7 Tips Menggunakan Kosmetik Alami

Kosmetik Alami

Akhir-akhir ini, semangat kembali ke alam mulai makin terasa di banyak sisi kehidupan manusia. Salah satunya dalam hal kesehatan dan kecantikan kulit. Banyak teman mulai mencoba berbagai produk yang di yakini lebih alami dan ramah lingkungan.Di kalangan teman-teman perempuan kini mulai terlihat semacam ketertarikan menggunakan produk-produk alami.

(Baca Juga Tulisan: Emak-emak Go Green)

 

Buat teman-teman yang doyan main instagram, mungkin juga sudah tahu, di IG produk-produk kecantikan natural juga udah mulai ramai ditawarkan.Mulai dari berbagai sabun, oil-oilan, butter, hingga BB cream, bedak, bahkan sampai lipstick, eyeshadow, maskara, kini semua ada versi ecofriendly nya. Saya juga pernah menulis review tentang butter antiaging kesayangan saya.

(Baca juga reviewnya:Rainforest Aging Gracefully And Eye Butter 2 In 1 Skincare Alami Multifungsi)

Di kalangan pelaku food combining, sudah lama dikenal penggunaan jeruk nipis atau lemon, sisa perasan jeniper atau lemper. Jadi banyak FC er yang mengoleskannya ke wajah, tangan atau kaki. Belakangan juga makin marak penggunaan baking soda sebagai pembersih multifungsi, mulai untuk mandi, keramas, gosok gigi. Baking soda bahkan mulai digunakan secara luas untuk urusan bersih-bersih lainnya, mulai dari cuci pakaian, hingga membersihkan keramik, dsb.

Bagi saya yang sudah mulai melakukan campaign soal kesadaran lingkungan sejak tahun 2008, tentu fenomena ini sangat menyenangkan. Namun, di sisi lain, ternyata mulai muncul pula berbagai keluhan.

“wajahku merah dan gatal setelah pakai jeruk nipis!”

“Badanku gatal-gatal setelah mandi pakai baking soda”

“Sejak pakai olive oil, kok kulitku makin jerawatan”

Nah, kalau sudah begini, sayang sekali. Mengapa? Semangat go green dengan pakai produk ecofriendly bisa pudar seketika. Dan… tujuan dapat kulit terawat pun tak tercapai. Alih-alih dapat wajah bersih, dan kulit makin sehat. Yang ada kulit gatal memerah, iritasi, berjerawat dsb.

Hal di atas sebenarnya tak perlu terjadi jika kita tahu bagaimana cara yang tepat untuk beralih ke produk konvensional ke produk ecofriendly.

 

  1. Kenali kondisi kulit

Menggunakan produk apapun sebenarnya perlu tahapan ini. Kita harus tahu pasti kondisi kulit kita, mulai dari jenis kulit maupun apa problemnya. Setiap individu mungkin memiliki problem kulit berbeda meski jenis kulit mereka sama. Misalnya, sama-sama berkulit berminyak, ada yang memiliki problem jerawat, ada yang memiliki problem noda bekas jerawat, ada yang tidak bermasalah. Nah, yakinkan bahwa Anda tahu pasti kondisi kulit Anda.

 

  1. Pelajari Karakteristik Produk Alami

Setiap bahan memiliki karakter yang berbeda. Untuk jenis oil saja, bisa sangat berbeda antara olive oil, coconut oil, castor oil, almond oil, sunflower oil, rosehip oil, argan oil, dsb. Maka, sebelum mulai menggunakan, pastikan Anda tahu minyak yang mana cocok untuk kebutuhan Anda.

Contohnya begini, saya ingin mencoba oil untuk membersihkan wajah, atau istilahnya oil cleansing. Saya harus mencari informasi, apakah saya bisa menggunakan oilive oil, ataukah bisa castor oil, atau kombinasi keduanya, atau minyak jenis lainnya lagi.

Dan yang sangat penting, Anda harus menyadari bahwa banyak hal yang berbeda antara produk konvensional dengan produk ecofriendly terutama yang homemade. Misalnya, untuk urusan wangi, produk alami kebanyakan wanginya tidak se-menyenangkan produk biasa. Oil-oil-an itu mungkin bagi sebagian orang baunya teramat ajaib!

Jujur saja, waktu pertamakali mencoba olive oil, beberapa tahun lalu saya rada shock dengan baunya. Eh, ternyata gak ada wangi-wanginya sama sekali. Pas pertama kenal rosehip oil juga begitu. Eyalahh… kok begini baunya.semacam bau kacang tanah mentah… Ha..ha… tapi lama-lama ya terbiasa juga.

Begitu juga soal tekstur dan konsistensi, produk alami beda lho. Jadi sebelum mencoba ya harus sudah siap untuk bisa menerima perbedaan tersebut. Sebagian produk-produk alami yang sudah pernah saya coba teksturnya tak senyaman produk konvensional. Harus dimaklumi, produk ecofriendly kan tidak menggunakan segala macam bahan kimia tambahan yang biasa digunakan di industri kosmetik sebagai bahan yang memperbaiki dan mempertahankan tekstur.

 

  1. Ketahui Cara Penggunaan

Menggunakan baking soda sebagai pembersih kulit, tentu berbeda dengan untuk keramas. Lain lagi dengan cara aplikasi baking soda sebagai deodoran. Begitu juga dengan berbagai oil. Harus diketahui dengan pasti, bagaimana menggunakan oil untuk membersihkan make up, bagaimana kalau untuk pemijatan, bagaimana kalau digunakan sebagai pelembab wajah, dsb.

 

  1. Bertahap

Saran saya, jangan langsung mengganti keseluruhan produk konvensional Anda dengan produk ramah lingkungan dalam satu waktu. Untuk mengetahui respon kulit Anda terhadap masing-masing produk, sebaiknya cobalah satu persatu. Jika sudah oke di satu jenis, misalkan untuk sabunnya, barulah bisa Anda coba untuk butter atau moisturizernya misalkan. Jadi lakukan bergiliran.

 

  1. Test

Sebaiknya selalu coba dahulu sebelum menggunakan, terutama untuk Anda yang memiliki jenis kulit sensitif dan peka terhadap pergantian produk. Greenmommy, salah satu pembuat ecofriendly skincare di Indonesia, memberikat tips menguji produk sebelum dipakai. Caranya adalah dengan mengoleskan sedikit di siku bagian dalam,lalu tutup dengan plester luka,Biarkan minimal 24 jam, upayakan tidak terkena air. Jika pada test ini tidak ditemui keluhan yang berarti, maka Anda bisa teruskan penggunaannya.

 

  1. Beri Kesempatan

Jangan terlalu terburu-buru men-judge, “ah ga cocok nih buat saya!”. Beri kesempatan kulit Anda untuk menunjukkan respon yang sebenarnya terhadap suatu produk. Secara umum, biasanya produk alami memberikan hasil yang lebih lambat daripada produk biasa. Sebagai contoh, saya coba rosehip oil, baru sekitar satu bulan dia sedikit menunjukkan hasil. Belum nutup itu scar, baru rada dangkal aja lubangnya. Lalu kulit juga lebih bersinar. Ha..ha… amboyyyyy masih harus berbulan-bulan nih treatment saya. Tapi saya sabar saja menunggu.

 

Terkadang, ada juga produk yang diketahui memiliki efek purging. Setelah digunakan malah menyebabkan breakout di wajah, misal jerawat atau bruntusan. Nah, efek ini harus diketahui sebelumnya. Dan ketika benar-benar Anda alami, sebaiknya sabar saja menunggu keadaan mereda.

 

  1. Trial (And Error)

Nah, ini harus benar-benar disadari. Meski kita sedang bermain-main dengan bahan alami, tetap, fakta bahwa kulit manusia itu sangat unik, tak bisa dimungkiri. Belum tentu suatu bahan yang bagus di kulit saya, akan bekerja sama baik di kulit teman-teman.

 

Mungkin, teman-teman tak langsung menemukan produk alami yang cocok dalam sekali coba. Saya juga demikian. Coba saja lagi, cari lagi jenis lain. Anggap saja sebagai petualangan yang menyenangkan untuk menemukan produk kesayangan yang lebih aman, sehat dan ramah lingkungan.

 

Nah, selamat mencoba. Jangan segan cerita pada saya petualangan Anda menemukan produk ecofriendly yang pas di hati.

 

Salam!

13 comments

  1. rita asmaraningsih says:

    kulit wajahku termasuk jenis yang sensitif .. Gak bisa memakai kosmetik sembarangan.. Mesti pake resep dokter.. Tapi itupun tak menyelesaikan masalah, lama2 juga ntar kulit wajahku tipis dan kehitaman seperti orang yg berjemur kelamaan di bawah mentari.. Makanya akus siasati dgn bedak bayi dan memakai masker bengkoang buatan sendiri biar kulit segar..

  2. momtraveler says:

    Setuju beda orang beda kulit biaa jadi cocok disatu orang dikita ga cocok. Aku pengen nyobain jeruk nipis lah buat mukaku yg hoby jerawatan semoga cocok.

    Thanks for sharing mak :*

  3. Adhya says:

    Nice info mba. Thanks for sharing. Tadi liat linknya di KEB trus mampir ke sini.  Baru tau ternyata mba Widya ini yg nulis buku FC ya. Saya juga pake jeruk nipis sisa bikin jeniper. Abis itu maskeran pake kulit bagian dalam buah, biasanya pepaya. Kayanya perawatan dari dalam jg ngga kalah penting ya. Soalnya sejak FC (meski ga terlalu disiplin) jadi jarang jerawatan kecuali pas hamil dan akan mens.  Btw, saya juga lagi campaign penggunaan menstrual cup sebagai alternatif penampung darah menstruasi nih mba. Lebih sehat, hemat dan ramah lingkungan. 

  4. Mega says:

    Terima kasih infonya, mbak. Kulit saya termasuk acne-prone. Sebelumnya saya termasuk banci skincare, pengen mencoba segala macam merk yang "katanya" bisa menghilangkan ini dan itu. Karena rawan breakout, akhirnya saya tidak berani mencoba apa-apa. Sekarang saya beralih ke bahan alami dan hanya percaya ke satu-dua merk yang memang sudah saya kenal baik.

    Tapi seperti kata Mbak Widyanti di sini, tetap harus hati-hati, ya. Saya juga belum total menggunakan bahan alami itu sih, karena takut kalau tidak cocok efeknya malah lebih parah. Sekarang saya mau coba pelan-pelan saja deh. Sejauh ini, yang saya lakukan baru pakai jeruk nipis dan madu saja 🙂

  5. Yulia says:

    Hihihi… Yul.. untungnya kulitku kaya bunglon mudah beradaptasi dengan produk apapun.. ya walau kadang aja juga sih yg malah bikin kulit rusak, aslinya saya itu malesan kalau soal perawatan pdahal dulu pernah berkecimpung didunia kecantikan.

Leave a Reply