Memahami Kembali Manfaat Hutan Di Tengah Kerusakannya

Share

Manfaat hutan janganlah dilihat dari sudut ekonomi saja. Hutan berfungsi sebagai paru-paru Bumi dan menjaga kelangsungan kehidupan di Bumi. Memahami fungsi hutan secara utuh akan menjadikan kita lebih bijaksana di dalam mengelola hutan.

Nilai non ekonomi hutan bila kita jumlahkan maka akan sangat besar dibandingkan bila melihat hutan sebatas sumber daya alam yang dipandang sebagai kumpulan dari pepohonan saja. Pendek kata, hutan adalah berkah bagi kehidupan di Bumi.

kerusakan hutan di Indonesia

Kondisi Hutan yang telah rusak

Apa saja manfaat hutan ? Yuk kita simak…

Paru-Paru Bumi

Hutan berfungsi sebagai paru – paru Bumi. Proses fotosintesis skala raksasa di hutan akan mengubah CO2 menjadi oksigen. Udara menjadi lebih segar, dan ramah untuk dihirup.

Jika ditelusuri  CO2 memiliki sifat menyerap panas dari Matahari. Jika jumlah CO2 bertambah, maka udara akan semakin panas. Dan jika tidak terkontrol, dalam jangkan panjang, temperatur Bumi meningkat. Dampaknya bisa sangat fatal, seperti pencairan es di kutub Bumi. (baca : Dampak pemanasan global pada sektor kelautan)

Fungsi Resapan

Hutan berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan air melalui akar – akarnya. Serasah yang menutup hutan bertugas menahan jatuhnya air hujan dan melepa secara perlahan. Dengan keberadaan hutan, maka pada saat musim kemarau, daratan tidak akan kekurangan air. Dan saat musim hujan, tidak terjadi luapan air atau banjir.

Dari data diketahui bahwa untuk pulau Jawa, sekitar 80 % air hujan jatuh pada musim hujan dan sisanya pada musim kemarau. Bayangkan, jika hutan rusak. Maka cadangan air yang harusnya dan tersimpan di dalam hutan, menjadi jauh berkurang. Kekurangan air pada musim kemarau berakibat hal – hal yang fatal. (baca juga : Memahami berbagai persoalan pengelolaan air)

Pencegah Erosi dan Longsor

Fungsi lain dari hutan adalah mencegah terjadinya erosi dan longsor. Tanda terjadinya kerusakan tanah di kawasan hutan adalah keruhnya air sungai akibat limpahan tanah.

Mengapa erosi dan longsor tidak terjadi jika hutan tetap lestari ? Hal ini akibat perakaran tanaman keras yang mampu menahan tanah, terutama di daerah kemiringan, dan keberadaan serasah serta semak – semak yang dapat menahan lapisan atas tanah sehingga tidak tergerus oleh aliran permukaan.

Dampak lebih lanjut jika air sungai keruh adalah terancamnya kehidupan flora dan fauna di dalam sungai dan penurunan kualitas air yang dikonsumsi oleh manusia. Sungai yang tercemar juga berdampak pada lingkungan sekitar muara.

Jadi, bisa kita pahami pengaruh kerusakan hutan akan merembet ke lingkungan yang lebih luas, seperti penuruan kualitas air yang dikonsumsi manusia.  (baca juga : solusi atasi defisit air)

Fakta-fakta berkurangnya luasan hutan

Kondisi kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai tingkat yang mengkuatirkan. Selain penebangan liar dan penambangan liar ada hal lain yaitu pembakaran hutan yang terjadi setiap tahun. Luas hutan semakin menyempit.

Di pulau Jawa, luas hutan tersisa 18 % tahun 1997, pada tahun 2000 berkurang menjadi 15 %. Jika dibandingkan dengan wilayah pulau Jawa, luas hutan hanya 4 %. Kondisi ini tentu menyalahi UU nomor 41 tentang Kehutanan yang menyatakan luas hutan harusnya 30 % dari luas kawasan.

Tidak jauh berbeda dengan di Jawa, di pulau lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua, kondisi hutan sama saja. Kenyataan ini mengharuskan kita untuk melakukan instropeksi dan melakukan rehabilitasi hutan sehingga hutan selamat dari kerusakannya dan tetap lestari. Karena hutan adalah anugerah bagi Bumi.

 

Leave a Reply