Renungan World Environment Day 2015: “Seven Billion Dreams, One Planet, Consume with Care“.

Pertamakali mengetahui tentang tema hari lingkungan hidup sedunia tahun ini, rasanya tuh, seperti tertampar. Plakkkk… nyadar? Iya ya ada sekian banyak manusia lain di dunia ini. Semua sangat mungkin punya impian. Sama seperti saya.

11401314_10200766241634495_8500456103448068245_n_Fotor

 

Aku ingin begini, aku ingin begitu, aku ingin ini itu banyak sekali…. Kata doraemon. He..he… Dan manusia, termasuk saya, memang sungguh makhluk yang banyak maunya. Kalau dulunya cukup kipas-kipas saja saat merasa kegerahan, kini tiba-tiba merasa enggak tenang kalau AC enggak nyala.

Yang dulunya cukup mandi sepuluh gayung saja, kini jadi sering-sering merasa butuh mandi berendam alias kungkum dengan air se-bak penuh, air hangat pula, plus masih penuh busa-busa wangi. Dulu sudah merasa puas dengan makan telo godhog, jagung rebus, kini jadi ngerasa kurang marem jika belum bertemu cheesecake lah, macaroni schootel lah, brownies lah, and bla…bla..blaaa ha..ha…

Sebenarnya ada rasa bersalah juga. Syukurlah, tak sampai membikin galau. Karena sejak beberapa tahun terakhir saya sudah berupaya menerapkan clean eating dengan mengutamakan plant base food. Tapi tetap saja, ingat bahwa saya masih harus belajar berbuat lebih untuk bumi yang lebih sustainable. Meski step by step keleeesss, ntar jatuh kalau lompat kekencengan.

Seven billion dream …. Ya, saya harus sadar bahwa ada setidaknya tujuh miliar impian di sekeliling saya. Alangkah indahnya jika semua impian mewujud. Bukan kondisi  ketika impian yang satu menjadi penghambat bagi mewujudnyaa impian yang lainnya. Impian saya misalnya, untuk dapat menikmati makanan enak dan berkecukupan tak boleh sampai membatasi impian orang lain untuk mendapatkan sumberdaya yang cukup untuk bercocok tanam.

Saya juga masih punya impian akan sustainability Impian punya ecohouse yang seluruh bagiannya dirancang untuk tak bertabrakan dengan kepentingan lingkungan. Yang energinya pakai solarcell. Yang air limbahnya diolah dan dipakai kembali. Yang kotoran sisa human body wastenya dibikin biogas. Yang ada kebun sayurnya sehingga kapanpun bisa saya olah jadi salad yang lezat. Yang sampah dapurnya dikomposkan buat pupuk bagi kebun sayur kami. Yang… Ahhh….

One planet …. Saya pernah mengisi sebuah talkshow di hadapan anak-anak SMP. Satu dari mereka bertanya, “ Ibu, jika kita membuat kerusakan (lingkungan) di sini, apakah dampaknya sampai ke tempat lain ? ”. Pertanyaan brillian yang menyentakkan saya. Kita hidup dalam satu planet. Terkadang letak kita berjauhan, namun sejatinya kita sama sekali tak punya sekat. Ingat kejadian global warming, emisi karbon terbesar bukan di sini, tetapi justru negara-negara kepulauan seperti kita yang merasakan dahsyat dampaknya. Ingat juga fenomena hujan asam. Hujan korosif tak mesti jatuh di tempat yang sama dengan polusi yang menyebabkannya. ( Baca : Menyemaikan inspirasi pendidikan lingkungan hidup di sekolah )

Dan kita hanya punya satu bumi, planet biru ini. Kemanakah kita bisa memindahkan impian yang tak bisa mewujud disini? Ketika bumi yang hanya satu-satunya ini semakin renta dan tak lagi bisa mendukung mewujudnya impian yang tujuh miliar tadi?

Consume with care …. Saya dan mungkin Anda juga pernah membaca cerita orang yang sedang makan-makan di sebuah resto di Jerman sana. Saking semangatnya (atau kalap?), dia memesan banyak makanan yang kemudian bahkan tak mampu dihabiskannya.

Lalu warga setempat mengingatkan mereka dan sampai dipanggilkan polisi. Selanjutnya orang yang memesan makanan dan tak menghabiskannya itu mendapatkan denda. Alasannya? Ya, uang memang milik kita pribadi tetapi sumber daya untuk menumbuhkan makanan tersebut adalah milik khalayak. ( Baca juga : Menjadi traveller yang peduli lingkungan )

Ya, bicara soal lingkungan sebenarnya susah-susah gampang (atau gampang-gampang susah). Persoalan lingkungan sebenarnya adalah wujud kegagalan kita mengendalikan diri. Selain tentu juga wujud kegagalan kita memahami tempat berpijak kita ini.

Selamat hari lingkungan hidup sedunia. Seven Billion Dreams. One Planet. Consume with Care. Lets make a better world ….

*catatan:

Seperti biasa, menulis catatan tentang lingkungan selalu membuat dada saya sesak.

 

3 comments

  1. ade anita says:

    iya… cintai bumi itu susah susah gampang untuk dibiasakan oleh lingkungan. Padahal kalo cuma kita sendiri yang melakukannya ya… percuma juga (meski tetap itu lebih baik daripada tidak sama sekali)

  2. Rahmi says:

    Apa yang kita perbuat sekarang terhadap lingkungan, itulah warisan untuk anak cucu kita kelak. Kalo saya selalu mikir begitu mak. Makanya berusaha untuk menjaga lingkungan semampu saya. Aku lupa tentang hari lingkungan hidup ini, harusnya bikin post juga kaya dirimu hehehe

Leave a Reply