi bahwa klo tdk suka susu nanti tua terkena osteo. Seiring dengan pengetahuan saya sekarang semakin mantap utk tdk minum susu.

     

  16. intanrawits says:

    waduh susu dan.turunannya? berarti keju dan yoghurt jg dong mb?kalau susu sih insyallah g terlalu fanatik, tp sy sering bgt konsumsi yoghurt sama keju😰

    Sebenarnya udah lama banget saya mantengin pola makan sehat ala FC ni mb dan agaknya yg plg.cocok.dengan saya, tapiii yaa ituu yang bs bertahan cm sarapan buah eksklusif aja mpe siang, habis tu makan siangx msh susah misahin prothew dan karbo alias nasinya. Hiks'pernsh sih bertahan FC konsisten tp cm dua minggu aja hbs tu balik lg k pola makan biasa, hikss

  17. herva yulyanti says:

    Untunglah keluarga kecilku bukan fanatik susu, walaupun terkadang pengen minum. Ada stock juga jarang-jarang. Nice info mba suer baru tahu banget tentang ini hehehehe….Semoga sehat sll mba n keluarga 🙂

  18. Hana says:

    Ya kalau ASI tdk produksi,  jasa menyusui tdk ada, sedangkan donor ASI (wah, jangan deh, menurut agama saya, saudara sesusuan itu muhrim, lha ini donornya dari mana kan tidak jelas) ya Bismillah, pake sufor tidak apa-apa. Kalau adik saya dulu karena sufor tidak mau, ya sudah, diberi makanan lumat dan air putih. Jadi beda sih dengan saya yang full ASI (hanya  tinggi badan dan kehalusan kulit saja, kecerdasan, kecantikan, dan warna kulit sama saja). Seperti firman Allah, Makan dan minumlah yang BAIK dan halal bagimu sekalian, asal tidak "MELAMPAUI BATAS", sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang "melampaui batas'.

    • wyuliandari says:

      Terserah pendapat masing-masing Mbak Hana. Saya katakan di atas, saya tidak ingin berdebat dalam hal ini saya hanya mengemukakan fakta dan pengalaman saya PRIBADI dengan tambahan referensi literatur. Dalam tulisan di atas, saya samasekali tidak menulis bahwa saya MEMUSUHI sufor. Dalam kondisi tertentu, bisa saja sufor jadi pilihan. Lagipula dimana dalam tulisan saya yang menyarankan DONOR ASI? Wah… ini sudah out of topic. Saya nggak tahu apa mbak berkomentar sudah mambaca keseluruhan baik-baik. 

      Terimakasih sudah mampir

  19. Dessy says:

    Salam kenal Mba, saya juga sudah meninggalkan susu satu tahun lebih dan baik-baik saja. Termasuk eskrim dan snack yang mengandung susu. Terimakasih artikelnya membuat semakin mantap 🙂 salam sehat Mba, resep2nya ditunggu lagi

  20. Yuni says:

    2013 saya sakit gerd, setahun sembuh tanpa ke dokter, menahan sakit dengan pola makan pantang gorengan dan cabe, 3x seminggu, jadwal makan teratur serta makan lidah buaya mentah yang sudah dipotong dan dicuci bersih, disertai senam ringan 3x seminggu. Akhir tahun 2016 kambuh lagi, cukup parah, sekarang lumayan baikan. Mulai mencontoh fc sejak desember 2016, walaupun kadang malas jeniper, dan cheating prothew 2x sminggu. Leher pegal dan kaku yang dirasakan sejak september 2016 sudah hilang setelah puasa ramadhan 2017, Setelah saya ingat ingat tahun 2012 saya rutin minum yogurt untuk menghilangan bau mulut. Bau tidak hilang malah sakit parah. Sakit 2013 saya stop yogurt, karena harganya yang mahal bukan karena saya tahu itu salah satu penyebab gerd. Tahun 2016 saya rutin minum susu full krim, sehari bisa 4 gelas, tujuannya untuk menaikkan berat badan, 4 bulan minum susu berat badan naik jadi ideal, tapi sakit tengkuk, hidung tersumbat, bisul di wajah, mulut tambah bau dan akhirnya gerd kambuh. Selain kebanyakan minum susu. Saya juga terlalu kelebihan olahraga berat. Squat 3 x seminggu dgn repetisi banyak. Tidak tahan dengan sakit gerd, saya mencoba FC, sambil belajar dan memahami, walau masih sering cheating. Tapi benar benar stop susu dan turunannya. Teh dan kopi memang saya nggak suka. Meski sakit, tapi masih bisa beraktifitas hampir normal. Bau mulut sekarang hilang, nafas segar walaupun puasa, karena hanya sahur buah. Sekarang memang kurus, bahkan lebih kurus dari sebelum minum susu, tapi badan bertenaga dan segar. Sakit kepala muncul jika sering makan prothew, atau karna malas bergerak. Kurus sekarang saya anggap pembuangan toksin, entar bisa nambah lagi, lagian fc saya masih abal abal dan baru beberapa bulan.

Leave a Reply