“Jangan Buang Sampah Di Sana … “

Share

Semua orangtua, khususnya ibu pasti ingin menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada putra-putrinya. Segala cara ditempuh agar sang buah hati memiliki sebanyak mungkin kebiasaan baik. Mulai dengan memberi contoh, mengajarkannya dengan tutur kata yang lembut, memberi reward saat anak menunjukkan perilaku baik dan masih banyak lagi.

 

Begitu pula dengan saya. Sejak di dalam kandungan, rasanya sudah mulai “proyek” menanamkan kebiasaan baik. Misalnya mengajak janin bercakap-cakap dengan bahasa yang baik dan lembut. Saat mereka lahir, lalu bertumbuh makin besar, rasanya makin banyak pula kebiasaan baik yang ingin kita kenalkan. Mulai kebiasaan berbicara sopan, bersikap santun, misalnya kebiasaan mengucapkan terimakasih, maaf atau minta tolong. Kebiasaan untuk makan teratur, makan makanan yang sehat juga menjadi pe er.

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia lingkungan, saya juga tak ingin melewatkan beberapa kebiasaan baik sehubungan dengan tanggung jawab lingkungan mereka, misalnya tidak terlalu sering menggunakan tisu, hemat menggunakan air, hemat listrik dan juga membuang sampah pada tempatnya. Kebahagiaan seorang bunda salah satunya adalah ketika ajaran akan kebiasaan baik mulai menempel dan menjadi kebiasaan anak. Bener, melihat anak mulai terbiasa mengucapkan “terimakasih”, itu saja membuat hati bunda ademmm seperti disiram segelas air es.

Saya melihat beberapa hal menakjubkan selama backpacing akhir tahun kemarin. Kerap berada di kendaraan umum, juga di beberapa tempat umum seperti stasiun, menurut saya cukup menjadi semacam ujian bagi anak-anak. Kondisi yang serba terbatas, berdesakan, lelah, menunggu lama menurut saya sebenarnya cukup berat untuk dilalui anak-anak yang belum pernah mengalaminya dan mungkin akan rentan memicu perilaku kurang menyenangkan. Dan sungguh sebuah kebahagiaan melihat mereka mampu menjalani dengan baik. Bahkan sangat baik dan membanggakan. Semisal ketika melihat Kak Asa berani mengingatkan seorang bapak yang menyerobot antrean. Wah, luar biasa senangnya saya. Atau ketika Dik Rani terlihat mengobrol dengan seorang penumpang, tanpa rasa kagok, dengan bahasa yang santun dan ramah. Duh..duh…ibu mana sih yang nggak melambung?

Kejadian menakjubkan lain adalah ketika kami berada di kereta Sritanjung dari Jogja menuju Jember. Seorang anak kecil melintas di dekat kami, dan terlihat hendak membuang sampah. Melihat sampah tak dibuang dengan benar, si kakak langsung bereaksi. “Jangan dibuang disana, itu di tempat sampah saja”, kata kakak dengan kata-kata lembut sambil menunjukkan letak tempat sampah. Anak kecil itu langsung manut dan membuangnya ke tempat sampah. “Nah, gitu dong. Pinterrr”, puji si kakak pada anak kecil yang belum dikenalnya itu. Subhanallah Hati saya ademmm banget. Anak sudah bisa menyampaikan hal yang benar sejak usia dini. Harapan saya makin besar mereka makin berperan menyampaikan apa yang benar dengan cara-cara yang baik dan cool.Ngeblog kaya emaknya misalnya. *winkkkk…

5 comments

Leave a Reply