Panduan Detoksifikasi Secara Holistik

Share

Ramadan ini, istilah detoksifikasi akan makin sering disebut-sebut. Pasalnya, ritual sebulan tahunan bagi umat islam ini memang diyakini sebagai upaya detoksifikasi. Bahkan ada yang menyebut puasa religi tahunan ini sebagi grand-detox, di mana tidak hanya jiwa saja yang dibersihkan melalui berbagai paket ibadah didalamnya, namun juga pembersihan diri secara fisik.

P_20150705_204218_NT_1 (1)

Buku ini hadir di saat yang tepat, di minggu-minggu terakhir menjelang Ramadan. Ditulis oleh Erikar Lebang, seorang penulis muda sekaligus praktisi Yoga dan penganjur pola hidup sehat. Sebagai guidence, buku ini ditulis sangat praktis mudah dipahami dan dipraktekkan langsung oleh pembacanya. Meski tak khusus membahas detoksifikasi saat Ramadan, tetapi buku ini akan membantu memahami detoksifikasi dengan lebih terang benderang. (Tsaahhhh…. lampu keleusss)

Di bagian awal, Bang Erik meluruskan miskonsepsi tentang pola makan yang turut berkontibusi dalam membangun tumpukan toksin dalam tubuh. Di bagian ini pula, pemilik hastag #KibulanSehat ini memaparkan bahwa, memperlakukan lapar secara tepat akan mengakselerasi autofagi, mengaktifkan lisosom dan menghasilkan tubuh yang sehat. Autofagi, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kemampuan tubuh membuang sel yang tidak berfungsi dengan baik.Nah,ini berhubungan erat dengan detoksifikasi.

Yang menarik dari buku ini adalah, seluruh upaya detoksifikasi dikemas secara holistik. Tak hanya urusan urusan pengaturan makan saja, tetapi juga beberapa pendukung detoksifikasi seperti yoga untuk relaksasi, terapi air, pemijatan perut hingga enema kopi. Semua kegatan pendukung tersebut dibahas dengan gamblang bahkan untuk yoga disertai pula dengan foto-foto yang memudahkan pembaca melatih pose-pose yang disarankan untuk menunjang optimalnya program detoks.

Puasa Ramadan-dalam buku ini disebut sebagai salah satu puasa religi-yakni puasa tahunan yang umum dilakukan pemeluk agama samawi. Dalam buku tersbut penulis menjelaskan bahwa sebenarnya, puasa adalah bentuk detoksfikasi yang diperintahkan Tuhan pada manusia untuk menjaga kesehatan. Sayangnya sesuai perjalanan waktu dan budaya kuliner, sering sekali menu puasa bukannya membantu kesehatan , justru merugikan dan menimbulkan banyak penyakit.

Penjelasan untuk pemilihan makanan yang justru merugikan kesehatan misalnya, pertama pemilihan makanan saat sahur yang umumnya menyulitkan kerja pencernaan. Banyak ahli kesehatan menyarankan untuk mengkonsumsi makanan berat dan kompleks pada waktu yang tidak tepat, seperti sahur. Alasannya agar tubuh kuat berpuasa hingga sore jelang berbuka. Problem utamanya, waktu sahur, pukul 03.00-04.30 , adalah waktu tubuh baru saja menyelesaikan metabolisme besar-besaran yang terjadi saat manusia tidur, yang memerlukan energi besar. Mengkonsumsi makanan berat pada waktu itu justru membuat tubuh menjadi sangat sulit untuk bisa menjalani hari tanpa asupan makanan selama durasi puasa.

“Makanan yang paling tepat dan sempurna untuk sahur justru terletak pada bahan yang dibuat langsung oleh alam: buah dan sayuran segar dengan skala prioritas lebih ditempatkan pada buah, karena kandungan fruktosa yang dimiliki dapat memelihara energi tubuh secara lebih baik.”

Kedua adalah, pemilihan makanan yang asal manis untuk berbuka. Apalagi dengan adanya semacam doktrin “berbuka dengan yang manis”. Makin parah lagi jika rasa lapar dan nafsu membuat manusia mengkonsumsi makanan cenderung berlebihan saat berbuka. Akibatnya, gula darah melonjak, pankreas bekerja keras mengeluarkan insulin. Proses ini membutuhkan energi besar dan juga kerap membuat gula darah justru drop. Akibatnya, sering kita lihat mereka yang berbuka secara kalap acap merasakan lemas dan mengantuk pasca berbuka. Sama dengan bersahur, berbuka sebaiknya dilakukan dengan mengkonsumsi buah serta sayuran segar secara eksklusif. Minum cukup segelas air putih berkualitas.

Untuk yang sedang menjalani puasa religi, seperiti saat Ramadan ini, bisa lo, mengikuti pola pengaturan makan yang ada di buku ini agar membantu tubuh melakukan detoksifikasi secara lancar dan efektif. Di bagian akhir, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa resep yang praktis dan mudah. Jadi, pembaca yang akan melakukan program detoks tak bingung-bingung lagi karena sudah ada contoh resepnya. (Baca Juga: Menu Food Combining Selama Ramadan)

 

Secara keseluruhan, buku ini cukup layak dijadikan teman untuk mencari tahu hikmah puasa dari sisi kesehatan. Dan lebih dari itu, buku ini adalah bahan bacaan yang recommended untuk memahami dan melakukan detoksifikasi secara benar. Jadi kalau ingin membaca Panduan Detoksifikasi Secara Holistik, ya buku ini pilihannya.

Data Buku Judul :

Detoksifikasi – Membuang Tumpukan Racun Tubuh Secara Holistik, Penulis : Erikar Lebang, Penerbit : Qanita Cetakan I : Mei 2015, Tebal : 131 hal

 

Catatan:

Buku ini saya beli beberapa hari menjelang Ramadan. Sedikit menyesal juga, mengapa tidak membelinya jauh-jauh hari sebelumnya. 

8 comments

    • wyuliandari says:

      FC enggak harus langsung total Mbak Rizka. Bisa step by step. Mbak bisa baca di buku saya, ada metode step by step yg bikin mudah dan membuat kita memulai FC tanpa tersiksa. Mulai aja dari yg menurut mba mudah dan disukai 😀

Leave a Reply