Pro Kontra Food Combining

Share

food combining

Pro Kontra Food Combining –  seperti halnya beberapa pola makan (diet) lainnya, food combining juga menuai pro dan kontra. Meski banyak orang yang mengaku sangat terbantu dengan food combining dan mendapat banyak manfaat kesehatan setelah menjalaninya, saya sendiri salah satunya. Tak dapat dimungkiri banyak pihak pula yang kontra.

Saya sendiri sering mendapat “protes” dari lingkungan saya. Seperti misalna, “nanti bisa kurus lho, hanya makan buah dan sayur”. Atau “nanti bisa sakit perut kalau makan buah pagi-pagi”. Dan, bla…bla…bla

Kalangan yang kontra tak hanya kaum awam, dokter maupun ahli gizi juga. Namun yang menyenangkan, ternyata dokter praktek langganan keluarga kami justru mendukung food combining yang saya lakukan.

Sebagian kelompok yang kontra, menilai food combining kurang dasar ilmiahnya. Bahkan ada yang menilai, food combining sebenarnya tak lebih hanyalah tahayul. Banyak ahli termasuk dokter yang menganggap food combining bertentangan dengan kaidah ilmu kedokteran dan ilmu gizi normal. Bahkan, ada yang menggolongkan food combining sebagai food quacks alias takhayul makanan modern.

Tak Semua Orang Cocok Food Combining

Menurut Ali Khomsan, pakar gizi dari IPB, tidak semua orang cocok menerapkan food combining. orang yang sehat dan pekerjaannya menuntut asupan gizi cukup sebaiknya tidak melakukan food combining. Metode ini juga tidak cocok untuk orang yang kekurangan berat badan, malnutrisi, atau ibu hamil dan ibu menyusui.

Menurut Andang Gunawan, Ahli Terapi Nutrisi dan salah satu pelopor food combining di Indonesia, pada umumnya food combining baik untuk semua orang, kecuali untuk mereka yang kekurangan gizi alias malnutrisi. Tapi mari kita tengok pendapat penulis buku bestseller Food Combining Kombinasi Makanan Serasi. Menurut beliau, manfaat food combining bagi ibu hamil dan menyusui justru besar, anak yang dikandung/disusui bisa lebih kuat terhadap penyakit.

Dan sebagai informasi, banyak lho, teman-teman saya yang menjalani FC saat sedang hamil maupun menyusui. Buktinya, mereka dan anak-anaknya juga sehat dan bahkan merasa lebih sehat daripada saat menjalani pola makan sebelumnya. Kuncinya hanya makan cukup dan se-variatif mungkin. Jangan hanya makan makanan yang itu itu saja.

Sarapan Buah, Apa Kenyang?

Barangkali itulah pertanyaan yang sering muncul dari seseorang yang baru pertamakali diperkenalkan pada food combining. Mengapa penganut food combing sarapan buah, atau mengkonsumsi buah sebelum menu utama?

Alasannya adalah, sesuai dengan ritme alami tubuh, jam sarapan adalah bersamaan dengan siklus buang.  Pada fase ini, akan lebih banyak energi yang dialokasikan tubuh untuk membuang sisa metabolisme serta tumpukan makanan pada usus besar. Membebani tubuh dengan makanan yang yang berat dicerna pada saat ini akan mengganggu alokasi energi tersebut. Karenanya dipilihlah buah sebagai sarapan. Fruktosa dalam buah dipandang mampu menyediakan energi untuk tubuh beraktivitas, tanpa membebani organ cerna.

Mudah lapar ? Memang iya, maka dalam food combining memang disarankan mengkonsumsi buah secara berulang. Makan buah pelan-pelan, biarkan air ludah menyalutinya dan gigi geligi optimal melakukan tugas cerna di mulut, telan, dan berhenti makan saat merasa kenyang. Yang dimaksud kenyang disini adalah rasa kenyang yang wajar, yang menimbulkan rasa nyaman di perut. Satu atau dua jam kemudian, mungkin akan timbul kembali rasa lapar, wajar karena buah memang mudah dicerna. Nah, saat lapar kembali muncul, penganut food combining bebas untuk makan kembali, tentu saja buah lagi, hingga tiba jam makan siang.

Kalangan ahli gizi pada umumnya berpendapat, konsumsi buah dan serat dalam keadaan perut kosong dapat menyebabkan iritasi pada saluran cerna dan hal ini menyebabkan tidak terbentuknya feses yang bagus konsistensinya. Apalagi bagi orang yang tidak terbiasa mengonsumsi buah asam pada saat perut kosong, hal ini akan membuat lambung berada dalam kondisi yang lebih asam.

Sedikit hal yang perlu dikoreksi disini adalah, semua penganjur food combining menyarankan buah yang manis, berair dan berserat, sebagai sarapan. Bahkan ada anjuran jika memungkinkan akan sangat baik makan buah yang matang di pohon. Buah yang besar kemungkinan dikarbit, seperti misalnya mangga, tidak diajurkan dimakan sebagai menu sarapan yang pertamakali.

Food combining tidak menyarankaan konsumsi buah setelah makanan utama, kecuali setelah diberikan jeda yang cukup agar makanan utama tersebut tercerna lebih dahulu. Mengasup buah setelah makanan lain dipandang dapat mengacaukan pencernaan.

Jane Clarke, seorang nutrisionis terkemuka dan juga kolumnis Dailymail Inggris, berpandangan bahwa hal tersebut tidak beralasan. Bahkan dari sisi nutrisi, disebutkan bahwa ada alasan yang kuat mengapa mengkonsumsi buah setelah makan, yaitu, vitamin c yang dimiliki buah akan membantu tubuh menyerap zat  besi. Keuntungan lain dari mengkonsumsi buah setelah makan adalah, protein akan membantu memperlambat penyerapan gula.

Karbohidrat penting untuk energi mencerna

Salah satu prinsip dalam food combining adalah tidak mencampur karbohidrat dan protein. Yang dimaksud disini adalah bahan pangan apapun yang mengandung protein lebih dari 10 gram per seratus gram beratnya. Hal ini seperti yang disampaikan Kathryn Marsden, dalam buku bestsellernya The Complete Book of Food Combining.  Untuk sederhananya, biasanya literatur dalam negeri menyebut protein hewani.

Penjelasan versi Erikar Lebang, salah satu penggiat food combining sekaligus praktisi yoga, adalah sebagai berikut. Ketika kita makan makanan yg dominan karbohidrat bersamaan dengan protein, maka yang terjadi adalah sistem cerna kita kerepotan untuk mencerna.Enzim yang membantu proses cerna kedua unsur tersebut tidak dapat bekerja pada situasi yang sama. Enzim amilase (enzim yang memecah karbohidrat) akan berhenti saat enzim pepsin (enzim yang memecah protein), dikeluarkan. Akibatnya, karbohidrat belum terurai dengan sempurna. Karbohidrat yang belum terurai dengan sempurna itu menjadi tumpukan sampah yang akumulasinya akan menjadi “racun” bagi tubuh. Dalam jangka pendek menyebabkan mudah lelah, pusing dan lemahnya daya tahan tubuh, sedangkan dalam jangka panjang menyebabkan ancaman berbagai penyakit degeneratif bahkan kanker.

Prinsip padu padanan ini sering sekali menjadi kontroversi, apalagi bagi lidah orang Indonesia yang sangat terbiasa makan karbohidrat (nasi) bersama protein hewani. Ini baru kontroversi dari sisi selera. Di sisi lain, menurut Leane Manurung Dokter Ahli gizi RSCM, proses pencernaan setiap waktu selalu membutuhkan energi untuk mengurai zat-zat gizi dalam makanan dan energi tersebut biasanya didapat dari karbohidrat yang dimakan berbarengan dengan zat gizi lain seperti protein dan vitamin. Lalu jika protein tak dimakan dengan karbohidrat, darimanakah energi itu?

Masih menurut kelompok yang kontra, semua unsur gizi akan dicerna melalui saluran yang sama. Secara alamiah, mekanisme tubuh manusia diyakini mampu mencerna semua makanan sekaligus, sehingga metode memisah-misahkan makanan tertentu dianggap tidak masuk akal.

Menurut Jane Clarke, tubuh kita dirancang untuk mencerna berbagai jenis makanan berbeda dan tidak ada alasan fisiologis kita tak dapat mencerna dan menyerap protein dan karbohidrat pada waktu bersamaan. Unsur-unsur makanan yang berbeda, dipecah dan diserap pada bagian yang berbeda. Contohnya gula, prosesnya bermula di mulut, dengan enzim pada air ludah kita. Sejumlah gula tercerna dan tercerna dan langsung terserap melalui mulut, inilah sebabnya mengapa kita mendapatkan energi dengan cepat dari sebatang coklat.

Food Combining Susah dan Merepotkan

Sebagian orang mengatakan bahwa, food combining itu sangat kaku, susah dan merepotkan. Itu juga alasan sebagian orang yang pernah menjalani food combining, namun kemudian tidak berlanjut. Benarkah food combining susah dan merepotkan ?

Jika diperbandingkan dengan banyak jenis diet lainnya, food combining justru termasuk diet yang paling praktis. Pelaku Food combining tak perlu menghitung-hitung kalori, menu yang akan dihidangkan. Tak perlu pula menakar atau menimbang makanan yang akan disantap. Food combining tak perlu makanan khusus, tak perlu pula resep khusus. Pelaku food combining tak harus menyiapkan makanan secara khusus, di rumah. Di restoran, di pesta, bahkan di warteg pun pelaku food combining tetap dapat makan dengan nikmat tanpa meninggalkan prinsip food combining yang di anutnya.

Pada akhirnya, menurut saya semua terpulang pada pilihan masing-masing dari kita. Jenis diet apapun yang dipilih, yang terpenting akhirnya adalah diet tersebut dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh untuk dapat beraktifitas sebagaimana mestinya, serta tetap sehat terhindar dari berbagai penyakit.

Dan yang penting juga, jangan sampai memahami diet baru setengah-setengah lalu menjalankannya. Menurut saya banyak keluhan tentang diet tertentu itu juga muncul dipicu aplikasi diet yang tak dipahami secara utuh.

Misalnya, dalam FC  saat melakukan sarapan buah, makannya tak cukup kenyang. Atau saat perut kembali terasa lapar, si pelaku FC tak kembali mengasup buah sperti yang disarankan. Membiarkan perut dalam keadaan kelaparan sampai siang, akibatnya tubuh kan bisa tekor energi. Lalu sakit perutlah dia, dan FC yang disalahkan. Padahal, pemahaman dia terhadap FC lah yang belum benar.

Nah, jadi sebelum Anda melakukan FC atau diet jenis apapun, pastikan Anda memahami seleruh juklaknya dengan benar ya. Jangan sampai sakit justru karena salah aplikasi diet.

22 comments

    • Widyanti Yuliandari says:

      Sakjane ya isa disiasati mbak. Artinya, kalau sudah agak terbiasa tuh biasanya bisa 2 atau 3 kali makan saja. tapi sekali makannya harus cukup membuat perut terganjal dan nyaman. he..he

  1. Lestarie says:

    Loh ikut grup FCI juga toh? Aku juga niiih. Wuih ketemunya malah di KEB :))

    Sampai sekarang masih dibilang aneh gegara sarapan pake buah. Katanya irit kok kebangetan 😀

    • wyuliandari says:

      Hai Mba Chiwi

      Sama aja mba. FC itu universal. Kalau sudah ber-FC mestinya tak lagi khawatir makan sayur mentah,meski sedang hamil. Pertama, tubuh yang sudah mencapai pH yang optimal, bukan lingkungan yang nyaman bagi parasit dan makhluk-makhluk lain yang ditakutkan ada dalam sayur mentah. Kedua, kunyahan yang baik juga sudah bisa kok membuat segala macamorganisme tersebut mati.

  2. Pertiwi Soraya says:

    FC tu seru bgt sbnarnya ya mak, bahkan terasa bgt bedanya utk tubuh. Lebih segar jdinya…klu saya sih pengennya FC terus tiap hari. Tp utk saat ini masih di SC alias style combining. Kadang FC kadang yg tradisional. Blm konsisten 🙂

      • wyuliandari says:

        Kalau FC nya emang bener eksekusinya, seharusnya justru ASI makin banyak dan berkualitas. Nah, perlu dicek kembali FC nya pelaksanaannya bagaimana. Coba kasih di sini Food Diarynya. Catat dengan detil jam berapa makan apa.

        Kesalahan yang umum terjadi itu:

        *kurang minum air

        *sarapan buahnya hanya sekali, harusnya berkali-kali.laper makan lagi

  3. Dessy Natalia says:

    waah harus banyak belajar tentang fc nih mba..

    aku baru tau fc setelah suka kepoin blognya mba wid..

    mau direkomendasikan ke mama..

    tapi kalo buat aku mah kayanya masih susah *penggemar indomie*

    wkwk

  4. Citra says:

    Mau nanya nie mbak., saya lagi hamil 6bln..

    apakah masih boleh minum jeniper di pagi hari yaa? 

    Thx penjelasannya…

  5. triwy says:

    Saya menerapkan pola hidup sehat FC jg mb..dan alhamdulillah skrg sy hamil 27 w..bangun pagi sy selalu mnm jeniper mb..dilanjut sarapan buah..utk sayuran mentah sy jg tetap konsumsi mb..

  6. Shabrina says:

    Hallo,saya baru mencoba menjalani FC ini,sudah jalan hari ke 4..minggu lalu saya terkena tipes dan memang ada maag,di hari ke4 ini masi terasa lemas apa karena polanya salah?padahal saya sdh makan cukup buah di pagi hari..dan setiap sesudah makan siang saya malah perutnya panas 🙁 mohon infonya 🙂

Leave a Reply to ira Cancel reply