Tips Mengatasi Obesitas

Coretan ini saya tulis tiba-tiba, begitu saja, di minggu malam sesampai di rumah dari mengunjungi ibunda saya.Terinspirasi pengalaman ibunda yang sedang berjuang “keluar” dari obesitas.

“Big is Beautiful”, begitu salah satu ungkapan yang cukup membesarkan hati para pemilik tubuh besar. Benarkah sejatinya demikian? Maksud saya, jika merujuk pada makna cantik, bahwa kecantikan adalah kesatuan dari kesehatan jiwa dan raga. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan saya sederhananya begini: benarkah dalam tubuh gemuk tersimpan sehat?

Dulu, dulu sekali, saya berkeyakinan bahwa gemuk-langsing-kurus, itu “taken for granted”. Pasalnya, saya sering lihat teman saya yang badannya kurus, makannya minta ampun banyaknya. Saya juga sering melihat, teman berbadan gemuk,justru makannya sedikit. Waktu itu mikirnya simpel banget, hanya lihat kuantitas makan saja.Begitu pula pengalaman pribadi, biarpun saya doyan makan, alhamdulillah ya… (apaan sih?) badan tak pernah melar, kecuali saat hamil dan menyusui.Nah, itu ceritanya mengapa saya sampai pada kesimpulan tersebut.

Lalu pada suatu ketika, entah mengapa badan saya terasa terlalu kurus untuk ukuran Ibu-ibu. Lebih-lebih saat itu, badan ala Kate Moss sudah tak terlalu ngetrend, beralih ke tubuh curvy macam J-Lo, atau yang lebih hot, Kim Kardashian.Lalu berkenalanlah saya dengan sesuatu bernama food combining, lalu mencobanya. (Catatan tentang food combining akan saya buat lain kali, ya. Tunggu mood. he..he…)

Apa yang terjadi setelah saya coba pola makan food combining ini? Ternyata berat badan saya bisa nambah, sekitar dua kilogram. Dan bahagianya, pertambahan berat itu tidak menimbulkan buncit di perut, atau hal-hal kurang estetis lainnya. Pertambahan berat itu justru terlihat di beberapa bagian tubuh sehingga tampilan keseluruhan tubuh menjadi ideal. Dan itu tanpa olahraga (jangan di tiru bagian ini, ya!), tampaknya kesimpulan awal saya tadi mulai goyah.

Apalagi kemudian saya mendengar cerita teman-teman yang tadinya obesitas, bahkan sejak kecil, setelah mengikuti pola food combining sukses mendapatkan berat ideal. Uups…padahal, kata mereka, itu bukan tujuan. Tujuan FC itu sehat. Titik. langsing hanya sedikit bonus saja! Bussyettt!

Di saat yang sama, saya mengamati, Ibunda saya yang tadinya langsing tiada tara (untuk ukuran Ibu-ibu seusianya), perlahan semakin terlihat menggemuk. Dengan tinggi badan sekitar 158 cm, BB beliau dikisaran 60 hampir ke tujuh puluh. Maka saya kenalkan beliau pada pola makan food combining, tapi beliau menolak. Susahlah, kata beliau. “Biarlah, biar gemuk asal sehat”, begitu dalihnya.

Okelah, moga-moga Ibu senantiasa sehat. Dan itu benar kejadian. Selama bertahun-tahun cek rutin beliau selalu di angka aman untuk gula darah, kolesterol, dll. Maka tampaknya, beliau makin santai atur pola makannya. Maklum, ungkapan “biar gemuk asal sehat” sementara terbukti sudah.

Suatu saat, tiba-tiba beliau minta di antar ke dokter spesialis syaraf. Apa pula? pikir saya. katanya sehat. Ternyata keluhan pegal di pinggang, yang tadinya dianggap hanya karena capai, kini tak tertahankan sudah.

Oke,kamipun berangkat ke dokter. Dan…deng…deng…..Diagnosa dokter, Ibu terkena radang sendi, sebenarnya sangat biasa untuk seusianya, namun overweight jauh memperburuk kondisinya. “Ibu tidak punya pilihan lain, selain diet”, itu dokter yang bilang lho, bukan saya.

Akhirnya, ibunda bersedia meniru pola food combining yang saya terapkan. Meski tak secara penuh, ber FC. Minggu pertama, ternyata sodara-sodara…. BB turun 2 kg. plokk…plok….. Sampai disini, kesimpulan di awal, gugur sudah. Gemuk-langsing-kurus, itu bisa dibentuk! Terbukti, untuk usia 60 tahun (yang katanya metabolismenya sudah melambat, dan jika berdietpun juga akan sulit turunkan BB) ternyata dengan tekad yang kuat, bisa kok!
Nah, masih yakin, gemuk karena keturunan? Yakin kalau diet tetap tak bisa langsing? Sini deh, saya bantu dietnya 🙂

3 comments

Leave a Reply