Belajar Ekosistem Pasang Surut Di Ekowisata BJBR Probolinggo

BJBR 1

Liburan Natal beberapa waktu lalu, terus terang memang bikin galau. Kebiasaan kami libur begini diisi dengan ngelayap ke tempat yang agak jauh. Ya… setidaknya ke luar provinsi lah. Biasanya pas akhir tahun pekerjaan kantor sudah sedikit berkurang dan saya bisa ambil jatah cuti.

Tidak demikian dengan tahun ini. Hingga tanggal dua puluhan di bulan Desember, ternyata pekerjaan kantor belum juga beres. Saya tidak bisa ambil jatah cuti. Artinya, libur yang hanya 4 hari ini tak bisa bepergian terlalu jauh.

Akhirnya diputuskan, ya udah kami ke kota dekat-dekat Bondowoso saja, ke Probolinggo deh! Oke! Akhirnya browsing lah tempat wisata di sana dan ketemulah dengan info tentang BJBR. BeeJay Bakau Resort. Akhirnya cuss… setelah sebelumnya reservasi hotel dulu.

Sore kami sampai di BJBR. Lokasinya ternyata sangat mudah ditemukan dan benar-benar dekat dari pusat kota. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit bermobil dari alun-alun Probolinggo. Akses ke tempat ini melalui gerbang pelabuhan baru Probolinggo, pengunjung dikenakan karcis Rp.3000 untuk satu kendaraan roda empat. Tak jauh dari gerbang ini, sudah terlihat bagian depan BJBR yang berpasir putih dan rimbun tanaman cemara.

BJBR

Rimbun Bakau Ramah Menyapa

Tiket masuk BJBR terhitung murah menurut saya, Rp.10.000 per orang untuk hari biasa, dan Rp.20.000 untuk minggu dan hari-hari libur. Kami parkir mobil dan langsung menuju kawasan bakaunya terlebih dahulu. Tiket di cek di pintu masuk jembatan mangrove ini, dan ternyata masuk ke sini tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Wahhh … kami kecele.

Sebagai keluarga cinta lingkungan (dan juga irit), kami kan seringkali bawa-bawa makanan dan minuman sendiri ketika berwisata. Kali ini, makanan dan minuman harus kami titipkan di tempat petugas pemeriksa tiket. Okelah Pak, siap!

(Baca Juga: Jalan-jalan Yang Ramah Lingkungan)

Penasaran, saya tanya ke petugas yang cukup ramah ini, “kenapa sih Pak gak boleh bawa makanan?” beliau menjawab, bahwa aturan tersebut dibuat untuk menjaga kebersihan area bakau. Tahu kan bagaimana tabiat sebagian wisatawan kita?  Yak, salah satunya buang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah. Sampah (yang biasanya berupa plastik atau kaleng minuman) tersebut kan susah sekali diurai. Selain mengganggu estetika, tak sedap dipandang, ke depan juga akan mengganggu keberlanjutan flora dan fauna di ekosistem tersebut.

Kami berkeliling cukup lama di sini. Areal mangrovenya memang terhitung luas, rimbun, bersih dan terawat. Daun-daun hijau tanaman … memagari dan memayungi jembatan yang dilewati. Surgaaaaa…..! di beberapa tempat tersedia pondok dengan kursi-kursi kayu, pengunjung yang lelah bisa beristirahat sejenak di sini.

Di tengah rerimbunan bakau ini, juga tersedia toilet. Jadi enggak perlu khawatir buat pengunjung yang yang berhasrat ke toilet,  ya… ha..ha…

Kak Asa yang emang suka sekali dengan hewan, senang memperhatikan anak-anak kepiting bakau di sini. Makhluk-makhluk kecil ini berkeliaran di sela akar-akar bakau. Saat-saat begini, buat saya adalah waktu sempurna untuk mengenalkan pada anak tentang ekosistem. Keduanya betah mendengar bundanya ngoceh tentang cerita biota ekosistem pasang surut ini.

Apakah di sini ada ular, Bunda?

 

"Bagaimana kalau tidak ada hutan bakau, Bun? Ikannya enggak bisa bertelor dong"

"Kepiting boleh dimakan enggak sih?"

Bla..bla…

Pertanyaan antusias anak-anak, dengan senang hati harus dijawab. Dan pembahasannya bisa sampai berhari-hari bahkan berminggu sampai berbulan kemudian. Emak harus tahan dan sabar ya! Ha..ha…

(Baca Juga: Belajar mencintai Lingkungan Dengan Piknik)

 

Surga Buat Penghobi Selfie

BJBR

Ada Gembok Cinta!

Buat yang suka selfie, tempat ini surga banget! Hampir tak ada spot yang tak menarik dijadikan background foto. Pengelola tempat ini juga, tampaknya tahu betul kesenangan wisatawan. Mereka sediakan property menarik di beberapa spot. Misalnya, di sini tersedia vespa yang dicat cantik dan sepeda onthel kuno yang bisa dipakai berfoto. Tsahhh… yang hobi berfoto, silakan deh siapkan pose terbaik. Tetapi, jangan lupa bergantian ya, jangan dimonopoli. Kan kasihan pengunjung lain yang juga ingin berfoto.

BJBR

Bagian Lain Dari BJBR Yang Juga Pas Buat Berfoto

Salah satu tempat favorit buat berfoto di sini adalah tulisan BJBR warna-warni (Foto paling atas dari postingan ini). Oke banget memang bisa berfoto di sini. Sayang, saya tak terlalu sabar untuk menunggu, karena waktu itu banyak sekali pengunjung yang antre berfoto. Ya sudahlah… saya lanjut jalan, enggak punya foto di sini enggak pa-pa deh buat sementar. Next time toh bisa direncanakan kemari lagi.

 

Rest-O-Tent

Setelah lumayan lelah berjalan-jalan, akhirnya kami temukan tempat ini, restoran di tengah laut berpagar rindang bakau. Hmmmm….  Tampaknya asyik makan di sini, sambil memandang lautan. Tapi, karena kami sekeluarga bukan penghobi makanan laut, bahkan Si Bujang terbilang sangat anti makanan laut, maka bagian ini kami lewati saja.

Sempat sih, intip menunya yang tampaknya lumayan lengkap ya. Oya, menurut brosur yang saya baca, resto ini berkapasitas 400 orang, dan bisa lo di pesan untuk tempat pesta, wedding party misalnya. Wah… pasti asyik ya party di tempat begini. Beda suasananya.

 

Bungalow

Di tengah hutan bakau ini juga tersedia bungalow. Kamar-kamar  dibangun dari kayu kelapa di atas area pasang surut dengan gaya arsitektur yang keren. Rasanya, ini bisa jadi tempat tetirah yang nyaman. Bersantai, menenangkan diri, merefresh pikiran sambil menemukan ide-ide segar. Wowwww….

BJBR

Front Office The Bungalows

Kami sempat bertanya di resepsionis, rate kamar disini. Tersedia dua jenis yakni dengan rate Rp 1.400.000 dan Rp 1.700.000 per kamar per malam. Harga segitu sudah dengan komplimen: welcome drink untuk 2 orang, breakfast juga untuk 2 orang, brownies mangrove serta free bermain di Majengan Bakau Beach. Duhhh…. Pengeeeeen nginep di sini. Tapi ratenya lumayan ya? Pantas sih, lha tempatnya bagus begini.

Sayang area ini terlarang buat diakses. Jadi saya hanya melihat-lihat sampai front officenya saja. tidak bisa memotret secara langsung, bagaimana kamar-kamarnya.

 

Gedung Pertemuan

Tempat keren begini, masih dilengkapi dengan gedung pertemuan pula. Bee Jay Sabha Samudera, sebuah tempat pertemuan bergaya arsitektur unik yang juga serasi dengan bangunan-bangunan lain disekitarnya, berdiri kokoh di tengah area bakau.

BJBR

Kapan ya,bisa launching buku di sini?

Bangunan berkapasitas 100 orang ini dilengkapi AC dan juga projector, sesuai digunakan untuk acara-acara seperti meeting, gathering, seminar, atau peluncuran produk. Ah…. Jadi berandai-andai, suatu saat bisa menerbitkan buku tentang green lifestyle, lalu di launching di sini. Ngimpi aja dulu … ntar insyaallah tercapai. Aminin pemirsah! Ha..ha… ih, maksa.

 

Bermain di Pantai Buatan Berpasir Putih

Anak-anak Senang Bermain Di Pantai Buatan Ini

Anak-anak Senang Bermain Di Pantai Buatan Ini

Puas mengelilingi hutan bakau, kami beralih ke area permainan. Sebuah pantai buatan berpasir putih tersedia di sini. Majengan Bakau Beach, demikian namanya. Anak-anak bisa bermain air di sana. Pengelola juga menyediakan kano dan sepeda air di sini. Anak-anak bermain asyik sekali.

Aduh .. Kok emaknye lagi sih?

Aduh .. Kok emaknye lagi sih?

Berdampingan dengan pantai buatan, ada pula air mancur. Water spalsh dengan 60 titik semburan dan 18 variasi semburan ini juga sangat menarik. Tampaknya anak-anak asyik sekali bermain di sini. Sayang saya dan pak suami tak bisa ikutan berbasah-basah. Kurang persiapan, membuat kami lupa dan tak kepikiran untuk membawa baju ganti.

BJBR

Waterboom Di Tengah Rimbun Mangrove

Di area permainan ini juga tersedia flying fox dan waterboom. Flying fox dengan lintasan sepanjang 135 meter ini melintas di atas pantai buatan dan rerimbunan bakau. Suatu saat saya harus kembali ke sini, untuk menjajal flying foxnya. Semoga! Oya, waterboomnya juga dikelilingi rimbun pohon bakau, lo. Pokoknya, menurut saya, suasananya asyik banget!

Tak jauh dari arena permainan ini tersedia café tenda. Tempatnya keren banget! Beralaskan pasir putih, kita bisa duduk di sofa-sofa anyaman yang soooo… colourfull. Musiknya juga asyik dan masih juga ada life musik di waktu-waktu tertentu.

Untuk cafenya, makanannya termasuk lumayan lengkap. Harganya juga cukup bersahabat untuk ukuran kafe di tempat sekeren ini. Hanya kebetulan saat itu kami ingin menikmati dinner di bagian lain dari Probolinggo, jadi kami segera pergi usai menikmati minuman panas.

Musholla Yang Sangat Apik

Musholla Yang Sangat Apik

Secara keseluruhan, tempat ini sangat mengesankan. Area bakau yang rimbun terawat, lingkungan yang bersih dari sampah, bangunan-bangunan pendukung yang bersih terawat apik dan berarsitektur unik, café yang asyik dan harganya rasional, tarif masuk yang murah meriah, dll. Itu semua menjadi nilai plus bagi eco wisata ini.

Hanya, kalau boleh memberi saran pada pengelola, mungkin bisa di buat lebih banyak taman terutama di bagian depan. Lalu, fungsi edukasi lingkungannya kalau bisa ditingkatkan. Sebenarnya sudah bagus di sini tersedia semacam reading corner. Tapi menuru saya memang fungsinya belum optimal, karena koleksi buku-bukunya pun masih sangat terbatas.

Saya senang dan ikut bangga, kota kecil seperti Probolinggo bisa punya tempat wisata keren begini. Langsung deh, tempat ini akan kami masukkan sebagai salah satu tempat favorit keluarga kami untuk berjarak sejenak dari rutinitas. Menyegarkan jiwa dan raga, untuk bersiap menjawab tantangan yang lebih besar lagi selanjutnya! 

 

30 comments

  1. windah says:

    Wah ini kok beda dari yang lain. Biasanya kalo di mangroove cuma ada saung doang trus sisanya pemandangan hijau, ini ada danau buatan dan waterboom segala. Kereen

  2. Astin Astanti says:

    konsep tempatnya sangat bagus, Mbak. Mengenalkan alam kepada masyarakat sekalian ada tempat wisatanya jugaaaa. Ratenya mahal bangeeeet….tapi mungkin sepadan dengan pemandangan yang sangat bagus

  3. Ranny says:

    Baca ini jadi inget : kapan terakhir liburan keluarga, ya? *haish*

    Itu mak, rimbun bakau instagramable banget! aihh keceeeh lah tempat ini… Harga bungalow, emang segitu sih setahuku. Jadi penasaraaan sama model bungalownya..

  4. anton says:

    Trima kasih mbak wyuliandari udah meperkenalkan kota saya. Rumah saya deket bjbr tepatnya pas barat bjbr blankang pabrik kti pb . Skli lagi trimaksih mbak wyuliandari πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Leave a Reply