Sakit, Pola Makan Dan Mental 

Share

pola makan dan penyakit

Ketika mendapat kesempatan ngobrol santai dengan seorang dokter spesialis yang sangat tersohor di daerah saya, saya sempat kaget. Beliau mengatakan hanya sekitar 20 -an persen saja pasien yang bisa benar-benar sembuh, sisanya? Sebenarnya makin memburuk kondisinya dari hari ke hari. Apa pasal?

Pola Makan Sangat Penting
Yang 80 persen tak bisa (atau tak mau?) mengatur pola makan. Belakangan ini, saya sering mendapatkan pengalaman yang senada dengan perkataan dokter tersebut. Bisnis saya di bidang obat-obatan herbal, membawa saya berkontak dengan banyak penderita berbagai penyakit serius. Nah, pada saat menanganinya, saya tidak sekadar memberikan advis tentang dosis obat dan bagaimana mengkonsumsinya. Selalu saya pesankan kepada para kastemer untuk memperbaiki pola makan.

Food Combining, bagi kebanyakan mereka terlalu ndakik. Sulit! Jadi saya pesankan, setidaknya mereka melimpahi tubuh dengan buah dan sayur, memilih karbo, lemak dan protein yang baik dan menghindari makanan prosesan, teh-kopi dan gula. Bisa melakukan itu saja, bagi saya sudah cukup bagus.

Teman-teman bisa membaca pula tulisan tentang food combining:

Menu Food Combining

Pro Kontra Food Combining

Lalu apa reaksi mereka? Lebih dari 80 persen biasanya lalu bertanya, “apa pantangan makan saya?” well, sebenarnya saya sangat tidak suka mengatakan bahwa ini adalah pantangan, itu adalah pantangan. Saya ingin sekali menumbuhkan pemikiran mereka bahwa “ ini lo pilihan makanan yang sehat bagi saya”. Yang kedua ini, menurut saya akan lebih nyaman di lakukan. Jika sesuatu dilakukan sebagai pilihan yang diambil dengan sadar, bukankan akan enjoy menikmatinya?

Lalu Saya Hanya Boleh Makan Apa?
Rupanya, mindset bahwa kalau sakit ini pantang makan ini, sakit itu pantang makan itu, sudah sangat tertanam di masyarakat kita. Hasilnya? Mereka merasa tersiksa. Seolah-olah kondisi sakit sudah menghukum meraka, memisahkan mereka dari makanan-makanan enak kegemaran. Trus, saya cuma boleh makan apa? Begitu pertanyaan mereka umumnya. Atau mungkin lebih tepatnya bertanya setengah mengeluh.

Meski di awal saya selalu mengatakan, ubah pola makan, pilih pola makan sehat, rata-rata jarang yang melakukan dengan enjoy. Ada yang sangat patuh dengan anjuran pola makan yang saya berikan, tapi ya itu, melakukannya bukan dengan senang hati. Hasilnya? Ya progres penyembuhannya lambat.

Tambah Saja Dosis Obat Saya!
Yang lebih eksrim lagi adalah, ada juga kastemer yang dengan santainya minta dosis obat yang lebih besar. “lebih baik ibu suruh saya makan obat lebih banyak, nggak papa. Daripada Ibu suruh saya atur makan”, begitu kira-kira katanya. Saya sih senyum-senyum saja. Dalam hati, saya berkata, kalau Anda makan obat lebih banyak, yang untung ya saya Pak. Lha wong dia akan beli obat lebih banyak, iya kan? Cuma apakah saya akan mengambil pilihan ini? Jelas tidak.

Obat, bagi saya tetaplah upaya kuratif. Baik itu obat kimia buatan maupun obat herbal. Keduanya sama-sama upaya kuratif saja. Pola makan sangat penting untuk menciptakan kondisi dimana obat bisa bekerja dengan baik.
Minum obat baik dan mahal seperti apapun, jika makannya masih ugal-ugalan, rasanya percuma saja. Sama halnya  kita membersihkan kaca dengan lap kotor. Alih-alih kinclong, kaca malah ikut kotor dan buram.

Masih Sempat Pilih-Pilih Makan
Ada juga kastemer yang mengeluh, “aduh! Saya enggak suka sayur!”  dan semacamnya. Sayang sekali, saya tidak bisa memberikan saran yang mungkin bisa menyenangkannya. Saya selalu katakan, “sayangnya tidak ada pilihan lain”. Sayur, buah, itu komponen penting untuk sehat. Jadi kalau mau sembuh ya perbaiki mindset, yakinkan diri bahwa sayur dan buah adalah makanan yang bisa bikin Anda sembuh dan sehat. Yakinkan diri bahwa makanan apa yang Anda pilih dan bagaimana Anda makan adalah sama dengan nasib hidup Anda selanjutnya. Selebihnya hanya soal teknis, cari cara bagaimana agar mulai bisa belajar makan sayur. Mulai dari sayur yang paling bisa diterima lidah Anda, siasati cara penyajiannya, dsb. Banyak… sebenarnya baaanyak cara. Tapi tetap yang terpenting adalah mindset kan?

Baca Juga:

Cara Enak Makan Raw Veggies

Biarpun saya berulangkali katakan, “hey, ada cara untuk bisa bikin smoothie enak!”. “Ini lo cara bikin jus sayur yang enak”, dan lain sebagainya yang sudah pernah saya tulis di blog ini, tapi kalau mindset belum mendukung. Tetap saja yang saya bilang enak itu akan sangat menyiksa di lidah Anda.

Suatu saat saya membaca status Mbak Arie Primadewi, teman survivor kanker yang  sangat menginspirasi memenurut saya. Beliau menulis, kira-kira begini:
Bahwa kondisi sakit itu adalah buah kesalahannya memperlakukan tubuh di masa lalu. Ketika kemudian masih diberikan kesempatan (survive) beliau sudah sangat bersyukur. Jadi sudah tidak ada lagi keinginan untuk memilih-milih makanan. Yang baik untuk tubuh, ya dimakan dengan penuh kesadaran. Sudah enggak lagi mikir, saya enggak suka ini saya enggak suka itu, dsb.

Nah, seperti itulah. Jadi makan sehat dengan penuh kesadaran. Dinikmati sebagai proses tubuh mencapai sembuh dan sehat. Lalu tak lupa disyukuri, bahwa dalam kondisi sakit yang sebenarnya juga diakibatkan kesalahan kita menjaga sehat, masih diberikan Tuhan kesempatan memperbaikinya. Jadi sampai di sini, saya sangat meyakini, bahwa dalam proses penyembuhan, mestinya persoalan mental perlu mendapat perhatian.

Jadi teman-teman, yuk makan sehat dengan enjoy ya! Nikmati makanan sehatmu!
Salam sehat

19 comments

  1. Pakde Cholik says:

    Makanan yang satu bagus untuk A ternyata kurang bagus untuk si B ya. 

    Karena jenis makanan banyak sekali maka jika makanan X bisa menjadikan kita sakit ya sebaiknya dihindari. Kacang-kacangan memang nggak bagus untuk penderita asam urat, misalnya.

    Terima kasih tipnya

    Salam hangat dari Surabaya

  2. Rosanna Simanjuntak says:

    Aku paling suka cap ratu!

    Hahaha…

    Kalau aku kebetulan demen sayur, buah dan minum air putih.

    Santan dan daging kurang suka.

    Terus… doyan bercanda.

    Yaa lumayanlah, masih dikira kepala 3 

    Hahahaha…

  3. Ratna Dewi says:

    Wah ini nih, aku juga suka gemes sama orang yang sakit tapi setelah sembuh nggak mau memperbaiki pola makan dan pola hidup. Sakit kayak stroke atau diabet nggak pilih-pilih, bukan juga bisa disebut sakitnya orang kaya karena sekarang bahkan orang-orang kampung pun banyak yang stroke atau kolesterol. Kalo udah sakit aja baru deh bingung sendiri. Tapi ada juga yang udah sakit tetep ngeyel dan tawar menawar makanan. Susah memang kalo mindset nggak diubah.

    • wyuliandari says:

      Waduhh … Mas Iqbal. maapkeuuun. Tanpa bermaksud menyindir sesiapapun. Ini murni pengalaman menangani kastemer saya di bisnis obat herbal yg saya lakoni. Dirimu sehat ya! Harus sembuh!

  4. Khairiah says:

    Betul banget tuh mbak, aku jd ingat  sama buku revolusi makan, disana dblng, orang2 terutama wanita sibuk olahraga ini itu,facial ini itu agar terlihat menarik dan cantik pdhal cntk ,menarik seseorang tergantung pada ususnya, seringkali kita makan yg kita suka dan hanya membuat usus kotor tanpa mendapat manfaat bg tubuh

  5. intanrawits says:

    Terimakasih infonya ya mb, walau blm sakit tp sy mau menjaga pola makan supaya bs mencegah penyakit2 dtg. Skrg rutin FC badan udah agak enak and enteng, memang pola makan harus diatur sendiri untuk kesehatan. So kalau orang2 itu g mw atur pola makannx ya wes resiko to mb..tp susah emang apalagi kl ngmongn ke org2 terdekat qt.

  6. Abu Kuya Hejo says:

    emang butuh perjuangan bgt buat hidup sehat.. ninggalin jajanan favorit lah, mulai dari es pisang ijo, seblak, baso, mi ayam, nasgor, dll.. tapi setelah sukses sebulan aja dlu, beuh efeknya kerasa bgt

  7. Eni Rahayu says:

    Alhamdulillah saya sudah hampir tidak pernah minum obat lagi sejak tahu bahwa buah dan sayur adalah obat alami, eh tapi lho mbak dokter yg bilang kalau sakit ini jangan makan ini dan itu. Ah , beberapa dokter memang sering bikin saya banyak bertanya… Kok mereka ada yang sampai gak kenal pola makan sehat sih? hehehe

Leave a Reply