Cara Mudah Mengatasi Insomnia 

FacebookTwitterGoogle+LinkedInStumbleUponTumblrAIMFolkdGoogle BookmarksShare

Mengatasi Insmonia


Cara Mudah Mengatasi Insomnia – Dulu, saat belum menjalani food combining, saya lumayan sering mengalami insomnia. Meski enggak sering banget, tapi kondisi yang cukup menyiksa ini setidaknya merenggut berjam-jam waktu istirahat saya. Meninggalkan rasa tidak nyaman esok harinya: mengantuk, rasa sebah di perut, pegal dan merasa meriang, bahkan terkadang susah fokus.

Ada beberapa kondisi di mana insomnia menyerang. Biasanya adalah ketika saya minum teh atau kopi terlalu sore, waktu itu kan saya masih pecinta teh dan kopi. Atau, susah tidur juga terjadi ketika saya terlalu bersemangat memikirkan rencana-rencana besar di masa depan. Misalnya ketika masih SMA saya kerap insomnia di akhir-akhir kelas 3, masa itu saya begitu exciting memikirkan dan membayangkan bagaimana kehidupan kampus yang sebentar lagi akan saya alami. Wah… alamat, lewat tengah malam baru akan bisa terlelap. Rasanya seru membayangkan hal-hal baru.

Baca juga: Tips Makan Sehat Dan Hemat Untuk Anak Kos

Nah, kondisi kedua ini, akhir-akhir ini kembali terjadi. Memang, saya sedang punya rencana besar ke depan. Belum bisa saya ceritakan, yang jelas ini tentang keluar dari zona nyaman lalu mengambil tantangan yang jauh lebih besar. Tanpa sanggup saya kendalikan, ada malam-malam di mana insomnia kembali menyapa. Rasanya sulit untuk terlelap.

Mengatasi Insomnia Secara Alami, Ala Saya
Dzikir – Pernah tahu kan tips mengatasi insomnia dengan cara “menghitung domba”? Nah, sebagai muslim, daripada menghitung domba, mending dzikir deh. Selain maksud utamanya untuk mengingat Tuhan, dzikir memiliki efek menenangkan. Kala insomnia menyerang, cara paling mudah biasanya saya bawa dzikir. Dzikirnya dalam hati sambil memejamkan mata. Biasanya tanpa sadar, tetiba sudah terlelap dan bangun keesokan paginya.

Sholat Sunnah – Dzikir belum mempan? Bangun saja, lalu sholat sunnah. Mau sholat malam sekalian saja, silakan. Atau kalau kuat hanya dua rakaat, ya monggo. Ini juga bisa membantu hati tenang, adem, otak rada kalem sehingga bisa terlelap sesudahnya.

Teh Rempah – Beberapa jenis teh rempah juga bisa lo memberikan efek tenang, dan akhirnya bikin lebih mudah tertidur. 

Tempat Tidur Yang Nyaman – tempat tidur yang nyaman kalau buat saya, membantu banget. Caranya simpel, cukup bersihkan tempat tidur (biasanya saya tidak cukup telaten untuk mengganti sprei malam-malam). Lalu, saya alasi tempat di mana saya akan tidur, dengan kain jarit /batik. Kain batik kalau buat saya nyaman banget. Adem, sejuk dan ada aroma khasnya. 


Minyak Esensial – yang paling dikenal biasanya penggunaan Lavendar essential oil. Minyak esensial lavender biasa digunakan dengan pembakar manual ataupun dengan difuser. Menghirup aromanya dipercaya membawa rasa nyaman, tenang, relaks dan akhirnya membantu kita untuk terlelap.

 

Avaloka Lavender Essential Oil (ALEO)

Avaloka Lavender Essential Oil

Avaloka Lavender Essential Oil

Beberapa bulan lalu, saya mengikuti giveaway yang diadakan oleh Avaloka. Dasar lagi beruntung, dapatlah saya dua botol produk avaloka lavender essential oil (ALEO). yang pada waktu itu masih sedang persiapan untuk diluncurkan di pasar lokal. Well, ini bukan produk baru sebenarnya. Menurut info yang saya baca-baca produk ini sudah digunakan untuk ekspor ke beberapa negara, khususnya untuk memenuhi kebutuhan spa.

Avaloka Lavender Essential Oil

Avaloka Lavender Essential Oil


Pas, banget datangnya. ALEO yang dikemas dalam botol mungil ini, jadi senjata saya untuk memerangi insomnia. Caranya ada dua. Pertama, bisa sekadar di teteskan saja di bantal. Kedua, dan ini yang lebih afdol, yakni di mix dengan Avaloka Medic Oil, lalu dibalurkan ke beberapa bagian yang dianjurkan, sesuai yang tertera di brosur Avaloka. Cara kedua buat saya paling nyaman. Sensasi rileks dan hangatnya dapet banget. Abis gitu langsung bleg seggg … nyenyak.

Tentang Avaloka Medic Oil, saya pernah menulisnya di blog ini juga. Baca: AValoka Medic Oil

Avaloka Lavender Essential Oil

Kombinasi Avaloka Medic Oil Dan Avaloka Lavender Essential Oil

Avaloka Lavender Essential Oil

Cara Pemakaian


Sebenarnya ada cara yang lebih sipp lagi, hanya sayangnya saya belum punya alatnya. Bagusnya sih pakai diffuser. Menurut pihak Avaloka, penggunaan diffuser lebih baik daripada pembakar manual. Dengan menggunakan diffuser, molekul yang ditebarkan ke udara itu tidak mengalami kerusakan. Jadi efek menenangkan dari aroma wanginya tentu dapat, dan manfaat lain dari molekul tersebut juga bisa dapat.

Oya, ada cara lain penggunaannya, yaitu dengan memberikan beberapa tetes ALEO ini ke air mandi. Lalu, gunakan untuk berendam. Hanya saja, saya juga belum coba cara ini. Kalau buat saya rada ribet, karena kami tidak memiliki pemanas air. Jadi mesti rempong masak air dan bawa-bawa panci ke kamar mandi. Ha….ha..

Lavender Essential Oil 4 (2)
Manfaat ALEO selain untuk membantu relaks dan tidur nyenyak, juga bisa berfungsi sebagai antibakteri di udara. Jadi kalau ada yang lagi sakit, pakai saja ALEO dengan difuser. Cara ini juga membantu mengusir nyamuk lo. Jadi daripada menggunakan obat nyamuk bakar atau semprot yang jelas-jelas pestisida, lebih baik gunakan cara ini. Kemampuan antibakterinya, juga nampol banget lo kdigunakan buat ngobatin jerawat. Beberapa waktu lalu pas kebanyakan citing dan malas membersihkan wajah, mampirlah itu jerawat di pipi saya. Oles ALEO malamnya, paginya si jerewi udah rada kalem. Beberapa hari udah sembuh juga.


Nah, ada yang pernah atau bahkan langganan insomnia? Coba deh beberapa cara saya di atas. Kalau dengan berbagai cara masih saja insomnia, lebih baik segera koreksi pola hidup ya. Bagaimana pola makannya, pola istirahat, jam kerja, dll. Karena, tubuh memerlukan tidur yang berkualitas pada saat yang tepat. Menukar tidur malam hari dengan molor di pagi dan siang hari akibat insomnia, tentu akan ada dampaknya. 

Bondowoso, Ramadan H-21
Stay healthy


 

Memilih Blender Yang Tepat Untuk Dapur Sehat

Cara Memilih Blender

Memilih Blender Yang Tepat Untuk Dapur Sehat – Di blogpost yang lalu saya share menu takjil ala Food Combining. Nah, salah satu variasi yang saya bahas di situ adalah smoothies buah. Ini memang kesukaan si anak perempuan dan ayahnya. Teman-teman bisa baca postingan yang saya maksud dibawah ini: Resep Buka Puasa Ala Food Combining: Variasi Sajian Buah

Cuma… bicara soal smoothie, sebenarnya bikin saya rada galau. Pasalnya si blender, senjata utama saya buat bikin smoothie, ini kelihatannya sudah ogah-ogahan bekerja. Kalau material yang dimasukkan agak keras, seolah pisaunya tak sanggup berputar melumat bahan. Baru lancar muternya, kalau ditambahkan air agak banyak. Yaaaa… padahal saya sukanya smoothie yang kental.

Continue reading →

In Harmony Clinic Dan Tren Pencegahan Penyakit

 

Sepanjang perjalanan hidup saya yang nyaris 40 tahun ini, sudah teramat banyak saya harus melihat dan bahkan merasakan sendiri, kegetiran hidup akibat penyakit yang mendera seseorang. Melihat beberapa sepupu tumbuh menjadi yatim/piatu di usia sangat dini karena orang tua mereka terenggut penyakit (kedua Bulik saya meninggal akibat penyakit paru-jantung di usia 20-an dan 30-an). Bahkan, saya mengalami sendiri nyaris kehilangan pegangan hidup akibat kepergian Bapak, di usia beliau yang belum genap 50 (Alfatihah …) *saya mengetik sambil berkaca-kaca.

Continue reading →

Resep Buka Puasa Ala Food Combining: Variasi Sajian Buah

Resep Buka Puasa Food Combining

Ramadan telah masuk hari ke tiga … Bagaimana puasanya teman-teman? Semoga lancar ya… nah, untuk teman-teman yang sudah menerapkan food combining dalam kesehariannya, sudah enggak asing lagi dong ya, dengan beragam cara menyajikan buah sebagai takjil alias makanan pembuka ifthor kita. Namun bagi teman-teman yang kesehariannya belum melakukan food combining, boleh juga lo kalau mau mencoba takjil manis dan sehat ala food combining. Manfaatnya banyak, misalnya:

Continue reading →

Petualangan Ala Ransel Jember-Bali

Long weekend, sudah lama usai. Bagi kami sekeluarga, liburan kemarin luar biasa seru! Bukan… bukan karena pergi super jauh dengan fasilitas oke. Tapi justru karena kami bisa mengalahkan berbagai kekhawatiran, memberanikan diri berpetualang dengan bujet dan waktu yang luar biasa nge-pas. Ha..ha.. petualangan ala ransel yang kami pilih!


Tadinya kami mau ke Bromo. Karena waktu ke Probolinggo akhir tahun lalu, Bromo tak mungkin kami datangi. Tapi si anak lanang mogok, dia rada kapok dengan pengalaman naik ke Kawah Ijen yang bikin gempor. Ha..ha.. padahal sudah berkal-kali dijelaskan dan ditunjukkan foto-foto, eyalahhh nak… nak… naik Bromo mah gampilll… beda dengan ijen. Tapi si anak lanang keukeh enggak mau ikut dan minta tinggal di rumah neneknya saja, kalau kami tetap ke Bromo.


(Baca Juga: Petualangan Kawah Ijen)


Saya sangat tidak nyaman pergi tanpa si kakak ini. Bagi saya, tidak sering ada kesempatan long weekend begini, jadi benar-benar harus dimanfaatkan untuk berkegiatan seru sekeluarga. Iya, formasi lengkap! Akhirnya ayah mengusulkan kami backpacker aja ke Bali. Karena keputusan dibuat sudah 2 hari dari liburan, saya tak kunjung menemukan hotel di Bali. Di Banyuwangipun tak kebagian hotel. Akhirnya, ya sudah kita berpetualang sehari saja. Kata Pak bojo, kita nikmati saja apa yang ada. Okelah!

Suasana Bagian Dalam Stasiun Kereta Api Bondowoso

Suasana Bagian Dalam Stasiun Kereta Api Bondowoso


Langsung pesan tiket kereta di Stasiun Bondowoso. Oya, stasiun ini hanya berfungsi sebagai ticketing aja. Tidak ada kereta yang melintas di sini. Jadi kami naiknya nanti dari kota sebelah, Jember. Dan, sekali lagi. Karena sudah saat-saat terakhir, kami tak kebagian tiket duduk. Yo wis lah siap-siap kita berdiri, atau duduk lesehan saja kalau memungkinkan.


Demi tidak ketinggalan kereta, pukul 4 lebih dikit kami udah di stasiun Jember dan langsung naik kereta Pandanwangi. Untunglah, mungkin ada penumpang bertiket duduk yang tidak jadi berangkat sehingga saya mendapat satu tempat duduk yang kami tempati berdua dengan dik Raniah. Sedangkan Ayah dan Kak Asa juga masih kebagian tempat duduk berdesakan dengan penumpang lain.


Thanks to PT KAI. Tiket murce marice super duper ekonomissss … delapan ribu perak satu orang untuk menempuh jarak Jember-Banyuwangi dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Olala…. murahnyaa! Fasilitas, semua cukup oke dan bersih, AC juga cukup dingin. Dan lagi, jadwalnya tepat! Hi..hi… takjub juga saya dengan tiket super murahnya. Kebangetan! Ha..ha…

Oya, Kereta Api Pandanwangi ini ada dua kali pemberangkatan dari Jember, pukul 4.30 pagi seperti yang kami naiki ini dan rada sore pukul 15.30. Menuju Banyuwangi dari Stasiun Jember, juga bisa menggunakan Kereta api Probowangi. bedanya, Probowangi tiketnya mahalan, kalau enggak salah 17 ribu.

Berpose Sejenak Di Depan Stasiun Banyuwangi Baru (Credit: Arundaya Taufik)

Berpose Sejenak Di Depan Stasiun Banyuwangi Baru (Credit: Arundaya Taufik)


Sampai di Banyuwangi, menyempatkan ke toilet sebentar lalu berjalan kaki ke pelabuhan ketapang yang hanya sekitar 200 meter dari stasiun. Di sini bagian tiket lumayan berjubel. Masukan buat pihak pelabuhan, petugasnya tambah dong Pak, kalau musim liburan. He..he.. puluhan calon penumpang hanya dilayani satu petugas. Lama juga nunggunya, ditambah ruang tunggunya yang kurang nyaman, beratap fiber,  tembus cahaya matahari yang artinya panas, bo! Di sini saya harus ekstra sabar mengatasi kak asa yang mulai ngeluh. Sabar ya Kak, lihat tuh yang antre banyaaaaak.


Setelah perjuangan berpanas-panas ria, sampai T Shirt si ayah basah kuyup oleh keringat, akhirnya dapat juga tiketnya. Sekali lagi, murah pake banget! 6 ribu perak untuk dewasa dan 4 ribu perak saja buat anak-anak. Jadi PP kami hanya butuh 40 ribu untuk penyeberangannya. Hemat!

Suasana Pelabuhan

Suasana Pelabuhan


Bagi anak-anak, ini dalah pengalaman pertama naik feri. Tapi syukurlah, mereka tak terlihat canggung atau takut. Kak Asa dan Dik Raniah terlihat sangat menikmati perjalanan. Hanya, ketika hampir sampai Gilimanuk, Kak Asa terlihat agak diam. Saya cek lehernya berkeringat dingin. Huwaa… mabok laut ni anak! Saya langsung usap-usap avaloka medic oil yang selalu ada di ransel. But.. it seems to late. Nggak lama si anak lanang mun**h. Wadowww… untung masih sempat lari ke toilet.

Asyikkk! Naik Feri Kita. (credit: Arundaya Taufik)

Asyikkk! Naik Feri Kita. (credit: Arundaya Taufik)


Sampai di Gilimanuk, si kakak yang memang moody, ditambah habis mabok laut, mulai rada kurang kooperatif. Mulai me-nego, "Bun pulang jangan naik kapal lagi. Naik pesawat aja!" Waduh! Piye iki. Si anak lanang langsung kapok. Lama… diajak duduk dan ngobrol, si kakak mulai agak santai. Akhirnya kami menyeberang. Nah, di seberang pelabuhan ada pantai wisata yang lumayan oke buat sekadar transit.

13214782_10201911802272795_874718369_o

 

13214927_10201911801192768_1255869193_o

Di sini kami turunkan ransel. Untung kami ingat untuk bawa matras (harusnya sekalian bawa tikar wkwkwk). Di bawah pohon-pohon rindang kami gelar matras dan duduk menghadap ke pantai. Ayah mencari makan siang untuk kami di warung sekitar. Habis makan siang, anak-anak tampaknya punya energi baru untuk kembali menjelajah. Kak Asa dan Dik Raniah bermain di pantai, mengumpulkan kerang. Saya dan si ay? Ha..ha.. pacaran dong! Wkwkwk.

Memandangi Laut Dan Anak-anak Bermain Dari Kejauhan

Memandangi Laut Dan Anak-anak Bermain Dari Kejauhan


Leyeh-leyeh di bawah pohon rindang sambil dibelai angin sepoi-sepoi ternyata bikin kami ngantuk. Dan saya sempat tidur sebentar. Amboiii…. sungguh sebuah kemewahan bisa boci di alam terbuka yang indah begini.Bakda ashar kami balik ke pelabuhan. Membersihkan badan dan ganti pakaian. Lalu siap kembali antre tiket pulang. Sengaja memilih feri yang bakal nyebrang pulul 5-an. Kata si Ay, siapa tahu kita dapet sunset di selat Bali. Yo wis, oke aja. Toh kereta Pandanwangi yang akan membawa kami kembali ke Jember, masih pukul delapan malam.


Si sanak lanang terlihat rada diam saat naik feri. Mungkin masih tersisa trauma mabok pagi tadi. Ha..ha.. sebagai antisipasi, lagi-lagi saya keluarkan avaloka medic oil dari dalam tas. Langsung oles-oles. Alhamulillah aman ya nak, ga pake hoek lagi. Haha…

Pemandangan Ke Arah Ketapang Senja Hari (Credit: Arundaya Taufik)

Pemandangan Ke Arah Ketapang Senja Hari (Credit: Arundaya Taufik)

Sesaat Sebelum Merapat di Pelabuhan (Credit: Arundaya Taufik)

Sesaat Sebelum Merapat di Pelabuhan (Credit: Arundaya Taufik)

Sampai Pelabuhan Ketapang, sudah gelap. Kami menemukan warung Padang di depan Pelabuhan, ngandok dulu kitaaaah… laper euy. Rasanya sangat standar, bahkan agak kecewa karena citarasanya terlalu Jawa. Enggak terasa banget rempah dan pedasnya. Tapi syukurlah kami sedang kelaparan banget, jadi segalanya terasa endeussss…


Beres urusan perut, langsung jalan kaki lagi ke Stasiun Banyuwangi Baru. Ruang tunggu sudah penuh dengan penumpang. Bahkan penumpang meluber sampai halaman dan emperan stasiun. Kami menunggu agak lama di sini, Karena meski sudah dekat dengan jam keberangkatan, petugas boarding tak kunjung membuka pintu. Entah kenapa. Saat melayani, petugas di sini juga kurang ramah. Jujur saya sedikit kecewa. Sepanjang petualangan kami naik kereta, ini kali pertama kami bertemu petugas stasiun yang kurang ramah.


Begitu naik kereta, anak-anak kami pakaikan jaket. Kak Asa dipakaikan juga kupluk rajutan, hi..hi… biar anget. Karena acara kami selanjutnya 3 jam ke depan dalam kereta Pandan Wangi ini adalah…. tidur! Dan benar saja, sepanjan perjalan menuju jember, ayah dan anak-anak begitu pulas. Saya yang terbangun berkali-kali di setiap stasiun kecil dimana kereta berhenti. Lagipula, beberapa anak balita dan bayi yang ada di gerbong ini rewel, saya agak susah untuk tidur nyenyak.


Sekitar pukul 11 sampai juga kami di Jember. Anak-anak agak sulit dibangunkan. Masih ngantuk kata mereka. Turun dari kereta, mampir di toilet lalu bergegas ke tempat parkir, di mana si ijo menunggu. Suami mengendara santai. Ke mana tujuan kami? Pulang? Ohh… tidak. Terlalu lelah beliau untuk menyetir satu jam-an sampai Bondowoso. Kami memutuskan menuju SPBU, memarkir si ijo dan tidur di sana. Nyenyak sampai subuh! Ha..ha… dasar traveler doyan tidur!

Sampai jumpa di petualangan berikutnya!

Food Combining Untuk Anak Kos

 

Food Combining Untuk Anak Kos (3)

 

Setiap kali ngomongin pola makan sehat untuk anak kos, selalu saja ada yang komentar. “anak kos mah, asal udah bisa makan aja udah bagus. Jangankan mau ber-food combining, bisa makan mie instan aja sudah syukur! Di situ saya merasa sedih. Duh… pe er mengedukasi pola makan sehat masih paaanjang dan laaaamaaaa *lebay Emangnya, apa karena anak kos sering identik dengan kondisi terbatas, lalu kemudian dianggap sah-sah saja jika mengalami salah gizi?

Continue reading →

Bedah Buku Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan Di TL-ITS

Kuliah Jurusan Apa Widyanti Yuliandari
Sejak beberapa hari pertama buku ini di launching, saya dan Ibu kajur TL-ITS memang sudah kontak-kontakan. Beliau meminta saya bisa membedah buku ini di Jurusan. Oh… pasti dengan senang hati saya bersedia. Diberi kesempatan sharing di tempat yang saya cintai, sungguh satu kebahagiaan.

Continue reading →