Emak-emak Go Green

Share

Aktifitas yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan kadangkala sering dipandang sebagai hal yang sangat idealis, bahkan ndakik, (Bahasa Jawa: terlalu tinggi). Mungkin juga sebagian beranggapan bahwa upaya penyelamatan bumi hanya bisa dilakukan melalui “tangan” pemerintah dengan serangkaian kebijakan serta penegakan hukum oleh yang berwenang.

 

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tak sepenuhnya juga benar. Sebenarnya, ada sangat banyak hal yang dapat dilakukan oleh warga masyarakat biasa termasuk emak-emak seperti saya, dan Anda. Loh.. jangan remehkan the power of emak, ya! Meski tak semuanya, namun umumnya dalam sebuah rumah tangga ibu lah yang menjadi manajer. Ibu pula bagian pembelian yang memutuskan apa yang dibeli apa yang tidak. Ibu juga ahli gizi merangkap koki yang merencanakan sekaligus menyiapkan apa yang akan dimakan sekeluarga.

Go green juga tidak harus memaksa Anda menjadi vegetarian atau vegan, memakan totally rawfood, memakai semua produk berlabel “Ecofriendly”, naik sepeda kemanapun pergi dan sebagainya. Nyatanya semangat go green bisa hadir di mana saja, bisa dilakukan dengan teramat banyak cara yang mudah Anda lakukan. Tidak perlu memaksakan apa yang belum bisa atau terlalu sulit Anda lakukan)

Jadi, dalam postingan ini saya ingin membeberakan beberapa poin yang bisa menjadi kontribusi para ibu untuk lingkungan, dari rumah. Iya dari rumah, tanpa harus ikutan demo atau masuk hutan-hutan tropis sana untuk menyatakan cinta pada bumi. Kita sebut saja ini sebagai gerakan Emak Go Green. Dari emak untuk bumi. Tsaaaa….

Baca Juga: Mengapa Harus Go Green?

 

  1. Kita Adalah Apa Yang Kita Makan

Kita mulai dari pepatah lama yang tidak bisa tidak saya setuju dengan esensinya. Banyak hal yang berkaitan dengan “apa dan bagaimana kita makan” yang berhubungan dengan keberlanjutan bumi. Konsep clean eating misalnya, yakni menghindari makanan beraditif, makanan pabrikan atau makanan yang telah mengalami proses terlalu panjang sehingga sudah jauh dengan kondisi aslinya. Konsep ini diyakini memiliki keuntungan untuk lingkungan, mengingat setiap tahapan proses dari makanan tersebut pasti mengandung konsekuensi lingkungan. Misalnya: menggunakan energi, menghasilkan limbah cair, menghasilkan sampah dan mengemisikan pencemar udara dari proses pemanasan/pemasakannya.

Baca juga: Melestarikan Bumi Dari Dapur Kita

 

img1430276128016

Menjadi vegetarian atau vegan juga diyakini memberi efek positif bagi lingkungan. Kok bisa? Ya, sektor peternakan kan menimbulkan banyak dampak bagi lingkungan. Mulai dari pembukaan lahannya yang merubah bentang alam sekaligus tata air dsb, menumbuhkan hijauan untuk pakannya yang juga membutuhkan lahan, kotorannya yang menghasilkan efek rumah kaca plus sederet dampaklainnya, belum lagi sepanjang proses produksinya menggunaan air dalam jumlah yang sangat besar. Anda belum bisa menjadi vegetarian atau vegan? Saya juga! Setidaknya kita bisa mencoba berupaya mengurangi konsumsi protein hewani. Ini relatif mudah dilakukan.

 

Dalam beberapa tahun terakhir saya mulai bisa melakukannya. Terutama setelah mempelajari food combining dan memahami bahwa sebenarnya tubuh kita tak membutuhkan protein hewani sebanyak yang kita kira. Caranya mudah, substitusikan saja bahan hewani yang bisa Anda pakai untuk masakan misalkan kalau biasa membuat rendang daging, sekarang cobalah merendang jamur atau tempe. Saya skarang lebih sering membuat opor,kare atau bumbu bali tahu tempe atau jamur, daripada menggunakan daging sapi, ayam atau telur. Coba saja, ala bisa karena biasa. Semua tergantung persepsi.

 

Menghindari atau setidaknya mengurangi makanan pabrikan juga tidak terlalu sulit saya rasa. Lebih-lebih jika juga disadari efek kesehatannya. Kalau bisa go green dengan bonus tubuh sehat, masa kita tak mau mengupayakan sih? Toh, manfaatnya buat kita sendiri.

 

  1. Beli Yang Perlu

Kalau saya pikir-pikir, salah satu inti atau prinsip dari perilaku ramah lingkungan adalah efisiensi. Jadi prinsipnya adalah beli yang sekiranya memang dibutuhkan dan akan dipakai. Perempuan selalu identik dengan berbagai rpoduk fashion mulai dari baju, tas, sepatu hingga pernik-perniknya.pertimbangkan selalu ketika akan membeli. Dan jika sekiranya terlanjur terbeli namun tidak cocok atau tak terpakai, sebaiknya berikan pada yang membutuhkan atau jual saja sebagai barang second.

 

  1. Soal Sampah

Buanglah sampah pada tempatnya! Tampaknya kata-kata tersebut sudah tak terlalu lagi relevan dengan tantangan masa kini. Jaman sekarang, sudah tak cukup lagi hanya membuang sampah di tempat sampah, harus lebih dari itu, karena beban bumi sudah semakin berat.

Pisahkan tempat sampah di rumah Anda. Setidaknya satu untuk sampah organik, satu lagi untuk An-organik. Untuk yang organik alias sampah basah, bisa dimasukkan ke dalam komposter untuk diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik bisa dikumpulkan dan dibawa ke bank sampah. Di lingkungan Anda tak ada bank sampah? Jangan khawatir, berikan saja pada pemulung, mereka akan senang mendapat tambahan penghasilan dari sampah anorganik Anda.

Nah, sementara 3 itu dulu upaya go green yang saya share disini. Masih banyak lagi poin-poin go green yang insyaallah akan saya tulis di postingan selaanjutnya.

 

Salam hangat

 

4 comments

Leave a Reply