Petualangan Ala Ransel Jember-Bali

FacebookTwitterGoogle+LinkedInStumbleUponTumblrAIMFolkdGoogle BookmarksShare

Long weekend, sudah lama usai. Bagi kami sekeluarga, liburan kemarin luar biasa seru! Bukan… bukan karena pergi super jauh dengan fasilitas oke. Tapi justru karena kami bisa mengalahkan berbagai kekhawatiran, memberanikan diri berpetualang dengan bujet dan waktu yang luar biasa nge-pas. Ha..ha.. petualangan ala ransel yang kami pilih!


Tadinya kami mau ke Bromo. Karena waktu ke Probolinggo akhir tahun lalu, Bromo tak mungkin kami datangi. Tapi si anak lanang mogok, dia rada kapok dengan pengalaman naik ke Kawah Ijen yang bikin gempor. Ha..ha.. padahal sudah berkal-kali dijelaskan dan ditunjukkan foto-foto, eyalahhh nak… nak… naik Bromo mah gampilll… beda dengan ijen. Tapi si anak lanang keukeh enggak mau ikut dan minta tinggal di rumah neneknya saja, kalau kami tetap ke Bromo.


(Baca Juga: Petualangan Kawah Ijen)


Saya sangat tidak nyaman pergi tanpa si kakak ini. Bagi saya, tidak sering ada kesempatan long weekend begini, jadi benar-benar harus dimanfaatkan untuk berkegiatan seru sekeluarga. Iya, formasi lengkap! Akhirnya ayah mengusulkan kami backpacker aja ke Bali. Karena keputusan dibuat sudah 2 hari dari liburan, saya tak kunjung menemukan hotel di Bali. Di Banyuwangipun tak kebagian hotel. Akhirnya, ya sudah kita berpetualang sehari saja. Kata Pak bojo, kita nikmati saja apa yang ada. Okelah!

Suasana Bagian Dalam Stasiun Kereta Api Bondowoso

Suasana Bagian Dalam Stasiun Kereta Api Bondowoso


Langsung pesan tiket kereta di Stasiun Bondowoso. Oya, stasiun ini hanya berfungsi sebagai ticketing aja. Tidak ada kereta yang melintas di sini. Jadi kami naiknya nanti dari kota sebelah, Jember. Dan, sekali lagi. Karena sudah saat-saat terakhir, kami tak kebagian tiket duduk. Yo wis lah siap-siap kita berdiri, atau duduk lesehan saja kalau memungkinkan.


Demi tidak ketinggalan kereta, pukul 4 lebih dikit kami udah di stasiun Jember dan langsung naik kereta Pandanwangi. Untunglah, mungkin ada penumpang bertiket duduk yang tidak jadi berangkat sehingga saya mendapat satu tempat duduk yang kami tempati berdua dengan dik Raniah. Sedangkan Ayah dan Kak Asa juga masih kebagian tempat duduk berdesakan dengan penumpang lain.


Thanks to PT KAI. Tiket murce marice super duper ekonomissss … delapan ribu perak satu orang untuk menempuh jarak Jember-Banyuwangi dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Olala…. murahnyaa! Fasilitas, semua cukup oke dan bersih, AC juga cukup dingin. Dan lagi, jadwalnya tepat! Hi..hi… takjub juga saya dengan tiket super murahnya. Kebangetan! Ha..ha…

Oya, Kereta Api Pandanwangi ini ada dua kali pemberangkatan dari Jember, pukul 4.30 pagi seperti yang kami naiki ini dan rada sore pukul 15.30. Menuju Banyuwangi dari Stasiun Jember, juga bisa menggunakan Kereta api Probowangi. bedanya, Probowangi tiketnya mahalan, kalau enggak salah 17 ribu.

Berpose Sejenak Di Depan Stasiun Banyuwangi Baru (Credit: Arundaya Taufik)

Berpose Sejenak Di Depan Stasiun Banyuwangi Baru (Credit: Arundaya Taufik)


Sampai di Banyuwangi, menyempatkan ke toilet sebentar lalu berjalan kaki ke pelabuhan ketapang yang hanya sekitar 200 meter dari stasiun. Di sini bagian tiket lumayan berjubel. Masukan buat pihak pelabuhan, petugasnya tambah dong Pak, kalau musim liburan. He..he.. puluhan calon penumpang hanya dilayani satu petugas. Lama juga nunggunya, ditambah ruang tunggunya yang kurang nyaman, beratap fiber,  tembus cahaya matahari yang artinya panas, bo! Di sini saya harus ekstra sabar mengatasi kak asa yang mulai ngeluh. Sabar ya Kak, lihat tuh yang antre banyaaaaak.


Setelah perjuangan berpanas-panas ria, sampai T Shirt si ayah basah kuyup oleh keringat, akhirnya dapat juga tiketnya. Sekali lagi, murah pake banget! 6 ribu perak untuk dewasa dan 4 ribu perak saja buat anak-anak. Jadi PP kami hanya butuh 40 ribu untuk penyeberangannya. Hemat!

Suasana Pelabuhan

Suasana Pelabuhan


Bagi anak-anak, ini dalah pengalaman pertama naik feri. Tapi syukurlah, mereka tak terlihat canggung atau takut. Kak Asa dan Dik Raniah terlihat sangat menikmati perjalanan. Hanya, ketika hampir sampai Gilimanuk, Kak Asa terlihat agak diam. Saya cek lehernya berkeringat dingin. Huwaa… mabok laut ni anak! Saya langsung usap-usap avaloka medic oil yang selalu ada di ransel. But.. it seems to late. Nggak lama si anak lanang mun**h. Wadowww… untung masih sempat lari ke toilet.

Asyikkk! Naik Feri Kita. (credit: Arundaya Taufik)

Asyikkk! Naik Feri Kita. (credit: Arundaya Taufik)


Sampai di Gilimanuk, si kakak yang memang moody, ditambah habis mabok laut, mulai rada kurang kooperatif. Mulai me-nego, "Bun pulang jangan naik kapal lagi. Naik pesawat aja!" Waduh! Piye iki. Si anak lanang langsung kapok. Lama… diajak duduk dan ngobrol, si kakak mulai agak santai. Akhirnya kami menyeberang. Nah, di seberang pelabuhan ada pantai wisata yang lumayan oke buat sekadar transit.

13214782_10201911802272795_874718369_o

 

13214927_10201911801192768_1255869193_o

Di sini kami turunkan ransel. Untung kami ingat untuk bawa matras (harusnya sekalian bawa tikar wkwkwk). Di bawah pohon-pohon rindang kami gelar matras dan duduk menghadap ke pantai. Ayah mencari makan siang untuk kami di warung sekitar. Habis makan siang, anak-anak tampaknya punya energi baru untuk kembali menjelajah. Kak Asa dan Dik Raniah bermain di pantai, mengumpulkan kerang. Saya dan si ay? Ha..ha.. pacaran dong! Wkwkwk.

Memandangi Laut Dan Anak-anak Bermain Dari Kejauhan

Memandangi Laut Dan Anak-anak Bermain Dari Kejauhan


Leyeh-leyeh di bawah pohon rindang sambil dibelai angin sepoi-sepoi ternyata bikin kami ngantuk. Dan saya sempat tidur sebentar. Amboiii…. sungguh sebuah kemewahan bisa boci di alam terbuka yang indah begini.Bakda ashar kami balik ke pelabuhan. Membersihkan badan dan ganti pakaian. Lalu siap kembali antre tiket pulang. Sengaja memilih feri yang bakal nyebrang pulul 5-an. Kata si Ay, siapa tahu kita dapet sunset di selat Bali. Yo wis, oke aja. Toh kereta Pandanwangi yang akan membawa kami kembali ke Jember, masih pukul delapan malam.


Si sanak lanang terlihat rada diam saat naik feri. Mungkin masih tersisa trauma mabok pagi tadi. Ha..ha.. sebagai antisipasi, lagi-lagi saya keluarkan avaloka medic oil dari dalam tas. Langsung oles-oles. Alhamulillah aman ya nak, ga pake hoek lagi. Haha…

Pemandangan Ke Arah Ketapang Senja Hari (Credit: Arundaya Taufik)

Pemandangan Ke Arah Ketapang Senja Hari (Credit: Arundaya Taufik)

Sesaat Sebelum Merapat di Pelabuhan (Credit: Arundaya Taufik)

Sesaat Sebelum Merapat di Pelabuhan (Credit: Arundaya Taufik)

Sampai Pelabuhan Ketapang, sudah gelap. Kami menemukan warung Padang di depan Pelabuhan, ngandok dulu kitaaaah… laper euy. Rasanya sangat standar, bahkan agak kecewa karena citarasanya terlalu Jawa. Enggak terasa banget rempah dan pedasnya. Tapi syukurlah kami sedang kelaparan banget, jadi segalanya terasa endeussss…


Beres urusan perut, langsung jalan kaki lagi ke Stasiun Banyuwangi Baru. Ruang tunggu sudah penuh dengan penumpang. Bahkan penumpang meluber sampai halaman dan emperan stasiun. Kami menunggu agak lama di sini, Karena meski sudah dekat dengan jam keberangkatan, petugas boarding tak kunjung membuka pintu. Entah kenapa. Saat melayani, petugas di sini juga kurang ramah. Jujur saya sedikit kecewa. Sepanjang petualangan kami naik kereta, ini kali pertama kami bertemu petugas stasiun yang kurang ramah.


Begitu naik kereta, anak-anak kami pakaikan jaket. Kak Asa dipakaikan juga kupluk rajutan, hi..hi… biar anget. Karena acara kami selanjutnya 3 jam ke depan dalam kereta Pandan Wangi ini adalah…. tidur! Dan benar saja, sepanjan perjalan menuju jember, ayah dan anak-anak begitu pulas. Saya yang terbangun berkali-kali di setiap stasiun kecil dimana kereta berhenti. Lagipula, beberapa anak balita dan bayi yang ada di gerbong ini rewel, saya agak susah untuk tidur nyenyak.


Sekitar pukul 11 sampai juga kami di Jember. Anak-anak agak sulit dibangunkan. Masih ngantuk kata mereka. Turun dari kereta, mampir di toilet lalu bergegas ke tempat parkir, di mana si ijo menunggu. Suami mengendara santai. Ke mana tujuan kami? Pulang? Ohh… tidak. Terlalu lelah beliau untuk menyetir satu jam-an sampai Bondowoso. Kami memutuskan menuju SPBU, memarkir si ijo dan tidur di sana. Nyenyak sampai subuh! Ha..ha… dasar traveler doyan tidur!

Sampai jumpa di petualangan berikutnya!

Food Combining Untuk Anak Kos

 

Food Combining Untuk Anak Kos (3)

 

Setiap kali ngomongin pola makan sehat untuk anak kos, selalu saja ada yang komentar. “anak kos mah, asal udah bisa makan aja udah bagus. Jangankan mau ber-food combining, bisa makan mie instan aja sudah syukur! Di situ saya merasa sedih. Duh… pe er mengedukasi pola makan sehat masih paaanjang dan laaaamaaaa *lebay Emangnya, apa karena anak kos sering identik dengan kondisi terbatas, lalu kemudian dianggap sah-sah saja jika mengalami salah gizi?

Enggak saya sebut kurang gizi. Karena faktanya seringkali kurang di unsur satu tetapi lebih di unsur lain. Ya kan? Dan kalau merujuk informasi Mbak Eti Widayati yang pernah saya muat dalam blogpost yang terdahulu, seringnya masyarakat kita berlebih di unsur makro, misal karbohidrat, tetapi kekurangan unsur mikro.

(Obrolan saya dengan beliau bisa dibaca di tulisan: Lebih Dekat Dengan Ety Widayati, Ahli Gizi Yang Pro Food Combining)

Nah! Saya sendiri mengalamai jadi anak kos plus dengan kondisi sangat terbatas. Tahun 1998 saat puncak-puncaknya krisis moneter, bapak saya berpulang. Ibu saya adalah ibu rumah tangga, bukan working mom. Jadi, DO (drop out) sudah seperti ada di depan mata waktu itu. Dalam kondisi seperti itu, bisa kok mengakali agar duit yang Cuma segitu-gitunya, bisa terbelanjakan denga bijak sehingga saya tak sampai kurang gizi bahkan sakit serius. Tentu sesekali masih mengkonsumsi mie instan. Tapi ya diakali, bagaimana supaya tidak terlalu dahsyat efeknya. Diatur frekuensinya, juga. Jadi dalam semingu mungkin hanya 2-3 kali nge-mie. Air rebusan mie diganti, dan bumbu instannya tidak dipakai semua. Itu yang saya lakukan. Setidaknya, ada lah effort buat menghalau si toksin di dalamnya.

(Cerita lengkapnya ada di tulisan: Tips Makan Sehat dan Hemat Untuk Anak Kos)

Sekarang saya mau cerita. Ternyata ada teman-teman yang dalam kondisi kos bisa lo, ber-food combining. Dalam buku pertama saya Food Combining (Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah), ada cerita kawan yang FC pada saat nge-kos. Bagaimana mensiasati? Pada dasarnya FC memang tidak ribet kok! FC juga sangat fleksibel, jadi salah besar kalau mengira FC itu kaku.

(Bisa baca tulisan saya tentang Food Combining: Cara Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining)

Misalnya, Mirma teman saya, pas nge-kos dia mendapatkan suplay buah dari abang-abang penjual buah potong. Biasanya ada kan tuh abang-abang yang ngider pakai gerobak. Enggak ada abang khusus jual buah? Ah cari akal lain dong, kadang kan ada abang jualan rujak buah. Beli aja di situ, pesan khusus, tanpa saus/bumbu rujak. Udah jadi sarbu! Ya, food combining itu sesimpel itu. Kalau sekarang, saya rasa akan lebih mudah lagi kalau hanya urusan cari buah. Mini mart kan banyak yang sedia buah. Bahkan saya lihat sekarang juga banyak yang menyediakan buah dalam bentuk slice.

food combining untuk anak kos

Contoh Menu Sederhana Ala Warung

 

food combining untuk anak kos

Contoh menu sederhana ala warung

Mudah! Lalu, bagaimana dengan makan siang dan makan malamnya? Lah, itu sih lebih gampang lagi. FC rasa warteg itu tetap FC lo namanya. Catat ya! Banyaaak kawan-kawan FC-er saya yang mengandalkan warteg atau kantin di kantor mereka sebagai tempat mendapatkan makan siang sesuai juklak FC. Bahkan saya sesekali melakukannya, misalnya saat terpaksa makan siang di luar karena harus tugas di lapangan.

Sekali lagi, food combining itu mudah! Juklaknya kan, pisahkan karbo dan protein hewani. Jadi ya tinggal pilih saja mau makan apa. Kalau lagi ingin menu protein, ya pilih sayuran dengan lauk hewani. Boleh ditambah lauk protein nabati dalam jumlah wajar. Sedangkan kalau lagi ingin makan nasi, ya makan nasi plus sayuran sama lauk protein nabati saja. Beres! Memang, sih belum ideal. Kalau wartegnya pro FC, bisa minta tambahan irisan ketimun. Atau kalau warung yang juga jualan menu lalapan, teman-teman bisa minta tambahan lalap mentah yang umum tersedia ya.

Contoh Menu:

Menu Karbohidrat:

  • Nasi putih, Perkedel kentang, sayur sop, tempe goreng
  • Nasi Putih, Pecel, sambal goreng tempe, tahu goreng
  • Nasi, cah jamur, tumis sayuran
  • gado-gado, tanpa telur

 

Menu Protein:

  • ayam goreng, pepes tahu, sambal, lalapan
  • Pepes ikan mas, sayur asem, lalapan dan sambal
  • gado-gado tanpa lontong tanpa kentang

 

Sesekali sempatkan main ke pasar, beli stok buah atau sayur segar sendiri, kan bisa diusahakan. Sesekali, toh tidak tiap hari. Umumnya tempat kos kan ada fasilitas lemari es, nah, itu bisa dimanfaatkan. Stok ketimun, tomat, selada, setidaknya untuk 3 hari. Saya rasa sudah cukup bisa membantu kok! Jadi masih menjadikan kondisi nge-kos sebagai alasan enggak bisa FC? Ah… tampaknya niatnya aja yang perlu dipertanyakan nih! Ha..ha… *dilemparbuah

Begitu ya, teman-teman. Mau makan sehat atau tidak, itu sih pilihan. Tapi yakinlah, semua ada konsekuensinya. Yang ngotot mau makan sehat, yakali bakal sedikit rempong. Yang enggak? Engg… saya sering lo, melayani kastemer sakit serius yang usianya masih sangat belia! Dan bukan nakut-nakutin ya, sahabat saya mendapatkan tumor beberapa tahun lalu (untungnya tumor jinak dan sahabat saya langsung ubah pola hidup). Mau tahu kebiasaan makannya masa ngekos? Ya, salah satunya makan mie instan itu!

 

Salam sehat!

Bedah Buku Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan Di TL-ITS

Kuliah Jurusan Apa Widyanti Yuliandari
Sejak beberapa hari pertama buku ini di launching, saya dan Ibu kajur TL-ITS memang sudah kontak-kontakan. Beliau meminta saya bisa membedah buku ini di Jurusan. Oh… pasti dengan senang hati saya bersedia. Diberi kesempatan sharing di tempat yang saya cintai, sungguh satu kebahagiaan.

Continue reading →

Lebih Dekat Dengan Eti Widayati, Ahli Gizi Yang Pro Food Combining

food combining
 
Banyak sekali yang mengeluh pada saya, “susah banget mbak, ngajak keluarga ber-food combining”. Iya, saya tahu banget. Saya juga pernah merasakannya. Susahnya kalau sudah sampai ke tahap sakit, apalagi sakit serius. Teman-teman yang sudah ber FC pasti sangat ingin mengajak keluarga yang sakit untuk ikut ber FB. 
 
Tapi… niat ini memang seringkali harus berbenturan dengan ujian berat, misalnya masih belum familiarnya masyarakat kita dengan FC. Dalam kondisi begini, paling aman memang meminta bantuan ahlinya untuk menjelaskan food combining kepada orang tersayang kita. Sayangnya, belum banyak dokter atau ahli gizi yang pro terhadap food combining.

Continue reading →

Sekali Lagi Tentang Jeruk Nipis Peras (Jeniper)

jeruk nipis peras
Teman-teman yang sudah ber-food combining atau sudah mengenal food combining, pasti sudah tidak asing lagi dengan si jeniper ini. Ritual pagi, yang tujuan utamanya untuk menyegarkan liver ini pasti dilakukan oleh kaum FC er. Bahkan banyak juga non-FC-er yang juga melakukan kebiasaan minum jeniper.

Continue reading →

Menu Food Combining

Menu Food Combining

Dalam melakukan pola makan food combining, kalau bicara soal menu, sebenarnya sangat fleksibel. Yang jauh lebih penting dipahami dalam pola makan enak mudah dan sehat ini, sebenarnya adalah prinsip-prinsipnya, juklak atawa pakemnya. Soal menu sebenarnya kembali ke budaya kuliner setempat, ketersediaan bahan serta selera masing-masing.

Baca Juga: Cara Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining

 

Continue reading →

Resep Kudapan Bebas Gluten Untuk Kesayangan

wheat-995055_640

Anak-anak dan suami memang sudah bisa dikatakan mau ber-food combining meski sekian persen saja. Sebut saja, FC setengah tiang. Saya cukup bersyukur, bahwa mereka tidak terlalu sulit untuk diajak mengikuti pola makan sehat yang saya terapkan. Dan alhamdulillah… mereka pada sehat.

Baca Juga: Cara Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining

 

Continue reading →