Buku Food Combining: Mimpi Seorang Writer Wannabe

Share

Sekitar setahun lalu, saya pernah menulis tentang impian saya menjadi penulis. Memang saat itu saya sudah menulis mungkin ribuan status di media sosial, juga ratusan artikel di beberapa blog yang saya kelola. Lalu?

buku_kolase

Belum Penulis Kalau Belum Menulis Buku

Rasanya ada yang kurang jika belum pernah menerbitkan buku solo. Maka, saya bulatkan tekad, tahun 2014 saya harus sudah menerbitkan sebuah buku.

Sekitar tahun 2008 lalu saya pernah membuat naskah buku anak. Buku seri pengenalan lingkungan buat anak-anak. Sebuah penerbit besar yang saya kontak menyatakan berminat dengan naskah saya, lalu meminta naskah lengkap. Dalam waktu singkat saya selesaikan draft tersebut.

Tapi ternyata buku saya tak kunjung terbit. Tanpa pemberitahuan apapun! Semangat menulis saya patah seketika. Apalagi terbenam pula dalam kesibukan merintis sebuah unit kerja baru di kantor dan kemudian juga merintis sebuah bisnis bersama suami.

Komunitas Yang Menyalakan Impian

Mimpi menjadi penulis terlupakan. Atau tepatnya, terkubur sangat dalam. Sampai suatu ketika saya bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan nulis. Sebuah komunitas perempuan yang mencintai dunia menulis. Setahun dua tahun setelah IIDN, saya juga bergabung dengan Kumpulan Emak Blogger dan Warung Blogger. Di kedua komunitas inilah, semangat menulis saya kembali menggeliat, sayapun mulai kembali menulis, tapi di blog. Dalam setahun bergabung saya beranikan diri mengikuti puluhan lomba blog ataupun giveaway yang digelar beberapa kawan blogger. Dari puluhan lomba tersebut saya memenangi beberapa di antaranya. Kemenangan ini seperti bensin yang menyiram percikan api. Maka semangat menulispun kembali menyala.

Sayapun lalu membuat beberapa outline. Memang, masalah menentukan tema dan judul buku yang akan ditulis bukan soal mudah. Karena saya sendiri memiliki banyak minat dan aktifitas, mulai dari kesehatan, parenting, kecantikan hingga lingkungan. Namun setelah dipikir dan melakukan riset kecil-kecilan, saya putuskan menulis berkaitan dengan kesehatan khususnya pola makan.

Saya memutuskan menulis sebuah buku tentang Food Combining, alasannya? Simpel saja! pertama pola makan ini sudah terbukti dan teruji memperbaiki kondisi kesehatan saya, keluarga dan beberapa teman dekat.

Nah, supaya upaya menulis makin asyik maka saya menulis secara duet bersama sahabat saya Mirma, yang juga orang pertama yg mengenalkan saya pada FC. Saat naskah setengah jadi, suami mengusulkan untuk menerbitkan buku dalam bentuk e-book. Sayangnya buku kemudian tak kunjung terbit. Kecewa? Iya, banget!

Tapi kali ini respon saya jauh berbeda dengan ketika pertama kali naskah saya kandas.  Saya siap jungkir balik untuk impian satu ini. bismillah.

Saya lalu mengontak Teh Indari Mastuti, owner indscript, sebuah agency naskah. Saya minta masukan beliau, bagaimana naskah ini bisa menjadi naskah yang menarik. Beliau memberikan beberapa masukan yang langsung saya akomodir dalam outline.

Naskah saya rombak, nyaris total. Yang tadinya ditulis berdua, kali ini saya ditulis sendiri! He..he…judulnya ini mah, nulis dari awal sebenarnya. Saya sangat bersemangat. Semua saya lalui nyaris tanpa ada kesulitan. Outline saya ajukan bulan maret 2014, dan di acc sekitar bulan September tahun yang sama. Saat di acc itu, naskah sudah saya tulis mencapai 70 persenan. Jadi saya hanya harus menuntaskan 30 persen sisanya.

Namun justru di akhir ini muncul hambatan yang nyaris membuat saya berhenti. Ada dua hal yang membuat sandungan. Pertama, dalam buku ada bagian yang harus menggunakan narasumber seorang dokter atau nustrisionist. Kedua, ada bagian resep, yang tentu membutuhkan dukungan foto.

Waddawww… meski setiap hari memasak, saya ini tak pintar masak. Apalagi harus men-set sajian hingga ciamik difoto. Itu bukan saya banget! Kamerapun saya hanya punya kamera hp dan kamera digital biasa. Piranti makan seperti piring, mangkukpun, saya tak punya yang istimewa. Semua benda di rumah memang hanya mengutamakan fungsi saja. Tapi  saya tak rela untuk menyerah! Sudah tanggung.

Saya berlatih dengan kamera seadanya, menghabiskan rupiah untuk membeli piranti makan baru, dan melewatkan puluhan jam waktu diakhir pekan untuk berbelanja hingga uji resep dan memotret.

Begitu pula dengan dokter. Saya memang menemukan seorang dokter spesialis, sayangnya ketika kami mulai ngobrol, justru ternyata pengetahuan ttg FC ternyata kurang memadai. Rasanya saat itu saya ingin sekali berhenti.

Tetapi nasib baik masih berpihak pada saya. Setelah nyaris hopeless, ternyata seorang dokter teman di group FC merespon mesej saya. Yeayyy…..alhamdulillah dan many thanks to dokter Asriningrum Spesialis Syaraf.

Dan dengan penuh rasa syukur, akhirnya buku saya dapat diterbitkan medio Januari kemarin. Sedikit terlambat dari target saya. Tetapi itu bukan masalah besar. Saya sangat bersyukur telah melewati tantangan demi tantangan saat proses penulisannya.

Setelah Ini Apa?

Buku telah terbit, what next ? Pastilah ada impian-impian baru lagi susul menyusul di kepala. Namanya juga manusia. Sekarang pe er baru adalah mengawal buku ini agar memiliki penjualan yang baik. Saya sudah menyiapkan beberapa jurus untuk mendukung buku baru ini baik secara online saya akan menggelar beberapa giveaway dan lomba insyaallah sepanjang Februari hingga Juni nanti. Offlinenya ? Saya sudah membuat janji beberapa kegiatan semacam talkshow dengan tema food combining. Moga-moga semua lancar.

Tentunya, saya tidak ingin berhenti menulis hanya pada buku pertama saja. Impian yang lain tahun ini adalah menerbitkan buku tentang lingkungan. Buku yang ringan dan ngepop namun sarat dengan ide-ide tentang sustainability. Impian saya, pembicaraan tentang lingkungan bukan menjadi sesuatu yang ndakik (Tinggi atau berlebihan). Ide-ide sustainability itu harus membumi.

Yang kedua, saya ingin menulis lagi buku yang berkaitan dengan pola makan sehat, untuk mendampingi  dan melangkapi buku yang pertama. Keduanya sudah dalam tahap penggarapan. Meski yang kedua masih sedang riset. hi…hi… Kalau yang pertama sudah diluncurkan untuk mencari jodohnya.

Oh ya, ada beberapa hal umum yang saya lakukan untuk mewujudkan impian. Pertama, impian selalu digelorakan agar tak mudah padam, caranya banyak. Bisa dengan sering dibicarakan dan didiskusikan dengan teman atau pasangan, dalam hal ini komunitas yg mendukung juga sangat penting. Kedua, planning. Ini sangat penting agar jelas step by step yang harus  dilalui. yang terakhir the invisible hand. Saya sangat percaya ini, maka doa, restu orang tua bersedekah adalah beberapa cara untuk mengundang campur tangan the invisible hand.

Diadaptasikan dari teknik mindmapping, begilah saya mengorganisir pekerjaan menulis saya

Diadaptasikan dari teknik mindmapping, begilah saya mengorganisir pekerjaan menulis saya

Nah, itu cerita tentang impian versi saya. Semoga sharing di atas bermanfaat ya teman. Selamat bermimpi. Yuk bermimpi yang besar sekalian. Biarkan tangan Tuhan Yang Maha Penyayang menjadikan nyata segala impian kita.

10 comments

    • wyuliandari says:

      wuihh panjang umur mak. Baru aja aku mo mesej mo nanyain bukunya. Sipp ditungguin ya mak, ntar satu per satu lomba dan GA nya 😀 biar ndak ngos-ngosan. btw selamat membaca, semoga suka 😀

  1. evrinasp says:

    nah pertanyaannya adalah, gimana cara ya supaya kita mau nulis buku? itu kan harus konsen banget ya mak, menerbitkan buku solo itu buat saya angka kreditnya gede banget soalnya mak

    keren dikau bisa melewati step by step, tawaran menulis buku sebgai penulis kedua kemarin aku lepas karena ga sanggup dengan kerjaan aku sekarang ini *eh malah curcol*

    terimakasih ya sudah mengikuti GA Wujudkan impian mu, salam hangat dari Bogor

Leave a Reply