Lebih Dekat Dengan Eti Widayati, Ahli Gizi Yang Pro Food Combining

food combining
 
Banyak sekali yang mengeluh pada saya, “susah banget mbak, ngajak keluarga ber-food combining”. Iya, saya tahu banget. Saya juga pernah merasakannya. Susahnya kalau sudah sampai ke tahap sakit, apalagi sakit serius. Teman-teman yang sudah ber FC pasti sangat ingin mengajak keluarga yang sakit untuk ikut ber FB. 
 
Tapi… niat ini memang seringkali harus berbenturan dengan ujian berat, misalnya masih belum familiarnya masyarakat kita dengan FC. Dalam kondisi begini, paling aman memang meminta bantuan ahlinya untuk menjelaskan food combining kepada orang tersayang kita. Sayangnya, belum banyak dokter atau ahli gizi yang pro terhadap food combining.

 
Belum banyak, bukan berarti tidak ada lo. Berbahagialah masyarakat Palembang punya Mbak Eti Widayati, ahli gizi lulusan IPB yang mendukung prinsip-prinsip food combining. Beruntung juga, beliau ada dalam friendlist saya. Beliau juga tak pelit ilmu dan sering jadi tempat bertanya buat saya. Yuk mari ikuti obrolan santai saya bersama ahli gizi yang tetap cantik ini. 
 
 
Tanya:
Kalau boleh tahu, sejak kapan Mbak Eti melakukan FC, dan bisakah cerita bagaimana awalnya akhirnya memilih pola makan ini?
 
Jawab :
Melakukan FC sejak tahun 2006. Sebagai seorang sarjana gizi tentunya saya harus terus menambah wawasan tentang pola makan dan gizi kan? Suatu ketika pas ke toko buku saya tertarik dengan buku FC yang ditulis oleh Bu Andang. Setelah saya baca memang ada beberapa yang tidak sesuai dengan pemahaman ilmu gizi selama ini, terutama terkait dengan kombinasi antara karbohidrat dengan protein yang tidak serasi. Jujur, saat itu saya tidak tertarik menerapkannya. Apalagi BB engak ada masalah. 
 
Sampai saat saya pindah ke Banyuwangi, dan rutinitas senam aerobic yang selama di Kediri dilakukan secara teratur (3-5x/minggu) tidak lagi dilakukan, kecuali hanya 1x/ minggu di hari Jumat. Pola makan tetap normal seperti biasa sesuai dengan konsep gizi konvensional. Tanpa saya sadari baju-baju mulai terasa sesak, badan terasa enggak nyaman atau enggak bugar. Enggak ringan! Naik 1-2 kg masih cuek, tapi secara perlahan tapi pasti BB terus naik hingga Indeks Massa Tubuh nyaris mendekati 25 (batas Over weight menurut WHO, untuk orang Eropa tetapi sudah melebihi batas obesitas untuk orang Indonesia). Wow! Ini pasti karena kurang olahraga. 
 
Segera saya mendaftar menjadi member di sebuah sanggar senam dan rutin lagi ber-aerobic. BB turun? Enggak! Justru naik walaupun terlihat lebih kencang dan langsing (karena massa otot meningkat). Namun tetap merasa tidak nyaman. Saat itulah saya kembali baca buku FC-nya bu Andang. Saya pelajari lebih mendalam, dan berniat menerapkannya. Saya awali dengan program detoks Juice Fasting selama 3 hari. BB turun 3 kg. 
 
Nah, itulah awal mulanya menerapkan FC. Langsung ketat? Enggak! Tetapi bertahap, dimulai hanya dengan makan buah di pagi hari. Makan masih dengan kombinasi karbo protein tetapi jumlahnya tidak banyak, hanya sekadar ada. Luar biasa di badan aja sudah terasa nyaman, sampai akhirnya secara berangsur FC menjadi lebih sempurna. Hasilnya berat badan kembali ke berat ideal dengan tubuh yang lebih bugar, semangat, tidak mudah lelah, kulit kencang dan bersinar (terutama setelah rutin minum jus sayur di jam 8 malam). 
 
Bahkan saat usia 47 tahun, lari 10 putaran lapangan sepakbola tanpa henti dan tanpa terengah pun saya sanggup. Bukan karena tertarget tetapi ya otomatis aja lari terus. Keluhan sakit kepala dan maag pun hilang. Padahal saat di Kediri dulu, walaupun BB ideal, sakit kepala dan maag sering mengalami (mungkin karena jadi insrtuktur aerobic sehingga frekuensi latihannya tinggi sehingga BB tetap ideal). 
 
 
Tanya:
Di kalangan ahli gizi seperti Anda, setahu saya hingga saat ini food combining masih dipandang sebagai sesuatu yang tidak berdasar, bahkan cenderung membahayakan. Nah, bagaimana Mbak memandang kondisi ini? 
 
 
Jawab:
Dikatakan tidak berdasar mungkin karena tidak ada bukti ilmiah. Kalo bukti empiris (karena pengalaman) memang kurang diterima oleh kalangan akademisi. Kalau membaca/memahami prinsip-prinsip FC secara mendalam menurut saya berdasar, kok. Sesuai benar dengan mekanisme alami (sifat, fungsi, dan cara kerja) organ tubuh yang sudah diketahui secara ilmiah. Main Logika aja, kalo kita memperlakukan organ (mesin, katakanlah) sesuai dengan cara kerjanya tentunya kerja mesin tersebut akan berjalan baik kan? Hasilnya tentu saja juga baik. Ya kan? 
 
Membahayakan? Ini pun tidak ada pembuktian berdasar penelitian ilmiah. Hanya berdasar keluhan-keluhan yang muncul pada orang yang mengaku melakukan FC tetapi tidak menganalisisnya apakah FC yang dilakukan sesuai dengan prinsip FC yang benar. Sekarang FC sudah berkembang, sehingga prinsip FC terkadang mulai melenceng. Kalo saya sih, prinsip-prinsip FC tersebut saya kaji lagi dengan sunnah rasul. Dan sejauh ini ternyata sesuai. Kalaupun ada yang bertentangan (seperti masalah susu, lebih karena masalah jumlah/frekuensi, budidaya, dan pengolahannya). Sebenarnya saya ingin melakukan penelitian secara ilmiah, tetapi untuk itu sampel harus dipantau benar pola makannya selama paling tidak 1 sampai 3 bulan. Atau dilakukan di rumah sakit, tetapi rumah sakit mana ya yang mau melakukannya? 
 
Tanya:
Prinsip FC terkadang mulai melenceng? Wah ini menarik Mbak. Bolehkan saya tahu di bagian mana?
 
Jawab:
Ada beberapa prinsip yang hilang, misalnya ada poin tentang cheating. Seolah cheating sabtu minggu adalah bagian dari juklak. Ada pemahaman yang salah dalam hal ini. Contoh lain adalah prinsip bahwa pagi HANYA BOLEH makan buah dipahami bahwa pagi tidak boleh makan selain buah, padahal prinsipnya adalah makan makanan yang mudah dicerna. Memang BUAH LEBIH DISARANKAN karena kandungan fruktosanya yang merupakan energi instan. 
 
Seolah cheating sabtu-minggu adalah bagian dari juklak. Ada pemahaman yang salah dalam hal ini.
 
Tanya:
Adakah sesuatu yang kontra, antara pola makan ala food combining dengan pola makan sehat versi pendidikan gizi yang umum di Indonesia atau yang pernah Mbak dapatkan dahulu kala menempuh pendidikan? 
 
Jawab:
Yang kontra sepengetahuan saya ya, soal makan sumber karbohidrat dengan sumber protein dalam jumlah dominan secara bersamaan. Tetapi itu konsep gizi lama. Dalam suatu jurnal tahun 2004 (The American Journal of Clinical Nutrition vol. 79) di katakan bahwa a mixed meal (makanan komplet) signifikan tingkatkan jumlah leukosit di tingkat sel dan mengindikasikan adanya peradangan. 
 
…. a mixed meal (makanan komplet) signifikan tingkatkan jumlah leukosit di tingkat sel dan mengindikasikan adanya peradangan. 
 
Tanya:
Pernahkah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari rekan seprofesi karena pandangan Mbak yang berbeda ini? Dan bagaimananya Mbak mengatasinya? 
 
Jawab:
Secara langsung sih enggak ada, kawan-kawan justru penasaran. Apalagi melihat kondisi saya. Selain itu selalu saya tekankan bahwa ilmu kan terus berkemban, jadi kita tidak boleh terpaku pada konsep-konsep lama.
 
Tanya:
Setelah sekian lama menjalani profesi ini, bagaimana menurut Mbak kondisi pemenuhan gizi dikalangan masyarakat Indonesia? Dan apa tantangannya? 
 
Jawab:
Hampir semua makanan itu mengandung berbagai jenis zat gizi. Jadi kalau pemenuhan zat gizi dalam hal jenis zat gizi sudah terpenuhi tetapi dalam hal jumlah, tidak terpenuhi. Sebagian jenis zat gizi kurang (terutama jenis zat gizi mirko), sebagian lebih (terutama jenis zat gizi makro). 
 
Ini terbukti juga saat mahasiswa mengerjakan tugas penghitungan konsumsi harian melalui metode survei konsumsi makanan secara Food Recall 3 hari berturut-turut. Keseimbangan pemenuhan zat gizinya tidak terpenuhi. Keberagaman makanan pun masih belum terpenuhi karena kecenderungannya hanya makan makanan yang menjadi kesukaannya. Dalam hal keamanan makanan, ini lebih tidak terpenuhi lagi. 
 
Selain pemenuhan gizi yang tidak ideal yang memprihatinkan adalah belum terpenuhinya zat-zat non gizi yang pada faktanya sangat berperan penting untuk proses metabolisme dalam tubuh, seperti enzym, pigmen, fitonutrien, dll. 
 
Tanya:
Sepertinya, Mbak juga instruktur yoga. Nah, apa mbak keterkaitannya antara pola makan yang baik dengan olah raga seperti yoga ini? 
 
Jawab:
Instruktur yoga? Bukan, saya bukan instruktur yoga. Saya hanya mengajak latihan yoga bersama karena saya pernah mengikuti pelatihan yoga dasar dari Dr. Somvier (Bali India Fondation), dan sayang kalo hanya diterapkan sendiri, mengingat yoga adalah olahraga yang serasi dengan mekanisme kerja organ tubuh manusia dari ujung kaki hingga kepala. Dengan latihan yoga metabolisme (pencernaan, penyerapan zat gizi, pembungan sampah/toksin, transportasi, sistem hormonal, dll) bisa bekerja optimal karena organ menjadi lebih aktif. 

Ibu-Anak Yang Sama-sama Cantik Sehat Berkat Food Combining

 
Tanya:
Sepengetahuan saya, putri Mbak Eti juga sangat konsisten berfood combining. Bisa diceritakan Mbak bagaimana awalnya menularkan pola hidup sehat ini kepada anak? 
 
Jawab:
Sederhana. Saat makan bersama dia melihat saya makan nasi tanpa daging padahal ada menu daging tersedia di meja. Dia tanya kenapa kok cuma makan nasi dengan sayur? Saya kasih penjelasan. Dia mencobanya juga. Ternyata menurut dia , terasa lebih nyaman di lambung . Tidak terasa “begah” dan penuh. Sejak itulah secara bertahap dia sempurna menerapkan FC. Saat itu berusia 17 tahun dan sampai sekarang masih konsisten menerapkannya, baik di rumah maupun di luar rumah…bahkan saat dia berkumpul dengan kawan-kawannya. Terkadang kawan-kawannya merasa kasihan karena mereka pikir dia tidak bisa menikmati makanan yang enak. 
 
Tanya:
Mungkin ada tips atau trik tertentu, Mbak, bagaimana agar bisa membuat anak juga mau konsisten melakukan pola makan sehat seperti kedua orang tuanya. 
 
Jawab:
Tipsnya, jangan dipaksa. Tetapi beri pengertian dan sarankan menerapkannya secara bertahap. Kalau dipaksa justru anak jadi stress dan kondisi stress inilah yang menimbulkan masalah kesehatan. Terkadang anak merasa gara-gara pola makan yang kita terapkan itulah yang membuat si anak jadi sakit.
Mbak Eti Bersama Murid-muridnya

Mbak Eti Bersama Murid-muridnya

 
Wah, bagi saya, berguna sekali informasi dari Mbak Eti. Oh ya, teman-teman, aktivitas beliau sekarang mengajar ilmu gizidi STIK BINA HUSADA PALEMBANG dan menjadi sukarelawan dalam memberikan konseling gizi di Pusat Konsultasi Wanita "KARTINI" BKOW Sumsel. Di sela kesibukannya, masih juga sempat memberikan konseling gizi gratis untuk masyarakat. 
 

Nah, teman-teman. Semoga ngobrol santai dengan sosok kali ini bermanfaat ya. Jangan segan kabari saya jika ada sosok menginspirasi yang teman-teman inginkan untuk saya tulis di blog ini.

Salam hangat!

 

 

Catatan:

Sumber foto, Facebook Eti Widayati

10 comments

    • wyuliandari says:

      Mbak Laeli bisa search di blog ini. Banyak tulisan tentang FC. Di tulisan ini juga adal link yang bisa diklik menuju tulisan-tulisan lain. Silakan aja pelajari semua nya dulu.

Leave a Reply