Dampak Pemanasan Global bagi Sektor Kelautan

Dampak Pemanasan Global bagi Sektor KelautanArsip tulisan lama yang pernah dimuat disebuah harian cetak di Jawa Timur

Di Bumi, laut mengisi dua pertiga dari luas permukaan. Untuk Indonesia, Negara di khatulistiwa yang terdiri dari lebih 17 ribu pulau, dengan wilayah perairan seluas 6,1 juta km2 atau 77 persen dari wilayah negara.

Laut memegang peran penting bagi kelangsungan Bumi. Iklim yang tercipta di Bumi tidak terlepas dari keberadaan laut melalui proses evolusi planet yang berlangsung lama. Dari laut-lah, sumber air di daratan mendapatkan pasokannya, melalui siklus hidrologis. Bisa dikatakan, tanpa laut, tidak akan ada kehidupan di daratan. Dari laut pulalah, awal mula munculnya kehidupan di planet ini.

Sayangnya, aktifitas manusia yang menghasilkan limbah tidak ramah lingkungan berupa gas rumah kaca (GRK) telah mengubah iklim secara cepat (faktor antropogenik), selain faktor alam (natural) berupa radiasi matahari.

Hasil simulasi dari pemetaan satelit, kedua faktor di atas memberi kontribusi sebesar 92 persen atas perubahan temperatur global.

Kini, dunia telah dihadapkan pada fenomena pemanasan global (kenaikan temperatur Bumi dan pengasaman) yang berdampak sangat luas pada kehidupan manusia.

gas rumah kaca dan perubahan iklim

Dampak Pemanasan Global

Dalam 50 tahun terakhir, kenaikan temperatur global berlipat 2 x , dibandingkan se-abad lalu. Kecenderungan ini jelas mengkuatirkan. Perhitungan yang dilakukan oleh International Govermental Panel of Climate Change (IPCC) diperoleh bahwa pada tahun 2100, suhu BUmi naik 1,5 – 4,5 derajat.

Akibat dari Pemanasan Global sebagai berikut ini :

Pertama, kenaikan tingkat penguapan air pada wilayah Amerika, Eropa dan Asia, namun pengurangan tingkat penguapan air di wilayah Afrika. Akibatnya di Afrika mengalami kekeringan yang berkepanjangan.

Kedua, di dasar laut wilayah pesisir, terjadi peningkatan tekanan dan pengasaman yang mengganggu kehidupan organisme terumbu karang yang mengakibatkan pemutihan dan kerusakan terumbu karang. Dalam jangka panjang, kehidupan di terumbu karang akan hilang dan ikan-ikan menjauh dari pantai. Hal ini akan membawa dampak pada hilangnya rantai makanan di laut. Bahasa gamblangnya adalah seluruh makhluk hidup di laut bisa terancam musnah. Manusia yang menghuni daratan akan menerima dampaknya.

Perubahan Iklim

Ketiga, temperatur Permukaan laut meningkat hingga kedalaman 3000 m dan memicu kemunculan badai. Secara teoritis terbentuknya badai bila air laut harus dalam kondisi hangat bertemperatur minimal 12,5 derajat C hingga kedalaman 60 m.

Kemunculan badai memunculkan efek domino yang sangat merugikan. Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia merasakan dampak buruk dari badai. Mulai dari gelombang pasang, banjir, tanah longsor, pohon dan bahkan papan iklan bertumbangan,kapal karam, pertanian dan pertambakan rusak, infrastruktur transportasi rusak dan lain-lain.

Keempat, frekuensi munculnya anomali cuaca El Nino meningkat. El Nino merupakan gelombang panas di garis ekuator Samudera Pasifik yang mendekati wilayah perairan Indonesia. Fenomena alam yang telah terjadi berabad-abad lalu, kini muncul setiap 2– 7 tahun, lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan temperatur Bumi. Fenomena ini menjadi pertanda akan terjadinya kekeringan di kawasan Asia Tenggara dan sebaliknya banjir di Amerika Selatan bagian timur.

Dua fenomena di atas di atas makin tidak beraturan dan cenderung beragam, baik gejalanya maupun dampaknya.

Berkaitan dengan perubahan iklim ini, laut dan udara Indonesia ternyata memegang peranan strategis sebagai “mesin penghasil uap” dunia, penggerak sistem sirkulasi udara global, dan pembentukan iklim dan cuaca dunia. Karenanya mekanisme perubahan iklim global akan tidak bisa dipahami tanpa mengetahui fungsi “mesin penggerak” di atas wilayah Indonesia. ( baca juga : upaya mengatasi ancaman perubahan iklim)

Kenaikan Permukaan laut

hari lingkungan hidup 2009, perubahan iklim,

Kelima, terjadi kenaikan permukaan air laut akibat pencairan es di kutub dan pegunungan tinggi yang selama ini berselimut salju abadi.

Pertambahan volume air laut tersebut mengakibatkan kenaikan permukaan laut di seluruh dunia, yang pada gilirannya akan bisa menenggelamkan ribuan pulau-pulau kecil dan mengurangi luas pantai pada benua dan pulau besar. Diperkirakan 14 negara kepulauan dari 44 anggota Small Islands Development State (SIDS) terancam hilang seperti Sychelles, Tuvalu, Kiribati, dan Palau, serta Maladewa di Samudra Hindia dan beberapa di Samudera Pasifik.

Akibat pemanasan global, minimal 18 pulau di muka bumi ini telah tenggelam, antara lain tujuh pulau di Manus, sebuah provinsi di Papua Niugini. Kiribati, negara pulau yang berpenduduk 107.800 orang, sekitar 30 pulaunya saat ini sedang tenggelam, sedangkan tiga pulau karangnya telah tenggelam. Indonesia sendiri berpotensi kehilangan 2.000-an pulau pada tahun 2030 .

Kenaikan permukaan laut turut memicu kehancuran tambak ikan dan udang. Mempertinggi fenomena rob atau genangan air laut pasang dan intrusi air laut ke daratan yang berakibat berkurangnya sumber air bersih. Juga menghancurkan infrastruktur ekonomi dan transportasi sepanjang pesisir sepanjang 81.000 km untuk Indonesia (Dishidros, 1987). Menurut Coremap (2002) panjang pantai Indonesia 106.000 km.

Bila ketinggian air laut naik 0,5 m, potensi kehilangan tanah pertanian produktif untuk Jawa sebesar 113.000 ha, Sumatera sebesar 1.314 ha dan Sulawesi 12.000 ha. Jika air laut naik 1 m, maka besar tanah pertanian yang hilang untuk Jawa 146.500 ha, Sumatera 1.345 ha dan Sulawesi 15.200 ha (Kompas, 3/4).

Saat ini, dampak telah dirasakan oleh masyarakat pesisir pantai, termasuk 11 juta nelayan di Indonesia.

Upaya Terpadu

Upaya mengatasi dampak pemanasan global dan perubahan iklim pada sektor kelautan hendaknya didasarkan pada pengetahuan dan data yang menyeluruh guna menentukan langkah pencegahan dan adaptasi.

Pertama, pemanasan global dan perubahan iklim disebabkan oleh GRK yang sebagian besar diproduksi oleh negara-negara maju. Dampak dari fenomena ini dirasakan terutama untuk negara-negara kepulauan. Karenanya, perlu tekanan kuat untuk negara maju di dalam mengurangi GRK dan memberikan kompensasi bagi negara-negara kepulauan. Berbagai forum pada tingkat internasional perlu dimanfaatkan, termasuk pada World Ocean Conference (WOC) 2009 11-15 Mei di Menado nanti. Terlebih kawasan Indonesia memegang peranan kunci dari perubahan iklim global.

Kedua, melakukan kajian dan analisa untuk mengetahui dan memprediksi perubahan cuaca dan iklim dengan cakupan wilayah yang semakin spesifik, dalam rentang beberapa ratus meter.

Informasi mengenai cuaca dan iklim tersebut perlu ditransformasikan kepada stakeholder yang beroperasi di laut dan pantai (nelayan, petani, penjaga pantai, pengelola pelabuhan, dll) dalam bentuk pendidikan publik, informasi keberadaan ikan, dampaknya terhadap ekosistem pantai, dll.

Dengan cara ini diharapkan terjadi pemberdayaan masyarakat, terbentuk tata kelola ekosistem pantai yang menyeluruh mencakup ketahanan pangan yang berkelanjutan dan pengembangan bentuk alternatif kehidupan yang berkualitas seperti energi alternatif,pengolahan pangan,dll, dikarenakan kebijakan dan perilaku yang dilakukan di laut dan pantai memiliki korelasi dengan berbagai disiplin ilmu.

Ketiga, ekosistem mangrove memainkan peranan penting di dalam menyerap CO2 (salah satu gas rumah kaca) melindungi pantai terhadap erosi. Karenanya perlu penanaman mangrove sebagai bentuk konservasi pantai. Keberadaan vegetasi laut yang lain seperti phytoplankton dan rumput lain penting di dalam menyerap CO2 dan menjaga rantai makanan di laut.

Keempat, mengembangkan teknologi perikanan dan pertanian di wilayah pantai, termasuk pemberian subsidi bagi pembuatan kapal atau perahu untuk nelayan sehingga bisa menangkap ikan pada area laut yang lebih luas.

Pengembangan pertanian pada lahan pasir yang telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia seperti Bantul dan kulonprogo, selain bisa memperkuat ketahanan pangan, juga menjamin kestabilan ekosistem pantai, dikarenakan struktur pantai akan menjadi lebih kuat.

Kelima, menetapkan pulau-pulau kecil sebagai pulau konservasi dan cagar biosfer dengan tetap mengarusutamakan kepentingan masyarakat pesisir di bawah payung kerja sama antar stakeholder antara pemerintah pusat, Perguruan Tinggi, Pemda, institusi lain baik komunitas lokal maupun internasional. (baca juga : Upaya pencegahan pemanasan global )

Leave a Reply