Site Loader

LOCATION

www.facebook.com/wyuliandari ; www.instagram.com/widyanti_yuliandari ; https://twitter.com/widyanti_y
Share

Urban Farming–Selama beberapa bulan terakhir, foto-foto kegiatan menanam beberapa kawan wara-wiri di beranda FB. Ada yang menggunakan metode konvensional, ada yang menggunakan hidroponik, ada yang katanya metode FAITH. Apapun, pokoknya semua itu bikin panasssss…. Panas untuk mencoba pula. Ha..ha…

Well, sebenarnya kami tak terlalu asing dengan kegiatan tanam menanam. Setidaknya kami punya beberapa pot tanaman hias dan satu pot katu, sayuran kegemaran si sulung. Tetapi, kegiatan menanam kami tak terlalu terprogram dan terarah.

Padahal, dalam keyakinan saya, menghasilkan sesuatu sedekat mungkin (termmasuk makanan) dan mengolah sesuatu yg terbuang juga sedekat mungkin dengan kita (sampah misalnya) adalah salah satu pilihan pengelolaan lingkungan yang minim risiko.

Tanaman pare
Tanaman pare

Kenapa saya katakan minim risiko? Begini misalnya saja untuk buah, semakin dekat dia dihasilkan maka semakin kecil kebutuhan untuk menambahan pestisida untuk mencegah mudah busuk. Demikian pula misalnya, jika bahan makanan semisal sayur dan buah dapat dihasilkan di rumah, maka semakin kecil kebutuhan untuk terus menerus melakukan pembukaan lahan untuk pertanian. Artinya, lahan akan dapat dihemat. Hutan akan tetap menjadi hutan.

Oke, maka kami harus memulai. Eh, sebetulnya ini awalnya suami yang memulai. (Big thanks to Ayah). Awalnya suami menanam biji paria yang iseng saya sisihkan usai memasak oseng pare pedas kesukaan kami. Sebelumnya, kami memang sudah menyediakan tanah kebun yang kami ambil dari kebun bambu dekat rumah Asisten kami. Memang, sudah lama kami berencana bertanam di teras lantai dua yang tak seberapa luas sih, hanya sekitar 6×3 meteran. Kebetulan juga kami punya dua kantong besar kompos, pemberian seorang teman.

Eh, tak lama ternyata nongollah si baby paria. Biji-biji sayur nan pahit ini, tanpa saya sadari telah bertumbuh menjadi tanaman muda yang segar dan sehat. Maka tugas merawat tanaman-tanaman ini saya ambil alihlah dari sang hubby. He..he…( baca juga : Tanaman hias oleander)

 

Berbicara Dengan Tanaman
Jadi, sejak sekitar seminggu lalu, tugas merawat tanaman saya ambil alih. Setiap sore, saya selalu naik ke lantai dua dan menyiram tanaman di sana. Selain si paria kecil, di sana juga ada katu yang sedang sedikit merana, bugenvil, kamboja jepang, serta beberapa tanaman hias yang saya tak tahu namanya, dan bunga melati. Juga ada beberapa pot yang kami gunakan untuk menyemai cabai dan terong, namun belum muncul juga si bayi terongnya. Bibit terong saya dapat dari seorang teman yang memang petani. He..he…kalau dipikir, semua peralatan dan bahan menanam tak ada yang dibeli yak?? Ya gitu deh, namanya emak-emak.

Awal saya mengambil alih tugas merawat tanaman. Suami sedikit protes. “diajak ngomong dong tanemannya, Bun”, kata beliau. Ya sudah, saya ajaklah ngobrol tanaman-tanaman itu. Saya tahu sih, banyak pengalaman membuktikan, bahwa tanaman yang sering diajak berbicara dengan lembut, akan tumbuh dengan sehat dan hasil panennya bagus. Bahkan saudara di kampung juga menceritakan hasil panen cabai yang luar biasa, resepnya ya dia selalu ngobrol dengan tanamannya.

“Halo katu, waduh kamu kok kuyus sih, gemuk dong yaa….”
“Hai paria, tumbuh subur ya. Cepetan berbuah”.
“Terong, duhhh kapan kamu nongol. Ayoo dong tumbuh. Ya..ya..”
Begitulah, saya bercengkrama dengan tanaman-tanaman yang saya rawat.

Nah lo. Ternyata suami masih protes juga dengan cara saya ngobrol. “dikasih salam dong”, kata beliau lebih rinci. Yah, sayapun nurut. “Assalamualaikum….”, sapa saya pada tanaman kami. Untung enggak lagi ada tetangga lewat,jangan-jangan ntar dikira saya udah rada… ehmm…setengan g*la. Ohh tidak!!!

Nah, bagaimana nanti hasilnya bercocok tanam ala saya ini? Tunggu beberapa bulan ke depan ya. Moga-moga hasilnya bagus dan panennya buanyakkk ! ( baca juga : Sirih gading, tanaman cantik penyerap racun )

Post Author: wyuliandari

Momblogger, penulis buku, pebisnis online sekaligus seorang PNS yang suka menulis. Tema-tema green, health, travelling , teknologi dan pendidikan adalah topik yang diminatinya.

7 Replies to “Urban Farming, Menanam Di Area Terbatas”

  1. saya ga begitu paham soal cocok tanam. Halaman rumah pun diplester habis tanpa ada sisa tanah sedikitpun hehehe…Salut mak dengan ketelatenannya.. ditunggu hasil fotonya beberapa bulan ke depan mak

    1. Diplester habispun masih bisa bertanam kok Mak. Rumah kamipun (karena hanya tipe 21) terpaksa harus diplester semua, maka space yang sangat terbatas di lantai atas yg kami gunakan. terimakasih telah berkunjung mak πŸ˜€

    1. Yukk Mak nyoba. Asal jangan keras-keras ya, didenger tetangga entar dikira yang enggak-enggak. Ha..ha….Kata ahlinya sih yg penting adalah intonasi, bahasa tubuh selama berkomunikasi. Soal aspek verbalnya kecil pengaruhnya πŸ™‚

    1. Ha..ha…beneran Mbak Fenny. Saya jadi ketagihan naik ke lantai dua buat menyapa mereka. Serasa makin banyak teman. hi..hi

  2. Saya juga tertarik untuk mulai tanam menanam sendiri kebutuhan sayuran ini Mbak, seneng kali bisa metik cabe, tomat yang ditanam sendiri yaa, tapi belum punya lahan ini #alasan hihihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!