Puasa Ala FC Untuk Anak-anak

Share

Ketika saya mulai menulis ini, saya sadar mungkin akan ada kontroversi. Kenapa? FC saja masih pro kontra. FC untuk anak-anak apalagi, banyak  yang menyatakan tidak perlu bahkan dinilai berbahaya. Saya bahkan pernah mendapat  omongan kurang enak, semacam tuduhan bahwa saya menyiksa anak dengan pola makan demikian. ( Baca: Pro Kontra Food Combining

 

P_20150619_172437_NT_1

 

Apalagi ini, saat puasa. Anak baru belajar puasa kok disuruh puasa ala FC, begitu mungkin komentar sebagian orang .Namun mengapa saya tetap-setidaknya-mengenalkan anak-anak saya dengan pola FC bahkan saat puasa? Ini beberapa alasannya:

  1. FC tidak melarang salah satu atau beberapa unsur makanan. Protein hewani, boleh. Karbo juga boleh. Jadi tidak ada kekhawatiran bagi saya bahwa anak-anak akan kekurangan salah satu unsur.
  2. FC membantu anak-anak makan lebih banyak sayur dan buah, ilmu gizi mana sih yang menolak baiknya sayur dan buah?
  3. FC menyarankan untuk makan sealami mungkin. Yeah! Ini penting, sedini mungkin anak kenal dan terbiasa dengan makanan segar berkualitas. Bukan makanan pabrikan yang amat panjang proses pengolahannya dan amat miskin nutrisi.
  4. Testimoni teman-teman yang anak-anaknya juga dibiasakan berpola makan FC, semua oke.
  5. Sejak saya biasakan anak-anak ber-FC, meski belum full, anak-anak sangat…sangat oke daya tahan tubuhnya. Alhamdulillah.

 

So, bagi saya. Mengedukasi anak-anak dengan pola makan FC ini sudah menjadi keputusan sejak beberapa tahun lalu.

 

Food Combining Saat Puasa bagi Asa dan Raniah, kedua buah hati kami, sudah berjalan sekitar 4 tahunan. Tentu tidak mudah juga dan awalnya mereka hanya sesekali saja mau berbuka dan sahur dengan buah. Hingga sekarangpun keduanya juga tak selalu mau taat pada petunjuk pelaksanaan food combining (juklak).

Ritual jeniper, misalnya, hingga saat inipun keduanya belum ada yang mau. Jadi saya ganti saja dengan air hangat segera setelah mereka bangun tidur. Eh, tapi sesekali saya curi-curi ngucurin beberapa tetes jeni ke air hangat mereka. Si adek gak masalah. Tapi si kakak yang luar biasa peka dengan bebauan, bisa naik pitam. Wkwkwk

Memisahkan karbo dengan protein hewani, juga mereka terkadang langgar. Biasanya saya bernegosisai dulu berusaha membelokkan ke menu yang masuk juklak. Tapi kalau mereka sudah ngotot, ya saya berikan saja. Biasanya dalam jumlah kecil dan saya berikan banyak lalapan mentah sebagai pendampingnya, meski seringkali mereka maunya hanya ketimun. Bagi saya itu sudah cukup bagus

Atau saya yang mengajukan pilihan lebih dahulu, jauh sebelum tiba waktu makan. Dan cara ini sering langsung skakmatt! Ha..ha.. contohnya begini. Beberapa hari lalu Kak Asa sudah saya bolehkan makan nasi dengan ceplok telur. Saya sangat tidak ingin esoknya berbuka dengan ceplok telur lagi. Maka siang harinya saya sudah memulai pendekatan. “Kak, nanti makan malam sama tempe kukus pakai sambal yang banyak kayaknya enak yaa, sama timun juga”. Ngomongnya sambil pasang ekspresi provokatif. He..he… Nahh dia langsung he eh tuh! Yeayyy berhasil!

Jadi intinya adalah keluwesan. Ingat, kita berhadapan dengan anak-anak. Yang dewasa saja sering tergoda cheating kok, kalau tak benar-benar kuat niatnya. Nah, ini bocah! So, santai saja. Yang paling berharga dalam usia kanak-kanak mereka kan hubungan yg berkualitas dengan ayah-bundanya. Nah, jangan hal ini rusak gegara bunda mau memaksakan apa yang masuk ke perut mereka. Ha..ha…

Namun memang, meski kudu ekstra luwes, tetap menanamkan pemahaman itu penting. Untuk anak yang sudah agak besar, bisa diajak bicara dari hati ke hati dan jelaskan kenapa kita ingin mereka berpola makan sehat, apa pentingnya bagi mereka di masa depan, apa risiko jika mereka makan serampangan, dll. Bagi anak saya ini seringkali sukses. Dan cara ini mudah saya lakukan, karena setiap hari anak-anak melihat saya berkontak dengan kastemer dengan berbagai penyakit berat. Mereka paham betul, ada risiko diabetes lah kalau banyak makan karbo dan manis-manis, risiko obesitas jika makan berlebihan, sampai kanker kaau tak suka buah dan sayur. Namun sekali lagi, setiap anak berbeda karakter.

Pada anak yang lebih kecil seringkali lebih mudah menanamkan pola makan sehat. Karena mereka baru pada tahap mengenal. Seringnya, ketika mereka sudah mengenal pilihan-pilihan lain yang lebih enak meski kurang sehat, mereka terkadang memilih yang kurang sehat tadi. Disinilah perlunya pemahaman.

Nah, spesial saat puasa. Buat anak-anak, berpuasa saja sudah merupakan latihan yang (bisa jadi) berat bagi mereka. Jadi  jika Anda ingin mengajak anak berpuasa dengan menu FC, milikilah keluwesan lebih. Apalagi, jika selama ini memang anak belum pernah kenal pola makan ala FC. Anak-anak saya tak masalah sahur buah, pun buka dengan takjil buah. Tapi proses pengenalannya kan sudah berlangsung bertahun-tahun. Jadi memang dibutuhkan ekstra kesabaran. Pintar-pintar mencari celah dan jangan paksakan jika memang mereka belum mau. (Baca juga: Tips Agar Anak Suka Makan Sayur)

 

Banyak yang bertanya, apa Menu Anak-Anak Selama Puasa? Sebenarnya biasa saja, tidak ada yang istimewa, maklum saya ibu bekerja yang tak terlalu banyak waktu turun ke dapur. Tapi yang terpenting pahami saja prinsip FC dan juga karakter dan kesukaan tiap anak. (Prinsip-prinsip FC bisa dibaca di: Cara Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining)

Urusan buah juga beda kesukaan. Atas buat kakak bawah buat adik

Urusan buah juga beda kesukaan. Atas buat kakak bawah buat adik

Masing-masing anak beda karakter. Contohnya Kak Asa, sulung saya yang sebentar lagi akan berusia 10 tahun. Sejak kecil dia memang sedikit bermasalah dengan tekstur yang berbeda-beda dalam 1 menu. Jadi jangan harap dia mau melahap sepiring buah terdiri dari 3-4 macam buah. Padahal variasi buah dalam setiap kali konsumsi penting lo, untuk mengoptimalkan kapasitas antioksidannya. Selain itu juga untuk memastikan kecukupan unsur-unsur yg kita konsumsi. Nah, ini saya siasati dengan memberinya misal: air perasan jeruk dulu, baru kemudian sepiring buah potong (1 jenis buah) misalnya mangga atau semangka kesukaannya. Setidaknya, dengan cara ini dia bisa mengkonsusi dua jenis buah. Tapi inipun tidak selalu berhasil, kadang dia tetap hanya mau salah satu saja. ya sudah, alhamdulillah masih mau buah. Iya kan?

Lain Kak Asa, lain pula Dik Raniah. Si nomer dua sangat mudah “diakali” dengan variasi sajian. Jadi dibuatkan koktail aneka buah, dia pasti habis minimal semangkuk lah. Atau cukup hanya disediakan buah potong berbagai warna yang ditata cantik di piring yang bagus, Raniah biasanya langsung lahap makan buahnya.

Nah, sebagai gambaran, inilah menu yang disantap anak-anak saya beberapa di Ramadan ini.

Hari kedua Ramadan, Anak-anak sahur dengan air putih, jeda sebentar, dilanjut jeruk manis peras, lalu  mangga. Hi..hi… rezeki silaturrahmi. Ngunjungin Kakak saya di kota sebelah, ternyata dia lagi panen mangga manalagi situbondo yang superbesar, harum, manis. Maka diboyonglah mangga situbondo ini sekarung ke Bondowoso. Alhamdulllah kakak ekskulif buah sejak hari ini Ramadan. Sedangkan adik lanjut  nasi dan tahu goreng. Buka puasa hari kedua  ini dibuka dengan air putih. Setelah itu  disambung dengan buah semangka dan menu makan malam disajikan bakda magrib. Menu makan malam nasi dan tahu goreng plus sambal dan lalapan.

 

Hari ketiga  Ramadan dibuka dengan sahur, untuk kakak air putih dilanjut mangga dan ditutup kembali dengan air putih sesaat sebelum imsyak. Sedangkan adik air putih dilanjut air jeruk manis peras. Lalu setelah dijeda adik lanjut nasi dan tempe goreng + sambal + timun. Buka puasanya kembali diawali air putih lalu lanjut takjil semangka. Dilanjutkan makan malam nasi dan telur ceplok + sambal  + lalap timun (setelah magrib). Yaaaa… cheating deh! Suer, saya enggak tega menolak permintaan anak lanang saat itu. Itung-itung kasih reward setelah 3 hari dia berhasil puasa penuh.

 

Hari keempat Ramadan, sahurnya masih tetap air putih lanjut mangga. Buka puasanyapun kakak belum move on dari mangga. (*bundanyagigitcowek). Makan malam bakda  magrib dengan nasi+ tempe kukus + sambal + lalap timun. Duh… anak ini memang penggemar sambal. Berkali-kali nambah nasi dan sambalnya dan makan dengan lahapnya. Tapi sambalnya saya bikinkan yang tidak pedas.  Hanya pakai satu rawit plus beberapa buah tomat. Menu berbuka adik lebih variatif. Adik mau menyantap koktail buah yang bunda siapkan. Sedangkan makan malam adik : nasi merah berempah dan tempe goreng plus sambal dan timun.

Sstt.... ada yang lagi asyik makan.

Sstt…. ada yang lagi asyik makan.

Hari kelima Ramadan  Sahur kakak hanya air putih, air jeruk manis peras + pisang. Sedangkan buat adik:  air putih, jeruk manis peras , lanjut  nasi dan tempe goreng plus sambal dan timun. Buka puasa hari ini lumayan rempong,  anak-anak masing-masing memesan beberapa menu yang berbeda. Kakak berbuka dengan air putih seperti biasanya lalu semangka. Lanjut makan malam  nasi + tempe dan tahu kukus + sambal + sup bayam + cah jamur merang, setelah magrib. Sedangkan buat adik, sesuai rikuesnya : air putih,  semangka + nanas. Menu makan besarnya:  nasi + jamur tiram krispy + sambal + sup bayam + cah jamur

Dahsyat deh hari ini rikues menunya beda-beda semua. Super rempong lah, apalagi pas saya baru saja mau masuk dapur ternyata ada telepon rekan kerja dan kastemer susul menyusul. Jadi sore itu dilalui dengan sedikit babak-belur. *lebay. Tapi demi anak mau makan yang lain dari kemarin, ya diturutin saja deh.

Jangan protes ya teman-teman. Kalau diperhatikan menunya agak-agak kurang variatif dan memang belum bisa dikatakan menu FC ideal. Nah, begitulah anak-anak saya terutama Kak Asa, jika sudah nyaman dengan satu jenis makanan dia akan bertahan berhari-hari bahkan seminggu lebih. Namun demi kecukupan nutrisi mereka, saya biasanya membujuk untuk mengganti yang lain setelah maksimal 3 hari makan makanan yang sama.

Khusus untuk Kak Asa, dia punya ciri khas lain lagi yakni gemar sesuatu yang sangat umum, atau biasa saja. Jadi kesukaannya ya tempe goreng, tahu goreng, telur ceplok, satai ayam atau sapi atau kambing. Makanan yang divariasi jarang dia mau. Di luar yang saya sebutkan di atas, paling-paling sesekali dia mau melahap satai jamur, atau tahu bumbu bali, botok, tapi itupun jarang.

Jadi jika Anda mengeluh dengan anak-anak yang picky eater, u are not alone deh. Ha..ha…. sejak mengenal MP ASI kedua anak saya selalu mengalami masa pilih-pilih makanan. Ada kalanya mereka mudah makan apapun, namun lebih seringnya mereka pilih-pilih. Ya, itu tantangan orang tua deh kayaknya, terutama Ibu.

Nah, itu deh  cerita mendampingi anak-anak berpuasa ala food combining. Semoga bermanfaat buat teman-teman yang ingin putra-putrinya ikut berpuasa ala FC. Selamat berpuasa, semoga puasa kita diterima oleh Allah subhanahuwata’ala.

 

 

 

 

20 comments

  1. Arifah Abdul Majid (@arifah_feibiii) says:

    Semua butuh proses ya mak, alhamdulillaah kalau anak2 mak akhirnya mau ikut emaknya, meski belum full FC. Tapi kalau anak lain ada yang gak mau ngikut kaya gini, lebih baik jangan dipaksa ya mak, yang penting nyoba ikut pola makan sehat aja, gak harus FC 🙂 Anakku baru mau 4 tahun, masih aku bebasin aja lah, belum kepikir FC, yang penting menghindari jajanan banyak msg dan jajanan luar rumah yang gak sehat :p

    • wyuliandari says:

      Bener Mak Feby. Kalau dibukuku, buat yg dewasa aja aku tawarkan mulai FC step by step, mulai dg ngurangin jajanan gak sehat, trus memperbanyak buah dan sayur. Apalagianak-anak ya. Jangan dipaksa tar malah trauma, jadi repot dehh mreka malah membencimakanan sehat nantinya 🙂

  2. Pakde Cholik says:

    Salut atas gencarnya melakukan ajakan untuk melaksanakan FC.

    Anak2 yang biasanya hobi menyantap aneka snack dan makanan utama yang gurih2 ternyata tertarik untuk mengonsumsi FC. Ini penting untuk kesehatan ya Jeng.

    Salam hangat dari Jombang

  3. momtraveler says:

    Segitu aja menurutku udah oke banget lo mbak.ansk2 biasanya rewel mereka suka yg berasa..apalagi yg doyan susu..susah jg x ya pisah ma susu.
    Salut buat kak Asa n dek Rania..tante mo niru ah.. step by step 😉

  4. ophi ziadah says:

    Berarti yg paling penting beri pemahaman lalu sabar berproses yaaa.
    Duo kakak al n zaha sdh tahu kami be FC. Tp mereka masih ogah2an mengikuti kecuali utk tak makan karbo. Mrk seneng…lrn susah bgt klo diminta makan nasi hihihi
    Perjuangan masih panjang tp dicoba aja pelan2 yaa

  5. eda says:

    hebat ih mba, anak2nya.. aku aja abs diet mayo kapan itu, trus masuk FC, dan masih banyak cheatingnya.. apalagi puasa kakaagh… hari pertama sahur pake buah2an.. siangan langsung muntah2 dan diare.. huhuuu.. skrg jadi masih agak2 takut.. tp msh tetep sih mau nerusin FC.. mengkombinasikan nasi dengan segala macam lauk pauk.. hahahaa… becanda..

    ya tetep sih, nasi gak boleh ketemu dg daging2an.. tapi kan kalo ekeh makan tempe/tahu kukus, ga tega makannya.. jadi musti digoreng ajaa..

     

    makan sayur mentah juga masih ga doyan, jadi direbus atau disaute ajaa.. jadi curcol deh 😀

    • wyuliandari says:

      Oiya tempo hari Mba Eda mayo ya. Lupa aku mo nanya. Pinisirin ama penurunan beratnya, bisa stabil tak ya kakaaaak? Soalnya ada temen lakuin mayo. pasca mayo sehari dua hari udah naek sekilo katanya 😀

  6. Sujiwo says:

    hebat ih.. kecil kecil udah bisa diajak hidup sehat.. Walaupun iya yaa.. menunya keliahatan itu lagi itu lagi.. hihihihi dasar anak-anak, lidahnya ada templatenya xD

    • wyuliandari says:

       

      Ya itulah yang kadang bikin bundanya pengen gigit wajan.Si Kakak mah,kalo diturutin dua minggu aja bisa dia makan tempe kukus terus. Wkwkwk…. yang masaknya aja sampai bosen, eh..itu lagi…itu lagi.  

  7. Tanti Amelia says:

    alhamdulillah, si sulungku Dio sudah mulai FC, karena dia penyuka buah

    adiknya, Aniqa aku banyakin sayuran berkuah saja,

    tinggal si bontot ini… hahah.. berjuang! Thanks yaa tipsnya

  8. Nur Susianti says:

    Salut dengan anak-anaknya mba yang mau makan ala FC :). Tapi makan sambal n lalap memang enak, apalagi kalo makannya dengan nasi liwet, hmmm enaakk 🙂

Leave a Reply